Ampunkan

Forgive Me

// tortured mind photography // website 

:Tuhan

Alhamdulillah, mungkin kata ini yang paling pantas aku jadikan awal surat ini. Demi Kamu, rasanya canggung banget bikin surat buat pencipta diri sendiri. Mungkin rasa malu mendominasi atau lebih tepatnya tahu diri. Dalam kesempatan ini, aku, yang awalnya butiran debu, sangat berterima kasih telah diciptakan. Terima kasih telah menciptakanku sebagai manusia. Lebih dari apapun, terima kasih telah menakdirkanku terlahir sebagai seorang muslim.

Sebenarnya isi surat ini adalah antologi dari semua pertanyaan yang muncul di kepalaku dan Kamu juga pasti sudah tahu. Ah, saat mengetik ini pun aku jadi bertanya-tanya, apa tujuan-Mu menggerakkan tanganku untuk menulis satu demi satu kata dalam suratku. Hmm.. apakah karena Kamu merindukanku? Aku jadi ingat pernyataan panjang-Mu dalam hadits qudsi tentang hubungan baik-Mu dengan doa-doaku.  Beberapa tahun lalu aku masih menyimpannya bahkan menyebarkannya kepada banyak orang. Sekarang, aku agak lupa menyimpan filenya di mana. Kurang ajar bukan? Jadi, waktu itu aku sedang rajin berdoa atau memaksakan obsesiku kepada-Mu? Apakah Kamu sedang tersenyum dan berkata, ternyata makhluk-Ku tahu diri juga.

Kalau memperhatikan apa yang aku rasakan sekarang, naga-naganya Kamu memang sedang rindu. Hampir setiap hari aku menghafalkan kalam-kalam-Mu. Lebih dari lima kali sehari aku menghadap-Mu. Benarkah Kamu masih rindu? Nampaknya ada yang salah dengan diriku. Dalam pertemuan yang sesering itu, aku masih membuat-Mu rindu. Apakah ini karena Sukab? Adakah dia mengambil posisi terlalu besar dalam hatiku, atau target-target hidup yang makin menyita pikiranku? Agaknya dalam pertemuan yang takjarang itu hatiku kerap mangkir. Terus terang, aku masih bimbang, apakah diri ini masih layak untuk Kau-rindukan. Dalam keadaan diliputi kesalahan, aku terlalu wirang untuk mendaulat kerinduan.

Pasti Kamu yang menetapkan diri ini untuk kembali belajar, menjadi orang biasa dengan amal unggulan. Aku kerab bercanda dengan teman. Apa amal unggulanmu? Ia menjawab, bersikap sabar ketika kau kerjai habis-habisan. Apa amal unggulanmu? Bersikap sabar ketika acapkali kau tinggalkan. Hahaha.. Inilah aku yang menjadi alasan kesabaran banyak orang. Lalu aku terdiam ketika ditanya tentang amal unggulan. Semuanya perlahan menghilang. Luntur satu demi satu karena kesibukan. Orang bijak berkata, menyerah pada sesuatu bukan tentang tiba-tiba berhenti, melainkan diam-diam, sedikit-demi sedikit kau tinggalkan.

Nampaknya aku takperlu mengaku. Kamu juga sudah genap tahu hari-hariku. Hedon bukan? Kebaikan-kebaikan itu hanya menjadi selingan, lebih banyak istirahat, didominasi kelalaian. Padahal di sekelilingku, ketaatan mudah sekali ditemukan. Kebebalanku nampaknya sulit dikendalikan. Dalam ketergesaan, harapku: semua ini Kau ampunkan.

 

Yang selalu rindu,

 

Langitshabrina

Kepada Rangga

Hai Pujangga, apa kabar New York pagi ini? Apakah sedingin ruang tunggu Cinta
yang kau tinggalkan dengan bilangan purnama? Atau terasa lebih hangat berkat
secangki kopi yang pahitnya sampai ke Jakarta.

Menurut desas-desus, sebentar lagi kamu akan pulang, melengkapi kenangan
perempuan yang datang atas nama cinta. Sikapmu kemarin-kemarin memang
mengecewakan, meninggalkan kekasih selama itu tanpa berita. Memang
menurutmu ciuman terakhir itu cukup membuat Cinta bahagia menunggu
bertahun-tahun? Kamu pikir barisan sajak pada halaman terakhir itu cukup
membuatnya takkesepian?

Rupa-rupanya ia salah satu menganut pemikiran Sukab yang acapkali berkata, “Aku tidak pernah keberatan menunggu siapa pun berapa lama pun selama aku mencintainya.” Dengan penantian yang pasti melelahkan itu, aku yakin, ia masih akan memberikan senyum yang sama dengan senyumnya belasan tahun lalu kepadamu.

Kekasihmu mengambil alih semua pemarkah cinta. Gejolak, kebahagiaan,
kepahitan, dan kesetiaannya, ia dekap semua. Semoga ini bukan karena kutukan
namanya. Waktu itu aku masih ingat, gadis ceria yang kau sebut “tak punya pendirian” mengubah hidupnya karena bertemu seorang penyair penuh rahasia sepertimu. Untuk seorang perempuan populer, menarik diri dari keramaian adalah putusan yang takmain-main. Mungkin itu kali pertama ia benar-benar jatuh cinta.

Bila benar-benar akan kembali bersama, aku amat penasaran apa yang akan
kalian bicarakan. Permohonan maaf, seharusnya jadi yang pertama diungkapkan.
Agaknya akan ada sedikit kemarahan akibat lelah penantian. Semoga kisah
selanjutnya akan menjawab segala ketertangguhan. Paling tidak, memberi sedikit
gambaran pernyataan AIS,

kesetiaan adalah batu, ia takkenal waktu.

Salam hangat,

Maneka

Cieee Imel Baru

Gak Penting

Hari ini aku ingin bercerita tentang sesuatu yang kurang penting. Mungkin buatmu tidak terlalu penting. Hahaha! Namun, dalam kejenuhan ruang tunggu yang hampir menjadi ini, tidak terlalu buruk nampaknya aku berbagi soal remeh-temeh kehidupan masa laluku.

Kenangan ini terjadi kurang lebih 10 tahun lalu, ketika aku masih kelas 3 SMA. Waktu itu aku ditakdirkan untuk belajar di kelas IPA walaupun hati menolak. Anak yang rajin bikin puisi di salah satu tangga dekat ruang guru harus bergelut dengan matematika dan fisika? Wah, itu menciptakan neraka sendiri namanya. Akan tetapi, aku juga terus-terusan berpikir untuk mengubah zona taknyaman itu menjadi zona nyaman. Salah satu caranya adalah dengan mengikuti kajian-kajian yang berkaitan dengan pelajaran IPA.

Pada suatu pagi, nampaknya hari Sabtu atau Minggu, aku dan Gina, salah satu teman sekelasku, pergi ke sebuah seminar yang membahas tentang keruntuhan teori evolusi Darwin. Materinya lengkapnya bagaimana? Aku sudah lupa haahaha! Yang masih aku ingat adalah salah satu pembicaranya: Ustadz Taufikurahman, dosen Biologi ITB. Satu bagian dari ceramah ilmiahnya yang masih aku ingat adalah sebuah anekdot tentang Darwinis. Ketika seorang anak bertanya kepada ibunya tentang silsilah ke-kera-annya, sang ibu berkata. “Nggak tahu tuh. Ibu bukan keturunan kera. Kalau kamu memang mewarisi ciri-ciri kera, mungkin dari keluarga ayahmu.” Geeer semua peserta tertawa. Anekdot ini membuat pertemuan pertamaku dengan beliau takterlupakan.

Aku dan Gina yang suka sekali berpuisi tentu secara tanpa sadar memiliki sifat lebay akut. Setelah acara berakhir, kami penasaran dengan pembicara ini. Mungkin jika kami hidup pada zaman ini, kami adalah salah satu anggota jamaah kepoiyah. Ketika Ustadz Taufikurahman dan pembicara lain keluar dari Gedung Dakwah untuk shalat dzuhur di Masjid Agung Tasikmalaya (yang waktu itu masih terasa megah), aku dan Gina buru-buru berlari mengejar. Kami on fire untuk meminta tanda tangan.

Sebagai siswa yang sedang belajar jadi akhwat, kami juga tahu bahwa kurang ahsan ngepoin pembicara ikhwan. Namun, apa boleh buat, kami sudah telanjur ngefans dengan pembicara ini. Akhirnya kami berhasil juga mencegat beliau di depan pintu masuk utama masjid. Aku juga lupa, waktu itu sempat memperkenalkan diri atau tidak. Yang pasti, aku dan Gina berhasil mendapatkan tanda tangan beliau dan sebuah alamat email. Beliau bilang, “Saya juga bisa dihubungi lewat email ini.” Kalau tidak salah tulisannya taufikurahman@mipa.itb.ac.id. Waktu itu di dalam hati terbersit, “Wah, keren banget alamat emailnya.”

Sepuluh tahun kemudian, seorang linda yang pemalas ngurusin administrasi akhirnya mendapat email konfirmasi tadi sore. Hari ini aku punya alamat email baru. Namanya tetap alay: linda.langitshabrina@fsrd.itb.ac.id. Walaupun beda sedikit dengan email cendikiawan idolaku, aku tetap seneng lah. Mana pernah nyangka bisa satu lembaga sama beliau. *tuh kan alay lagi. Biar bermanfaat, nampaknya aku akan mulai menggunakan alamat email ini.

Berdasarkan pengalaman ini aku berpikir, mungkin dalam setiap detail kejadian yang dialami dalam hidup, ada doa lirih yang tanpa kita sadari sama dengan rencana Allah SWT. Makanya mulai sekarang berpikir yang baik-baik aja. Siapa tahu bisa berjodoh dengan Vidi Aldiano atau Baim Wong. *mulai disorientasi nih pembicaraan. Mohon maaf bagi yang nyasar di tulisan ini.[]

*100% Curhat

Membaca Ojek Syar’i dari Jauh

ojek-syari-660x330

Tulisan ini dibuat setelah aku mendapat sebuah broadcast dari seorang teman perempuan di sebuah grup alumni kampus. Broadcast itu berisi tentang lowongan ojek perempuan yang dikeluarkan oleh sebuah perusahaan. Pesannya lengkap dengan rincian keuntungan yang akan dicapai dan beberapa persyaratan berupa surat-surat formal. Pengumuman tersebut memberi citra bahwa tawaran kerja ini resmi, serius, dan keuntungan yang akan didapat pun menjanjikan.

Mitos Gojek

Kemunculan ojek syar’i taklepas dari boomingnya Gojek baru-baru ini. Bermodalkan sebuah app bernama Gojek, seorang lulusan universitas luar negeri dapat menjadikan ponsel pintar android beralih fungsi menjadi pangkalan ojek. Teknologi yang digunakan mungkin saja lama, tapi peruntukannya yang membuat ia sangat berguna bagi penggunanya. Pada waktu itu, entah kapan, aku lupa tanggalnya, Gojek jadi berita yang “gegap gempita” di media massa Indonesia. Seperti tersirap, semua media menyoroti Gojek dari berbagai sisi – keuntungan perusahaan, latar belangan CEO-nya, dll. Banjir berita soal Gojek ini membuat citra kesuksesan perusahaan ini memang nyata. Padahal, (sebagai orang Bandung dan gak gaul) aku jelas-jelas tidak pernah melihat satupun Gojek di jalan raya. Citra positif perusahaan Gojek pun menggelinding di masyarakat Indonesia yang sedang betah menjadi masyarakat virtual. Segala realitas yang didapat adalah realitas virtual. Turkley menyebutkan bahwa realitas virtual memberikan gambaran kehidupan yang lebih nyata dibandingkan dengan kehidupan nyata, (Lubis, 2014:185). Berita yang disampaikan media massa diterima masyarakat dengan bulat-bulat tanpa mempertanyakan kembali. Barthes menyebutnya dengan kepercayaan palsu. Berita tentang Gojek serta-merta membuatnya menjadi perusahaan sukses. Aku yakin pemiliknya merogoh kocek yang taksedikit untuk strategi pertama ini.

Dalam obrolan urban yang berjudul Tiada Ojek di Paris, Seno menyebutkan bahwa,

ojek adalah bukti kreativitas dalam usaha survival kelas bawah dalam tingkat kemakmuran ekonomi seadanya yang bisa diperjuangkan negara baik dari masa pemerinta Orde Baru sampai Reformasi. Bahwa di satu pihak ojek dibutuhkan di Jakarta adalah bukti terbatasnya jangkauan pemikiran pemerintah DKI, di lain pihak bahwa manusia terpaksa menjadi tukan ojek sebagai alternatif satu-satunya, adalah bukti terbatasnya lapangan kerja dalam struktur yang mampu disediakan pemerintah Indonesia. Kepentingan tukang ojek hanyalah makan untuk hari ini, dan kepentingan pengguna ojek adalah sampai tujuan secepat-cepatnya, (2015: 189).

Kemudian kita dihadapkan dengan iklan-iklan Gojek app di bagian bawah twitter atau app lain ketika online. Gojek mulai menyelinat dalam kehidupan vertual kita. Selanjutnya mulai muncul ojek-ojek yang berjaket dan berhelm Gojek (mungkin) di Jakarta. Realitas virtual mulai ditunjang dengan realitas fisik. Bulan Ramadhan Gojek memberikan diskon kepada penggunanya. Tanpa diminta, pengguna jasa Gojek mewicarakan pesan ini. Pada saat itu Gojek sedang dimitoskan oleh masyarakat. Momentum tidak disia-siakan oleh pemiliknya. Bergulir berita baru tentang kesuksesan driver Gojek yang berpenghasilan puluhan juta. Strategi ini diambil tentu untuk memperbanyak ojek-ojek online dan memasarkan Gojek  app.Pemitosan ini nampaknya berhasil.

Sejak kemunculan Gojek, citra tukang ojek sudah bergeser dari pemikiran Seno. Menjadi tukang ojek juga ternyata adalah profesi sampingan yang menguntungkan. Memang, pada obrolannya, Seno pun menyebutkan, dari sisi kecepatannya ojek bukan sepenuhnya menjadi sarana transportasi kelas bawah. Keserbacepatan dunia metropolitan bahkan membuat para menteri menggunakan ojek untuk menerobos kemacetan. Di kota metropolitan, kini profesi tukang ojek naik kelas. Tidak hanya cepat untuk penggunanya, ojek juga menguntungkan dan menjadi pekerjaan resmi. Surat- surat formal yang menjadi persyaratan seleksi adalah penanda keresmiannya. Beramai- ramai orang mengantre mengikuti seleksi Gojek. Katanya “ingin mencari penghasilan tambahan.” Bahkan seorang sarjana pun tertarik untuk ikut menjadi ojek. Fakta ini sudah cukup menjadi bukti bahwa Gojek telah menjadi mitos.

Latah Ojek Syar’i

Hingar-bingar Gojek ini lantas menyuntik semangat seorang perempuan muda yang peduli terhadap mobilitas muslimah yang rendah. Ia memunculkan ide Ojek Syar’i yang terdiri dari perempuan dan khusus mengantar perempuan. Biasanya bantuan ojek ini diperlukan untuk dua kondisi darurat. Pertama, untuk menjangkau jalan yang tidak dilalui angkutan umum. Kedua, ketika harus menempuh jalan-jalan yang sudah tidak dilalui angkot pada malam hari.

Tolak-Gojek-9-7-2015-30

Sebelum berbusa-busa bicara, aku ingin mengamini pernyataan Seno soal Jakarta sebagai kota Postmodern. Ini ditandai dengan hiperrealitas (lebih nyata dari nyata) dan simulakral (imitasi tanpa adanya keaslian). Ini juga aku rasa terjadi di Bandung. Berita media massa sudah lebih realitas dari realitas. Berita kesuksesan driver Gojek sudah  lebih nyata dari para tukang ojek yang beramai-ramai memasang spanduk “NO GOJEK” di pangkalannya. Berita driver Gojek perempuan yang dipukuli oleh tukang ojek lebih nyata dari faktanya yang ternyata mengalami kecelakaan.

kecelakaan

Ketercengangan manusia kota Postmodern atas hiperrealitas inilah yang melahirkan Ojek Syar’i. Kata syar’i yang sedang booming saat ini pun menjadi pijakannya. Hijab syar’i, bank syariah, asuransi syariah, dan berbagai hal yang diembeli syar’i dan syariah lagi-lagi menjadi alat pemitosan sebuah produk komoditas. Idenya adalah dengan menggunakan ojek perempuan, perempuan -terutama muslimah dapat mendatangi tempat yang tidak terjangkau angkot/ mobil umum tanpa harus naik ojek (yang mayoritas laki-laki). Tanpa berdua-duaan dengan laki-laki di motor, perempuan / muslimah dapat cepat sampai di rumah ketika pulang malam dan tidak ada angkot.

Yang terlupakan adalah nasib perempuan yang mengambil beban sebagai tukang ojek syar’i. Apabila dia mahasiswa, bukankah seharusnya fokus kuliah? Normatif memang. Apalagi untuk dijawab oleh mahasiswa yang aktivis dakwah. Mungkin akan berkata, “kalau bukan kita siapa lagi yang akan mengantar muslimah?” Mereka semacam mengambil beban penyelamatan muslimah yang ingin bepergian tapi tidak mau naik motor bersama laki-laki yang bukan mahram. Lantas bagaimana kalau perempuan ojek syar’i ini adalah ibu rumah tangga? Makin hancur lagi nampaknya. Bagaimana nasib urusan rumah tangga, pendidikan anak-anak? Yang jadi pertanyaan lebih besar lagi, suami mereka ke mana?

Tugas muslimah sebagai ibu peradaban akan dipindahkan ke pundah siapa? Jadi, waktu senggang mahasiswa muslimah dan ibu-ibu muslimah yang bisa digunakan untuk aktualisasi diri harus dipakai untuk narik ojek? Kapan mereka bisa baca buku? Kapan mereka bisa ngafalin Al Quran? Kapan mereka bisa belajar resep-resep masakan yang baru? Kapan mereka bisa mengajari anaknya hafalan Quran?

Tugas dakwah memang banyak, tapi ada pundak-pundak yang lebih tepat bertugas menanggungnya. Agar tepat waktu, seorang muslimah tentu seharusnya terbiasa berangkat lebih awal. Agar takpulang malam, seorang muslimah tentu bisa mengerjakan tugas kuliah atau pekerjaan kantor lebih cepat dari perempuan biasa. Jangan sampai kebiasaan ngaret membuat muslimah lain harus menanggung beban dengan menjadi ojek syar’i. Jangan sampai kebiasaan pulang malam mengorbankan muslimah lain berkeliaran malam hari sebagai ojek syar’i.

043382000_1415607148-ojek

Beda lagi ceritanya jika ojek syar’i ini ternyata adalah ojek laki-laki yang motornya dihalangi dengan besi sebagai pembatas. Jadilah ia produk syar’i yang paling permukaan. “Tetap bepergian dengan lawan jenis yang bukan mahram tapi dihalangi lempengan besi bertuliskan ‘syariah’ sebagai pembatas.” Jika demikian, benarlah perkataan Nukman, “Ojek pun ada yg syariah, bentuk segmentasi pasar. Kelas premium.” Tidak ada nilai syariat sama sekali di dalamnya. Gojek dan Ojek Syar’i hanya membuktikan pernyataan Seno bahwa,

Homo Jakartensis (sebagai representasi kota besar dan Indonesia) adalah ndoro mas dan ndoro putri yang mboten kersa (ogah) berjalan kaki, (2015: 189).

Sekadar mengutip:

Ajidarma, Seno Gumira. 2015. Tiada Ojek di Paris. Bandung: Mizan

Lubis, Akram Yusuf. 2014. Postmodernisme. Depok: Rajagrafindo Persada

foto dari sinisini, sini dan sini

Bahagia Takharus Sama

difference1

Demi menulis pada bulan Ramadhan, hari ini aku mau cerita soal remeh temeh yang aku alami di asrama Maqdis, sebuah pondok hafalan Quran di Bandung. Begini ceritanya..

Aku adalah common people yang paling common dalam sisi pendidikan di Indonesia ini. Sekolah dasar 80% aku jalani di Denpasar sebagai minoritas muslim. Buatku, pengalaman itu amat berat. Ini terbukti dengan kebiasaanku berganti-ganti teman sebangku. Belum lagi pelajaran bahasa Bali yang menjadi teror buatku. Masa-masa itu meninggalkan kenangan
yang takmenyenangkan. Setelah pindah ke Tasikmalaya, aku melanjutkan sekolah dasar di sebuah SD depan rumah. Pengalaman awal berada jauh dari orang tua ternyata takmudah. Setiap pekan ada saja waktu menangis. Ini juga jadi kenangan yang takterlalu menyenangkan.

Memasuki jenjang SMP semuanya berubah. Dalam sejarah pendidikanku, dapat dikatakan SMP adalah masa kejayaan. Seorang anak perempuan yang sedang mencoba berbagai hal baru dengan kenakalan baru tapi ia dapat menjadi sosok berprestasi di kelas. Sekarang aku takpernah habis pikir, kenapa seorang Linda bisa mengerjakan tugas fisika dan menjadi
sumber contekan teman sekelasnya. Dengan aktifitas ekskul seabrek, aku bisa mendapat nilai 9 di ulangan matematika. Belum lagi kepercayaan diri yang over dosis. Hari ini aku menemukan, ah, nampaknya dengan menjadi diri sendiri aku bahagia.

Tiba di SMA, pengalaman buruk datang seperti gunung yang ditimpakan ke pundakku ketika aku masih menguap setelah bangun tidur. *Perumpamaan alay* Jadi si 1% di sebuah SMA yang katanya lumayan favorit memang tak menyenangkan. Hari-hari diisi dengan berbagai PR yang mayoritas jawabannya selalu salah ketika dikoreksi di sekolah. Masa ini bolehlah aku sebut sebagai zaman keterpurukan. Nilai mi, re, do, alias 3, 2, 1 adalah hal biasa buatku. Mendapat nilai 6 pada ulangan harian pelajaran Matematika dan IPA adalah keajaiban. Untunglah pada waktu yang sama aku menemukan sebuah pengalaman baru di organisasi Rohis sekolah. Aku bisa menerima diri yang jauh dari kegemilangan di SMP dulu. Aku bisa belajar menghargai orang lain tidak hanya dari kecerdasar akademiknya. Aku sadar bahwa ada bagian lain yang membuat orang berharga, paling tidak bagi dirinya sendiri. Waktu itu, I accept my pretty weakness. Keadaan lemah itu membuat aku tahu diri dan melakukan usaha lebih dari yang lain untuk melanjutkan kuliah. Penerimaan itu yang nampaknya membuat aku bahagia.

Sampai di Sastra Indonesia Unpad aku menemukan diriku yang autentik. Aku taklagi bertemu dengan orang-orang eksak yang sempat seperti hantu buatku. Di Fakultas Sastra, setiap orang dari jurusan apapun dihargai dengan cara yang sama. Walaupun jurusan favorit adalah Sastra Inggris dan Jepang, mereka amat biasa saja. Semua sadar bahwa mempelajari sastra bukan hal yang main-main, termasuk sastra Indonesia. Sastra Prancis Unpad yang katanya paling sedikit peminat ternyata adalah jurusan paling baik kualitas lulusannya di antara prodi sastra Prancis di Indonesia. Selain egaliter, hidup di sastra juga amat bebas. Takada cibiran, kecurigaan, atau pertanyaan untuk perempuan yang mulai bercadar. Begitupun bagi perempuan yang merokok, kami biasa saja menerimanya. Setiap orang memilih sesuatu karena sudah mengetahui konsekuensi dan tanggung jawab yang harus dipikul. Kebebasan itu yang membuatku belajar menghargai perbedaan. Kemampuan menahan diri dari gaya dakwah yang “memaksa” adalah satu hal yang membuat aku bahagia waktu itu.

Melanjutkan kuliah pascasarjana dengan beasiswa merupakan sesuatu yang membahagiakan menurutku. Namun, setelah masuk kuliah dan bertemu dengan banyak mahasiswa yang mayoritas adalah dosen penerima BPPS, ternyata beasiswa adalah sesuatu yang common di Unpad. Dua hal baru yang aku temukan ketika menjalankan S2 adalah kehidupan ibu-ibu yang kuliah dan mahasiswa yang bekerja. Di kampus, aku belajar bersama seorang dosen, psikolog, perempuan Jawa lengkap dengan kehidupannya. Menjadi dosen, ibu, dan mahasiswa pada waktu yang sama ternyata bukan hal mudah. Di asrama, sebagai common people aku hidup bersama teman-teman yang kuliah S1 sambil bekerja, mereka membiayai kuliah dan biaya hidup sehari-hari dari pekerjaan sebagai guru Al Quran. Kehidupan mereka adalah sesuatu yang takpernah sedikitpun terpikir di benakku waktu kuliah S1. Dulu aku sibuk dengan tugas kuliah dan organisasi. Uang tambahan didapan dari beasiswa. Takpernah terpikir bisa bekerja. Dengan hiruk-pikuk pekerjaan, tugas hafalan Quran, dan tugas kuliah, mereka tetap bahagia. Dari situ aku menemukan, ah, takperlu sama untuk bahagia.

Lalu aku dipertemukan dengan Tita, seorang teman yang sudah hafal Al Quran sebelum usianya genap 17 tahun. Setelah SMP ia menghafal Al Quran di Al Hikmah. Dalam waktu kurang dari 1 tahun ia bisa menamatkan setoran hafalan 30 juz. Untuk masuk kuliah, ia mengikuti program paket C. “Tita juga pengen ngalamin kuliah kayak orang lain,” katanya ketika bercerita soal rencananya ikut seleksi beasiswa kuliah untuk penghafal Quran. Alhamdulillah, dengan berbagai rintangan yang dilalui, akhirnya adikku itu lulus dan menjalani kuliah. Qadarullah, di semester 3 seorang hafidz datang melamarnya. Calon suaminya bersedia mengganti beasiswa yang sudah diterimanya selama ini. Adikku akhirnya menikah, berhenti kuliah, dan mendampingi suaminya sambil mengajar Al Quran. Kisahnya membuat aku sadar, bahwa kebahagiaan itu tidak common, dia unik dan siapapun bisa mendapatkannya. Takperlu sekolah SMA untuk masuk kuliah, dan takperlu lulus kuliah S1 untuk menikah, takperlu menjadi sarjana untuk sukses dan bahagia.

Hari ini aku kembali hidup dengan anak-anak yang melepas pendidikan formalnya untuk menghafal Quran. Di sini ada seorang santri yang sejak kecil menjalani home schooling sampai pada tingkat yang setara dengan SMP. Aku yakin wawasannya berpuluh kali lipat lebih banyak dari wawasanku yang belajar di sekolah formal dulu. Mereka melewatkan pendidikan SMA, menghafal Al Quran, dan akan mengikuti ujian paket C untuk masuk universitas. Mereka memang takmasalah melanjutkan kuliah di kampus swasta. Lagi-lagi aku menemukan ketakbiasaan. Takperlu masuk SMA untuk bisa kuliah dan takperlu kuliah di kampus negeri untuk bisa bahagia.

Dalam keterbiasaan menghadapi yang takbiasa, setelah bekerja di lingkungan kampus, aku menemukan kebiasaan yang takbiasa lainnya. Di pondok, aku biasa dengan orang-orang yang bangun malam untuk mengerjakan shalat. Di kampus, aku menemukan hampir semua mahasiswa masih terjaga sampai pukul 3 dini hari untuk mengerjakan tugas. Mereka didisiplinkan untuk bersaing mengejar nilai terbaik di kampus. Kalau dirunut dari kisahku di atas, menurutku, mereka sedang mengejar kebahagiaan yang paling common dengan usaha yang lebih dari biasanya. Mereka benar-benar dihargai dari nilai akademik. Entahlah, mereka tahu atau tidak soal orang-orang yang taklagi mementingkan pendidikan formal.  Aku jadi semakin yakit, takperlu sama untuk bahagia dan takharus berbeda untuk bahagia.

Dari kisah panjang ini, aku belajar menghargai orang dengan latar belakang pendidikan apapun. Aku tidak bersikap berlebihan pada orang-orang yang menyelesaikan pendidikan formalnya sampai jenjang yang paling tinggi. Aku jadi suka mencari kisah di balik perjuangan para doktor dalam menjalani studi mereka. Yang membuatku menghormati mereka bukan gelar, tapi keistimewaan kemampuan mereka untuk menerjang semua tantangan hidup ketika menyelesaikan studinya. Sikap mereka yang rendah hati, tidak pernah mempersulit sebuah pekerjaan, bahkan mempermudah dan penuh penghargaan membuatku amat menghormati mereka. Kerendahan hati itu taksedikitpun menurunkan penghormatan kami kepada mereka, dan dapat aku pastikan, mereka amat bahagia.

Ya dalam tulisan bertele-tele ini lagi-lagi aku sampaikan: takperlu sama dengan orang lain untuk bahagia, takperlu berbeda untuk bahagia, dan takperlu mendapatkan kepabahagiaan yang sama dengan orang lain untuk bahagia. Bahagia itu milikmu.

gambar dari sini

Kita Telah Berubah

ci

Ramadhan ketiga ini ditutup dengan gambaran umum soal apa yang menimpa umat Islam, khususnya kalangan anak muda. Mulanya dari pembicaraan soal gerakan kaum liberal yang sedang mengkampanyekan penghapusan arabisasi Islam di Indonesia. Bagian yang paling digugat adalah busana muslimah atau hijab. Pakaian serba hitam dan cadar menjadi  penanda yang digugat. “Lima atau sepuluh tahun ke depan Indonesia akan menjadi Arab.” Belum lagi istilah-istilah Arab banyak digunakan di Indonesia. Bahkan kata ikhwan dan akhwat yang sering muncul di WC masjid pun dibahas oleh mahasiswa/ dosen sastra Arab yang ikut-ikutan menyudutkan Islam. Ikhwanul Muslimin disebut-sebut sebagai salah satu yang memengaruhi kehadiran dua istilah ini. Seorang yang takpaham berujar, “Berarti kalau bukan saudara sedarah gak boleh masuk WC masjid dong!” Di situ kesalahan mereka. Mereka belum paham benar makna persaudaraan menurut Islam yang diimplementasikan oleh Ikhwanul Musliman. “Sesama muslim itu bersaudara,” sederhananya demikian. Namun, liberalis itu alfa soal prinsip ini. Untuk melawan ini, muncullah istilah Islam nusantara, Islam yang asli Indonesia. Salah satu produknya yang paling dekat kita saksikan adalah pembacaan Al Quran dengan langgam Jawa.

Pagi pertama Ramadhan seorang ustadz membahas ini dalam sebuah kuliah subuh. Ia menyebutkan bahwa sejak kehadirannya, Islam sudah menjadi nafas kehidupan di Indonesia. Buktinya berbagai hal yang berhubungan dengan pengaturan masyarakat, mayoritas menggunakan kata serapan dari bahasa Arab. Kata hukum, hakim, adil, musyawarah, wakil, mahkamah, dll berbahasa Arab. Apabila pegiat Islam Nusantara ini menggugat istilah Arab semacam ikhwan – akhwat, ubahlah dulu butir Pancasila. Kata keadilan, hikmat, permusyawaratan, perwakilan, dll dalam Pancasila ubah dulu ke bahasa Indonesia asli. Alih- alih mengubah yang Arab jadi Nusantara, justru ujungnya malah westernisasi. Akhirnya ustadz mengutarakan pernyataan paling aku suka, “Orang yang melakukan Arabisasi Islam dan Islam Nusantara, keduanya sama: fundamentalis. Islam ya Islam titik”

Ide Islam nusantara ini pernah terjadi pada Islam di Turki sejak kemunculan Mustafa Kemal Attaturk. Pernah suatu hari saat berkuasa, setelah melarang adzan menggunakan bahasa Arab dan hanya diperbolehkan berbahasa Turki, Mustafa Kamal melewati suatu masjid yang masih mempergunakan adzan dengan bahasa Arab, seketika itu juga dirinya merobohkan masjid itu. Cerita yang lain mengatakan, ketika Mustafa mewajibkan setiap orang Turki memakai topi Barat yang kala itu di Turki lazim dianggap sebagai simbol kekafiran, maka barangsiapa yang tidak mau menuruti perintahnya memakai topi, orang itu akan dihukum gantung. Hasilnya, banyak lelaki Turki yang digantung di tiang-tiang gantungan yang sengaja dibuat di lapangan-lapangan kantor pemerintahannya. Sejarah mungkin berulang, liberalis Indonesia mungkin rada ketinggalan zaman. Mereka mau melakukan hal yang sama di Indonesia. Ya, semoga mereka juga belajar soal akhir hayat Kemal Attaturk yang mengenaskan itu. Kehadiran Said Nursi menggubah kisah Islam di Turki menjadi lebih baik. Lalu generasi kemudian, Erdogan menjelaskan dengan sejelas-jelasnya soal posisinya.

“Speaking at Kanal D TV”s Arena program, PM Erdogan commented on the term “moderate Islam”, often used in the West to describe AKP and said, “˜These descriptions are very ugly, it is offensive and an insult to our religion. There is no moderate or immoderate Islam. Islam is Islam and that’s it,” (Source: Milliyet, Turkey, August 21, 2007).

Lalu, di Indonesia, siapakah pembaharu itu? Akhirnya pembicaraan kami berpindah pada kisah pelengseran Sukarno tahun 66. Seperti Said Nursi yang menyebar tulisannya dari penjara, Taufiq Ismail pun menyebar tulisannya kepada sesama mahasiswa untuk berbagi semangat. Kami pun membahas soal posisi mahasiswa di Indonesia. Saat ini mahasiswa sedang “dipindahkan” oleh pemodal media massa dari jalanan ke kursi-kursi penonton di acara-acara televisi. Kegiatan BEM pun saat ini lebih banyak mengundang grup band dan komedian. Kegiatan yang berhubungan dengan penelitian amat langka. Belum lagi hantaman budaya virtual saat ini. Mahasiswa sekarang lebih banyak ngegalau di media sosial ketimbang berkarya. Yang produktif nulis buku, kebanyakan ngegalau di puisi, cerpen, atau novel. Yang berprestasi di bidang akademik dan ilmiah juga ada, tapi jumlahnya sangat sedikit.

Setiap pulang kerja di angkot, setiap seangkot sama anak SMP, SMA, atau mahasiswa laki-laki, pasti yang dibahas adalah game. Bahkan ada yang rela begadang demi naik level sebuah game. It’s oke lah kalo game itu menghasilkan penelitian (baca: tesis). Kalau cuma buang waktu, mau jadi apa hidupmu? Nah, kalau perempuan sekarang lagi dihantam sama drama Korea dan boyband KPOP. *Yang nulis termasuk tersangka. Sometime aku jadi mikir, kalau game adalah part of life-nya cowok-cowok masa kini, apa jadinya generasi mendatang ayahnya tukang ngegame? Begitupun tentang perempuan yang kecanduan drama Korea, “Kapan sih mereka sadar dan bangun?” Aku bahkan curiga ada sekelompok orang yang dibayar oleh pemerintah Korea untuk mengunggah video drama Korea satu detik setelah drama itu selesai ditayangkan di TV. Penelitian ke arah situ kayaknya bakal lama dan multidisipliner banget.

Sebagai anak Kajian Budaya, Ya! Aku mengiyakan bahwa sudah sangat lama anak muda Indonesia digempur dengan imperialisme cultural. Ini lebih menyeramkan dari hantaman yang dilakukan Israel terhadap Palestina menurutku. Muslim Palestina digempur secara fisik, ruhiyahnya menguat dan semangat perlawanannya hidup. Di Indonesia, gaya hidup dan alam pikiran yang sedang digempur. Akhirnya lahirlah generasi memble. Kapan semua ini akan berakhir? Bergantung kesadaran orang tua masa kini dalam mendidik anaknya di rumah. Itu hal minimal yang harus dilakukan. Namun, anak muda zaman sekarang gak mungkin dihadapi dengan konfrontasi (baca: larangan). Mereka harus benar-benar dipahamkan dan diarahkan.

Semua celoteh di atas bisa disingkat dengan kalimat Piliang:

mewabahnya citraan-citraan semu di media massa, komoditi-komoditi, dan tubuh-tubuh, semuanya merupakan satu bukti bahwa sebetulnya semua teori-teori Boudrillard tentang simulasi dan realitas semu bukannya tidak ada gunanya. Setidak-tidaknya ia mengingatkan kita bahwa sesungguhnya di tengah-tengah citraan dan objek yang mengalir di hadapan kita, sesungguhnya kita telah berubah, (2011:171).

Satu solusi tawaran Piliang yang aku sepakati:

Di dalam sejarahnya, dunia pernah dikuasai oleh tiga bentuk kekuatan. Pertama, kekuatan agama yang dibangun berdasarkan prinsip-prinsip kasih sayang, kedamaian, keadilan, kearifan, dan keshalihan. Kedua, kekuatan militer yang dibangun berdasarkan prinsip-prinsip kesatuan, keamanan, stabilitas dan kekuasaan. Ketiga, kekuatan pasar yang dibangun berdasarkan prinsip keuntungan.
………………………………………………………………………………………………………………

Bagi Indonesia, milenium ketiga harus dijadikan sebagai milenium renaisans spiritual atau milenium kebangkitan agama. Agama harus dijadikan way of life, sehinggi tidak sekadar jadi benteng terakhir tapi justru menjadi energi bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Pada kenyataanya konsep-konsep kejujuran, kerja keras, keterbukaan, kesederhanaan yang diperlukan dalam kancah globalisasi ekonomi dan informasi saat dewasa ini adalah konsep-konsep yang berasal dari agama.

Oleh sebab itu, menjadikan nilai-nilai keagamaan sebagai fondasi dari berbagai kegiatan ekonomi,sosial, politik tidak dapat ditawar-tawar lagi dalam menyambut milenium ketiga. Tantangan masa depan adalah menciptakan sebuah dunia hiper-modern yang bernuansa spiritual, sebuah supermaju yang berkearifan.

(Dunia Yang Dilipat, Piliang, 2011: 454).

*jurnal paling random

Jangan Biarkan Dirimu Sendirian

20150405_212521

Teman:

Hari ini ketemu lagi Ramadhan. Kalo dipikir-pikir, tempat paling kesepian dalam kehidupanku ya waitingroom ini. Dia jadi semacam kotak-kotak kenangan yang aku simpan di sudut gelap, di mana entah. Sambil melangkah aku meninggalkannya dalam keterpencilan, sama tepat seperti ketika aku menulis satu demi satu tulisan yang lebih banyak pahit ketimbang manis, lebih banyak galau ketimbang serius, lebih banyak ragu ketimbang yakin. Aku berjalan menuju hingar bingar, dan dia ditinggalkan dalam kesepian. Maafkan aku ruang tungguku.

Ramadhan tahun ini membawaku pada kontemplasi tentang Ramadhan-Ramadhanku satu, dua, tiga, empat, bahkan lima tahun lalu. Betapa banyak pelajaran keimanan telah diujikan-Nya tanpa aku sadari. Satu demi satu manusia baru datang dan pergi silih berganti, semuanya dalam rangka menguji keimanan. Siapa atau apa yang paling kamu butuhkan? Allah SWT atau selain Allah SWT? Bahkan ketika jawabannya secara sadar sudah ada di tataran akal, keimanan gak pernah bisa bohong. Dia juga tahu banget apa yang ada dalam lubuk hati terdalam manusia. Dia tahu prioritas kebutuhan mahluk-Nya. Dia menentukan takdir terbaik bagi ciptaan-ciptaan-Nya. Dialah Robb yang pasti mengurus ciptaan-ciptaan-Nya. Yang sering luput dari mahluk adalah kesadaran untuk beribadah, menjadikan-Nya satu-satunya Ilah. Mahluk terlalu banyak keinginan atau harapan yang digantungkan ke mahluk atau kejadian. Akhirnya salah prioritas dan tanpa sadar, dirinya sedang “membiarkan” dirinya sendirian. Dalam keadaan “membiarkan” diri sendirian dengan jauh dari ketaatan pun, Allah SWT takpernah lepas mengurus mahluk-Nya.

Dalam keadaan sendirian, jangan pernah biarkan dirimu benar-benar terpencil sendiri. Jangan pernah biarkan dirimu luput dari pengawasan dirimu sendiri. Jangan pernah kamu telantarkan dirimu dan membuat dirimu tanpa sadar sedang diurus oleh-Nya. Jangan sampai dirimu hanya menjadi seonggok jasad tanpa kekuatan ruh di dalamnya. Allah SWT sudah menyediakan teman, satu-satunya teman yang akan menemanimu saat kamu benar-benar sendirian nanti: Al Quran. Dia adalah teman yang takpernah berhenti menawarkan diri dan kamu acap kali mengabaikannya. Ramadhan ini, yuk sadar sesadar sadarnya bahwa ada teman sejati yang bisa membuat jasad yang seonggok ini lebih berarti. Hidup pasti berakhir dan akhirat itu abadi. Yang pasti menemani dan mendatangi sahabatnya nanti adalah Al Quran. Dia adalah salah satu kunci kita sebagai mahluk memahami Allah SWT sebagai Robb dan Ilah. Semoga setelah paham, kita bisa makin mendekat dan berlari kepada-Nya.

*ceritanya ngomong ke diri sendiri

Jilboobs : Tubuh Tanpa Ideologi

Membahas wacana hijab style kurang seru tanpa membahas fenomena jilboobs. Julukan bernada pelecehan yang ditujukan kepada muslimah yang jilbabnya takmenutup dada dan mempertontonkan bentuk payudara (boobs) ini mencuat di media sosial pada Agustus 2014. Foto-foto muslimah berjilbab dengan kaos ketat dan celana jins yang membentuk bagian payudara dan bokong beredar di Facebook dan Twitter. Tagar jilboobs sempat ramai di lini masa Twitter. Sebagian orang mengutuk para penggunanya karena telah mencemarkan nama jilbab dan kehormatan muslimah. Sebagian yang lain menanggapinya dengan kesan lebih bijak. Para pengguna jilboobs sedang berproses menuji jilbab yang syar’i. Tidak sepantasnya masyarakat mengutuknya. Alih-alih semakin semangat menggunakan hijab, bisa jadi kutukan itu malah membuat pengguna jilboobs melepas jilbabnya.

Jika dirunut dari sejarah perkembangan gerakan menutup aurat di Indonesia, aliran berpakaian dengan mengenakan jilbab, tapi tetap memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh tertentu sempat menjadi tren pada tahun 1998 s.d. 2004-an. Hal itu bersamaan dengan booming film India di Indonesia, (Al Amin: 2014). Hal ini juga berbarengan dengan mulai berjilbabnya artis Inneke Koesherawati. Ia menjadi pusat tren jilbab gaul pada tahun 2002 yang juga disebut jilbab cekek karena helaian jilbab dililitkan ke leher. Model jilbab ini juga disebut sebagai jilbab pentul korek karena bentuknya yang menyerupai pentul korek. Gaya jilbab yang dililitkan ke leher tentu tidak sesuai dengan aturan Islam (menutup dada) sehingga bentuk payudara terlihat jelas.

Baju dan celana ketat adalah ciri khas komunitas berpakaian ini. Mengapa disebut komunitas? Sejak Januari 2014, setidaknya ada empat grup Jilboobs di jejaring sosial Facebook. Grup Jilboobs paling awal didirikan 25 Januari 2014 dan disukai oleh 9.330 akun (diakses 22/10/2014). Komunitas kedua diluncurkan pada 6 Februari 2014 dan dalam enam bulan sudah diikuti oleh 12.140 akun. Komunitas Jilboobs Lover yang didirikan 6 Agustus 2014 dalam sebulan sudah diikuti oleh 2.292 akun. Kehadiran komunitas-komunitas ini tentu bukan ketaksengajaan. Sebuah grup eksis di jejaring sosial tentu ada pembuatnya dan inisiatornya. Dari sisi kajian budaya, Jilboobs takberbeda dengan Punk yang merupakan aliran subkultur dalam fashion. Pengguna Jilboobs sedang belajar menggunakan jilbab tapi belum rela mengganti baju seksinya dengan jilbab yang serba tertutup. Ia juga bisa jadi merupakan protes terhadap pandangan bahwa pengguna jilbab takdapat terlihat seksi. Komunitas ini seolah ingin menyatakan, “Pengguna jilbab juga bisa terlihat seksi.” Fenomena ini terjadi karena tidak sedikit perempuan yang menumpukan citra kecantikan pada seksualitas tubuh.

Dalam kemudahan akses informasi saat ini, bertebarannya gambar-gambar pengguna jilboobs menjadi satu penanda hilangnya aura tubuh muslimah. Baudrillard menyebut zaman ini sebagai era akhir rahasia, (Piliang, 2011: 169). Aurat yang sejatinya menjadi rahasia seorang muslimah kini dengan mudah dapat terlihat oleh siapapun bahkan ketika ia menggunakan jilbab. Komunitas-komunitas Jilboobs di Facebook membagi gambar-gambar muslimah berjilbab seksi. Tanpa sadar, perempuan-perempuan yang gambarnya disebarkan oleh akun komunitas Jilboobs sedang menjadi tontonan. Pada awalnya meraka menganggap diri menjadi subjek popularitas. Padahal sebenarnya mereka sedang menjadi objek tontonan yang tanpa sadar memarginalkan diri mereka sendiri.

Menurut Piliang, dalam masyarakat tontonan, tubuh perempuan sebagai objek tontonan dalam menjual komoditas mempunyai peran yang sangat sentral. Menjadikan tubuh sebagai tontonan bagi sebagian perempuan merupakan jembatan atau jalan pintas untuk memasuki pintu gerbang budaya populer, mencari popularitas, mengejar gaya hidup, dan memenuhi kepuasan material, tanpa menyadari bahwa mereka sebetulnya telah dikonstruksi secara sosial untuk berada di dunia marginal, dunia objek, dunia citra, dan dunia komoditas,” (2011: 331-332). Ini dialami oleh muslimah yang foto-fotonya disebarkan melalui akun komunitas Jilboobs. Pada saat wacana ini ramai diperbincangkan di media, foto-foto mereka dicaplok oleh portal-portal berita online. Tidak jarang foto mereka pun menjadi bahan pelecehan terhadap jilbab. Keuntungan material takdidapat, malah ujungnya, popularitas yang didapat adalah sebagai citra negatif pengguna jilbab. Inilah yang dinamakan tubuh tanpa ideologi. Perempuan pengguna jilboobs seperti awan yang bergerak ke mana angin berhembus. Ia tidak memiliki pegangan yang jelas dalam berpakaian.

Fenomena Jilboobs yang lahir pada hiruk-pikuk wacana hijab style sebagai sebuah komoditas fashion hanya akan menjadikan pengguna jilboobs sebagai objek belaka. Jilboobs yang merupakan akronil dari Jilbab dan boobs. Secara semiotik kata ini mewakili komunitas perempuan beragama Islam yang familiar disebut muslimah. Boobs berasal dari bahasa Inggris yang berarti payudara. Payudara sebagai salah satu bagian tubuh menandakan sensualitas perempuan. Komunitas Jilboobs seolah menjadi agen pembuka rahasia yang selama ini ditutupi oleh muslimah pengguna jilbab. Dari sisi wacana, tanpa sadar komunitas Jilboobs sedang menanggalkan jilbab dan hijab kaum muslimah dan menelanjanginya. Ia menanggalkan jilbab sebagai identitas ideologis muslimah.

Dilihat dari segi bahasa, lagi-lagi boobs -bahasa Inggris- sebagai wakil dari Barat menjadi biang kerok pelecehan jilbab ini. Pamer tubuh sebagai citra eksistensi kecantikan di Barat mengontaminasi alam pikiran perempuan dan membuatnya mencampurkan antara aturan berpakaian menurut Islam dengan kriteria kecantikan versi Barat. Tubuh yang sejak awal dilindungi, dan diberi identitas dengan jilbab, malah dicampakan, dilecehkan dengan mempertontonkan aurat sebagai citra kecantikan ala Barat. Tubuh dilepaskan dari aturan Islam yang memproteksinya. Fenomena ini menjadi bukti lahirnya budaya ketelanjangan, budaya tanpa rahasia, tanpa hijab dalam dunia muslimah. Aurat sebagai wilayah pribadi dipertontonkan dan berubah menjadi wilayah publik. Tanpa disadari tren hijab style menjauhkan hijab yang digunakan muslimah saat ini dengan pakem hijab yang telah diajarkan dalam Islam.

*Mungkin tulisan ini sangat ketinggalan zaman, tapi takapalah. Sebetulnya ini menjadi salah satu bab dalam calon buku saya, tapi saya terbitkan di blog sebagai penanda bahwa ini adalah pernyataan saya. Bagi pembaca Yasraf Amir Piliang mungkin bisa menangkap kata atau frasa beliau yang memengaruhi tulisan ini. Demikianlah, pernyataan-pernyataan beliau dalam “Dunia yang Dilipat” memang hampir semua saya amini.

Berpisah

Sesak di dada ini seperti terkepung dalam kepulan asap atap rumbia yang terbakar di tengah kemarau panjang. Perpisahan kita mengikat detak detik, mendudukkannya di kursi roda bernama penantian. Ia lunglai menatap lekat kenangan yang diam-diam beranjak bersama senja ke ufuk barat. Tidak ada lagi kisah tentang dua buah sendok dan sepiring nasi goreng di pagi hari. Cerita tentang pelaminan setiap pulang kondangan sudah kehilangan pendengarnya kini. Tinggallah kemeja coklat di sudut ruangan yang harus tabah menerima nasib diabaikan. Entah kapan aku bisa mengingatkan tali sepatumu lagi. Waktu seperti kolam renang yang berubah nasib menjadi tempat sampah. Ia hanya berisi keluh kesah tentang dua orang yang harus berpisah. Hari demi hari berisi tangisan yang melahirkan tumpukan tissu basah.[]

*arisan kata paling ngawur bersama @edoy___

Aku dan Dhira

aku dan dhira

Bagi sebagian orang, hari lahir adalah waktu paling istimewa, momen membahagiakan ketika orang-orang sekitar mengucapkan selamat, kejutan lilin di tengah malam. Ada juga orang yang amat gugup menghadapi hari ini, karena deretan target yang belum tercapai, atau karena angka yang semakin menggelayut, apalagi bagi perempuan yang belum menikah di usia matang [stop sampe sini, gak akan dibahas :p ]. Buatku hari ini amat biasa. Semalam sebelum tidur taksedikitpun ada kecemasan menghadapi tanggal keramat ini. Satu-satunya alasan adalah kepulangan Dhira, temanku di kamar Sofiyah Binti Huyyay.

Hari-hariku bersama Dhira diawali dengan berita baik tentang pekerjaan baruku. Dia satu-satunya orang yang benar-benar menemaniku menjalani pengalaman pertama ini. Sejak berubah status dari pengangguran terselubung menjadi dosen, hari-hariku berubah drastis. Aku yang pada awalnya menghabiskan waktu di kamar kini harus setiap pagi berangkat ke kampus yang lumayan jauh dari asrama. Yang paling aku khawatirkan adalah kebiasaan Dhira menyendiri di kamar. Selalu terpikir bagaimana sarapan dan makan siangnya, karena aku hanya bisa benar-benar bertemu dia pada malam hari. Karena lebih banyak diam, waktu itu aku taksempat menyampaikan kekhawatiran itu.

Suatu hari ada sebuah perlombaan resensi buku. Waktu itu aku berencana meresensi novel Assalamualaikum Beijing. Ternyata Dhira sudah pernah menonton versi filmnya. Aku jadi bisa menanyakan persamaan dan perbedaan jalan cerita antara film dan novel. Sejak saat itu kami mulai sering bertukar pikiran. Dhira ternyata termasuk anak yang sudah terbiasa membaca sejak kecil. Novel bacaannya sudah pasti jauh lebih banyak daripada bacaanku. Tidak hanya karya penulis Indonesia, dia juga membaca novel-novel terjemahan yang notabene termasuk sastra kanon di dunia. Dhira juga sering cerita soal film yang diangkat dari dongeng anak-anak di Barat. Kemampuanya menganalisis tanda di film atau video clip sebuah lagu juga luar biasa. Menurutku, waktu seusianya aku takpernah berpikir untuk menganalisis setajam kemampuannya.

Sekamar dengan Dhira mulai menyenangkan. Ia suka sendirian karena sudah terhibur dengan kebiasaan menonton Running Man. Siapapun akan mengakui bahwa acara ini sangat menghibur. Akupun mulai ikut menemaninya nonton, mengenal Joong Ki, Joong Kok, Ji Suk, Suk Jin, Ji Hyo, Haha, Gwang Soo, dan Gery. Semua penghuni asrama mungkin terganggu dengan suara tawaku yang nyaring. Nonton juga pasti dianggap aktivitas terlarang untuk penghafal Al Quran. Sebab itu, kami juga selalu saling mengingatkan tentang target hafalan.

Sejak mengenalnya sampai saat ini, aku dapat pelajaran dari Dhira tentang memahami diri dan orang lain. Kita pasti pernah mengalami posisi ambang, berada di pertengahan jalan menuju sebuah capaian. Di depan kita ada sebuah tebing terjal yang harus didaki seorang diri. Persiapan yang harus dijalani ternyata membutuhkan waktu yang amat panjang. Hari demi hari harus diisi dengan kerumitan sebuah persiapan. Tentu yang hadir adalah kebosanan. Yang diperlukan adalah hiburan, bukan kebosanana yang lain lagi. Ada kalanya kecemasan, stress hanya bisa dihadapi seorang diri karena tidak semua orang mampu menceritakan keluh kesahnya kepada orang lain.

Ada orang yang menyimpan rapat kecemasannya dan hanya menceritakan sesuatu paling permukaan tentang hidupnya. Kehidupan membuatnya amat selektif memilih teman dekat. Boleh jadi sikap ini muncul karena hasil pola didik orang tua, atau karena pengalaman pernah dikhianati oleh orang yang pada awalnya sangat dipercaya. Akhirnya kepercayaan hanya jatuh kepada orang tua dan saudara kandung. Tidak ada satupun orang luar yang dianggap berhak mendapatkan cerita (bahkan remeh-temeh) tentang dirinya. Kami termasuk manusia jenis ini.

Aku sering bercerita kepadanya tentang berbagai pengalaman pertama di dunia baruku karena tahu dia tidak akan menceritakannya kembali kepada sembarang orang. Aku juga tahu, dia tidak akan peduli dengan ceritaku yang tidak penting baginya. Ia hanya akan mendengarkan tanpa berminat untuk menceritakannya (baca: menggosipkannya) kepada orang lain. Dia juga terkadang bercerita tentang pengalamannya di luar asrama. Aku mengerti bahwa yang dia ceritakan adalah segala sesuatu yang memang ingin dia ceritakan dan aku berhak mengetahuinya.

Hal lucu yang sering terjadi di kamar Sofiyah adalah kekagetan kami akibat kebiasaan orang-orang membuka pintu tanpa mengetuk atau mengucapkan salam. Mereka kadang membuka pintu kamar, melihat-lihat ke dalam tanpa bicara, dan pergi tanpa bicara pula. Mungkin itu terjadi karena mereka sedang mencari sesuatu atau seseorang yang ternyata tidak ada di kamar kami. Kadang ada juga orang yang tiba-tiba masuk dan berkata “minjem setrika.” Kemudian dia mengambil setrika dan keluar. Ada juga orang yang datang karena minta garam, berkonsultasi skripsi, mengingatkan tugas piket asrama, atau meminjam laptop. Semuanya hampir tanpa kata-kata pembuka dan itu cukup mengganggu ketenangan kami.

Selain tawa, setiap selesai menonton sebuah film kami sering membahas isi ceritanya. Analisisnya membuat aku sadar bahwa hidup adalah rangkaian kejadian. Hidup adalah transaksi kepentingan yang menagih keberanian untuk mempersiapkan diri menghadapi kejadian-kejadian tersebut. Percaya, dikhianati – berkhianat, penyesalan, ketakutan – keberanian, pertanyaan – jawaban, menunggu – ditunggu, mencintai – dicintai, bertemu – berpisah, mengingat – diingat, melupakan – dilupakan, tersenyum, tertawa, menangis, marah, bersalah, dan berbagai hal  membuat hidup jadi hidup. Kehidupan bukan hanya tentang perjuangan mencapai mimpi yang berakhir kebahagiaan. Bahagia takselama datang dari kesenangan. Hantaman berbagai kejadian yang semena-mena datang bertubi-tubi kadang menyenangkan, paling tidak untuk berkata pada dunia bahwa kita masih bertahan.

Hari ini paling tidak aku berani mengatakan bahwa aku kini kembali sendirian. Bertemu Dhira seperti menemukan aku di masa lalu. Bersamanya seperti bercakap-capak dengan diriku yang dulu. Ya, pulang dan menggapai cita-cita bersama keluarga adalah jalan terbaik untuknya. Aku baru bisa menjadi teman, belum bisa mengambil posisi kakak, guru, apalagi orang tua buatnya. Semoga Dhira mendapat ketetapan terbaik, diterima di universitas pilihan Allah yang mendekatkannya dengan Al Quran. Semoga suatu hari kami bisa kembali berbagi malam, berbagi kecemasan dan tawa. Uhibbukifillah.[]

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 3,419 other followers