Diam

Diam adalah perkataan paling nyaring dalam sebuah kebisingan. Suatu hari dalam sebuah mata kuliah stilistika atau ilmu yang mempelajari bagaimana rangkaian kata memperlihatkan kekuatannya dalam sebuah wacana, kami diberi tugas menganalisis artikel Koran. Kami diminta untuk menelisik tujuan penulis melahirkan artikel-artikel yang kami analisis. Pada mata kuliah tersebut dosen akan menunjuk satu orang untuk mempresentasikan hasil analisisnya. Setiap orang harus bersedia dan siap ditunjuk. Dalam ketidaksiapan, ketika sang dosen berkata, “kumpulkan tugasnya!” Semua orang bergeming, takada satu orangpun yang mengumpulkan tugasnya ke depan. Alhasil, sang dosen langsung memperlihatkan aksinya. Iapun diam seribu bahasa menatap kami mahasiswanya.
Sepuluh menit, duapuluh menit, dua puluh lima menit, sang dosen terdiam. Ah.. aku harus menjadi orang yang peka dengan isyarat kemarahannya itu. Akhirnya walaupun tidak siap, aku mengumpulkan tulisanku yang memang apa adanya. Setelah itu tiga rekanku mengikuti langkahku. Setelah orang ketiga menyerahkan tugas, sang dosen meninggalkan kelas. Rasanya puas sekali hati ini. Pasalnya saat itu aku dan tiga kawanku adalah angkatan muda yang mengambil mata kuliah kakak tingkat kami dan saat itu taksatupun kakak tingkat kami yang siap mengumpulkan tugas.
Dalam pertemuan tersebut, ada kediaman yang kadang takterperhatikan, yaitu kediaman mahasiswa untuk mengumpulkan tugas. Mereka diam dan tidak berani mengumpulkan tugas yang mereka buat. Diam yang disikapkan oleh para mahasiswa mencerminkan ketidaksiapan dan keengganan mereka mengumpulkan tugas. Diam sang dosen mungkin sangat jelas, ia marah karena mahasiswanya takmenggubris permintaannya mengumpulkan tugas. Namun, diamnya para mahasiswa abstrak, mereka diam karena tidak membuat tugas? Mereka diam karena tidak percaya diri dengan hasil pekerjaannya? Atau mereka diam karena tidak ingin ditunjuk presentasi?
Ah..diamnya para mahasiswa ini tidak menghasilkan solusi apapun untuk sang dosen, apalagi untuk diri mereka sendiri. Banyaknya kemungkinan dari kediaman mereka membuat bicara menjadi pilihan yang lebih tepat daripada diam seribu bahasa. Kadang diam lebih bising dari keramaian karena ia menghasilkan banyak asumsi. Siapapun taksuka dengan kebisingan. Oleh sebab itu, apabila berada dalam kebingungan lebih baik berbicara daripada terdiam. Diam membuat kebisingan pada dunia dan orang sekitar kita. Semakin banyak orang yang diam dalam kebingungan, dunia ini akan semakin dibisingi oleh kekacauan. Selamat mencoba berbicara😉
Leave a comment

2 Comments

  1. oo~mencobabicara

    Reply
  2. titintitan said: oo~mencobabicara

    aku juga lagi belajar bicara sama hati kecilku #curcol

    Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript

%d bloggers like this: