Ibrah: Mengamati Pemeriksaan Kehamilan dengan USG

Banyak sekali hal yang nyangkut di pikiranku kemarin. Menemani sister Hana menyimak dan memperhatikan dokter melakukan USG kepada puluhan ibu hamil benar-benar amazing. “Ibu, Alhamdulillah kepala bayi ibu sudah di bawah. Itu salah satu pertanda bahwa ibu dapat melahirkan normal. Sekarang tinggal berdoa aja ya, semoga persalinan ibu lancar,” ujar dokter Ifa. Ah..lega sekali kalau aku menjadi ibu yang mendengar berita ini. Ia tinggal memperbanyak doa sebelum hari bersalin datang. Ia tinggal menamatkan tilawahnya yang sudah terencanya 9 kali khatan selama kehamilan. Betapa sejuknya mendengar kata melahirkan nantinya. Ia tidak akan menjadi pengalaman mengerikan yang menaruhkan hidup dan mati.

Kepada sebagian pasien dokter Ifa berujar, “berat bayi ibu sudah 3,2kg. Ibu harus diet! Jangan kebanyakan makan bakso. Nanti susah lho melahirkannya.” Sang ibu hanya tersenyum, sadar bahwa bakso adalah makanan kesukaannya selama hamil. Berbeda lagi dengan ibu-ibu yang lain, “Berapa usia ibu?” “Dua puluh dua tahun dok,” “Makannya dijaga ya! Jangan terlalu banyak makan! Berat badan ibu sudah 98kg, padahal usia bayi baru 6 bulan. Kalo diusia 9 bulan berat badan ibu lebih dari 100kg, melahirkannya bakal susah.” Ujar dokter Ifa. Berat badan bayinya 6 ons, normal, tapi berat badan sang ibu melambung tinggi tak karuan. Mungkin itulah bawaan bayi, pinginnya makaaaaan ajah. Eh, tapi ngefeknya ke diri sendiri nggak ke bayinya.

Pasien menarik lainnya adalah seorang ibu berjilbab putih. “Ini bekas apa bu?” ujar dokter Ifa. “Bekas operasi Caesar,” katanya. “Sekarang anak pertama sudah berapa tahun?” “Meninggal dok,” dengan wajah datar perempuan itu berujar. “Meninggal kenapa, pas usia berapa tahun?” Tanya dokter. “Tenggelam di kolam waktu main sama kakeknya, waktu usia 18 bulan” masih tetap dengan wajah datar. “Kok bisa! Hati-hati ngejagain anak makanya! Anak usia 18 bulan itu harus dijaga dengan ekstra!” ujar dokter Ifa. Kadang kita jarang menyadari bahwa anak adalah titipan, hanya titipan dari Allah. Mereka bukan milik kita! Bukan! Sejatinya, ketika dititipi sebuah benda berharga, tentu kita akan menjaga dan merawatnya dengan sangat baik. Ia harus utuh secara fisik maupun kegunaan. Sama dengan anak yang diamanahkan oleh Allah kepada kita. Ia harus kita jaga secara fisik maupun mental.

Saya teringat dengan sebuah materi di MQ FM tentang Menghukum Anak. Seorang ibu bertanya, “bolehkan menghukum anak dengan memukul.” Sang ustadzah menjawab dasar alas an syariatnya, “Hei! Anak itu milik siapa. Sering kita menganggapnya milik kita. Bukan! Mereka adalah titipan Allah. Jangan sembarangan menyakiti hatinya apalagi memukulnya!” MasyaAllah, betapa berat amanat itu dipikilkan kepada orang tua. Taksedikit pun saudara! Taksedikit pun Allah memberikan hakmu atas mereka kecuali terhadap pahala dan dosa yang ia berikan jika kau dapat menjadikannya baik atau buruk. Memukul pada akhirnya boleh dilakukan setelah 1001 cara telah diperbuat untuk memperlihatkan dan memperbaiki kesalahan anak. Memukulnya adalah pendidikan dan harus dilakukan tanpa emosi dan dalam keadaan penuh kesadaran.

Kembali lagi pada aksi dokter Ifa mengoperasikan USG. Ada seorang ibu yang ingin disterilisasi setelah melahirkan anak ketiganya yang kini sedang dikandungnya. “Kalo ibu ingin disteril, setelah 40 hari persalinan ibu langsung datang ke Rumah Sakit ya! Biar nanti ibu nggak tiba-tiba hamil lagi,” ujarnya. Dokter Ifa memang penganut paham keluarga berencana versi BKKBN. “Tiga anak cukup lah bu!” ujarnya lagi. Heuh.. nampaknya dokter yang satu ini belum merasakan betapa sepinya rumah ketika tiga anak sudah pergi menimba ilmu ke kota lain. Di rumah hanya ada suami yang semakin lama mungkin semakin tua. Memasak saja semangatnya sudah mulai berkurang. Apalagi kalau sang suami bekerja di kantor seharian dan terbiasa makan di luar. Lengkaplah sudah keengganan untuk memasak. Rasulullah juga bilang, ia akan bangga melihat jumlah umatnya yang banyak dan berkualitas. Memperbanyak keturunan adalah memperbanyak rizeki dan sejarah yang dapat kita torehkan di muka bumi ini. Setidaknya jika cita-cita kita mengunjungi beberapa tempat di dunia tidak tercapai, kita bisa menyemangati anak-anak kita untuk pergi ke sana.

Pasien yang satu ini diperlakukan agak berbeda. Detak jantung bayinya ikut dicek. Kami yang ada di ruangan itu mendengar bunyi “duk-duk, duk-duk,duk-duk,” dari sebuah alat yang digunakan oleh bidan Uswah, asisten dokter Ifa. “Alhamdulillah detak jantung anak ibu sehat,” ujarnya. Sang ibu berkata, “Seperti suara kaki kuda yang sedang berlari.” Sister Hana bertanya padaku, “What’s she say?” “She said that her baby breats heard like running horse,” ujarku. “That’s right!” ujar sister Hana sambil tersenyum. Ah.. seorang ibu yang hamil memiliki dua detak jantung. Kemanapun ia pergi detak jantung yang satunya ikut bersamanya. Mungkin menjadi sesuatu yang biasa bagi perempuan yang sudah hamil beberapa kali. Buatku, its amazing!

Kepada pasien yang berbeda dokter Ifa bertanya, “berapa tahun usia ibu?” “37 tahun” jawabnya. “Ini anak keberapa?” tanya dokter Ifa lagi. “Ke enam dok,” ujarnya. Memang pada dasarnya dokter punya hitung-hitungan tersendiri tentang pasien-pasiennya. Dokter Ifa lalu melontarkan pertanyaan yang seperti halilintar bagiku, “Ini anak dari suami keberapa?” “Dari suami kedua dok,” ujar sang pasien. Masya Allah, dokter Ifa keren banget! Hahaha! Bisa banget ngenilai orang dari kehamilan dan usianya. Seseorang yang menikah beberapa kali, sebepara tua pun dia ketika menikah lagi, nampaknya akan tertuntut oleh suaminya yang kesekian untuk memiliki keturunan. Paling tidak, itu yang kudapat dari tetanggaku yang menikah dua kali. Anak pertanyamanya lahir tahun 1981. Anak terakhirnya lahir tahun 2009 saat sang dirinya berusia 41 tahun. Segala putusan yang kita ambil pasti melahirkan konsekuensi.
Pasien yang selanjutnya tidak sedang hamil. Ia mengalami keluhan sakit di perut bagian bawah yang ia tengarai sebagai rahim. Ia menerka sakitnya datang dari rahimnya. Rasa sakit itu datang selama ia haid pada tiga bulan terakhir tidak lancar. Setelah rahimnya dilihat, dokter Ifa berujar, “Kalau rasa sakit itu datang selama hai tidak lancar, berarti rahim ib
u memang harus dibersihkan dengan cara pungpungpung (baca:istilah kedokterannya aku lupa hehe).” Ketika wajahku penuh pertanyaan, sister Hana yang ada di sampingku menjelaskan bahwa pungpungpung adalah cara membersihkan rahim dengan menggunakan sebuah alat. Dia mendeskripsikan bentuk alat itu. Di otakku alat itu seperti sendok tapi yang bisa menjangkau rahim. Dokter akan melakukan beberapa tindakan agar alat tersebut dapat “mengeruk” sisa-sisa darah yang menempel di rahim.
Yang paling menarik buatku (aku simpen di paling akhir) adalah Teh Ami, seorang manager di kantorku yang memeriksakan kandungannya yang berusia 3 bulan. Sudah 6 tahun ia menikah, ini adalah kehamilan pertamanya. Mungkin karena sering bekerja sampai larut malam dan membuat fisiknya tidak siap mengandung bayi. Sekarang alhamdulillah ia dipercaya oleh Allah untuk hamil. “Bayinya normal Alhamdulillah. Sudah terbentuk kepala, tangan, dan kaki. Banyak makan boleh, tapi usahakan berat badan anakmu normal, 2,5kg saja lah.” ujar dokter Ifa. “Kembaran saya melahirkan normal, berat anaknya 2,8 Kg.” ujar Teh Ami. “Ya, segitu juga boleh, tapi harus prepare dulu aja.” Ujar dokter Ifa. Mengapa dokter Ifa menyarankan hal demikian? Karena Teh Ami tubuhnya kecil, lebih kecil (sedikit) dari aku. Beda yang paling signifikan antara kami: aku gendut, dia kurus heheh. “Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah,” itu saja yang kudengar dari mulut Teh Ami ketika dokter menjelaskan kondisi bayinya.

Satu lagi yang tak menarik perhatian sister Hana, seorang anak berusia 4 tahun yang mengamati USG. “She look scare!” ujar sister Hana. “She said, ‘is the baby stay deep inside?’” ujarku pada sister Hana. Anak itu ketakutan melihan hasil USG yang sama sekali tidak memperlihatkan bentuk bayi yang biasa ia lihat. “Apa bayi itu ada di dalam sana?” tanyanya kepada sang ibu sambil sesekali bersembunyi di balik ibunya karena takut melihat gambar bagian bayi yang ada di USG. Setelah semua pasien selesai terlayani, dokter Ifa berjujar, “Sister Hana, its finished!” “Wow! Alhamdulillah.” Ujarnya.
Leave a comment

6 Comments

  1. menunggu Langit Jingga

    Reply
  2. wah lengkap … Keren2 jadi tau juga nih. Nuhun ah

    Reply
  3. sister hana temennya bule yah….keren2 yahpengalamannya komplit..itu nungguin seharian yah pemeriksanaannya

    Reply
  4. titintitan said: menunggu Langit Jingga

    jingga kapan dateng?

    Reply
  5. mfanies said: sister hana temennya bule yah….keren2 yahpengalamannya komplit..itu nungguin seharian yah pemeriksanaannya

    iya, seharian :d

    Reply
  6. yaniyanceu said: wah lengkap … Keren2 jadi tau juga nih. Nuhun ah

    praktek teh :d

    Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript

%d bloggers like this: