Linguae

Sastra adalah produk budaya yang mewakili sebuah zaman. Karya sastra adalah karya sublim. Seorang sastrawan melahirkan sebuah karya dengan mencampurkan semua isi kepalanya di dalamnya. Setiap pengarang memiliki cara tersendiri untuk memperlihatkan dunia dan isi kepalanya bahkan menilai dunia luar dengan menggunakan konsep yang ada di kepalanya. Salah satu pengarang yang menilai kembali logosentrisme yang ada di dunia ini adalah Seno. Ia mengajak pembaca berputar-putar, berbolak-balik, bahkan membolak-balik hal-hal yang mungkin bagi dunia ini sudah begitu adanya. Dalam kumpulan cerpen Linguae ia mengajak kita berpikir ulang tentang cinta dan segala hal yang diyakini pecinta tentang cinta.

Tidak seperti membaca teksbook membaca karya sastra adalah belajar dengan kegembiraan. Membaca cerpen Seno berarti sedang belajar dengan membaca kata-kata indah yang disusunnya. Seperti karya-karyanya yang lain, ia menggunakan senja sebagai perumpamaan perubahan yang pasti terjadi di dunia ini. Perubahan hidup tidak terjadi pada Maneka, seorang tokoh utama dalam cerpen Cermin Maneka. Hidupnya selalu sama. Sampai suatu hai ia melihat dunia luar di cermin yang ada di kamarnya. Ia melihat dunia yang berubah-ubah di cermin. Hal yang paling ia tunggu adalah senja.

“Baginya pemandangan senja adalah segala-galanya dalam hidupnya, karena adalah senja yang memberi keyakinan kepadanya betapa hidup memang tidak akan pernah sama. Senja selalu menyadarkan Maneka, betapa perubahan adalah keberlangsungan setiap detik dan meski betapa indah dan betapa penuh pesona senja itu, namun akan selalu berakhir. Itulah sebabnya ia selalu memburu senja, seperti memburu cinta, betapa tidak akan pernah abadi cinta itu” (Cermin Manek; hlm.:6).

Seno mengumpamakan atau menyejajarkan perubahan, ketakabadian cinta lewat senja. Senja sebagai peristiwa yang indah yang bahkan terjadi hampir setiap hari –apabila bukan musim hujan- memang sangat indah. Ketakkabadian cinta ia ibaratkan dengan ketakkabadian peristiwa itu. Selain sama-sama tidak abadi, cinta dan senja sama-sama memiliki keindahan.

Setelah mempertanyakan keabadiannya, selanjutnaya Seno mengungkapkan hakikat takdir sebuah percintaan. Saat ini manusia kebanyakan berpikir bahwa cinta sejati atau cinta abadi adalah cinta yang merupakan takdir. Dalam hal ini seno menitikberatkan ikhtiar dalam percintaan. Bukankah akan abadi apabila diperjuangkan? Pertanyaan itu yang ia lontarkan.

“Aku mengatakannya semacam takdir, karena kami memang tidak terpisahkan, tapi aku hanya berani mengatakannya semacam takdir, dan bukan takdir itu sendiri, karena sesungguhnyalah aku tidak akan bisa tahu apakah benar cinta kami yang barangkali abadi itu adalah takdir. Kami seperti tiba-tiba saja ada dan saling mencintai sepenuh hati tapi sungguh mati memang hanya seperti karena ia adalah sesuatu yang diperjuangkan. Cinta abadi kukira bukan sesuatu yang ditakdirkan, cinta abadi adalah sesuatu yang diperjuangkan terus-menerus sehingga cinta itu tetap ada, tetap bertahan, tetap membara, tetap penuh pesona, tetap menggelisahkan, tetap misterius, dan tetap terus menerus menimbulkan tanda Tanya: Cintakah kau padaku? Cintakah kau padaku?” (Cintaku Jauh Di Komodo; hlm:12).

Dalam ajaran agama, apapun yang kita lakukan adalah takdir dari Tuhan. Jika Seno berpandapat bahwa cinta abadi bukan sesuatu yang ditakdirkan, secara tidak langsung ia memercayai bahwa perjuangan dalam cinta bukan takdir dari Tuhan. Padahal dalam agama, Kemahaberkehendakan Tuhan adalah tanda bahwa setiap langkah manusia ditentukan oleh Tuhan. Segala sesuatu yang berkaitan dengan diri kita sudah digariskan Tuhan, bahkan sebelum kita lahir. Kejadian ini kita sebut takdir. Mungkin akan lebih tepat bila Seno berkata bahwa cinta abadi bukan sesuatu yang dinasibkan. Nasib adalah sesuatu yang terkadang tidak kita upayakan dan tidak perlu pengupayaan sedangkan cinta perlu diupayakan.

Dalam cerpen Cintaku Jauh di Komodo, perjuangan cinta itu yang dibahas. Bagaimana sebuah bayang-bayang berrinkarnasi menjadi mahluk-mahluk lain tanpa melupakan cinta pertamanya yang terkadang berreinkarnasi dalam wujud mahluk yang berbeda. Yang satu menjadi seorang lelaki dan yang lain menjadi seekor komodo jantan. Kebutaan cintalah yang dipertanyakan di sini. Cinta itu buta, tidak mengenal status, usia, strata sosial, bahkan agama terkadang. Dalam cerpen ini, secara radikal Seno mempertanyakan keyakinan itu kepada kita atau kepada orang-orang yang masih percaya bahwa cinta itu buta. Keradikalan ini diperlihatkan kembali dalam cerpen Rembulan dalam Cappuccino.

Cerpen ini bercerita tentang seorang lelaki dan perempuan yang sama-sama menginginkan menu andalan sebuah café Itali yaitu rembulan dalam cappuccino. Kedua orang itu ternyata adalah sebuah pasangan yang baru bercerai. Karena rembulan dalam cappuccino itu hanya tersedia satu buah, yang pertama memesanlah yang mendapatkannya. Orang yang pertama kali memesan adalah sang perempuan. Dalam cerpen ini cinta diibaratkan rembulan.

“Para pelayan café itu teringat, betapa perempuan itu mengaduk-aduk Rembulan dalam Cappuccino, bahkan menyeruput Cappucino itu sedikit demi sedikit, tapi tidak menyentuh rembulan itu sama sekali. Perempuan itu hanya memandanginya saja berlama-lama, sambil sesekali mengusap air mata.” (Rembulan Dalam Cappuccino; 22).

Ya, rembulan adalah cinta yang ada pada diri manusia. Cinta perlu perjuangan yang terkadang terasa pahit tapi ada rasa manis di sana, sama dengan rasa cappuccino. Seorang peremuan akan menjaga cinta itu walaupun harus berurai air mata. Rembulan itu juga bisa diartikan sebagai sebuah pernikahan dalam cerita ini. Rembulan dalam Cappuccino adalah sebuah pernikahan berbatu-batu sama seperti pernikahan pasangan ini yang berakhir perceraian.

“Dia dan bekas suaminya sebetulnya sama-sama tahu betul hukum rembulan itu, tapi itu cerita masa lalu –sekarang ia berada di sebuah jembatan dan sedang berpikir, apakah akan dibuangnya saja rembulan itu ke sungai, seperti membuang sebuah masalah agar pergi menjauh selamanya dan tidak akan pernah kembali?” (Rembulan Dalam Cappuccino; hlm: 25).

Namun, cinta yang digenggam sendiri akan menjadi beban bagi penggenggamnya. Ia akan menjadi lebih berat memperjuangkannya. Sama seperti ketika perempuan itu meminta untuk membungkus rembulan. Ternyata rembulan yang awalnya sebesar bola tenis ternyata berubah menjadi sebesar bola basket.

“Kemudian Ia meminta rembulan itu dibungkus. Ketika dibungkus, rembulan yang sebesar bola pingpong yang semula terapung-apung di dalam cangkir itu tiba-tiba berubah menjadi sebesar bola basket.” (Rembulan Dalam Cappuccino; hlm: 22).

Dalam cerpen ini juga disampaikan bahwa ketika setia orang sudah menggenggam cinta itu, maka takakan ada lagi orang yang memedulikan cinta itu. Setiap orang sudah tidak lagi peduli akan ada tidaknya cinta. Cinta tidak akan berarti di hadapan manusia.

“Tiada rembulan di langit. Tidak pernah terbayangkan akan terjadi betapa tiada lagi rembulan di langit malam. Namun di kota cahaya, siapakah yang masih peduli rembulan itu ada atau tidak? “Yang masih peduli hanya orang-orang romantis,” kata perempuan itu kepada dirinya sendiri. “Atau pura-pura romantis,” katanya lagi.” (Rembulan Dalam Cappuccino; hlm: 23).
Dalam kisah lain cinta diumpamakan sebagai secangkir kopi. Secangkir kopi yang akan terasa pahit apabila tidak dibubuhkan gula ke dalamnya. Perjuangan cinta akan terasa pahit. Seberapa pahit perjuangan itu bergantung. Sama dengan bergantung kita mau seberapa banyak membubuhkan gula ke dalam kopi.

“Apa yang masih bisa dikatakan, dari sebuah perpisahan yang menjadi keharuan, ketiadaan harapan yang merupakan kepastian dan wajah sendu berlinang air mata menghadapi kenyataan?.. Dua jam sebelumnya mereka berdua masih duduk berhadapan. Masing-masing menghadapi secangkir kopi panas yang belum diberi gula. ‘Ah, pahit,’ kata yang lelaki. ‘Belum diberi gula…’ Kata yang perempuan. ‘Kalau minum kopi harus diberi gula, apakah masih bisa dikatakan kita mi
num kopi? Jika yang kita minum itu kopi dengan gula yang larut di dalamnya?” (Kopi dan Lain-lain; hlim: 117).

Kisah ini adalah kisah perselingkuhan lelaki dan perempuan yang keduanya telah menikah. Perselingkuhan itu memang pahit dan hitam seperti kopi. Namun semuanya akan berbeda jika ditambah yang lain-lain. Oleh karena itu, cerpen ini dijuduli Kopi dan Lain-lain. Yang lain-lain ini yang lantas menjadi pertanyaan bagi kita. Apa yang akan kita tambahkan ke dalam kopi. Akankah kita pemperpahitnya dengan menambahkan tuba, atau menambahkan rasa manis dengan membubuhinya gula. Dalam cerpen ini kedua tokoh membubuhkan gula. Tokoh lelaki menambahkan gula merah yang berwarna kecoklatan ke dalamnya. Kita sering menyebutnya gula aren. Dalam hal warna, kopi dan gula aren memiliki warna yang hampir mirip, warna gelap. Si perempuan memasukkan gula putih yang sering kita kenal sebagai gula putih ke dalam kopinya. Dari kedua perlakuan tersebut, sudah jelas bahwa mereka belum siap meminum kopi dengan rasa aslinya. Mereka belum siap menjalani perselingkuhan dengan segala konsekwensinya hingga pada akhir cerita mereka berdua berpisah. Sebelum berpisah mereka masing-masing membawa gula dan segala bumbu yang ada di meja tempat mereka meminum kopi tadi. Ini merupakan simbo bahwa mereka belum siap menghadapi perpisahan dan mempersiapkan segalanya untuk mengurangi rasa sakit perpisahan sebuah perelingkuhan. Ya, berpisah dari sebuah perselingkuhan.

Akhirnya, cerpen ini diwakili oleh Linguae. Sebuah simbol pengungkapan cinta dengan lidah. Cinta dapat diungkapkan dengan apapun terrmasuk dengan lidah. Dalam cerpen Linguae dipertanyakan apakah cinta itu harus diungkapkan dengan kata-kata? karena lidah adalah alat penting untuk berbicara. Apakah cinta dapat diungkapkan dengan langsung menggunakan lidah seperti yang sering ada dalam kisah picisan?
“ Bisakah dikatakan bahwa cinta berada dalam masalah ketika lidak taklagi berperan di dalamnya?…Dalam roman picisan sering ditulis: Ia menyelusuri tubuh kekasihnya itu dengan lidahnya dan kekasihnya merasa telah berada dalam kereta kencana bersayap yang melaju di atas sungai susu di langit ke tujuh…” (Linguae:59).
Pertanyaan terbesar dari cerpen ini adalah, benarkah perasaan cinta harus dirasakan dengan indra manusia yang memiliki banyak keterbatasan? Inilah yang terjadi saat ini di dunia ini. Cinta dikatakan cinta hanya apabila ia diungkapkan dengan kata-kata atau diungkapkan dengan perbutan yang bersipat fisik. Banyak orang yang berpikir bahwa cinta itu ada apabila lidah sudah bertemu dengan lidah atau apabila seseorang menyelusuri tubuh kekasihnya dengan lidahnya. Betapa sempit cinta diartikan pada zaman ini. Itulah mengapa cinta menjadi seberat bola baket, sepahit kopi, seaneh rasa cappuccino. Cinta sudah berubah seperti senja yang pergi keindahannya ketika malam tiba. Dengan membaca Linguae karya Seno Gumira Ajidarma semoga kita dapat mengambil pelajaran tentang cinta macam apa yang sedang kita jalani hari ini. Wallahua’lam.

Leave a comment

2 Comments

  1. Tulisan lama :dNgeditnya gak maksimal, gak bisa dimiring-miringin kutipannya.

    Reply
  2. Reblogged this on The Life of Decci and commented:
    Tulisan menarik tentang Seno Gumira Ajidarma dan karya karya beliau. Sukaa❤

    Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript

%d bloggers like this: