Belajar Dari Merajut

Aku memang selalu memandang sesuatu dari perspektifku sendiri…

Kata orang, belajar merajut itu sulit, perlu ketelitian, ketekunan, dan kesabaran. Ya, sabar menghitung satu demi satu rantai benang yang kita rajut, sabar mengikuti pola yang sudah digariskan untuk menghasilkan sebuah bentuk, dan sabar ketika hasil rajutan kita tidak sesuai dengan pola. Kita harus rela menarik benang dan membiarkannya kembali menjadi gulungan utuh seperti semula. Kita harus kembali dari awal, merajut satu demi satu bagian sesuai dengan pola yang kita buat. Begitu selanjutnya apabila kita berkali-kali gagal mengikuti pola.

Ketika membuat sebuah rajutan, perlu ketekunan mambaca langkah-langkah membuat sebuah rantai. Dalam sebuah pola terdapat beberapa jenis rantai. Tusuk rantai, tusuk tunggal, tusuk ganda, tusuk triple, tusuk sisip, dan benerapa jenis rantai lainnya harus diingat cara dan fungsinya. Belum lagi kita harus mengetahui jenis benang dan hakken yang cocok untuk benang yang kita gunakan. Kehalusan benang pun menjadi salah satu prioritas agar ketika rajutan selesai dibuat, nyaman digunakan.

Kenangan Saat Merajut Syal..

Langkah pertama, aku mulai mencari benang yang paling halus biar yang memakai syal buatanku nyaman menggunakannya. Aku belajar merajut kepada salahsatu teman yang ada di kantor. Setiap orang yang ada di ruangannya berkata, “Susah teh! Aku aja beberapa kali bikin akhirnya benangnya ditarik ulang lagi, dilepas dan digulung lagi, mulai lagi dari awal!”

Aku memang selalu memandang sesuatu dari perspektifku sendiri…

Aku cuekin apa yang mereka bilang. Aku mulai satu demi satu rajutan yang diajarkan oleh temanku. Ternyata dalam satu jam aku bisa membuat beberapa baris rajutan dengan pola yang ada di buku. Aku pilih pola itu karena di tempat yang cuacanya panas nampaknya cocok dengan syal yang tidak begitu tebal. Hmm.. menyesuaikan pola rajutan dengan penggunanya merupakan seni tersendiri. Apalagi kalau hasil rajutan itu akan kita berikan kepada orang lain.

Aku memang selalu memandang sesuatu dari perspektifku sendiri…

Ternyata, apa yang mereka katakana tentang merajut benar. Kadang malam hari aku merajut, esok siangnya benang yang sudahterpaut aku pintal kembali karena ada yang melenceng dari pola atau hasil rajutannya terlihat jelek.Bahkan salah satu akhwat yang menginap di kamarku berkata, “Kamu itu seperti gadis pemintal benang. Malam har dia merajut, siang hari dilepas kembali benang rajutannya, dan dia pintal menjadi gulungan benang. Begitu setiap hari.”

Aku memang selalu memandang sesuatu dari perspektifku sendiri…

Setiap selesai memintal, aku tetap dengan semangat merajut satu demi satu bagian dari syal itu. Aku sengaja membuat pola sesuai dengan usianya, 25. Semua bagian adalah kelipatan 5 walaupun ada beberapa bagian yang disesuaikan karena pola dasarnya adalah 25 rantai. Semua aku lakukan agar syal “jelek” itu menjadi spesial dan bernilai buat yang menerimanya.

Aku memang selalu memandang sesuatu dari perspektifku sendiri…

Salah satu seni dalam merajut adalah manajemen kebosanan. Buatku, harus ada musik yang menemani selama merajut. Sambil mendengarkan musik, rasa bosan akan terhapus oleh lagu yang kita dengarkan. Hmm.. kadang, kalo nggak ada lagu, perasaan cemas akan ketidaksukaan orang yang dihadiahi syal yang aku buat kadang muncul. Tapi kecemasan itu membuataku bisa mempersiapkan diri untuk legowo ketika hasil pekerjaanku tidak disukai orang.

Mengapa Merajut?

Akhirnya aku sedikit mengerti mengapa sebuah hubungan bisa dimetaforkan dengan merajut. Di dalamnya diperlukan ketekunan, kesabaran, ketelitian, dan yang terpenting adalah mengikuti pola yang telah ditentukan. Dalam merajut sebuah hubungan perlu ketekunan mempelajari siapa yang sedang kita bersamai. Sedikit demi sedikit kita harus mengetahui sifat, karakter, kebiasaan, yang disukainya, bahkan yang dibencinya. Kita harus teliti memilah apa yang ia suka dan tidak ia suka. Jika ada terkaan kita yang salah dan membuat teman seperjalanan kita marah, saatnya kesabaran yang kita perkuat. Nah, semua itu tentu harus sesuai dengan pola yang telah Allah gariskan. Ya, aku sedang bicara tentang rajutan hubungan yang telah Allah polakan, pernikahan.

Rajutan yang susuai dengan pola, hasilnya akan indah, nyaman digunakan, dan enak dilihat. Rajutan yang indah, mungkin berkali-kali melepas ikatannya, mungkin berhari-hari menyambungkan rantai rantainya, ada kebosanan untuk menghitung satu demi satu rantainya. Begitupun pernikahan yang sesuai dengan yang dipolakan oleh-Nya. Ada tahapan-tahapan yang harus dijalani seperti taaruf, istikhoroh, khitbah, menikah, dan kerepotan-kereponan lainnya. Dalam menjalaninya, perlu ketelitian membaca data orang yang akan membersamai kita, perlu kesabaran memantaskan diri dan menunggu jawaban Allah tentang pertanyaan kita. Baikkah dia untukku? Ataukan buruk?

Dalam prosesnya, kebosanan mungkin hadir. Cerita-cerita kesuksesan orang lain bisa menjadi penyemangat seperti lagu yang mengiringi ketika merajut. Kecemasan tentang keburukan hubunganpun mungkin hadir. Di sanalah kita harus punya kekuatan untuk memiliki pandangan dengan perspektif sendiri. Apapun yang dikatakan oleh orang lain cukuplah menjadi masukan untuk mempersipkan diri menghadapinya. Seperti ketika aku melepas benang dan menggulungnya kembali. Jika orang-orang bercerita tentang pengalaman mereka melepas dan menggulung kembali benang, berarti hal itu adalah sesuatu yang biasa. Kita tidak perlu khawatir mengalaminya. Go a head!

Kegagalan saat taaruf, khitbah, istikhoroh, bahkan pernikahan pun mungkin sering kita dengar. Nah, hal itu membuat kita punya persiapan untuk menghindarinya. Kita jadi tahu, sampai tahap mana kita boleh gagal. Lebih baik berkali-kali gagal taaruf daripada mempertahankan keinginan untuk menikahi seseorang tapi ternyata bercerai sesudahnya.

Mungkin juga ada kecemasan layakkah aku menikah dengan dia, sukakah dia dengan karakterku? Apakah dia bisa menerima keburukan-keburukanku? Apakah aku bisa menerima keburukan-keburukannya? Semuanya akan muncul saat berproses bahkan saat menikah. Namun, ketika apapun dilakukan sesuai dengan pola-Nya, kita tidak perlu khawatir. Hasilnya pasti akan terlihat indah.

Kalau gagal dalam prosesnya, terimalah deng
an hati lapang. Seperti ketika kita merajut lalu hasil rajutan kita disebut jelek oleh yang melihat atau yang memakainya. Segala hal perlu proses dan ketahanan diri. Setelah sebuah rajutan yang jelek itu selesai, kita bisa membuat rajutan yang jauh lebih bagus dengan lebih taat terhadap pola dan membuatnya dengan kewaspadaan pada kegagalan-kegagalan sebelumnya.

#masih pengen cerita banyak, tapi harus kerja

Leave a comment

16 Comments

  1. wah jd kangen merajut.. refleksi yg keren, inspiring! thx for shring🙂

    Reply
  2. shinyqueen said: wah jd kangen merajut.. refleksi yg keren, inspiring! thx for shring🙂

    wah, kayaknya ada senior neh.. aku baruu banget bisa :d

    Reply
  3. eheheheh salah mba, aku juga bisanya cuma yg simple aja. tp setelah kupikir2 bener juga dari merajut bisa belajar ttg hidup yah.. hemm *merenung*

    Reply
  4. shinyqueen said: eheheheh salah mba, aku juga bisanya cuma yg simple aja. tp setelah kupikir2 bener juga dari merajut bisa belajar ttg hidup yah.. hemm *merenung*

    hu-uh..🙂

    Reply
  5. ajarin donk😀

    Reply
  6. sukmakutersenyum said: ajarin donk😀

    nanti aku bikin di jurnal yah😉

    Reply
  7. subhanallah..jadi pengen belajar saya😀

    Reply
  8. aku baca ini di tumblr. tanya knpa 25? ;d

    Reply
  9. bluemuslimah said: subhanallah..jadi pengen belajar saya😀

    ayo belajar🙂

    Reply
  10. titintitan said: aku baca ini di tumblr. tanya knpa 25? ;d

    lupaaaaaaaaa ngilangin check list😦

    Reply
  11. cheklist yg dimna?

    Reply
  12. titintitan said: cheklist yg dimna?

    di tumblr

    Reply
  13. aq juga suka merajut🙂

    Reply
  14. elywidya said: aq juga suka merajut🙂

    udah bisa yang pakek 2 kayu aneh? *gak tau namanya.. hehe

    Reply
  15. breyen?hahahaha yang itu belum belajar kayaknya ribet euyy🙂

    Reply
  16. elywidya said: breyen?hahahaha yang itu belum belajar kayaknya ribet euyy🙂

    huuh,,, guruku aja baru belajar..

    Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript

%d bloggers like this: