Sebungkus Nasi Kuning dan Kesunyian

“Kiri” aku menuruni angkot yang mengantarku dari rumah baruku sejak sepuluh menit lalu. Dengan sedikit ragu kuberikan selembar uang kertas bertuliskan Rp 2000 kepada supir angkot itu. Riung Bandung – Dago yang ditempuh seperti keliling kota saja bisa ditebus hanya dengan Rp5000, padahal perjalannya memerlukan waktu lebih dari 1 jam. Menurutku, perjalanan yang kutempun hanya dalah 10 menit ini pantaslah jika kuhargai Rp2000 saja. Bahkan ini jauh lebih layak. Ternyata si Mang supir memang sadar betul dengan harga angkot. Tanpa bicara, ia menerima uangku dan menginjak gas mobilnya, pergi melanjutkan perjalanan.

Sebungkus nasi kuning. Hatiku berbisik. Itu yang harus aku cari pagi ini, paling tidak untuk menjaga agar perutku tidak bernyanyi sampai siang nanti. Tapi ke mana aku harus mencarinya? Sepanjang jalan aku lihat yang berjejer seperti semut hanyalah rumah makan bertuliskan Masakan Padang, selain itu ada Kupat Tahu, walaupun sesekali ada tulisan Nasi Kuning, tapi warung yang menjualnya tidak membuatku cukup percaya akan kebersihannya. Ya, aku harus mencari sebungkus nasi kuning, bukan hanya untuk hari ini tapi juga hari-hari selanjutnya. Aku harus bisa menemukannya agar esok dan esoknya lagi aku dapat dengan mudah membawa sarapan.

Di sini pasti ada kehidupan, ujar hatiku yang ciut diprotes oleh perut yang kian lapar. Tidak perlu kau bayangkan bahwa tempat aku turun dari angkot itu adalah hutan belantara. Di sini bahkan berjejer gedung-gedung tinggi milik pemerinta negara kita. Showroom mobil-mobil ternama juga dengan gagah berdiri di sekitarku. Itulah mungkin alasan paling logis mengapa nasi kuning tidak ada di sini. Ah, hatiku masih tetap berkata, di sini pasti ada kehidupan, ada manusia-manusia pas-pasan seperti aku yang sama-sama membutuhkan nasi kuning seperti aku.

Ku lihat di sampingku ada plang bertuliskan SMU Al-Fallah. Di tempat yang berdiri sebuah sekolah, pasti ada kantin atau gerobak-gerobak yang menawarkan makanan. Plang itu menunjuk sebuah jalan yang ada di belakangku. Kuikuti penunjuk arah itu. Ada sebuah warung kopi, tempat tambal ban, warung kelontongan, dan sebuah tempat fotocopy. Kubuka tasku. Hari ini aku harus mendaftarkan diri menjadi anggota perpustakaan daerah yang akan menjadi rumah keduaku. Ya, aku butuh fotocopy Kartu Tanda Mahasiswa yang telah kuperjuangkan selama setahun. “Berapa kang?” “Rp 500” katanya. Mahal benar, gerutuku dalam hati. Tapi itu terhenti karena ternyata dia mencopy KTMku dua kali bolak balik. Nampaknya untuk daerah ini, fotocopy pun menjadi cukup mahal. Hmm..paling tidak, jika dibandungkan dengan pengalamanku waktu mencopy buku tabunganku di dekat kampus. “Dua kali ya Uda.” Ujarku. Setelah mencopy, lelaki padang itu berujar, “Bawa saja!” tanpa meminta bayarah. Ah.. aku memang sedang beruntung waktu itu.

Ku lanjutkan perjalannku menyusuri sebuah tempat baru. Nanti juga akan terbiasa lewat sini, ujar dalam hatiku. Kawan, biasakanlah mendengar percakapanku dengan hati! Karena itulah teman terdekatku dalam setiap perjalanan-perjalanku kini dan nanti. Takjauh dari tempat fotocopy ada sederet gerobak makanan. Nampaknya seperti Pujasera –di Jatinangor- kumpulan pedagang aneka makanan yang tumplek jadi satu. Mungkin karena masih pagi, tidak semua rombong atau gerobak berisi makanan. Yang terlihat hanya menu nasi soto ayam, dan kue-kue basah yang menggiurkan. Tapi kamu perlu makan nasi kuning, hatiku berkata lagi. Aku pun melanjutkan perjalananku. Di sebrang ada sebuah gerobak yang dikerumuni pemuda. Setelah agak dekat, jelaslah itu penjual bakso tahu. Lagi-lagi aku tidak sedang menginginkan itu. Para pemuda di sana melihat ke arahku. Nampaknya mereka tahu aku adalah orang baru di sini. Tapi biarlah, toh sepekan, dua pekan, sebulan, setahun mendatang mereka akan melihatku sering lewat sini. Tanpa menyerah aku terus berjalan mencari gerobak nasi kuning. Aah! Ada sebuah gerobak dengan termos di dalamnya, ciri-ciri penjual nasi kuning yang paling akurat. Setelah kulihat, yang pertama kali terbaca adalah kupat tahu. Namun, setelah aku lebih dekat, ternyata ada juga tulisan nasi kuning.

“Mang ada nasi kuning?”

“Ada Neng.”

“Satu ya Mang.”

“komplit?”

“Ya.”

Kulihat lelaki itu membubuhkan banyak sekali abon dalam nasi kuningku. Begitupun telur dadar yang telah diiris, nampak lebih dari yang biasa aku beli di dekat rumah dulu. Ada dua kemungkinan, pedagang itu merasa bahwa aku adalah pembeli terakhir atau dia akan menghargai nasi kuning yang aku beli dengan harga lebih tinggi dari biasanya.

“Ada sendoknya gak Mang?”

“Habis Neng,”

Nampaknya aku adalah pembeli terakhir. Dengan agak pasrah aku diam saja. Namun, ternyata lelaki itu mencari sendok yang mungkin terselip. Dan benar! Tuhan menyisakan sebuah sendok untukku.

“Berapa Mang?”

“Rp5000 Neng.”

Ternyata harga nasi kuning ini sama dengan yang aku beli di kampus.

Ahh! Aku berhasil menemukan nasi kuning di tempat baru ini. Aku tidak perlu khawatir lagi jika mengunjungi perpustakaan. Nampaknya nanti aku akan sering mengunjungi tempat itu. Aku tidak akan menjadi peminjam buku karena hampir setiap hari aku akan mengunjunginya. Inilah kenyataan yang aku ciptakan paling tidak selama setahun belakangan. Sebuah pengabulan doa tentang kerinduan terhadap wangi-wangi buku tua yang dulu sempat menemaniku ketika masih menjadi mahasiswa. Ya, Tuhan mengizinkanku untuk hidup lebih lama di tempat ramai tapi penuh dengan kesunyian itu.

Inilah keputusanNya ternyata. Tidak ada decak gembira saweran, tidak ada tangis kelahiran bayi, tidak ada bunyi sepatu anak-anak yang belajar berjalan. Yang ada hanya kesunyian perpustakaan yang akan menemaniku paling tidak untuk dua tahun mendatang.[]

*Narasi ini dengan lancar kubuat setelah membaca Pengarang Telah Mati -SDD-

Previous Post
Leave a comment

16 Comments

  1. sukaaa..intinya cuman nyari nasi kuningtapii.. cara ceritanya itu kereenn🙂

    Reply
  2. hm….mengalir ya🙂

    Reply
  3. wah saya juga sempet pengen kerja di perpus tapi malah jadi kokinya Kirei hehhehehe

    Reply
  4. ramai tp sunyi

    Reply
  5. elywidya said: sukaaa..intinya cuman nyari nasi kuningtapii.. cara ceritanya itu kereenn🙂

    alhamdulillah. ^^

    Reply
  6. dhaimasrani said: hm….mengalir ya🙂

    hmm.. air ya ^^*badai

    Reply
  7. ayudiahrespatih said: wah saya juga sempet pengen kerja di perpus tapi malah jadi kokinya Kirei hehhehehe

    *aku daftar jadi temennya kirei ;))

    Reply
  8. titintitan said: ramai tp sunyi

    menciptakan kesunyian🙂

    Reply
  9. kuliah s2 ya sabrina?

    Reply
  10. suci55 said: kuliah s2 ya sabrina?

    hu uh mbak >,<

    Reply
  11. apanya yg makin keren?

    Reply
  12. titintitan said: apanya yg makin keren?

    orang lain bisa share jurnal kita di FB n’ twitter

    Reply
  13. jd inget, pernah ke daerah sana [selain ke perpusnya] nyari2 alamat adik privat-an…episode hidup yg tak terlupakan. Pasti episode ini jg akan jd pelengkap perjalananmu😉

    Reply
  14. sketsabintang said: jd inget, pernah ke daerah sana [selain ke perpusnya] nyari2 alamat adik privat-an…episode hidup yg tak terlupakan. Pasti episode ini jg akan jd pelengkap perjalananmu😉

    pasti. >,<

    Reply
  15. Jadi ingin menemanimu ke perpustakaan, setelah itu berpetualang dengan angkot sambil mendengar kicauan anak-anak smp nan menggemaskan :))

    Reply
  16. siriusbintang said: Jadi ingin menemanimu ke perpustakaan, setelah itu berpetualang dengan angkot sambil mendengar kicauan anak-anak smp nan menggemaskan :))

    sabtu perpustakaan buka insyaAllah🙂

    Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript

%d bloggers like this: