Perempuan dan Kesunyian [bagian 1]

Perempuan dan Kesunyian: Kebingaran Lelaki dan Kesunyian Perempuan
Aku baru dua kali datang ke tempat itu -perpustakaan daerah. Namun, entah mengapa setiap pulang dari sana pada sore hari -takberani aku mengatakannya senja hari- ada perasaan yang sama mengganjal di benak: getir, sepi, sunyi. Mungkin karena ada energi negatif yang aku dapat dari dua buku yang aku baca di sana.
Ketika menaiki angkot, bagian kosong ada di tempat duduk sebelah kanan. Di ujung ada seorang lelaki yang bertatapan kosong. Ya, hanya seorang, dan aku agak risih ada di sampingnya. Untunglah beberapa saat kemudian perempuan di sampingku turun. Jadi, aku bisa merapat ke dekat perempuan-perempuan lain dan mengambil jarak lebih jauh dari lelaki aneh itu. Perempuan disampingku berbincang,
“Anakmu akan dibelikan apa di hari ulang tahunnya?”
“Aku belikan boneka barby-barby-an sama baju yang lima ribuan dapet dua.”
“Bukannya itu harganya lima ribuan satu ya?”
“Ih, justru lima ribu dapet dua. Akhir pekan lalu aku sempat ke pasar mengecek harganya.”
Ya, itulah perempuan. Ia selalu memikirkan orang lain sebelum dirinya. Ingatanku kembali ke perpustakaan, pada buku yang dua hari ini aku pinjam. Di dalam dua buku itu diceritakan kisah-kisah perempuan dari sudut pandang pengarang perempuan dan laki-laki. Keduanya sama. Perempuan memikirkan dirinya setelah orang lain. Mereka cenderung setia pada pasangan, pada anak, dan pada apapun dan siapapun yang membuatnya nyaman. Kini pikiranku beralih pada laki-laki. Dua buku yang aku baca di perpustakaan menceritakan perselingkuhan laki-laki dari sudut pandang perempuan dan dari sudut pandang laki-laki. Dari sudut pandang siapapun, pada bagian itu perempuan berada pada posisi lemah yang tetap ia nikmati rasa sakitnya. “Lelaki, mengapa kalian mudah sekali berpaling? Mengapa kalian tidak mengerti betapa perempuan adalah mahluk paling setia, bahkan pada rasa sakit yang mereka ciptakan sendiri,” batinku.
Perempuan Hujan karya Fira Basuki, sebuah kumpulan cerpen tipis yang bisa aku lahap dalam beberapa jam. Awalnya kupikir itu adalah novel yang dapat kusimpulkan seluruhnya dalam sebuah tulisan. Tapi ternyata bukan, ia adalah sekumpulan cerpen yang menceritakan bagian permukaan dari kelemahan perempuan. Aku katakan permukaan karena pasti ada wanita yang kuat jauh di sebuah belahan dunia. Pada kali pertama, aku disuguhi cerpen berjudul “di antara.” Isinya tentang kelimpungan seorang perempuan yang menjadi wanita simpanan. Cerpen ini menurutku sudah cukup untuk menilai kesetiaan seorang perempuan pada keyakinan dan perasaannya. Dalam cerpen ini dikisahkan perselingkuhan seorang lelaki Jawa bernama Seno. Ia memiliki Rani, seorang perempuan simpanan yang sebenarnya sudah bersuami juga. Beginilah cara seorang lelaki memperlakukan perempuan simpanannya,
“Mbok ya ngerti, kamu itu cantik, seksi. Pria-pria bawaannya ingin iseng. Kalau kamu jalan-jalan di Malioboro sendirian, dijamin ada orang yang colek-colek kamu, entah itu pedagang atau mahasiswa.” Kutipan ini adalah sikap protektif Seno terhadap Rani yang meminta izin untuk jalan-jalan di Malioboro ketikan Seno sedang mengisi sebuah seminar di Yogyakarta. Ya,walaupun hanya perempuan simpanan, Seno tetap melindunginya. Namun, sebaliknya ketika Rani ingin (maaf) mengecup kening lelaki itu, ia langsung berujar, “Hush! Ngawur kamu. Ini hotel resmi perusahaanku. Bisa-bisa ada teman sekantor di sini tanpa kuketahui.” Keberhagaan Rani hancur berkeping seketika.
Bahkan dalam cerpen tersebut Rani sebagai narator berujar, “Suatu hari aku tanpa sengaja bertemu mereka. Mas Seno dan istrinya di Mall Pondok Indah. Aku tertegun. Istrinya memang seperti yang disebutkannya. Tapi ia lupa atau sengaja tidak menyebutkan bahwa kulit perempuan itu sungguh putih dan mulus bak pualam. Rambutnya bergelombang, hitam, tebal sebahu. Cantik. Tidak masalah, toh aku tahu hati pria yang digandengnya untukku. Namun, perempuan itu menggunakan blus putih dan tas hitam yang kupilihkan… Hatiku ciut. Aku seperti menguap dan menghilang saat itu juga.” Dalam kutipan tersebut, dalam perselingkuhannya Seno masih tetap dapat menjaga perasaan Rani dengan tidak menceritakan kelebihan istrinya. Namun, ternyata itu adalah kebohongan yang membuatnya ciut. Dalam keciutannya pun, perempuan itu tetap berusaha menyenangkan dirinya sendiri dan berkata, “Tidak masalah, toh aku tahu hati pria yang digandengnya untukku.” Benar kata orang, lelaki memercayai apa yang ia lihat sedangkan perempuan memercayai apa yang ia dengar.
Sisi lain yang disampaikan Fira Basuki adalah pertentangan sikap laki-laki dengan realitas yang ia jalani. Di satu sisi ia berani berselingkuh dan menjadikan Rani sebagai perempuan simpanan, di sisi lain ia tidak mau memberikan kepastian kepada Rani tentang masa depan hubungan mereka. Dalam cerpen tersebut dinarasikan mitos tentang sebuh pohon besar yang ada di Yogyakarta. Apabila seseorang dapat melaluinya, keinginannya yang diucapkan ketika melalui pohon itu akan tercapai.
“Ssst, Sayang, ucapkan keinginanmu. Tapi yang masuk akal ya.”
“Maksud Mas?”
“Ya terserah. Minta kaya raya, terkenal… asal jangan yang itu..”
Yang itu. Mas Seno selalu menyebut bersatunya hati kami di kelak hari adalah impian semu.
Dalam penutup cerpen ini dikisahkan bahwa setiap mereka pulang dari berlibur berdua ke luar kota, Seno selalu berubah drastis. Ia tidak lembut lagi, malah sangat kaku dan seperti sedang memusuhi Rani. Bahkan wanita yang ada di samping mereka ketika di pesawat berujar, “Kalian seperti orang yang bermusuhan. Pindah saja agar hati saya nyaman.” Begitulah kira-kira lelaki yang berselingkuh memperlakukan perempuan simpanannya. Ketika Rani menunjukan raut penuh tanya, Seno hanya berujar, “Agar aku siap berpisah denganmu dan kembali menghadapi istri dan anakku.” Rani pun menjelaskan alasan Seno tidak memberikan kepastian kepadanya, “Walaupun cinta sudah tidak ada lagi pada istri, tapi demi menjaga hati ibu dan anak-anak, serta martabat keluarga. Lupakan angan-anganku.” Perempuan memang selalu jadi korban atas ulah yang ia buat sendiri. Anehnya, mereka tetap setia walaupun diperlakukan sencara takwajar. Lebih taktahu diri lagi lelaki, walaupun sudah berkomitmen dengan seorang perempuan, mereka masih tetap bisa menciptakan hubungan dengan perempuan lain. Mereka masih tetap genit, perhatian, dekat dengan perempuan lain.
Cerpen yang menjadi bandingan lain adalah Pengarang Telah Mati karya Saparti Djoko Damono. Di dalamnya dinarasikan juga bagaimana perempuan menghadapi posisinya sebagai perempuan simpanan. Cerpen itu menceritakan perselingkuhan antara Sukram dan Ida. Ida berada di antara Sukram dan Minuk, istrinya. Namun, ketika sedang memikirkan Ida pun, Sukram masih bisa bersama dan (maaf) berhasrat kepada perempuan lain, Rosa. Hmm, semakin yakinlah aku bahwa lelaki dapat mencintai banyak wanita dalam waktu yang bersamaan. [bersambung]
Leave a comment

12 Comments

  1. emm.. lelaki bisa mencintai banyak wanita dalam waktu yg sama??

    Reply
  2. shinyqueen said: emm.. lelaki bisa mencintai banyak wanita dalam waktu yg sama??

    tunggu jurnal selanjutnya ^^8

    Reply
  3. “Kesalahan terbesarmu hanya satu Zam, kamu terlalu baik pada semua wanita,” kata Ibu Azzam di PPT. Nyambung ga nin sama tema yg diangkat Fira Basuki ini?

    Reply
  4. bacanya smbil terkantuk-kantuk di kantor.. dan skrgpun msh ngantuk*curhat

    Reply
  5. agree. whats a paradoks

    Reply
  6. Nyebelin ya..hahhah

    Reply
  7. sketsabintang said: “Kesalahan terbesarmu hanya satu Zam, kamu terlalu baik pada semua wanita,” kata Ibu Azzam di PPT. Nyambung ga nin sama tema yg diangkat Fira Basuki ini?

    gak cuman baik aja teh,,, tapi genit >,<

    Reply
  8. titintitan said: bacanya smbil terkantuk-kantuk di kantor.. dan skrgpun msh ngantuk*curhat

    cepetan pulaaang!

    Reply
  9. angkasa13 said: agree. whats a paradoks

    nanti aku bahas buku yang kedua🙂

    Reply
  10. siriusbintang said: Nyebelin ya..hahhah

    kudu ditines :))

    Reply
  11. setujuuuuu..^^

    Reply
  12. 4irm4t4 said: setujuuuuu..^^

    tidur nak,,, sudah malam [jangan lupa baca jurnal ke 2 dan 3 ] hehe..

    Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript

%d bloggers like this: