doa sepucuk surat

kali ini dia menjadi tuhan baginya. dia, mungkin Pak Pos, mungkin kurir, mungkin penerimanya sebelum ia sampai pada si empunya surat. nasib surat itu ada di tangan mereka. saat dikirim, pembuat surat adalah si empunya, tapi saat sampai pada alamat tujuan, masihkah surat itu menjadi milik si pengirim? ataukah orang yang tertera di bawah tulisan “kepada” yang menjadi si empunya?
kali ini dia menjadi tuhan baginya. surat itu sedang berdoa, meminta kepastian nasibnya. harus sampai ke tangan siapa ia. bukankah pada dasarnya takdir dan nasib sepucuk surat adalah tiba di tangan penerimanya?
kali ini dia menjadi tuhan baginya. surat itu sedang menggerutu, bahkan mungkin menyumpahi pengirimnya. mengapa ia harus dibuat, ditulis, diamplopi, dan dikirim sedemikian rupa hingga mendapatkan nasib demikian tragis. ia harus tertahan, ditimbang-timbang oleh tuhannya kali ini. Mengapa harus orang lain yang menerimanya duluan? dia pun menggerutu pada Pak Pos yang bodoh telah memberikan dirinya kepada orang yang tidak tepat.
kali ini dia menjadi tuhan baginya. surat itu pucat pasi, ia gemetar menghadapi orang dihadapannya yang sedang menimbang-nimbang akan diapakan dirinya. ia pun telah pasrah jika akhir kisahnya harus sampai di tempat sampah. bukankah itu adalah takdir dan nasib sebuah surat yang biasa terjadi? batinnya. toh, tempat sampah sudah amat akrab dan welcome menyambut rekan-rekannya yang biasa berakhir di sana.
kali ini dia menjadi tuhan baginya. ia bertanya-tanya, akan berreinkarnasi menjadi apa ia setelah ini. karena surat bukanlah surat jika takditerima oleh si empunya surat.
Leave a comment

8 Comments

  1. *unin sudah kembali

    Reply
  2. titintitan said: *unin sudah kembali

    kembali kenapa teh?

    Reply
  3. kan kemarenan gak suka nulis beginian ;papalagi puisi

    Reply
  4. 🙂

    Reply
  5. titintitan said: kan kemarenan gak suka nulis beginian ;papalagi puisi

    alhamdulillah🙂

    Reply
  6. angkasa13 said:🙂

    senyumu penuh arti ^^

    Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript

%d bloggers like this: