Perempuan dan Kesunyian [ bagian 2]

[sebelumnya] Cerpen yang menjadi bandingan lain adalah Pengarang Telah Mati karya Saparti Djoko Damono. Di dalamnya dinarasikan juga bagaimana perempuan menghadapi posisinya sebagai perempuan simpanan. Cerpen itu menceritakan perselingkuhan antara Sukram dan Ida. Ida berada di antara Sukram dan Minuk, istrinya. Namun, ketika sedang memikirkan Ida pun, Sukram masih bisa bersama dan (maaf) berhasrat kepada perempuan lain, Rosa. Hmm, semakin yakinlah aku bahwa lelaki dapat mencintai banyak wanita dalam waktu yang bersamaan.
Kutipan-kutipan ini adalah gambaran perselingkuhan lelaki dari sudut padang pengarang laki-laki. “Sejak pagi saya belum makan, Pak. Bagaimana kalau kita cari makan di Mbok Bebek?” Di benak Sukram berputar berbagai jenis tafsir. Mawar ini. Istrinya di rumah, tentu bahagia dengan anaknya. Ida di jauh sana. Mawar ini. Ia begitu saja mengikuti gadis ini ke VW-nya.” kutipan tersebut menyiratkan bahwa dalam waktu yang bersamaan seorang lelaki dapat memikirkan tiga orang perempuan sekaligus.
Damono juga menggambarkan hal pertama yang membuat seorang lelaki berselingkuh. Awal perselingkuhan ini pun digambarkan ditolak oleh para lelaki. “Gadis itu berjanji menjemputnya besok agar Sukram bisa terlibat dalam pertemuan lagi. Karena ikut rapat. Atau karena si Mawar ini. Yang selalu mengenakan jeans biru, yang selalu mengenakan jaket untuk menutupi tonjolan di t-shirtnya yang ketat, yang rambutnya pakai poni, yang berbau wangi. ia tidak berani berpikir kenapa bisa mengetahui bau gadis itu. Dan kedua tonjolan itu. Dan bibir. Dan.” Pikiran yang melesat-lesat di benak mereka pun di luar kendali. Lelaki kerap memikirkan hal memalukan yang dirinya pun tidak berani berpikir alasan datangnya lesatan pikiran itu.
Dalam kutipan berikut, dengan metaforis Damono mengakui kebobrokan laki-laki. Mereka memang bisa mencintai lebih dari seorang perempuan dalam waktu yang sama. “Rumah biasanya menjadi oasis bagi benak yang bagai gurun pasir, yang butir-butirnya yang lembut suka bergeser-geser kalau ada angin lewat. Anaknya lucu. Sehat. Istri yang takbanyak bicara, kecuali kadang- kadang tentang keluarganya di daerah… Tapi gadis itupun oasis, di restoran kalau makan siang. Seperti halnya Ida ketika di kampus kota pantai di tepi samudera itu.” “Sukram memeluk istrinya erat-erat sambil membisikkan beberapa patah kata yang ia sendiri tidak lagi mengenalnya. Kata-kata yang terasa hilang setiap kali ia berbicara dengan istrinya. kata-kata yang mendadak muncul di sudut paling tersembunyi dalam benaknya, untuk sekejap kemudian lenyap, ketika ia pada suatu malam memeluk rosa dalam mobil VW-nya. Ada beberapa oasis dalam benaknya, dan bukit-bukit pasir itu tidak pernah berhenti bergeser.”
Di sisi lain, Damono sebagai seorang pengarang lelaki menceritakan perempuan dengan kesunyiannya dituturkan. Beginilah Ida, wanita selingkuhannya dicitrakan. Damono menarasikan sebuah surat yang dikirim oleh Ida kepada Sukram.
“Apa aku perempuan perampok istri orang? Kalau kau perampok, itu benar. Kau telah merampokku sampai tinggal telanjang bulat. Aku suka itu karena kau tidak memperlakukanku sebagai boneka. Aku berdaging. Ingat pertanyaanku yang tolol ketika esok harinya sesudah untuk pertama kalinya aku tidur di kamarmu itu? Hampir sore hari, dalam bus kota yang sepi, kau ingat? “Tadi malam berapa jauh kau telah masuk?” tanyaku agak khawatir, yang mungkin kau anggap lelucon tolol saja. Dengan tertawa kau menunjukkan telunjukmu, “Sebegini.” Ya, begitulah perempuan yang limpung ketika jatuh cinta. Ia menyerahkan dirinya kepada orang yang dicintai tanpa berpikir. Setalah itu lahirlah pertanyaan-pertanyaan yang mencerminkan kekhawatiran sebagai citra dari penyesalan. Namun, lelaki menanggapinya sebagai sebuah lelucon atau ketololan terkadang.
Dalam kutipan berikut, Damono menggambarkan perasaan perempuan yang menjadi simpanan. “Tapi aku memang mencintaimu dan tidak ingin kau menceraikan istrimu dan meninggalkan anakmu. Kau tahu itu. Dan aku juga merasa kau mencintaiku, meskipun sama sekali tidak ingin menceraikan istrimu karena kau memang mencintainya. Mungkin benar, laki-laki bisa mencintai beberapa perempuan sekaligus, tapi aku takbisa. Aku perempuan. Dan akan tetap hanya mencintaimu.” Kutipan ini memperlihatkan curahan hati seorang perempuan simpanan dari sudut pandang laki-laki. Di sisi lain, kutipan ini juga memperlihatkan pengakuan Damono tentang kebobrokan lelaki. Kali ini ia bersembunyi di balik tokoh perempuan. Ia tidak berani mengakuinya dari mulut tokoh lelaki.
Lalu, bagaimana lelaki menyikapi kelemahan dan kepasrahan perempuan simpanannya? Demikian
kutipannya:
“Sukram membaca surat itu dua kali, lalu menyobeknya kecil-kecil dan melemparnya ke plastik tempat sampah ruang pengajar itu. Mendadak ia jadi ragu-ragu apakah yang menulis surat itu benar-benar Ida. tanda tangannya ya, tetapi cara berbicaranya lain dengan kalau ngomong lisan. Ia mulai tidak mau percaya bahwa surat itu benar-benar pernah ada. Jangan-jangan surat itu hanya ada dalam angan-angan. Tapi mungkin bisa jadi juga. Tapi apakah tadi benar-benar surat? Ia tidak berani menengok ke tempat sampah untuk meyakinkan bahwa surat itu pernah ada…. Di mana gerangan mawar indah itu?.. Ia tidak ingin melangar pesan ibunya lagi. Itu berarti ia harus bertemu Rosa siang ini.”
Demikianlah gambaran lelaki yang sedang dalam perselingkuhan. Pemikirannya bercabang, gamang, memutuskan apapun tanpa pertimbangan. Ia membaca dan menyobek surat dari Ida tapi masih berpikir ulang tentang kebenaran surat itu.
Dalam buku Pengarang Telah Mati pun dikisahkan saat anak Sukram sakit dan harus ke rumah sakit, ia mengalami dilema karena harus mendatangi rapat yang diminta oleh Rosa. “Muncul sebuah bukit pasir perkasa di benaknya. Tak tergeser. Dalam hati ia minta pamit kepada istri dan anaknya yang menunggu di rumah sakit, juga minta maaf karena kali ini ia membohonginya. Carry itu dipacunya ke arah kawasan perdagangan dekat rumah Rosa.”
Akhir kisah :
“Ida. Aku tidak bisa. Engkau adalah oasisku. Istri dan anakku juga. Aku tentu saja bisa berjanji untuk tetap menunjukkan telunjukku, kalau kita nanti ketemun lagi ketika masa studimu… Kau tentu tahu makna sebuah keluarga, setidaknya dari yang pernah kuceritakan tentang ocehan profesor sinting itu. Oasis yang dengan sabar manunggu pengembara yang menempuh perjalanan, dan mungkin tersesat di padang pasir. Pengembara selalu saja membayangkan oasis semacam itu, meskipun sering kali, sayang sekali, menemukan oasis lain.
Aku yakin bahwa di dalam setiap diri kita berjaga-jaga segerombolan srigala. Yang kita bayangkan suka mera
ung malam-malam dan menggerombol berburu mangsa. bahwa ada kata yang hilang. Bukan takterucapkan, tetapi hilang. Dan aku tidak mempunyai hak atau kewajiban untuk mencarinya. kadang-kadang aku berhasrat menebak-nebaknya. kata itu mungkin di atas meja yang memisahkan kita malam-malam, mungkin di kamar kami jepit di antara aku dan istriku ketika sedang menenumpahkan kasih sayang, mungkin di sela-sela daun-daun sekuntum bunga mawar yang tumbuh di kampusku. Aku tahu kau akan tetap terselip di antara huruf-huruf yang kubaca, di antara butir-butir udara yang kuhirup, bahkan di antara sela-sela sel yang menghidupkanku. Aku tetap percaya kepada kata, kepda huruf. Itulah yang menyebabkan adanya hubungan antara oasis dan bukit-bukit pasir itu. Kau tentu mengerti maksudku meskipun agak kaget karena biasanya aku tidak pernah mengucapkan kata-kata itu. Aku tidak bisa Ida. Sukram pernah ingin mengirim surat semacam itu tetapi tidak pernah menuliskannya.”
Demikianlah Damono menggambarkan jawaban Sukram terhadap surat Ida. Bagian ini saya kutip hampir sepenuhnya karena bagian ini seperti sebuah epilog kisah perselingkuhan seorang lelaki. Kali ini Damono menggambarkan pengakuan lelaki sebagai lelaki. Ia mengakuinya tanpa bersembunyi di balik tokoh perempuan. Dalam kutipan akhir tergambar, walaupun berani berselingkuh, sebagai lelaki Sukram masih pengecut. Ia hanya pernah ingin mengirim surat semacam itu dan tidak pernah membuat dan mengirimnya. Ia masih nyaman dengan perselingkuhannya tanpa mau mengakui bahwa dirinya adalah “srigala.”
Dari kisah Perempuan Hujan karya Fira Basuki dan Pengaran Telah Mati karya Sapardi Djoko Damono jelas terlihat bahwa lelaki dapat mencintai beberapa perempuan dalam waktu bersamaan. Mereka mempunyai norma sendiri tentang perkawinan dan norma lain tentang urusan mencintai perempuan lain. Keadaan ini seolah kontradiktif tapi dapat dilakukan secara bersamaan. Bodohnya, perempuan tentap setia dengan rasa sakitnya sebagai istri atau sebagai perempuan simpanan. [bersambung]

Previous Post
Leave a comment

10 Comments

  1. keren review ny nda🙂

    Reply
  2. angkasa13 said: keren review ny nda🙂

    miris, tapi ini gambaran yang disampaikan oleh profesor dan sastrawan ^^

    Reply
  3. gzsurya said: awesome

    komentar yang juga pengakuan? :))

    Reply
  4. bersambung lagi?

    Reply
  5. titintitan said: bersambung lagi?

    masih. sampe jadi buku nantinya :))

    Reply
  6. langitshabrina said: komentar yang juga pengakuan? :))

    ?????

    Reply
  7. gzsurya said: ?????

    kebanyakan tanda tanya. aku gak ngerti.

    Reply
  8. mungkin bukan cinta, tapi nafsu….

    Reply
  9. iras80 said: mungkin bukan cinta, tapi nafsu….

    mungkin ^^b

    Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript

%d bloggers like this: