Perempuan dan Kesunyian [bagian 3]

[sebelumnya] Dari kisah Perempuan Hujan karya Fira Basuki dan Pengaran Telah Mati karya Sapardi Djoko Damono jelas terlihat bahwa lelaki dapat mencintai beberapa perempuan dalam waktu bersamaan. Mereka mempunyai norma sendiri tentang perkawinan dan norma lain tentang urusan mencintai perempuan lain. Keadaan ini seolah kontradiktif tapi dapat dilakukan secara bersamaan. Bodohnya, perempuan tentap setia dengan rasa sakitnya sebagai istri atau sebagai perempuan simpanan.

Membaca dua kisah perselingkuhan dan kemanusiawian kemampuan lelaki mencintai beberapa perempuan dalam waktu bersamaan, saya jadi teringat Rasulullah SAW. Sungguh, saya tidak sedang menghakimi kekasih Allah itu. Sungguh saya tidak sedang menggiring kalian untuk mengikuti perspektifku yang liar ini. Saya hanya ingin menghadapi dan membaca laki-laki sebagai manusia normal, mahluk Tuhan yang biasa. Buat para lelaki, takperlu kalian berkata, “Aku tidak demikian. Aku hanya mencintai satu perempuan saja!” Hentikan! Lebih baik diam daripada kau meludahi dirimu sendiri dengan kebohongan. Mungkin begitulah pada dasarnya lelaki, ia dapat mencintai banyak perempuan dalam waktu bersamaan dan perempuan hanya dapat mencintai satu lelaki saja. Lalu bagaimana dengan lelaki yang dapat bertahan menikah dengan satu istri? Kekuatannya ada pada sang istri. Sang istri punya posisi tawar yang dapat mengimbangi keinginan suaminya untuk mencintai yang lain. Sang istri mampu menjadi lebih dan lebih baik lagi di hadapan suaminya. Itulah yang menyebabkan sang suami urung mencari yang lain.
Kembali pada Rasulullah SAW. Ia telah genap memberi contoh kepada kita tentang kebertahanan memiliki satu pasangan bersama Bunda Khadijah RA. Setelah itu Ia menyadarkan kita tentang kemanusiawian seorang laki-laki. Yang saya maksud bukan menyudutkan (maaf) hasrat seksual lelaki seperti yang biasa dilakukan oleh antropolog yang tidak sepakat dengan poligami. Sungguh, bukan itu. Rasul menikahi istri-istrinya bukan karena nafsu. Ia menikahi mereka dengan alasan paling syar’i sebagai contoh untuk laki-laki lain. Yang saya maksud adalah fakta yang harus diterima bahwa lelaki dapat mencintai banyak perempuan dalam waktu yang bersamaan. Buktinya, Rasulullah SAW dapat dengan adil mencintai istri-istrinya. Ini memang dalam konteks yang benar, dalam bingkai suci, berupa pernikahan. Perempuan Hujan dan Pengarang Telah Mati (di jurnal sebelumnya) memang menceritakan kemampuan lelaki mencintai beberapa perempuan dalam waktu yang bersamaan dalam bingkai perselingkuhan. Ini terjadi karena dalam budaya Indonesia tidak diterima syariat poligami.
Mengenai perbedaan laki-laki dan perempuan, saya jadi teringat seorang perempuan yang datang ke asrama tiga pekan lalu. Ia datang dari Depok, ingin mengikuti program hafalan Quran di pondok kami. Ia bilang, “Saya sedang mencari pondok tahfidz yang kondusif untuk saya. Anak-anak saya (kebetulan ikhwan) akan saya daftarkan ke pondok tahfidz lain. Kami akan pindah dari Depok, rumah akan saya jual untuk biaya sekolah dan biaya hidup anak saya.” Ya, bergitulah perempuan shalihah (tanpa bermaksud menyebutkan bahwa perempuan yang menikah lagi adalah tidak shalihah). Suaminya meninggal 14 tahun silam. Sepeninggalan suaminya, ia membesarkan anaknya sambil menghafal Quran. Saat ini hafalannya sudah mencapai 10 Juz dan ummahat ini ingin menamatkan hafalannya di pondok kami. Ia memilih untuk menjadi bidadari untuk suaminya yang telah meninggal. Ia tidak ingin bingung memilih lelaki mana yang akan ia datangi di Surga nanti. Cukup hanya satu, dan ia akan menjadi bidadari spesial dari bumi di antara 70 bidadari yang telah tercipta di Surga untuk suaminya. [tamat]
Kembali, ini adalah pandanganku dari perspektifku sendiri. Mohon maaf jika isinya menyesatkan ^^
Leave a comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript

%d bloggers like this: