Menerima Perpisahan Halaqah

Hari ini, Selasa, seperti biasa aku berangkat ke Jatinangor pukul 9.00 WIB. Dengan agenda biasa, mengisi halaqah adik-adikku, mahasiswa tingkat 4 yang berkuliah di Jatinangor. Seperti biasa kami sudah berjanji akan bertemu di Masjid Darul Maarif IPDN pukul 14.30WIB. Hmm.. lama sekali memang aku menunggu mereka di masjid. Biasanya waktu menungguku kuhabiskan dengan berjalan-jalan di dunia maya😀

Hari ini, Selasa, seperti biasa aku tiba di Masjid Darul Maarif pukul 10.00WIB. Aku membeli sebotol air mineral dan sebungkus roti, lagi-lagi seperti biasa. Sampai tiba di masjid ada SMS masuk ke HPku, “Salam, teh kami nggak bisa hadir hari ini. bagaimana kalau wadaannya diundur pekan depan aja?” Ya, hari ini adalah wadaan alias perpisahan halaqah adik binaanku. Untukku yang beberapa waktu lalu dihadapkan dengan kehilangan, rasanya biasa saja, harus aku hadapi, tapi buat mereka nampaknya berat. Aku balas SMS mereka dengan, “Salam.Tth udah di masjid IPDN.Mohon diusahakan hadir dalam wadaan hari ini jm14.30.Antuna sibuk,insyaAllah tth juga sibuk.Informasi ttg wadaan ini sudah disampaikan sejak pekan lalu.Mohon kerjasamanya.Mohon hubungi yg lain.Syukran.” Sebuah SMS tegas yang isinya “marah.” Hmm, marah ya marah aja, gak usah pakek sok tegas. Tapi begitulah murobiyah, harus bisa menutupi kekecewaan or kemarahan dengan ketegasan.

Setelah adzan ashar mereka takkunjung hadir. Aku takmenghubungi mereka, mengambil air wudhu dan shalat ashar berjamaan. Setelah shalat berjamaahku selesai, barulah mereka datang. Mereka shalat lalu duduk di belakangku. Setelah selesai berdoa, aku mengajak mereka pindah ke tempat yang lebih nyaman dan mengajak mereka memulai halaqah. “Siapa MC hari ini?” tanpa saling tunjuk halaqah dimulai. Aku menghadapinya dengan biasa saja. Sampai pada inti materi, aku ceritakan tentang putusan kampus untuk memilihkan murobiyah baru untuk mereka.

Management kampus menemukan indikator figuritas padaku dan adik binaanku ini. Mereka rajin liqa karena ada aku sebagai murobiyah mereka. Karena gagal beradaptasi dan selalu ditinggal oleh murobiyah-murobiyah penggantiku yang selalu sibuk, mereka trauma dengan perpindahan kelompok. “Kita udah tiga kali ganti murobiyah, dan mereka selalu sibuk. kadang kalopun dapet materi rasanya ‘krik-krik’ garing banget!” ujar salah satu di antara mereka. Mereka berkali-kali menawar dengan berbagai argumen. “kita mau kok liqa ke asrama teteh. Amanah dipindah ke Bandung juga gak apa-apa. Sampe Desember aja teh! Setelah itu kami lulus kok teh. Jadi gak usah nyari murobbiyah dari kampus.”

Di benakku, pergantian murobiyah mereka itu semacam takdir yang takbisa ditawar. semacam jodoh yang takada pilihan lain. sungguh, buat aku perpisahan ini sangat biasa saja. mungkin karena aku sudah merasakan perpisahan yang lebih mengagetkan dan menyedihkan *tsaaah! “Teteh gak lihat wajah kita ini?! Teteh gak kasihan sama kita?” “Nggak! kalian harus bisa nerima orang lain.” “teh, kita udah coba berkali-kali ganti murobiyah. kita menolak bukan tanpa alasan.” Mereka mengoceh, memalingkan wajah, menahan tangis. Aku tetap pada pendirianku, “kalian harus sami’na wa atha’na sama keputusan kampus!” ujarku. Mungkin begitulah sejatinya orang yang harus terpaksa pergi. Akhirnya aku ngerasain juga. Berat, tapi harus dijalani.

Pengalaman ini membuatku lebih toleran menerima kepergian orang lain. dia juga berat, tapi harus melakukannya. seperti berkaca, melihat diri sendiri yang menawar-nawar perpisahan. seperti berkaca melihat diri sendiri yang mencari-cari alasan untuk tetap dipertemukan. seperti melihat diri sendiri yang ingin menangis tapi tak mampu mengubah takdir yang ada. hanya wajah berkaca, merah padam, menahan air mata. “nggak kebayang liqa’ sama kelompok baru teh! kita belum kebayang!” ujar salah satu di antara mereka.

Mendengar ocehan mereka, aku berpikir, kapan aku bisa pulang kalau begini. Akhirnya kuajak mereka makan di Madtari Jatinangor. Kami menyantap indomie goreng dan indomie rebus yang bertabur keju. subhanallah eneknya. pada akhir pertemuan kami saling bermaafan, mereka memberiku kenang-kenangan. Setelah kubuka ternyata sebuah jilbab dan manset ungu.

Salah seorang dari mereka, yang besok, Rabu, 9 November 2011 akan dikhitbah berkata, “teh, afwan, aku pinjem buku teteh dan baru bisa ngembaliin sekarang.” Ternyata dia meminjam buku Jalan Cinta Para Pejuang -Salim A. Fillah- yang waktu itu baru aku beli dan belum sempat kubaca. Baru pagi tadi aku bercerita pada teman sekamarku, “buku Jalan Cinta Para Pejuangku dipinjam adik binaanku. sekarang entah kemana.” Akhirnya aku berjodoh juga dengan buku itu. saatnya kembali membaca dan meresensi buku. semoga tidak terlambat ^^9
*entah dari mana mereka kepikiran beliin warna ini >,<

Leave a comment

12 Comments

  1. eitss ada murabbi, aku pengen ngaji dongg ….🙂 ** serius ieu mah … hhe

    Reply
  2. angkasa13 said: eitss ada murabbi, aku pengen ngaji dongg ….🙂 ** serius ieu mah … hhe

    hayu! ngaji bareng kelompok aku ajah #eh **serius oge ^^

    Reply
  3. langitshabrina said: hayu! ngaji bareng kelompok aku ajah #eh **serius oge ^^

    seriussss ………. beneran nyakkkssaku haus-haus kebenaran :))

    Reply
  4. angkasa13 said: seriussss ………. beneran nyakkkssaku haus-haus kebenaran :))

    okeh! nanti aku kabari lagi inpo selanjutnya ^^8

    Reply
  5. siapppp, ditunggu, tengkyuuu sistaaa🙂

    Reply
  6. Hmm…rasanya perpisahan…bkin sedih..😦

    Reply
  7. perepisahan yg tegas skali :d

    Reply
  8. titintitan said: perepisahan yg tegas skali :d

    aku juga ditegasi waktu itu :p

    Reply
  9. rindupurnama said: Hmm…rasanya perpisahan…bkin sedih..😦

    pasti. tapi kan yg ini sudah takdir, seperti jodoh yg gak akan pernah tertukar🙂

    Reply
  10. langitshabrina said: aku juga ditegasi waktu itu :p

    ahaha1 ngakak aye ;d

    Reply
  11. He’em..jodoh emg g kan bisa tertukar..hehe..

    Reply
  12. rindupurnama said: He’em..jodoh emg g kan bisa tertukar..hehe..

    iya ^^9

    Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript

%d bloggers like this: