Ritual Kemusyrikan dan Kesuksesan Hasil Panen [Kajian Kearifan Lokal]

Struktur Kepercayaan Masyarakat Sunda Terhadap Mitos Dewi Sri

dalam Doa Amit pada Ritual Ngaseuk dan Mipit

(Analisis Strukturalisme Levi Strauss)

Dalam kebudayaan Sunda di Jawa Barat, kegiatan yang berkaitan dengan bercocok tanam memiliki nilai kesakralan tersendiri. Di beberapa desa wilayah Sukabumi Jawa Barat selalu diadakan upacara ngaseuk dan mipit setiap awal masa tanam dan panen di ladang. Upacara ini dilakukan sebagai persembahan kepada Dewi Sri yang dipercayai merupakan dewi padi. Upacara ini dilakukan sebagai pengantar Dewi Sri yang akan bergabung dengan tanah.

Kepercayaan dan penghormatan yang tinggi terhadap Dewi Sri ini dianut oleh tokoh masyarakat sampai masyarakat biasa. Dalam prakteknya kegiatan ini dilakukan dengan ritual berkumpul bersama di huma. Para warga memanjatkan doa amit sebagai pembuka agar acara tersebut berjalan lancar. Dengan pelaksanaan ritual ini, hasil panen masyarakat berhasil dan melimpah. Menurut Adimiharja, ritual ini memiliki fungsi sosioreligius untuk menguasai alam agar terjadi hubungan seimbang antara manusia dan lingkungan hidupnya. Kebiasaan ini juga disebut “tatalo paranti karuhun,” (baca: kebiasaan nenek moyang).

Tradisi ini mulai ada sejak abad ke 16 di Sunda. Saat itu pengaruh hindu sangat dekat dengan masyarakat. Saat itu, keserasian antara manusia dan alam diyakini akan melahirkan hasil atau respon terbaik dan alam. Seperti contohnya padi, perlakuan yang istimewa ini membuat hasil panen para petani sukses.

Sebenarnya budaya doa amit muncul pada masa peralihan antara Hindu-Budha dan Islam. Kepercayaan terhadap mitos Dewi Sri menghasilkan ritual kebudayaan yang dilakukan setiap awal penanaman padi dan setiap waktu panen. Salah satu mantra yang terdapat dalam doa amit sebagai berikut:

Pun ampun ka luhur ka sang rumuhun

Ka handap ka sang batara

Ka siluman ka sileman

Ka dewa kalakay salembar

Anu nyicingan ieu bumi

(Mohon ampun ke atas kepada Yang Maha Kuasa,

Ke bawah kepada sang batara

Ke para dewa-dewi

Ke mahluk jahat dan baik

Ke dewa selembar daun yang gugur

Yang mendiami bumi ini)

Ema, Bapa,

Abdi neda widi titip Nyi Sri

Ulah aya anu ngaganggu-ngagunasika

Berkah doa salametna

Kalayan rahayu sadayana

(Ibu, Bapak,

Izinkan saya, titip Nyi Sri,

Jangan ada yang mengganggu dan merusak,

Keberhasilan doa selamatnya,

Serta rahayu bagi semua).

ANALISIS

Berdasarkan teori strukturalisme Levi Strauss, kebudayaan adalah bahasa (media komunikasi) yang disampaikan oleh sekelompok masyarakat untuk menyampaikan identitasnya. Dalam sebuah kebudayaan, mitos dan ritual adalah penanda atas konsep kepercayaan yang mereka anut. Sebuah mitos mengeksplorasi logika general atau logika mitis yang dipercayai oleh sebuah kelompok masyarakat. Menurut Levi Strauss, mitos adalah ketaksadaran kolektif yang terjadi dalam satu kelompok masyarakat. Kepercayaan masyarakat terhadapnya tidak memerlukan rasionalisasi. Mereka memercayai mitos dan melaksanakan ritual pendukung mitos hanya karena kepercayaan mereka terhadap leluhur.

Dalam sebuah mitos besar terdapat mitos kecil yang disebut mitem. Salah satu contoh adalah mitos Oedipus dari Yunani. Mitos ini dibangun dari beberapa mitos kecil yang disebut mitem. Dalam mitos Oedipus tersebut oedipus membunuh ayahnya. Hal ini menjadi mitem dan penanda tentang kebiasaan memandang rendah hubungan darah di Yunani. Di sisi lain dikisahkan juga Oedipus menikahi ibu. Ini menjedi mitem yang menggambarkan budaya menjunjung tinggi hubungan darah di sana. Dalam sebuah mitos, secara struktural akan terbentuk oposisi biner: merendahkan hubungan darah dan menjunjung tinggi hubungan darah. Oposisi biner ini menggambarkan dua fenomena budaya yang terjadi di Yunani.

Ritual Ngaseuk dan Mipit di Sunda

Ritual ngaseuk dan mipit adalah gambaran kepercayaan masyarakat Sunda di Jawa Barat terhadap kesakralan mitos Dewi Sri. Ritual ini merupakan media komunikasi masyarakat Sunda tentang seberapa besar penghormatan mereka terhadap padi atau beras. Berdasarkan teks doa amit, mitos Dewi Sri dalam ritual ngaseuk dan mipit memiliki dua mitem. Mitem dewi sri adalah “ibu” beras. Mitem kedua, menanam berarti menyatukan dewi sri dengan tanah. Oleh sebab itu, perlu diadakan ritual yang menghantarkannya bergabung dengan tanah. Dua mitem ini menghasilkan oposisi biner antara dewi sri dan tanah.

Dalam mantra doa amit pun terdapat mitem yang membangun struktur mitos Dewi Sri di kalangan masyarakat Sunda.

// Pun ampun ka luhur ka sang rumuhun / Ka handap ka sang batara / Ka para dewa-dewi / Ka siluman ka sileman / Ka dewa kalakay salembar / Anu nyicingan ieu bumi //

// Mohon ampun ke atas kepada Yang Maha Kuasa,/ Ke bawah kepada sang batara / Ke para dewa-dewi/ Ke mahluk jahat dan baik / Ke
dewa selembar daun yang gugur / Yang mendiami bumi ini //

Sisi spiritual mantra ini terdapat dalam permohonan perlindungan kepada para Yang Maha Kuasa, dewa-dewi, mahluk jahat dan baik, dewa selembar daun yang mendiami bumi. Dalam mantra ini terdapat oposisi biner. Secara tidak langsung, mantra ini menceritakan kepada siapa masyarakat Sunda meminta perlindungan dan dari siapa mereka berlindung. Ini adalah mitem pertama. Oposisi biner ini sebagai berikut:

yang atas, Yang Maha Kuasa >< ke bawah sang batara

dewa-dewi >< siluman baik dan buruk

dewa selembar daun yang gugur >< yang mendiami bumi

Mitem kedua adalah permintaan izin kepada keluarga dan meminta dukungan dari orang tua agar tidak. Ini terdapat dalam bait kedua dalam doa amit.

// Ema, Bapa, / Abdi neda widi titip Nyi Sri / Ulah aya anu ngaganggu-ngagunasika / Berkah doa salametna / Kalayan rahayu sadayana//

//Ibu, Bapak,/ Izinkan saya, titip Nyi Sri/ Jangan ada yang mengganggu dan merusak,/ Keberhasilan doa selamatnya,/ Serta rahayu bagi semua // Mitem ini melahirkan oposisi biner: Izin atau restu orang tua >< pengganggu dan perusak.

Dua mitem ini membangun kekuatan mitos Dewi Sri bagi masyarakat Sunda. Mitos ini merupakan kekuatan spiritual yang membuat masyarakat Sunda memperlakukan padi dengan istimewa. Kepercayaan terhadap mitos ini melahirkan kepercayaan bahwa apabila melaksanakan ritual ngaseuk dan mipit, hasil panen mereka akan berhasil dan lebih bagus daripada orang yang tidak melaksanakan ritual ini. Pada masyarakat primitif, kepedulian terhadap lingkungan dan alam diinternalisasi melalui mitos. Mitos sebagai fenomena ketidaksadaran kolektif menjadi cara yang sangat efektif untuk membuat masyarakat primitif melakukan sesuatu. Keistimewaan perlakuan ini disebabkan oleh kepercayaan terhadap mitos.

Kesuksesan panen yang dialami oleh masyarakat Sunda bukan disebabkan oleh ritual dan kepercayaan terhadap mitos tapi karena perlakuan istimewa terhadap padi. Tidak ada hubungan kausalitas langsung antara pelaksanaan ritual dengan kesuksesan panen. Saat ini ritual ngaseuk dan mipit sudah tidak dilaksanakan. Hal ini menjadi indikator mulai munculnya pengaruh lain yang mengintervensi masyarakat. Rasionalitas mulai membuat mereka sadar bahwa tidak ada hubungan kausalitas antara ritual dan hasil panen. Saat ritual kebudayaan sudah menghilang, perlakuan terhadap padi pun menjadi tidak istimewa lagi. Terbukti dengan hasil panen para petani yang semakin berkurang, pasokan beras di Indonesia dihasilkan lewat impor.

Kegagalan panen ini hadir seiring dengan hadirnya mitos baru di kalangan masyarakat yang lebih rasional. Pupik kimia adalah mitos baru yang membombardir masyarakat pedesaan. Kepercayaan terhadap kecepatan dan keinstanan reaksi kimia pada padi dan sawah mereka membuat para petani memperlakukan sawah mereka “semaunya.” Takjarang ada tanah yang mengalami kelebihan pupuk disebabkan ketidaktahuan para petani terhadap peraturan penggunaannya.

Mitos baru yang ditawarkan oleh kaum intelektual sejatinya telah menawarkan diri sebagai mitos rasional dan ilmiah. Seharusnya, pihak ini memberikan pencerdasan yang detail kepada para petani agar perlakuan mereka terhadap sawah, tanah, dan padi tetap istimewa sehingga hasil panen mereka tetap sukses tanpa melaksanakan ritual yang menyimpang.

Sebagai intelektual muslim, tugas kita bukan hanya menuding dan menyalahkan masyarakat melaksanakan ritual kemusyrikat tapi juga harus mampu menghadirkan “mitos baru” yang dapat membuat mereka lebih mencintai lingkungan terutama sawah mereka.

*tugas kuliah dengan analisis yang masih bersahaja

Next Post
Leave a comment

2 Comments

  1. hm jadi sebenarnya permasalahan intinya belum terpecahkan..yaitu bagaimana membuat mitos baru namun tidak berbau musrik..yah…heheh..yang menarik adalah, posisi dewi2 dalam masyarakat Sunda sepertinya memang memiliki tempat yang lebih istimewa, mungkin juga karena berhubungan dengan masyarakatnya yg agraris sehingga begitu memuliakan dewi kesuburan.Selain Dewi Sri ada juga kalo tidak salah saripohaci itu siapa yah..kalo tdk salah dewi juga…hehehhe…

    Reply
  2. ayudiahrespatih said: hm jadi sebenarnya permasalahan intinya belum terpecahkan..yaitu bagaimana membuat mitos baru namun tidak berbau musrik..yah…heheh..yang menarik adalah, posisi dewi2 dalam masyarakat Sunda sepertinya memang memiliki tempat yang lebih istimewa, mungkin juga karena berhubungan dengan masyarakatnya yg agraris sehingga begitu memuliakan dewi kesuburan.Selain Dewi Sri ada juga kalo tidak salah saripohaci itu siapa yah..kalo tdk salah dewi juga…hehehhe…

    ahli budaya bilang, yg paling bertanggung jawab atas hilangnya kearifan lokal [berupa ritual] adalah Muhammadiyah dan Persis. Mereka membid’ahkan tapi takpunya solusi lain untuk mengatasi kebid’ahan yg mereka tuduhkan. ^^

    Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript

%d bloggers like this: