Hiperrealitas dalam Kereta Api Ekonomi

Ingin mendapat cengangan wisata kehidupan? Kamu bisa mendapatkannya dengan mudah dan murah di stasiun dan kereta api lokal ekonomi. Paling tidak, itu yang aku rasakan hari ini. Howaaah! Senangnya hati ini berada di tengah keramaian. Rasanya aku benar-benar hidup hari ini.
***
Hari ini aku berangkat bertolak dari stasiun kereta api Kiara Condong menuju Cicalengka. Awalnya aku akan naik maraton naik angkot riung-dago | cadas-cibiru | cibiru-cileunyi | cileunyi-cicalengka. Huffh! betapa pedalamannya rumahku sekarang ini sampai harus berkali-kali ganti angkot. Saat menaiki angkot riung-dago, ustadzah menyarankan untuk naik kereta. Ting! benakku mengiyakan, apalagi kereta api nggak akan kena macet.
Sampai di stasiun, aku beli tiket KA LOKAL EKONOMI, begitu tertulis di tiket. Trayeknya Cicalengka-Ciroyom III dengan harga Rp1000,- Murah bukan? Bandingkan dengan ongkos perjalananku yang berkali-kali berganti angkot?! Pasti amat jauh berbeda. Dengan tiket Rp1000,- kereta api ekonomi akan mengajakmu berwisata dalam dimensi realitas paling realitas, sebut saja hiperrealitas. Salah satu keuntungan yang bisa kamu dapat dari wisata ini, adalah asuransi. Dalam tiket yang dapat ditukar dengan dua gery cocolatose itu tertulis “harga sudah termasuk asuransi.” Betapa murah wisata hiperrealitas ini bukan? Belum lagi kemanusiawian yang ada di dalamnya. Di salah satu sisi tiket akan kamu temukan tulisan, “karcis yang sudah dibeli tidak dapat dibatalkan, kecuali karena kesalahan petugas atau tidak terselenggaranya angkutan.” Bahkan untuk tiket yang hanya seharga gehu pedas saja, PT KAI memanusiakan kita dengan begitu rupa. Betapa menyenangkan jadi manusia ^^ Jika perjalanan wisata kita tidak terselenggara, uang Rp1000,- kita akan dikembalikan.
Hanya dengan tiket Rp1000,- aku tidak hanya diantarkan ke tempat yang ditempuh dalam waktu 40 menit tapi juga mendapatkan keramaian, keramaian sesungguhnya. Saat memasuki kereta, alhamdulillah aku mendapat tempat duduk walaupun di samping seorang lelaki. Hmm.. nampaknya dia adalah satpam yang sedang berangkat bekerja. Taklama kulihat, orang-orang yang duduk di sebrang tempat duduk kami pun adalah sekumpulan laki-laki berseragam satpam. Mereka bercengkrama, tertawa, saling bertukar tiket, bertukar handphone, jauh dari kehidupanku yang serba basa-basi. Di sisi lain ada sekumpulan perempuan yang nampaknya setiap hari menaiki kereta ini. Saat pegawai kereta api meminta tiket kepada para penumpang, dengan akrabnya mereka bercengkrama. Oh.. inilah yang disebut kehidupan.
Yang paling menarik dari kehidupan di dalam kereta api ekonomi adalah pedagang yang jumlahnya sangat banyak. Dengan uang Rp1000,- kamu bisa dapat A-Z keperluan hidup sehari-hari. Kalau dimetaforkan, isi dunia ini bisa masuk di kereta ekonomi. Dengan uang Rp1000,- kamu bisa dapet kerupuk kulit. Heuh.. dia mewakili sapi sebagai hewan yang ada di bumi. Dengan uang Rp1000,- kamu bisa dapet gantungan HP yang lucu-lucu. Ini sebagai wakil dari industri kreatif dunia yang penuh dengan tulisan made in china. Dengan uang Rp1000,- kamu bisa dapet kopi jahe sebagai wakil rempah-rempah sekaligus produk lokal Indonesia. Selain itu, di kereta ekonomi kamu akan menemukan penjual bacang, salak, mangga, lengkeng, minuman dingin, telor punyuh, asinan mangga, rujak, sate usus, buku keislaman, alat tulis, perkakas, jepit rambut, dan perhiasaan imitasi dengan harga yang bervariasi. Para pedagang mondar-mandir ke setiap gerbong (kira-kira lebih dari 5 gerbong) untuk menjajakkan barangnya. Yang paling mencengangkanku adalah cabe rawit, bawang merah, dan bawang putih pun dijual eceran dengan harga Rp1000,- perkantong.
Di kereta api ekonomi segala hal menjadi peluang. Jika kamu sedang tersesat di KA LOKAL Ekonomi dan layanan BB-mu tiba-tiba habis masa aktifnya, jangan khawatir! Di sana sudah ada seorang lelaki yang mondar-mandir menawarkan pulsa elektrik. Ini menyadarkanku bahwa kereta api ini bukan hanya untuk kalangan proletal, kaum borjuis pun bisa masuk di sana. Atau jangan-jangan pulsa dan handphone sudah menjadi konsumsi pasar? sehingga proletal pun sudah memerlukannya. Entahlah.. Lagi-lagi kereta api ekonomi adalah gudang peluang. Dengan cekatan seorang bapak di depanku mengganti batrai jam tangan salah seorang pelanggannya padahal salah satu tangannya sedang menggenggam beberapa baret jam. Takhanya itu, ada juga yang menawarkan jasa tensi darah dengan upah yang sudah ditentukan. Sebagai bukti bahwa kereta api ekonomi juga milik borjuis, di sana juga ada penjual batrai HP, card reader, headset, kartu perdana (Rp3000,- an), semua dijual sambil lalu oleh pedagangnya. Kamu pun takperlu takut takbertemu lagi dengan pedagang-pedagang itu. Mereka akan melewati gerbongmu dua sampai tiga kali.
Apalagi yang kudapat di kereta api ekonomi? dedikasi! Ya, sebuah kelompok musik tradisional Sunda membawakan beberapa tembang Sunda. Mereka tidak asal-asalan. Ada kendang, angklung, dan sound system yang memastikan suara mereka terdengar oleh seluruh penumpang tiap gerbong. Ketika kulihat, handphone mereka pun takbegitu buruk. Paling tidak, jika dibandingkan dengan handphoneku. Nampaknya bukan hanya uang yang mereka cari di sana, melainkan kepuasan diri menyanyikan tembang Sunda. Selain itu, kesetiaan. Ya, kutemukan kesetiaan dari sepasang pengamen. Sang suami memainkan piano yang sudah berbungkus kain sarung, sang istri yang tuna netra di belakangnya memegang baju suaminya sambil bernyanyi. Perempuan tuna netra itu menyanyi tentang ketainginterpisahan. Aku yakin, berpuluh tahun lalu, mereka berdua takpernah bermimpi akan mengalami kisah percintaan sebagai sepasang pengamen.
Dari pengamatanku itu, nampa bahwa segala sesuatu disamakan derajatnya menjadi proletal di kereta api ekonomi. Identitas paling diakui dalam kereta api itu hanya karcis yang sama-sama bernilai Rp1000,- Tidak peduli jabatan, strata sosial, agama, atau apapun. Semuanya sama dan takperlu membedakan diri. Kalau kamu punya kamera bagus dan mau menikmati kehidupan hiperrealitas, jangan lupa ajak aku! Aku siap menemani kamu.[]
*gak punya kamera, jadi gambar nyaplok di sini
Previous Post
Next Post
Leave a comment

14 Comments

  1. Rasain kereta commuter line ekonomi jakarta teh…Dijamin, akan merasakan sensasi lebih dahsyat😀

    Reply
  2. ekonomi jogja-bandung.. Dulu tapi,skr udah enggak..*pengalaman naek kereta jogja-cicalengka (ekonomi), berdiri dr jogja smpe cilacap (+-250km) walhasil smpe cicalengka lsg pd kerokan..

    Reply
  3. nobita87 said: ekonomi jogja-bandung.. Dulu tapi,skr udah enggak..*pengalaman naek kereta jogja-cicalengka (ekonomi), berdiri dr jogja smpe cilacap (+-250km) walhasil smpe cicalengka lsg pd kerokan..

    ekonomi Tasik-Gubeng aku sudah pernah *tidur nyenyak di kolong kursi^^

    Reply
  4. mutsaqqif said: Rasain kereta commuter line ekonomi jakarta teh…Dijamin, akan merasakan sensasi lebih dahsyat😀

    takut copet >,<

    Reply
  5. Naah!!Jgn bwa duit, jgn bwa hp, jgn bwa apa-apa lah…Seru…!Nti deh kutulis di jurnal

    Reply
  6. mutsaqqif said: Naah!!Jgn bwa duit, jgn bwa hp, jgn bwa apa-apa lah…Seru…!Nti deh kutulis di jurnal

    jadi bawa apa? leptob? -_-

    Reply
  7. mutsaqqif said: Naah!!Jgn bwa duit, jgn bwa hp, jgn bwa apa-apa lah…Seru…!Nti deh kutulis di jurnal

    bawa kamera. udaaah taaauuu! pasti seeerruuu! :p*kamu nyontek jurnalku :p

    Reply
  8. penasulung said: jadi bawa apa? leptob? -_-

    bawa suami kayaknya seru #eh

    Reply
  9. langitshabrina said: bawa suami kayaknya seru #eh

    g di copet jg itu ? #eh

    Reply
  10. penasulung said: g di copet jg itu ? #eh

    kalo di copet, langkahi mayatku dulu #ehlagi

    Reply
  11. Rumpi ibu-ibu -.-‘

    Reply
  12. mutsaqqif said: Rumpi ibu-ibu -.-‘

    anak kecil menyingkir sono *bawa sapu

    Reply
  13. mutsaqqif said: Rumpi ibu-ibu -.-‘

    ayo jeng..gabung ama kita-kita.. -_-

    Reply
  14. Gak makasih…Lg nonton bolaIN-DO-NE-SIA!Prok prok prok prok prok!

    Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript

%d bloggers like this: