Surat Darinya

Senin, pukul 2 siang, aku baru bangun tidur, maksud hati qailullah (bener gak ya nulisnya :d) apa daya kebangun jam 2. Setelah wudhu, pas mau ngambil handuk, ada sepucuk surat di atas tempat tidurku. Hmm, heran juga aku. Gak banyak orang yang tau alamat tempat tinggalku yang baru. waktu aku balik suratnya. Subhanallah, serasa dapet hadiah undian umroh *lebay. Awalnya surat itu mau aku buka, tapi belum sholat. Urung saja aku membuka surat itu. Saking keramatnya surat darinya, waktu itu hatiku bilang, “Yaaah, aku dapet surat ini pas lagi telat sholat, sholat sendirian pula. Tapi aku lagi shaum alhamdulillah, kondisi diri masih bisa tertolong.”

Setelah sholat, aku gak sempat baca surat itu. Kebetulan jam 2 aku ada janji sama temen. Aku baru sempat membacanya ba’da ashar, setelah shalat berjamaah, Alhamdulillah. Ekspektasiku terhadap surat itu juga gak terlalu besar. Bahkan, aku gak pernah berharap-harap dapet surat itu. Nampaknya diriku sudah mulai realistis. Kalau yang menghadapinya adalah aku yang “dulu,” mungkin ada rentetan mimpi-mimpi yang aku selipkan dalam doa sebelum menerima surat itu. Doa mimpi itu akan berubah jadi kalimat, “Jangan kayak anak kecil deh. Ini gak semudah yang kamu pikirkan!”

Oleh sebab itu, aku sudah mengira bahwa isi surat itu gak akan semengejutkan episode klimaks di sinetron, drama Korea, apalagi film hollywood. [kadang aku sempat kepikiran, apa yang akan terjadi ketika aku lebih husnudhan terhadapi surat itu? Apa yang akan terjadi jika aku lebih berhusnudzhan bahwa di dalamnya terdapat berita paling menggembirakan buatku? Allah Maha Berkehendak bukan?! Ia dapat dengan mudah mengubah isi surat dalam hitungan detik. Tapi, surat itu ditulis oleh manusia yang pasti punya kecenderungan hati. Tinta pada surat itu pun sudah mengering sekarang. Seharusnya, kalaupun ingin surat itu sesuai dengan ekspektasi kita, doa-doanya harus diperkuat sebelum surat itu datang. Tapi, mana tau aku, surat itu bakal ada dan ditakdirkan hadir di kamarku. Membayangkannya saja nggak pernah. Itulah kenapa walaupun girang bukan kepalang, ekspektasiku takterlalu besar pada isi surat itu. Takseperti anak kecil yang mendamba permen atau es krim.]

Ya, akhirnya aku buka surat itu. Alhamdulillah, realitas sudah menyiapkan diri ini untuk biasa-biasa saja menerima dan membacanya. Tulisannya mirip tulisan mama, bedanya gurat tulisan dalam surat ini lebih tegas, nampaknya si pembuat surat menekan pena cukup kuat. Apakah ini tanda bahwa ia adalah sosok yang tegas? entahlah ^^. Di dalam surat itu tertulis doa-doanya tentang keberhasilanku dalam studi. Semoga ilmuku bisa bermanfaat untuk orang lain. Dia juga menulis keinginannya untuk bertemu denganku. “Mudah-mudahan kita bisa bertemu. Jika Allah mengizinkan, pasti kita bertemu,” katanya. Pesannya di akhir, “Belajar yang tekun.”

Sederhana bukan isi surat itu?! InsyaAllah akan menjadi salah satu bagian berarti dalam perjalanan studiku. Alhamdulillah, ada energi baru yang tidak hanya lahir dari husnudhan tapi juga melahirkan husnudhan-husnudhan selanjutnya. Mengenai pertemuan yang ia inginkan, jika Allah mengizinkan pasti dipertemukan. Apakah pertemuan itu akan hadir tanpa ikhtiar untuk bertemu? Sebagai orang yang selalu penuh dengan rencana, aku tentu berpikir tentang persiapan sebuah pertemuan: kapan dan di mana. Tapi, bukankah tidak semua hal bergantung pada ikhtiar manusia? (walaupun pada bagian ini aku sedikit ragu). Apalagi dalam hal pertemuan yang sangat dzahir, berkaitan dengan hubungan manusia dengan manusia, pasti harus diikhtiarkan. Namun, ketika pertemuan disandingkan dengan takdir, dan izin Allah, maka pembacaan yang kudapat dari kalimat itu adalah kepasrahan menunggu kehendak-Nya untuk mempertemukan. Realitas menyuguhiku keterbatasan ruang ikhitar hehe.. Hanya satu yang bisa aku lakukan saat ini: berdoa.

*fotonya abstrak, biar gak bisa dibaca

Previous Post
Next Post
Leave a comment

4 Comments

  1. jd pengen dpt surat jg, dah lama euy ga pernah dpt surat hehe

    Reply
  2. sketsabintang said: jd pengen dpt surat jg, dah lama euy ga pernah dpt surat hehe

    kirim surat aja ke aku, nanti aku bales😉

    Reply
  3. prnh dpt surat dr d0sbing yg udh kyk bpk sdrisinya m’harukan

    Reply
  4. azizrizki said: prnh dpt surat dr d0sbing yg udh kyk bpk sdrisinya m’harukan

    wow! terbayang harunya. kalo aku, pas abis sidang sarjana nangis di depan dosbing. pas lagi sesegukan, dibikinin secangkir teh hangat. romantis~ :d

    Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript

%d bloggers like this: