*Ranting Jangan Mudah Patah -sinopsis-

Menunggu? Kamu pernah menunggu? Keindahan menunggu telah genap dialami oleh Sabillah, tokoh utama dalam novel ini. Sedih, cemas, harap, putus asa, dan keinginan untuk keluar dari ruang tunggu telah genap dia rasakan. Namun, hanya orang-orang sabar dan berpikiran positif yang akan menang melawan penantian.
Sabilla, seorang mahasiswa tingkat akhir yang berpacaran dengan seorang lelaki bernama Runo. Salah seorang teman Sabilla memperkenalkan Runo kepadanya. Sabilla menyukainya sejak pertemuan pertama. Cinta pada pandangan pertama boleh dikata. Dalam beberapa waktu hubungan mereka berlanjut serius dan akhirnya Runo melamarnya.
Saat dilamar, apa yang dirasakan peremuan kecuali bahagia? Pertunangan Sabilla dan Runo tidak biasa. Sabilla tidak dipinang dengan sepasang cincin pertunangan tapi dengan sepasang jam tangan. Satu untuknya, satu untuk Runo.
“Ia mengeluarkan sebuah kotak yang lebih besar dari kotak cincin. Ternyata sepasang jam tangan. Tak ada satupun dari kami yang menyangka bahwa tak ada cincin dalam proses lamaran ini. Jauh dari pikiranku untuk menikahi pria seperti ini. Untuk menikahi pria seistimewa kekasihku,” (hlm 13).
Dalam benda ini penulis berpesan kepada Sabilla dan pembaca tentang waktu. Pertunangan adalah satu momen berjeda sebelum pernikahan. Jeda itu bisa memakan waktu sebentar, bisa juga memakan waktu lama.
Apa yang abadi dalam waktu selain perubahan? Takada yang abadi selain perubahan, begitupun pada kisah ini. Baru beranjak pada halaman 22, kita disuguhi perubahan yang klimaks.
Runo berkata, “Aku rasa kita takbisa melanjutkan hubungan ini. Atau mungkin kita harus untuk waktu yang entah kapan,” (hlm 22).
Baru memasuki chapter dua kita sudah disuguhi halilintar perpisahan Sabilla dan Rona. Pertanyaan selanjutnya adalah: Apa yang dirasakan seorang perempuan yang batal menikah? Takada yang lain kecuali luka dalam. Lalu apa yang dirasakan perempuan yang takjadi menikah ketika menghadiri pernikahan temannya, sementara semua orang sudah tahu bahwa pernikahannya yang kandas itu tinggal 5 bulan. “Ternyata datang ke kota ini hanya menambah lukaku. Luka tentang takbisa menerima bahagia yang orang punya,” begitulah penulis mengawali awal chapter tiga yang menyedihkan.
Untuk mengobati luka diri sendiri, Sabilla memutuskan untuk pindah, menyendiri di apartemen. Sabilla tidak membicarakan sedikitpun tentang pembatalan pernikahannya kepada keluarganya. Walhasil, tanpa ia sadari waktu berjalan begitu cepat, tiba saatnya pertemuan keluarga untuk mempersiapkan pernikahan. Kedua orang tuanya menyiapkan segalanya di rumah sementara ia di apartemen. Pada hari H, ia ditelpon dan terpaksa menjelaskan semuanya kepada keluarganya.
“Kami sudah mempersiapkan semua ini, Sabilla. Mengapa kau mendadak bicaranya?” tanyanya-kakak Sabilla- lagi dengan nada yang tidak mengenakkan.

“Mengapa bicara begitu seenaknya? tanyaku. Aku sudah mengatur emosi dengan baik, tapi ternyata gagal.

“Jika kau mau tahu Runo di mana, aku pun tak tahu Runo di mana! Dan jika kau kira setiap hubungan akan berakhir seperti ceritamu, kau salah besar! Setiap hubungan takkan selalu berakhir seperti hubungan kau dengan suamimu!” (hlm 64). Sabilla menumpahkan kesedihannya dengan nada marah.

Pada chapter 4 ada sebuah percakapan, “Kau akan pulang hari ini?” tanyaku.
“Mungkin esok hari, pagi-pagi sekali, sepertinya esok meeting tentang kepergianku ke Jerman,” ucapnya.
“Tiga tahun bukan waktu yang sebentar,” tangkasku, (hlm 56).
Ternyata kepergiannya ke Jerman yang menjadi alasan Runo memutuskan pernikahan. Namun, begitulah lelaki dudul, pendiam, bicara seperlunya, Runo tidak mengungkapkan alasannya kepada Sabilla.
Orang tua Sabilla pasti kaget menerima keputusan Runo yang mendadak. Dalam hal ini penulis menggambarkannya dalam akhir chapter empat, “Aku takpernah melihat orangtuaku serapuh ini. Serapuh aku,” (hlm 74).
Kerahasiaan pemutusan pernikahannya masih memenuhi benak Sabilla. Setiap Runo online di jejaring sosial, ia selalu bertanya. Namun, takpernah ada jawaban pasti. Sampai pada suatu hari Runo mengajak Sabilla bertemu di Bandung. Pada bagian ini penulis menggambarkan dalam sebuah kutipan,
Kuakui setiap datang Runo selalu mencerahkan hariku. Menjauhkan belengguku dan membekukannya lagi ketika ia pergi. Kami membatasi apa yang harus dibatasi. Tentang aku yang bukan calon istrinya, tentang ia yang bukan calon imamku. Bicara dengan alasan ingin bicara. Bukan rindu,” (hlm 86).
Pertemuan mereka berupa percakapan,
“Ada yang ingin kau sampaikan? tanya Runo.
“Bisa tak menatapku seperti itu?” balasku.
“Aku rindu bola matamu. Bola mata yang selalu bersinar, yang selalu membuatku ingin melihatnya lagi,” ujar Runo.
Sabilla menangis.
“Mengapa menangis? Aku tidak sedang membual,” Runo meyakinkan.
“Mengapa kamu tidak mengondisikan hari ini sebagai hari di mana hubungan ini memang selesai dan aku tidak perlu berharap banyak?” ujarku dengan tangis tak henti (hlm 90).
Di akhir chapter 5 tertulis, “Ada pesan yang belum terbaca di ponselku, ‘terima kasih ya kemarin. Kau selalu membuatku terpesona ketika melihatmu lagi. Jaga dirimu baik-baik ya Sabilla. Suatu saat aku kembali, pasti, dan bersiap lagi terpesona lagi melihatmu,” (hlm 9).
Setelah pertemuan itu, pada chapter-chapter berikutnya hari-hari penting dilalui Sabilla tanpa Runo. Hari wisuda, hari ulang tahunnya, hari kematian neneknya dan hari kepergiannya ke Jepang untuk melanjutkan sekolah. Ya! Sabilla harus mengambil putusan untuk tidak terpuruk dalam kesedihan. “Aku lelah dengan posisiku yang takjelas. Aku harus mengajarkan (mengajari-edited) diriku untuk lebih kuat tentang hal ini,” (hlm 147).
Pada waktu-waktu terakhir sebelum S
abilla berangkat ke Jepang, Runo mengajaknya bercakap.
“Mengapa kamu membiarkan hubungan kita berantangan saat selangkah lagi menuju pelaminan?”
“Aku takyakin Sabilla. Dengan kau yang masih muda, wanita seumurmu masih bisa ke mana-mana. Masih bisa berdansa dengan egomu. Sedangkan kau, ketika resmi menjadi istriku dan kau masih ingin seperti mereka..”
“Lalu di mana egomu? Gila. Aku mengubah banyak hal untukmu. Kau tahu bagaimana perasaanku saat kau meninggalkanku begitu saja dan memikul malu saat semua tahu kita begitu serasi tapi kau putuskan untuk meninggalkan aku begitu saja?” (172).
Akhirnya Sabilla pergi ke Jepang selama dua tahun. Di akhir chapter, ia kembali ke Indonesia dan di sambut oleh semua temannya. Tanpa disadari, ternyata selama Sabilla ada di Jepang, Runo yang mengurusi keluarganya. Ayahnya yang sakit dan berbagai hal lainnya. Ternyata juga setiap hari ulang tahun Sabilla, Runo selalu mengiriminya kartu pos dan kado ulang tahun.
Setelah sebulan tinggal di Indonesia, Sabilla kedatangan tamu: Runo.
“Aku sudah menaklukkan semua yang aku cita-citakan,” ucap Runo.
“Aku juga,” balasku.
“Tapi aku merasa ada yang kurang,” ucapnya lagi.
“Aku merasa tidak ada yang kurang. Semuanya lengkap,” ucapku.
“Eh, aku juga” ralatnya.
“Mengapa pernyataanmu berubah?” tanyaku.
“Setelah kupikir-pikir, kau bukan bagian dari cita-citaku,” ungkap Runo.
“Ya sudah, mau ketemu ayah kan?” tuturku.
“Tapi bagian dari masa depanku Bill.. Kembalilah!,” ucap Runo.
“Dengan satu syarat,” ucapku.
“Apa?” tanya Runo.
“Jangan pergi lagi,” ucapku menerobos bola matanya.
Runo mengangguk. Melihat ke arah ayah dan sahabat barunya sambil tersenyum, (hlm 214).
Pada chapter penghabisan Sabilla menulis surat untuk almarhum neneknya:
Nek, benar yang nenek katakan dulu, tentang sesuatu yang takkan datang bila memang takbaik, tentang sesuatu yang takkan datang bila memang taktepat waktunya. Takperlu khawatir lagi ya. Runo cucu nenek sudah kembali” (hlm 214).
* penulis Ericka Citra Sejati
** Resensi dan analisisnya menyusul ya

Leave a comment

9 Comments

  1. bacanya yang sabar ya.. aku sudah bersabar membuatnya ^^

    Reply
  2. wah, tampak tulisan ini lebih menarik dari bukunya ;))well, skrg aku tau knapa buku ini bisa memesonamu. #soktau ;))

    Reply
  3. baguuuus, jadi pengen baca lengkapnya…

    Reply
  4. terima kasih sudah bersabar menulisnya, a happy ending story, nice for share🙂

    Reply
  5. titintitan said: wah, tampak tulisan ini lebih menarik dari bukunya ;))well, skrg aku tau knapa buku ini bisa memesonamu. #soktau ;))

    setiap orang punya alasan asasi untuk membaca sebuah buku. siapapun dia ^^

    Reply
  6. 4irm4t4 said: baguuuus, jadi pengen baca lengkapnya…

    pesen ke aku? harganya 40rb ^^

    Reply
  7. shinyqueen said: terima kasih sudah bersabar menulisnya, a happy ending story, nice for share🙂

    kalo mau beli ke aku aja ya ^^

    Reply
  8. baca reviewnya aja udah pengen nangiiissss… T_T

    Reply
  9. Reblogged this on The Life of Decci and commented:
    Tulisan ini mengingatkan sama seseorang yang selalu memotivasi saya untuk segera menyelesaikan kuliah. Lelaki yang menyuruh saya mengejar cita cita dan ambisi. Apakah kamu sekarang juga sedang meraih semua mimpi dan cita citamu, kanda??

    Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript

%d bloggers like this: