Mungkin

Mungkin berada dalam kesunyian lebih menyenangkan daripada berada dalam keramaian.
Bersembunyi dalam sunyi berarti menunggu.
Menunggu keramaian datang, menyiapkan diri untuk berteman dengan keramaian.
Kini, setelah berada dalam keramaian, lalu apa lagi yang dapat diperbuat? Hanya menunggu kesunyian.
Takhirau, akhirnya itulah yang terjadi pada orang yang terbiasa dengan kesunyian. Keramaian terlalu rapuh untuk menyapanya. Atau manusia sunyi itu yang terlalu rikuh untuk meramahi keramaian.
Entahlah, ramai memang terlalu banyak menuntut penjelasan. Berbeda dengan kesunyian, ia takbanyak bicara, takbanyak bertanya, takbanyak meminta, takbanyak mencela, takbanyak menduga.
Menciptakan sunyi. Ini dilakukan manusia sunyi yang mulai terdampar di keramaian.
Mereka bahkan mengajak penduduk keramaian untuk masuk ke dunia kesunyian. Celakanya, ia takpernah menyadari sejatinya sedang menciptakan keramaian baru.
Manusia sunyi cukup tahu apa yang ia suka. Ia dapat meramainkan dirinya di dalam keramaian tanpa mampu melepaskan kesunyiannya. Merah, kuning, hijau, biru, takdapat ia satukan dengan hitam dan putih. Ia hidup tanpa harus menghidupkan dirinya. Ia mati tanpa harus mematikan dirinya. Ia berkata tanpa harus bersuara.
Hemat kata, inilah yang terjadi dalam dunia kesunyian. Penuh pengertian karena hanya satu kata yang ada dalam kesunyian “diam”. Ia diam. Mereka diam. Aku diam. Kau pun harus diam.
Ketidakjelasan adalah kejelasan dalam kesunyian. Kejelasan ada dalam ketidakjelasan dalam kesunyian.
Kosong, ya, kekosongan adalah keberisian dalam sunyi. Kekosongan adalah kelengkapan. Keberisian adalah kekurangan.
*repost dari FB | lupa proses kreatif tulisan ini >,<
**foto jepretan winda
Leave a comment

4 Comments

  1. aku yakin, kamu bukan manusia kesunyian :))

    Reply
  2. tapi pernah baheula 2009 *gegare sekeripsi :))*sekarang kamu mewarnai duniaku #eh

    Reply
  3. langitshabrina said: tapi pernah baheula 2009 *gegare sekeripsi :))*sekarang kamu mewarnai duniaku #eh

    eaa..terharuuuu..:P

    Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript

%d bloggers like this: