Samudera Rumah Tangga

Pulang ke rumah rasanya seperti masuk ke samudra realitas. Takberani aku menyebutnya kubangan realitas, terlalu satir rasanya. Apalagi menyebutnya jurang realitas. Biarlah ia menjadi samudra yang akan aku arungi nantinya. Banyak pelajaran yang aku dapat selama beberapa pekan ini, di sini. Tentang menjadi ibu. Tentang menjadi aku. Tentang menjadi apapun yang menempeli diriku setelah kehidupan baru.

Ternyata benar, bekal ruhiyah adalah bekal yang akan menguatkan segala bekal untuk menghadapi dimensi kehidupan selanjutnya. Malu aku menyebutnya pernikahan. [*Kebanyakan dibahas :)) ] Tanpa ruhiyah, rumah tanggaku akan menjadi keluarga kering yang sepi dari tilawah. Yang terdengar adalah berita kehidupan tentangga sebelah, bisnis yang keuntungannya takberubah, bahkan omelan-omelan kecil yang berefek besar pada anak-anak kita (yang seharusnya) tersayang. Tanpa ruhiyah, keluargaku akan menjadi keluarga eksklusif yang takbisa mengintergasikan keislaman ke seantero tetangga. Tidak ada bekal sosial yang menempel dan meringankan diri untuk berkunjung, berbagi manfaat, dan berbagi ilmu. Tanpa ruhiyah, rumahku yang kecil dan sederhana akan terasa sempit karena muatan penat di kepala dan benda-benda yang berantakan karena tak ada ruang untuk memuatnya.
***
Aaaah.. ruhiyah itu menguatkan mentalitas kita saat berumah tangga. Itu yang aku dapat selama di sini. Semua bagian dari persiapan yang selama ini disebut-sebutkan: ruhiyah, maliyah, ilmu, jasadiyah, dan sosial, semua benar-benar menjadi dayung yang digunakan untuk menjalankan perahu kehidupan. Tidak ada yang disimpan. Semua digunakan sesuai porsinya, yang satu melengkapi yang lain. Yang satu menguatkan yang lain.
Tentang Rumah Berantakan
Orang bilang, jodoh itu saling melengkapi. Benarkah lengkap? Orang yang acak-acakan akan dipasangkan dengan orang yang rapi. Orang yang cerewet akan dipasangkan dengan orang yang sabar menghadapi kecerewetan? Aku bertemu dengan keluarga yang sudah menikah selama 30 tahun. Rumahnya acak-acakan dan berantakan. Kalau diibaratkan keripik maicih, berantakannya udah level 10. Aku jadi berpikir, “Kamarku memang acak-acakan juga, tapi apakah keimanan tidak akan membuatku memiliki will untuk lebih rapi, minimal di tahun ke 30 pernikahanku?” Rapi tidaknya kita memang benar-benar bergantung pada kebiasaan semasa lajang. Di awal-awal pernikahan mungkin kita bisa jaim di depan pasangan hidup kita yang baru kenal. Kalau sudah 1, 2, 3 bulan bahkan 1 tahun, kebiasaan asli kita yang berantakan itu pasti muncul juga. Itulang mungkin, bekal pernihakan harus dijaga seumur hidup, karena perjalanan belajarnya pun seumur hidup.
Keimanan yang terus dijaga akan membuat kita belajar dan belajar untuk menghias rumah kita senyaman mungkin. Dapur yang bagi seorang perempuan adalah kantor keduanya, pasti harus jadi bagian rumah yang paling nyaman. Nggak mungkin kita nyaman bekerja di tempat yang berantakan mirip kapal pecah. Kamar tidur yang bagi kita adalah markas da’wah, mana mungkin berubah jadi markaz cucian kotor? Baju bekas pakai menggantung di setiap sisi kamar. Tempat tidur sudah tidak enak digunakan karena seprai sudah berbulan-bulan belum dicuci. Belum lagi anak yang biasa ngompol. Semuanya harus bisa diatasi oleh seorang perempuan sebagai kepala rumah tangga. Suami yang capek seharian kerja, mana mungkin harus ikut dibebani masalah rumahan macam demikian. Rapi itu gak wajib! Belajar rapi itu wajib! *ngerasa gak rapi :))
Tentang Pola Asuh Anak
Anak adalah karunia dan buah cinta sebuah hubungan. Tapi, tapi, tapi, ia adalah fitnah buat kita bila takbenar mendidiknya. Anak adalah titipan Allah, bukan milik kita. Itu yang harus dicamkan. Memiliki keluarga berencana pun ternyata sangat penting. Bukan berarti membatasi kelahiran anak, melainkan mengatur jarak kelahiran anak. Belajar jadi ibu ternyata tidak bisa hanya dilakukan dengan membaca buku. Heuheu, praktek bersama keponakan adalah cara lain yang memberi pelajaran menjadi ibu. Ibu yang malas belajar hanya akan menjadi mesin pembuat anak. Ia hanya bisa hamil, melahirkan, dan menjadi komentator buruk tentang tingkah unik anaknya.
Ibu yang malas belajar tentang perkembangan anak, mentalnya akan lemah. Biasanya mereka akan menjadi pemarah. Apa yang dilakukan anak sedikit-sedikit salah. Pengaruh lingkungan sekitar akan dijadikan hambatan olehnya. Ia tidak akan menyalahkan pengaruh buruk dari masyarakat luar tanpa mampu menjadi benteng untuk anaknya menghadapi pengaruh tersebut. Langkah yang biasa mereka ambil adalah mengurung anak seharian di rumah. Padahal dunia anak-anak adalah dunia bermain. Kehidupan mereka (terutama di masa golden age) adalah dunia permainan dan bermain. Jika bermain ini salah, bermain itu salah, anak akan terusir dari dunianya. Ia akan memasuki ruang hitam bernama kesedihan.
Di sini aku menemukan dua orang anak yang mengalami masa sulit. Dalam hal materi mereka sangat berkecukupan, tapi dalam hal mental, entah apa jadinya mereka kelak. Seorang balita berusia 2,5 tahun memiliki kata pamungkas “enggak! enggak! enggak!” Ditawari apapun jawabannya “enggak!” Entah apa yang diajarkan oleh ibunya sehingga kata “enggak!” itu menempel pada benaknya. Suatu sore ia ingin bermain dengan teman sebayanya. Sang ibu melarang karena teman-temannya sering menjaili balita tersebut. Kadang ia suka didorong, dipukul, dsb. Semua itu di luar kontrol sang ibu. Lagi-lagi karena bekal sosial yang rendah, sang ibu tidak menemani anaknya bermain. Balita tersebut ditemani oleh kakaknya. Pola asuh serupa pada sang kakak membuat balita tersebut dibiarkan “diapa-apakan” oleh orang lain. Sang kakak cukup berkata, “aku juga dulu digituin, gak ada yang ngebelain.” Seram bukan? Hasil didikan yang salah menghasilkan pola berpikir yang salah pula.
Sore itu sang ibu melarang balita kecil itu bermain. Pintu rumah dikunci dan balita itu kehilangan dunianya. Ia menangis berjam-jam. Karena takmampu memberhentikan tangisnya, sang ibu berkata “Dia! Ibu nggak sayang kamu!” Kalimat sederhana bernada ancaman dan mungkin kalimat sesaat yang tentu saja tidak benar. Tidak ada ibu yang tidak menyayangi anaknya. Namun, karena salah pilihan kata, kalimat itu akan tertanam di benak balita tersebut. “Ibu nggak sayang aku!” Buatku, kalimat itu adalah bombardir. Kehidupan anak adalah kumpulan “kenakalan” yang satu ke “kenakalan” yang lain. Jika setiap saat ia dibombardir dengan larangan atau kata-kata negatif, mental buruk yang akan terbentuk pada diri anak. Mengapa? Karena ia kehilangan dunianya.
Mengancam?
Mengancam? Jangan sekali-kali mengancam anakmu! “Kalo kamu keluar rumah, besok kamu nggak akan ibu izinin renang!” “Kalau kamu nggak ngasih minjem mainanmu ke adikmu, ibu bakar mainanmu!” Mengancam adalah jalan pintas untuk membuat anak kita mematuhi perintah kita. Tapi hati-hati! Kebiasaan kita mengancamnya, akan membuat ia terbiasa mengancam orang lain. Ia akan menjadi “penjahat kecil” untuk teman-temannya. Sebaliknya, bila sang kakak mengancam adiknya, sang adik bisa menjawab dengan an
caman “Bilangin ke Ibu!” atau “Bilangin ke ayah!” Seolah, ayah adalah ancaman bagi sang kakak. Lalu? Ayah dan ibu menjadi monster jahat bagi anak-anaknya.
Rumah tidak lagi menjadi tempat menyenangkan bagi seorang balita. Bahkan, saat anak mulai mengerti dan dapat diajak berkomunikasi, orang tua yang malas belajar akan menjadi musuh baru bagi sang anak. Saat anak lupa menyimpat barang, “Kamu yang salah, malah bilang ayah telat jemput. Padahal kamu sendiri masih asik berenang. Seharusnya waktu ayah datang, kamu sudah siap naik ke mobil. Ini masih asik berenang, belum mandi. Karena terburu-buru, sabun, shampo jadi ketinggalan.” Begitulah percakapan seorang ayah dengan anaknya yang berusia 7 tahun. Sangat kontras dan menakutkan. Logika yang dibangun adalah benar-salah. Tidak ada permakluman untuk seorang anak. Sang ibu malah berujar “Kamu kira sabun dan shampo itu murah? Memangnya kamu bisa menggantinya?” Bukannya melerai, ibu malah menjadi musuh baru bagi sang anak. Masalahnya hanya sederhana, mengajari anak berdisiplin dalam menjaga barang-barangnya, tapi kesalahan memilih kata-kata membuat peristiwa itu menjadi perusakan mental anak. “Aku selalu salah di mata ayah dan ibu” itu yang akan tertanam pada benak anak.
Tentang Bekal Sosial
Apa gunanya sholeh individu jika kita tidak sholeh sosial? Ini yang mungkin harus dipelajari olehku dengan amat sangat. Ilmu agama yang dimiliki seseorang belum tentu ada manfaatnya untuk orang lain jika ia tidak memiliki kecerdasan sosial. Orang yang menjadi panutan di sebuah komunitas atau jamaah tidak akan menjadi panutan di lingkungan sekitarnya jika ia hanya bergaul dengan komunitasnya. Apalagai jika komunitas itu memang benar-benar melarang kita untuk mengikuti pengajian-pengajian yang katanya “bid’ah.” Sempit sekali rasanya dunia ini. Bukankah muslim yang paling dicintai Allah adalah yang paling banyak manfaatnya untuk orang lain. Tidak perlu banyak uang, tapi dapat membuka akses orang lain untuk menjadi kaya. Tidak perlu banyak ilmu, tapi dapat menjadi pembuka akses yang membuat orang lain lebih banyak ilmu. Kaya dan berilmu lalu bermanfaat untuk tetangga dan masyarakat sekitar tentu lebih utama.
Eksklusivitas aktivis kampus biasanya yang membuat aktivis sulit bergaul dengan masyarakat. Apalagi untuk aktivis yang biasa mengurusi isu-isu politik nasional, mana bisa ia aktif di masyarakat. Kecuali jika di sela aktivitasnya, ia pernah mengajar TPA. Mereka sudah terbiasa menghadapi wali-wali murid TPA mereka. Bekal sosial ini memang perlu modal “nekad.” Bagi yang memang benar-benar jarang bergaul dengan masyarakat, harus berani nekad bergaul. Setelah berumah tangga, sang ibu muda akan menjadi peserta arisan RT dan sang ayah akan menghadiri rapat kepala keluarga. Semua posisi itu tidak dapat di wakilkan. Di rumah hanya ada kita sebagai istri dan kita sebagai suami.
Bila sosialisasi kita baik terhadap tetangga dan lingkungan, mereka pun takakan segang membantu kita saat dibutuhkan. Bukankah saat kita sakit, bahkan meninggal, yang akan pertama kali menemukan jenazah kita adalah tetangga? Bukankah saat kehabisan garam di dapur, yang pertama kali kita ketuk pintunya adalah tetangga? Bukankah ketika masakan kita gosong yang pertama kali dapat mencegah rumah kita dari kebakaran adalah tetangga? Itulah mengapa orang yang memuliakan tetangga mendapat jaminan surga. Bagian ini perlu dipelajari waktu demi waktu, takhabis-habisnya.
Tentang Birul Walidain
Setelah menikah, hidup mandiri adalah keinginan setiap pasangan. Lalu biasanya mengunjungi ayah dan ibu adalah sesuatu yang terkadang tidak jadi prioritas. Anggaran menjenguk ayah, ibu, dan mertua sudah terdahului oleh anggaran rumah tangga. Bila tiba waktu melahirkan, baru berani merepotkan mereka. Saat lahir anak pertama, ibu diminta mengajari memandikan bayi sampai beberapa minggu. Saat lahir anak kedua, ibu dititipi anak pertama plus dimintai memandikan anak kedua. Begitu seterusnya. Jika ada kesalahan pada anak yang dititipkan, kita berujar “Mama siy si kakak dikasih minum es, padahal dia kan sensitif, gampang batuk!” Aaah.. yang namanya anak, di mana-mana kerjanya hanya merepotkan. Setelah direpotkan dengan titipi cucu, ibu disalahkan.
Menghormatinya sebagai orang tua, itulah yang harus kita camkan. Walaupun kita sibuk dan pusing dengan anak-anak yang “nakal” *padahal tidak ada anak nakal di dunia ini. Kita harus tetap bisa menjaga perasaan ibu yang semakin tua akan semakin sensitif. Selain itu, kepada mertua, kadang pandangan negatif sering muncul. Padahal sebenarnya mertua posisinya sama dengan orang tua kita. Penghormatan dan kecintaan kita harus sama seperti kepada orang tua kandung.
Tentang birulwalidain ini, bukan hanya perlu dilihat dari kacamata anak yang memang harus diperbaiki, suatu saat kita, aku, kamu, akan menjadi seorang kakek atau nenek. Pola asuh kita kepada anak akan berefek pada kita saat menjadi nenek dan kakek. Boleh jadi, mereka demikian karena saat kecil logika benar-salah telah kita tanamkan. Mendidik anak adalah berinvestasi untuk kehidupan kita di masa tua. Bila kita mendidiknya dengan benar di masa kecil, kebahagiaan akan kita tuai di masa tua.
*masih banyak yang pengen diceritain, tapi takut kepanjangan dan sok tahu. Ini pandanganku tentang sesuatu yang belum aku alami. kisah-kisahnya negatif, selama menyaksikannya “naudzubillah” selalu terucap dari lisan ini. Semoga tulisan ini bisa diambil ibrahnya dan membuat yang belum menikah memantapkan persiapannya, yang sudah menikah mampu menghindari hal-hal buruknya. Setelah menikah, saatnya action takada kesempatan untuk melihat halaman demi halaman di buku panduan pranikah. aaah.. jurnal ini benar-benar untuk aku camkan. #ingatkandiri banget ^^
Previous Post
Leave a comment

13 Comments

  1. hoaa panjaaanggg… belum baca hihihi

    Reply
  2. *bookmart duluuu

    Reply
  3. azizrizki said: sip

    udah dibaca ssemua ki?

    Reply
  4. penasulung said: hoaa panjaaanggg… belum baca hihihi

    paraaaah! baca! *ngancem padahal gakboleh :))

    Reply
  5. titintitan said: *bookmart duluuu

    hadeuh! emang nyadar ni tulisan kepanjangan >,<

    Reply
  6. Ini benar-benar sharing yg menarik, mbak Linda.Masukan dari saya, lebih baik kalo tema (judul) paragraf yg berbeda itu juga dipisah-pisah per postingan, agar enak ngebahasnya krn bisa lebih fokus🙂

    Reply
  7. aduh lindaaa…makasih bangeet udah ngingetin yaa…terutama utk masalah kerapihan itu loh😀

    Reply
  8. Puanjaang bgt…blom jd baca😀

    Reply
  9. fightforfreedom said: Ini benar-benar sharing yg menarik, mbak Linda.Masukan dari saya, lebih baik kalo tema (judul) paragraf yg berbeda itu juga dipisah-pisah per postingan, agar enak ngebahasnya krn bisa lebih fokus🙂

    heuheu.. makanya aku namai samudera, ikannya banyak hehe… baiklah.. aku bikin jurnal terpisah *walopun udah speachless (gak akan ditambahin ape2 maksude)

    Reply
  10. rifzahra said: aduh lindaaa…makasih bangeet udah ngingetin yaa…terutama utk masalah kerapihan itu loh😀

    aku juga lagi ngengetin diri sendiri Fi :d

    Reply
  11. rindupurnama said: Puanjaang bgt…blom jd baca😀

    nanti aku bikin versi pendek deh :d

    Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript

%d bloggers like this: