Tentang Birul Walidain

Setelah menikah, hidup mandiri adalah keinginan setiap pasangan. Lalu biasanya mengunjungi ayah dan ibu adalah sesuatu yang terkadang tidak jadi prioritas. Anggaran menjenguk ayah, ibu, dan mertua sudah terdahului oleh anggaran rumah tangga. Bila tiba waktu melahirkan, baru berani merepotkan mereka. Saat lahir anak pertama, ibu diminta mengajari memandikan bayi sampai beberapa minggu. Saat lahir anak kedua, ibu dititipi anak pertama plus dimintai memandikan anak kedua. Begitu seterusnya. Jika ada kesalahan pada anak yang dititipkan, kita berujar “Mama siy si kakak dikasih minum es, padahal dia kan sensitif, gampang batuk!” Aaah.. yang namanya anak, di mana-mana kerjanya hanya merepotkan. Setelah direpotkan dengan titipi cucu, ibu disalahkan.

Menghormatinya sebagai orang tua, itulah yang harus kita camkan. Walaupun kita sibuk dan pusing dengan anak-anak yang “nakal” *padahal tidak ada anak nakal di dunia ini. Kita harus tetap bisa menjaga perasaan ibu yang semakin tua akan semakin sensitif. Selain itu, kepada mertua, kadang pandangan negatif sering muncul. Padahal sebenarnya mertua posisinya sama dengan orang tua kita. Penghormatan dan kecintaan kita harus sama seperti kepada orang tua kandung.

Tentang birulwalidain ini, bukan hanya perlu dilihat dari kacamata anak yang memang harus diperbaiki, suatu saat kita, aku, kamu, akan menjadi seorang kakek atau nenek. Pola asuh kita kepada anak akan berefek pada kita saat menjadi nenek dan kakek. Boleh jadi, mereka demikian karena saat kecil logika benar-salah telah kita tanamkan. Mendidik anak adalah berinvestasi untuk kehidupan kita di masa tua. Bila kita mendidiknya dengan benar di masa kecil, kebahagiaan akan kita tuai di masa tua.

*part of Samudera Rumah Tangga. Saran Mas Iwan ^^

Next Post
Leave a comment

3 Comments

  1. pernah diwejangi masalah kaya gini sama ibunya temen kost:)

    Reply
  2. saran dari Mas Iwan banyak banget..Maka dari itu Teh, sebelum nikah persiapkan sebaik-baiknya, spy nanti ga jd tanggungan orgtua, tapi yg paling penting tetep bekal ruhiyah..🙂

    Reply
  3. @winda: maksudku sarang membaginya menjadi beberapa bagian. Jurnalnya tetep buatanku dong :p

    Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript

%d bloggers like this: