Tentang Pola Asuh Anak

Anak adalah karunia dan buah cinta sebuah hubungan. Tapi, tapi, tapi, ia adalah fitnah buat kita bila takbenar mendidiknya. Anak adalah titipan Allah, bukan milik kita. Itu yang harus dicamkan. Memiliki keluarga berencana pun ternyata sangat penting. Bukan berarti membatasi kelahiran anak, melainkan mengatur jarak kelahiran anak. Belajar jadi ibu ternyata tidak bisa hanya dilakukan dengan membaca buku. Heuheu, praktek bersama keponakan adalah cara lain yang memberi pelajaran menjadi ibu. Ibu yang malas belajar hanya akan menjadi mesin pembuat anak. Ia hanya bisa hamil, melahirkan, dan menjadi komentator buruk tentang tingkah unik anaknya.

Ibu yang malas belajar tentang perkembangan anak, mentalnya akan lemah. Biasanya mereka akan menjadi pemarah. Apa yang dilakukan anak sedikit-sedikit salah. Pengaruh lingkungan sekitar akan dijadikan hambatan olehnya. Ia tidak akan menyalahkan pengaruh buruk dari masyarakat luar tanpa mampu menjadi benteng untuk anaknya menghadapi pengaruh tersebut. Langkah yang biasa mereka ambil adalah mengurung anak seharian di rumah. Padahal dunia anak-anak adalah dunia bermain. Kehidupan mereka (terutama di masa golden age) adalah dunia permainan dan bermain. Jika bermain ini salah, bermain itu salah, anak akan terusir dari dunianya. Ia akan memasuki ruang hitam bernama kesedihan.

Di sini aku menemukan dua orang anak yang mengalami masa sulit. Dalam hal materi mereka sangat berkecukupan, tapi dalam hal mental, entah apa jadinya mereka kelak. Seorang balita berusia 2,5 tahun memiliki kata pamungkas “enggak! enggak! enggak!” Ditawari apapun jawabannya “enggak!” Entah apa yang diajarkan oleh ibunya sehingga kata “enggak!” itu menempel pada benaknya. Suatu sore ia ingin bermain dengan teman sebayanya. Sang ibu melarang karena teman-temannya sering menjaili balita tersebut. Kadang ia suka didorong, dipukul, dsb. Semua itu di luar kontrol sang ibu. Lagi-lagi karena bekal sosial yang rendah, sang ibu tidak menemani anaknya bermain. Balita tersebut ditemani oleh kakaknya. Pola asuh serupa pada sang kakak membuat balita tersebut dibiarkan “diapa-apakan” oleh orang lain. Sang kakak cukup berkata, “aku juga dulu digituin, gak ada yang ngebelain.” Seram bukan? Hasil didikan yang salah menghasilkan pola berpikir yang salah pula.

Sore itu sang ibu melarang balita kecil itu bermain. Pintu rumah dikunci dan balita itu kehilangan dunianya. Ia menangis berjam-jam. Karena takmampu memberhentikan tangisnya, sang ibu berkata “Dia! Ibu nggak sayang kamu!” Kalimat sederhana bernada ancaman dan mungkin kalimat sesaat yang tentu saja tidak benar. Tidak ada ibu yang tidak menyayangi anaknya. Namun, karena salah pilihan kata, kalimat itu akan tertanam di benak balita tersebut. “Ibu nggak sayang aku!” Buatku, kalimat itu adalah bombardir. Kehidupan anak adalah kumpulan “kenakalan” yang satu ke “kenakalan” yang lain. Jika setiap saat ia dibombardir dengan larangan atau kata-kata negatif, mental buruk yang akan terbentuk pada diri anak. Mengapa? Karena ia kehilangan dunianya.


Mengancam?

Mengancam? Jangan sekali-kali mengancam anakmu! “Kalo kamu keluar rumah, besok kamu nggak akan ibu izinin renang!” “Kalau kamu nggak ngasih minjem mainanmu ke adikmu, ibu bakar mainanmu!” Mengancam adalah jalan pintas untuk membuat anak kita mematuhi perintah kita. Tapi hati-hati! Kebiasaan kita mengancamnya, akan membuat ia terbiasa mengancam orang lain. Ia akan menjadi “penjahat kecil” untuk teman-temannya. Sebaliknya, bila sang kakak mengancam adiknya, sang adik bisa menjawab dengan ancaman “Bilangin ke Ibu!” atau “Bilangin ke ayah!” Seolah, ayah adalah ancaman bagi sang kakak. Lalu? Ayah dan ibu menjadi monster jahat bagi anak-anaknya.

Rumah tidak lagi menjadi tempat menyenangkan bagi seorang balita. Bahkan, saat anak mulai mengerti dan dapat diajak berkomunikasi, orang tua yang malas belajar akan menjadi musuh baru bagi sang anak. Saat anak lupa menyimpat barang, “Kamu yang salah, malah bilang ayah telat jemput. Padahal kamu sendiri masih asik berenang. Seharusnya waktu ayah datang, kamu sudah siap naik ke mobil. Ini masih asik berenang, belum mandi. Karena terburu-buru, sabun, shampo jadi ketinggalan.” Begitulah percakapan seorang ayah dengan anaknya yang berusia 7 tahun. Sangat kontras dan menakutkan. Logika yang dibangun adalah benar-salah. Tidak ada permakluman untuk seorang anak. Sang ibu malah berujar “Kamu kira sabun dan shampo itu murah? Memangnya kamu bisa menggantinya?” Bukannya melerai, ibu malah menjadi musuh baru bagi sang anak. Masalahnya hanya sederhana, mengajari anak berdisiplin dalam menjaga barang-barangnya, tapi kesalahan memilih kata-kata membuat peristiwa itu menjadi perusakan mental anak. “Aku selalu salah di mata ayah dan ibu” itu yang akan tertanam pada benak anak.

*part of Samudera Rumah Tangga. Saran dari mas Iwan

Leave a comment

10 Comments

  1. langitshabrina said: Anak adalah karunia dan buah cinta sebuah hubungan. Tapi, tapi, tapi, ia adalah fitnah buat kita bila takbenar mendidiknya. Anak adalah titipan Allah, bukan milik kita.

    Sependapat sekali, mbak Linda, bahwa memang benar:Anak adalah titipan AllahAnak adalah investasi dunia akhirat yang diamanahkan atau dititipkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita sbg orangtuanya. Nahh… sbg amanah, maka anak tsb harus dijaga, dididik, diperlakukan adil, dan dibesarkan dg penuh cinta, kasih sayang dan kelembutan.Satu lagi masukan bahwa:Anak adalah proyek orangtua seumur hidup.Orangtua yg berhasil ‘mengelola’ anak dg baik maka cepat atau lambat akan merasakan hasilnya, tenang dan bahagia menjalani hidup ini baik ketika anak masih kecil maupun ketika anak sudah beranjak dewasa.Baik dan buruknya anak sangat tergantung dari bagaimana orangtuanya membesarkan, mendampingi, mendidik, dan mengarahkan, baik yang langsung dilakukan oleh kita maupun yang kita delegasikan kepada pihak lain, misalnya sekolah atau lingkungan di luar keluarga anak tersebut.

    Reply
  2. Iya Mas. Satu lagi yang belum saya masukkan: Kebiasaan Berbohong dengan menakut-nakuti. Orang tua biasanya tanpa sadar menakut-nakuti anak dengan ancaman keberadaan hantu, pocong, toke, tikus, kecoa, dll. Itu secara tidak langsung mengajari mereka untuk bermental penakut dan mengajari mereka berbohong kepada orang lain. Contohnya, jika kita membohongi sang adik di depan kakaknya, suatu saat si kakak akan menggunakan cara yang sama. Akhirnya kita berhasil mengajari si kakak untuk berbohong dan mengancam adik. Mentalitas ini buruk sekali akibatnya bagi anak.. *tambahan heheh…

    Reply
  3. langitshabrina said: Belajar jadi ibu ternyata tidak bisa hanya dilakukan dengan membaca buku. Heuheu, praktek bersama keponakan adalah cara lain yang memberi pelajaran menjadi ibu. Ibu yang malas belajar hanya akan menjadi mesin pembuat anak. Ia hanya bisa hamil, melahirkan, dan menjadi komentator buruk tentang tingkah unik anaknya.

    Saya sependapat lagi dg statemen di atas :)Menjadi orangtua cerdas memang seharusnya menjadi bagian dari tanggung jawab. Artinya mutlak harus dipenuhi tanggung jawab tsb.Ada beberapa manfaat jika orangtua selalu memiliki kemauan untuk belajar, mencari ilmu dgn membaca buku, mencari informasi di internet, dan bertanya kepada orang yg lebih memahami tentang anak. Pada umumnya, orangtua tsb akan lebih mudah mendapatkan jawaban atau solusi ttg masalah yg sering terjadi pada anak. Biasanya orangtua spt ini akan lebih mudah dlm mendidik anak. Sebab selama dlm proses belajar & praktek, di antara mereka sudah terjalin sebuah ikatan batin yg baik, mereka saling percaya, dan saling memahami satu dgn lainnya. Proses itu yg menyatukan mereka.

    Reply
  4. langitshabrina said: Langkah yang biasa mereka ambil adalah mengurung anak seharian di rumah. Padahal dunia anak-anak adalah dunia bermain. Kehidupan mereka (terutama di masa golden age) adalah dunia permainan dan bermain. Jika bermain ini salah, bermain itu salah, anak akan terusir dari dunianya. Ia akan memasuki ruang hitam bernama kesedihan.

    Saya sependapat lagi dg opini mbak Linda di atas:Memang benar, bahwa BERMAIN merupakan salah satu hak anak yg terkadang dianggap mudah untuk dipenuhi namun dalam pelaksanaannya paling mudah untuk diabaikan atau disepelekan. Just sharing, siapa tahu mbak Linda belum mengetahui hukumnya:Hak Anak untuk bermain itu (Alhamdulillah) sudah terkandung dlm UU Perlindungan Anak No.23 Thn 2002 yg berbunyi: “Setiap anak berhak untuk beristirahat dan memanfaatkan waktu luang, bergaul dengan anak yang sebaya, bermain, berekreasi, dan berkreasi sesuai dengan minat, bakat, dan tingkat kecerdasannya demi pengembangan diri”

    Reply
  5. tanggung jawab mutlat itu yang bikin aku ketar-ketir takut nikah hehe..*jazakumullah udah ditambahin jurnalnya ^^

    Reply
  6. langitshabrina said: tanggung jawab mutlat itu yang bikin aku ketar-ketir takut nikah hehe..

    Mengenai tanggung jawab mutlak itu, bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman,“Dan hendaklah takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS an-Nisa:9).Dari ayat tsb, Agama Islam telah mendorong para orangtua yg cerdas agar mampu menciptakan generasi yg unggul, pintar, berkualitas, dan berpotensi menjadi seseorang yg sukses dan bermanfaat. Ya, kalo dah nikah, insya Allah dikuatkan, krn adaaa aja jalannya untuk meraih kecerdasan parenting itu🙂

    Reply
  7. Break dulu, nanti dilanjut untuk menyimak postingan ini dan lainnya🙂

    Reply
  8. Jika anak dibesarkan dengan celaan, dia belajar memakiJika anak dibesarkan dengan permusuhan/kekerasan, dia belajar membenciJika anak dibesarkan dengan cemoohan, dia belajar rendah diriJika anak dibesarkan dengan hinaan, dia belajar menyesali diriJika anak dibesarkan dengan toleransi, dia belajar menahan diriJika anak dibesarkan dengan pujian, dia belajar menghargaiJika anak dibesarkan dengan dorongan, dia belajar percaya diriJika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, dia belajar keadilanJika anak dibesarkan dengan rasa aman, dia belajar menaruh kepercayaanJika anak dibesarkan dengan dukungan, dia belajar menyenangi dirinyaJika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, dia pun belajar menemukan cinta dalam kehidupan“CHILDREN LEARN WHAT THEY LIVE” Dorothy Law Nolte

    Reply
  9. SubhanAllah. Perbincangan yang menarik, panjang lebar ilmunya dapat..Sepakat dgn Teh Linda dan Mas Iwan;ya, sebaiknya dari kecil diajarkan tutur kata yang baik. dan jgn dibiasakan menggunakan kata ‘jangan’ karena itu sama dgn melarang. anak itu ingin dimengerti, tapi sebenarnya tdk semua yg mereka inginkan baik untuk mereka. nah, tugas orgtua adalah mengarahkannya. dulu waktu masih ngajar, sering ketemu anak-anak yg kurang diperhatikan sama ortunya, jd saat disekolah dioptimalkan. tapi tetap diingatkan ke orangtuanya juga, supaya anaknya lebih diperhatikan.Mbak Danti: saya punya ulasan tentang teori itu dirumah, pernah ikut seminar parenting..

    Reply
  10. rivenskyatwinda said: SubhanAllah. Perbincangan yang menarik, panjang lebar ilmunya dapat..Sepakat dgn Teh Linda dan Mas Iwan;ya, sebaiknya dari kecil diajarkan tutur kata yang baik. dan jgn dibiasakan menggunakan kata ‘jangan’ karena itu sama dgn melarang. anak itu ingin dimengerti, tapi sebenarnya tdk semua yg mereka inginkan baik untuk mereka. nah, tugas orgtua adalah mengarahkannya. dulu waktu masih ngajar, sering ketemu anak-anak yg kurang diperhatikan sama ortunya, jd saat disekolah dioptimalkan. tapi tetap diingatkan ke orangtuanya juga, supaya anaknya lebih diperhatikan.Mbak Danti: saya punya ulasan tentang teori itu dirumah, pernah ikut seminar parenting..

    wah, udah cocok nich jadi ibu ;))*siap-siap nunggu undangan

    Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript

%d bloggers like this: