Kepastian dan Ketidakpastian

“Perempuan suka eskrim dan coklat, tapi lebih suka kepastian” (Sujiwotejo).
Seperti semacam takdir, menjadi perempuan memang harus mau mengakrabi kepastian. Dunia dan seisinya memproteksi perempuan dengan kebutuhannya pada kepastian. Karena itu pula, Sujiwotejo sebagai seorang budayawan laki-laki mengicaukan pernyataannya tentang perempuan dan kepastian di twitternya. Mungkin karena dianggap lemah atau karena -sebenarnya saya tidak sepakat- perempuan memang lemah, dunia menganggapnya akan lebih selamat dengan hal-hal yang telah pasti. Dalam filsafat biologi, perempuan yang diwakili oleh ovum lebih memiliki kepastian ketimbang laki-laki. Pada saat pembuahan, perempuan hanya mengeluarkan satu sel telur sedangkan laki-laki mengeluarkan jutaan sel sperma. Ovum yang hanya keluar satu pada saat pembuahan memperlihatkan kepastiannya. Sedangkan sperma yang keluar jutaan memperlihatkan ketakpastiannya. Inilah salah satu filosofi keakraban perempuan dengan kepastian. Dalam hal budaya, salah satu bukti keakraban perempuan dengan kepastian ada pada suku Sunda. Para orang tua di Sunda lebih memilih anaknya tinggak bersama keluarga ketimbang harus pergi-pergi ke luar kota. Ini adalah salah satu proteksi mereka terhadap anak perempuan. Tinggal di rumah dengan sederhana lebih menentramkan ketimbang membiarkan anaknya pergi ke luar daerah tanpa kepastian nasib anak perempuan mereka. Proteksi ini saya alami sebagai perempuan Sunda yang sebenarnya takterlalu akrab dengan budayanya sendiri.
Girang Bukan Main
Beberapa hari lalu saya girang bukan main. Rasanya seperti mendapatkan undian berhadiah umrah *lebay! Pasalnya sekitar dua hari lalu saya berhasil memperjuangkan kontrak sebagai pengajar di Unpad untuk 3 tahun mendatang. Saya, yang awalnya mendaftar sebagai calon dosen yang siap ditempatkan di universitas manapun di Indonesia, kini mendapat kepastian mengajar di Unpad setelah lulus S2 nanti. Siapa yang tidak girang? Berpindah dari ketakpastian menuju kepastian? Apalagi saya adalah perempuan yang lahir dari suku Sunda. Ayah sangat senang menerima berita ini. Namun, ternyata sebagai seseorang yang suka kebebasan *tsaaah! Saya jadi berpikir, “Haruskan saya menua di Bandung? Padahal dunia ini amat luas untuk dikeliling dan dikunjungi!” Saya mulai berpikir ulang tentang kontrak tersebut. Belum lagi mengenai ketidaktahuan saya tentang dengan siapa saya dijodohkan oleh-Nya. Oh My God! What kind of relationship that i will made? Emang ada gituh ikhwan yang mau tinggal di Bandung? Emang kamu tahu jodohmu bukan orang Bandung? Lagi-lagi saya dituntut untuk memastikan bahwa otomatis suami saya nanti harus orang yang bersedia tinggal di Bandung atau memang benar-benar orang Bandung. Untuk yang demikian itu apa kuasa saya? Hati saya berbisik, “Robb, ampuni aku jika telah menyandarkan kepastianMu pada ketakpastian mahlukMu. Aku benar-benar tidak tahu.” Namun, begitulah Dia, memberi saya beberapa jalan untuk belajar.
Mencari dan Bertemu dengan Kepastian
Kemarin, sebelum saya harus memastikan nasib karir 3 tahun mendatang, Allah memberi saya jalan untuk mengunjungi blog seorang akhwat. Ketika sedang berkuliah ia menjalin hubungan “tanpakepastian” dengan seorang ikhwan -tidak berani saya menyebutnya pacaran. Dari yang saya baca, sang ikhwan tidak menjanjikan sesuatu, ia hanya memberi akhwat itu banyak cinta. Oleh sebab itu, ia memutuskan untuk menunggu kepastian dari sang ikhwan. Sampai pada suatu hari ia lulus kuliah dan mengikuti CPNS. Entah apa pertimbangannya -tidak dijelaskan di blog tersebut, sang akhwat memilih ditempatkan di kota tenpat tinggal -afwan- kekasihnya. Allah Yang Maha Berkehendak mengabulkan lamaran PNSnya. Ia ditempatkan di kota kekasihnya. Namun, apa yang terjadi? Pada sisi kehidupannya yang lain, Allah memperlihatkan pula Kemahaberkehendakan-Nya. Hubungan mereka kandas. Beberapa bulan kemudian sang akhwat dilamar oleh ikhwan lain. Allah memilihkan orang lain dan mereka menikah. Takdirnya, suaminya harus bekerja sebagai PNS juga di kota yang cukup jauh dari tempat sang akhwat bekerja. What kind of relationship that is? Menikah tapi dalam keadaan long distance! Apakah tujuan pernikahan akan tercapai? I don’t really know heuheu.. Ia harus menjalani pernikahan jarak jauh sama seperti kontrak saya, 3 tahun. Inilah akibatnya jika menggantungkan kepastian pada ketidakpastian. Paling tidak, itulah yang saya dapat dari kisah penuh pelajaran ini. Dia memilih tempat itu karena ada kekasih yang sudah ia “pastikan” sebagai suami. Namun, ternyata, Allah menakdirkannya menikah dengan ikhwan lain. Kepastian manusia itu amat lemah.
Mengeja Kepastian-Nya
Ahh.. ini jadi mengingatkan saya pada perkataan seorang dosen yang memberi saran, “Kamu cepat-cepatlah menikah. Kalau sudah menikah, kamu bisa mengajukan mutasi ke tempat tinggal suamimu minimal setelah 6 bulan mengajar.” Pernyataannya terlihat mudah, tapi nampaknya prosesnya akan alot. Saya tidak mau menggantungkan kepastian-Nya pada ketidakpastian. Lantas apa yang saya putuskan? Apakah saya memilih kontrak 3 tahun di Unpad yang sudah pasti? Hmm.. ternyata pilihan yang menentramkan buat saya adalah kebebasan memilih. Mengapa? Dulu, saya mengajukan beasiswa sebagai calon dosen yang bersedia ditempatkan di universitas manapun. “Di antara kebebasan itu, tetap ada peluang untuk mengajar di Unpad kan?” Itu yang saya sampaikan kepada ayah. Ketetapan dan kepastian hanya milik Allah. Saya tidak boleh mematung pada satu ketetapan manusia. Allah menakdirkan apapun dengan pertimbangan paling lengkap, tidak hanya berdasarkan kontrak kerja bukan? Pena telah terangkat dan lembara tulisan pada takdir telah mengering, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Allah sebaik-baik pemberi kepastian. Hari ini, ketika saya mengunjungi kantor pascasarjana Unpad, kontrak saya masih tergeletak di atas meja petugas yang diamanahi mengantarkan surat kontrak ke DIKTI. “Surat kontraknya terlambat Neng. Bapaknya sudah ke DIKTI sejak dua hari lalu. Kalau Neng Linda mau mengajukannya ke DIKTI, silakan mengirimkannya langsung, tidak boleh melalui POS,” ujar salah seorang ibu yang ada di ruangan tersebut. Saya lebih memilih melipat kontrak kerja itu dan menyimpannya di arsip surat-surat yang pernah saya perjuangkan saja. Pada apapun keputusan-Nya nanti, semoga membuat saya naik kelas dalam setiap ujian keimanan ini. Menghadapi sebuah pilihan sendirian memang terasa berat. Mengingat target menikah tinggal menghitung bulan heuheu.. Semoga ini putusan yang tidak salah. Semoga ini yang terbaik menurut-Nya. Semoga kelak suami saya ridho menerima di manapun saya ditempatkan. Semoga..
“Allah dulu, Allah lagi, Allah terus”
may this journal have same meaning with that quote
*edisi curhat dan menggunakan kata “saya” di jurnal. sulit bukan main
**gambar di sini
Previous Post
Leave a comment

19 Comments

  1. sesungguhnya kita hanya menghantui diri kita dengan kekhawatiran dan kecemasan masa depan… padahal Allah telah menetapkan apa yang terbaik… kita hanya perlu memperjuangkan yang terbaik… semangat mbak…

    Reply
  2. thx for sharing..jd gak jd dftr pns nya mbak? pasti ada jalannya nanti aamiinn smga nikahannya berkah🙂

    Reply
  3. syukran for sharing.this jurnal have some meaning for me.#Allah dulu, Allah lagi, Allah terus ^_^

    Reply
  4. insyaAlloh, skenario-Nya yang terbaik ya, lin🙂

    Reply
  5. 😀 kepastian… siapa juga, c yg suka digantungin…*jemurran

    Reply
  6. saya setuju🙂

    Reply
  7. semoga pilihannya tepat🙂

    Reply
  8. patriotika said: sesungguhnya kita hanya menghantui diri kita dengan kekhawatiran dan kecemasan masa depan

    “Betapa takterberkahi hidup dalam kecemasan. Setiap orang harus berjuang menguak ketakutannya” [sga-negeri senja]*aku suka kutipan ini..

    Reply
  9. shinyqueen said: .jd gak jd dftr pns nya mbak?

    itu bukan CPNS, cuman kontrak mengabdi 3 tahun sebagai konsekuensi menerima beasiswa ^^

    Reply
  10. afifahthahirah said: his jurnal have same meaning for me.

    alhamdulillah kalo dia same hehe..

    Reply
  11. rifzahra said: skenario-Nya yang terbaik ya, lin🙂

    terbaik dan terindah ^^He love me pokoknya.. aku tahu kak Fi ^^8

    Reply
  12. titintitan said: ^^

    kenapa teh? *aku gaksuka komen beginian darimu.

    Reply
  13. dyasbaik said:😀 kepastian… siapa juga, c yg suka digantungin…*jemurran

    aku gak lagi digantung. Oh.. kamu lagi digantung ya dik? #eh

    Reply
  14. angkasa13 said: saya setuju🙂

    alhamdulillah.. kita sepikiran berarti. Hayu berdoa berdua ^^

    Reply
  15. when11chamber said: semoga pilihannya tepat🙂

    aamiin.. selama masih menentramkan, aku bahagia insyaAllah ^^

    Reply
  16. langitshabrina said: aku gak lagi digantung. Oh.. kamu lagi digantung ya dik? #eh

    ahahaa jadi pengen nyanyik:sampaii kapan kau gantuung…

    Reply
  17. dyasbaik said: ahahaa jadi pengen nyanyik:sampaii kapan kau gantuung…

    mungkin-melly ;))

    Reply
  18. langitshabrina said: “Allah dulu, Allah lagi, Allah terus”

    suka ini =)

    Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript

%d bloggers like this: