Ketidaksederhanaan dalam Aku Ingin (SDD)

Aku Ingin
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang taksempat
diucapkan kayu kepada api
yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang taksempat
Diucapkan awan kepada hujan
Yang menjadikannyanya tiada
(Sapardi Djoko Damono)
Puisi ini saya temukan saat duduk di bangku SMP, pada masa pencarian yang penuh pertanyaan tentang cinta itu apa. Waktu itu, puisi ini ada pada kutipan-kutipan majalah remaja edisi Februari yang celakanya diakhiri dengan kata “anoname” di belakangnya. Namun, sampai dipertemukan dengan nama Sapardi Djoko Damono, saya ingat betul, inilah puisi yang saya kutip waktu itu. Larik-larik sederhana ini saya gunting dan saya tempel di depan pintu kamar. Ah.. ternyata sense ketertarikan saya terhadap sastra sudah ada sejak dulu.
Yang hendak saya bicarakan bukan itu. Saya ingin berbicara tentang kebertemuan, tentang keberpapasan, tentang akhir dari sebuah pertanyaan bodoh saya sebagai seorang penikmat sastra. Saya ingin menceritakan tentang akhir perjalanan saya menelusuri kata demi kata dalam puisi ini. Mungkin ini bukan akhir, karena tidak ada kata akhir dalam pemaknaan terhadap sebuah karya sastra. Ini adalah awal pencerahan yang saya alami dalam memaknai puisi ini. Mungkin –bahkan saya yakin- saya termasuk orang yang amat sangat terlambat dan leeemot dalam memaknai puisi ini. Mbah –eh, Prof- Damono, maafkan saya..
Hari ini saya mendapat mata kuliah Industri Seni dari Acep Iwan Saidi (AIS), seorang seniman dan dosen tamu di Kajian Budaya Unpad. Kami membahas kreavitas dalam berseni, sastra termasuk di dalamnya. Dalam proses kreatif atau penciptaan karya sastra, terdapat proses empati atau penghilangan jarak antara pencipta, media, dan karya yang diciptakan. Puisi adalah sebuah karya sastra dan bahasa sebagai medianya. Pada saat seorang penyair menciptakan puisi, ia akan menghilangkan jarak antara dirinya dengan bahasa. Ia juga akan menghapus jarak antara dirinya dengan sesuatu yang sedang ia sampaikan. Bersajak berarti sedang bermetafora. Menurut Acep Iwan Saidi, “Ilmu tentang metafora adalah ilmu tentang ketahupersisan seseorang tentang apa yang sedang ia metaforkan.” Orang yang suka berpuisi, pasti tahu persis dan mengalami hal ini. Yang harus dihindari dalam berpuisi atau berkarya sastra adalah menciptakan metafora mati. “Hindari metafora mati!” kata AIS. Setiap penyair harus mampu membuat metafora-metafora hidup tentang sesuatu yang ia sampaikan agar pembacanya dapat menafsirkan apa yang ia sampaikan dengan bebas. Inilah yang dilakukan Damono dalam puisi Aku Ingin. Ia menyampaikan ketidaksederhanaan cinta dalam kesederhanaan.
Tentang Ketaksederhanaan
//aku ingin mencintaimu dengan sederhana// larik ini menggambarkan ungkapan cinta seseorang terhadap yang dicintainya. Kecintaan inipun tidak hanya bisa kita terjemahkan sebagai kecintaan terhadap seseorang, tapi juga sebagai kecintaan terhadap sesuatu. Dalam larik ini aku-syair sedang mencerminkan konsep kesederhanaan cinta yang ada di benaknya. “Ini lho kesederhanaan cinta menurutku!” singkatnya begitu. Cinta yang sederhana diungkapkan oleh penyair // dengan kata yang taksempat/ diucapkan kayu kepada api/ yang menjadikannya abu//. Mari kita maknai, apakah proses perubahan kayu menjadi abu adalah sesuatu yang sederhana? Mahasiswa fisika pasti genap tahu kerumitan dan detail proses tersebut. Dari sebuah kayu utuh, terbakar, menjadi bara, lalu setelah beberapa lama ia akan berubah menjadi abu. Tidak jarang ada kayu yang berdiam sebagai bara atau arang di akhirnya. Namun, pada puisi ini, kayu tersebut sempurna berubah menjadi abu. Kualitas api yang mengubah kayu menjadi arang, dan mengubah kayu menjadi abu tentu berbeda bukan? Api yang ngubah kayu menjadi abu tentu lebih kuat daripada api yang hanya mengubahnya menjadi bara. Api yang mengubah kayu menjadi abu bekerja sempurna sampai selesai. Ia tidak padam di pertengahan. Pembakaran yang dilakukannya sempurna. Api telah mengubah kayu dengan sempurna menjadi abu.
Ungkapan terima kasih yang dalam, inilah mungkin yang dimaksud dengan cinta sederhana oleh penyair. Kayu taksempat mengatakan terima kasih kepada api atas perubahan sempurna yang dialaminya. Ketaksempatan ini juga menggambarkan betapa besar api yang membakar kayu tersebut sehingga proses pembakarannya pun amat cepat dan sempurna. Kecepatan perubahan ini menggambarkan betapa besar motivasi kita untuk berubah. Motivasi besar yang menggerakkan seseorang pada perubahan itulah yang bisa kita namai cinta. Mencintai berarti berterimakasih kepada seseorang yang telah mengubahmu menjadi lebih baik, berada dalam kebaikan sempurna dengan cepat. Berubah dari kayu menjadi api tentu bukan sesuatu yang sederhana. Berubah dari acak-acakan menjadi rapi jali tentu bukan hal yang sederhana. Berubah dari jarang mandi menjadi rajin mandi tentu bukan sesuatu yang sederhana. Namun, perubahan ini dapat terjadi dengan kekuatan cinta yang besar bukan?
Lantas kekuatan cinta yang besar akankah dibalas dengan cinta yang sederhana? O, tentu tidak! Penyair sedang memperlihatkan sederhana versinya. Kesederhanaan cinta menurut penyair adalah ungkapan cinta atas cinta yang membara api. Sunggu ini bukan cinta lemah. Ia cinta yang membara kuat dalam hati dan melahirkan perubahan dan perbuatan.
//aku ingin mencintaimu dengan sederhana// larik ini menggambarkan kesahajaan penyair di hadapan yang dicintainya. Ia tidak mengemas sesuatu yang dalam dengan kerumitan. Ia membungkus detai dengan kesederhanaan. Ia menyampaikan gebu dengan ketenangan. Inilah sikap yang ia pilih di hadapan yang dicintainya. Penyair mengungkapkan cinta //Dengan isyarat yang taksempat/ Diucapkan awan kepada hujan/ Yang menjadikannyanya tiada// Lagi-lagi penyair sedang menggambarkan kesederhanaan dalam versinya. Adakah sederhana perubahan awan menjadi tiada? Dari ada menjadi tiada.
Kembali penyair sedang memperlihatkan kesederhanaan atas kerumitan. Awan yang berubah menjadi hujan dan menghilang apakah mengalami proses yang sederhana? Apakah awan benar-benar tiada? Atau apakah dia sebenarnya pergi bersama hujan lalu tiada? Berubah dari air menjadi awan, menjadi hujan, dan menjadi tiada adalah perjalanan. Jika ingin mengetahui detailnya dapat dibaca di sini. Dalam perjalanan panjang itu ada rintangan yang dialami air. Saya kutipkan sebagian statment dari artikel
tersebut,
“Dalam perjalanannya dari atmosfer ke luar, air mengalami banyak interupsi. Sebagian dari air hujan yang turun dari awan menguap sebelum tiba di permukaan bumi, sebagian lagi jatuh di atas daun tumbuh-tumbuhan (intercception) dan menguap dari permukaan daun-daun. Air yang tiba di tanah dapat mengalir terus ke laut, namun ada juga yang meresap dulu ke dalam tanah (infiltration) dan sampai ke lapisan batuan sebagai air tanah.”
Hujan perlu mengalami panjang untuk mencapai tanah. Sebagiannya mengalami perjalanan panjang untuk kembali menjadi awan. It’s not a simple thing! Awan bukan tiada, tapi ia bersama hujan beranjak dari langit ke bumi. Siapa yang tidak bahagia dibersamai? Ungkapan cinta yang kedua adalah ungkapan terima kasih atas kebersamaan. Kebersamaan yang dijalani dengan tidak tanpa hambatan. Ungkapan cinta yang digambarkan sebagai ungkapan terima kasih atas kebersamaan tentu tidak sederhana bukan? Ia besar, lengkap, dan sempurna. Inilah cinta sederhana yang dimaksud oleh Sapardi Djoko Damono. Inilah cinta sederhana yang amat tidak sederhana. Damono meminjam kata dan isyarat yang akan diungkapkan kayu dan awan atas ketidaksederhanaan peristiwa yang mereka alami. Damono meminjam ungkapan -mungkin- terima kasih atas cinta yang membara dan kebersamaan yang sempurna untuk mengungkapkan kesederhanaan cintanya.
Saya jadi berpikir tentang cinta saya, apakah sebesar itu? Apakah cintaku memang benar-benar sederhana dalam arti yang sebenarnya? Ah.. semoga tidak.
*ini hanya pembacaan saya, silakan memaknai dengan cara berbeda.
**gambar di sini
Leave a comment

25 Comments

  1. duluuu saya suka puisi ini

    Reply
  2. embunpagi2023 said: duluuu saya suka puisi ini

    sekarang udah enggak ya? ^^

    Reply
  3. saya masih suka puisi ini…memang tidak sederhana, tapi kerumitan cinta bisa digambarkan sesederhana itu.*hehengemengapasidyas

    Reply
  4. msh di kantor, baca besook ahpulaaaaang

    Reply
  5. karya dan bunga yg inndah,romantic blood.

    Reply
  6. dyasbaik said: saya masih suka puisi ini…memang tidak sederhana, tapi kerumitan cinta bisa digambarkan sesederhana itu.*hehengemengapasidyas

    iya. sederhananya rumit, rumitnya sederhana. sederhananya istimewa, istimewanya sederhana.

    Reply
  7. titintitan said: msh di kantor, baca besook ahpulaaaaang

    sana! hush! hush!

    Reply
  8. sumart74 said: karya dan bunga yg inndah,romantic blood.

    iya. keduanya punya orang lain

    Reply
  9. Fenomenal!

    Reply
  10. @ifi: fenomenal naon fi?

    Reply
  11. Great!🙂

    Reply
  12. Steve Jobs said, ” Simple can be harder than complex.”Celakanya, saya baru ngeuh puisi-puisinya SJD setelah lulus kuliah. Now, he’s one of my inspirator in making poems as well as Hasan Aspahani.

    Reply
  13. nice post!:Dsuka puisinya🙂

    Reply
  14. oh penjelasan rincinya gtu ya..saya baru tau skrg..kompleks juga yaa..thx for sharing..

    Reply
  15. farikhsaba said: Steve Jobs said, ” Simple can be harder than complex.”Celakanya, saya baru ngeuh puisi-puisinya SJD setelah lulus kuliah. Now, he’s one of my inspirator in making poems as well as Hasan Aspahani.

    nampaknya Damono menginspirasi Aspahani. Puisi Damono langka karena ia menyimpan sekoper puisinya dan mengeluarkannya satu demi satu

    Reply
  16. when11chamber said: nice post!:Dsuka puisinya🙂

    damono emang keren ^^

    Reply
  17. shinyqueen said: oh penjelasan rincinya gtu ya..saya baru tau skrg..kompleks juga yaa..thx for sharing..

    begitulah analisis puisi.. kalo pakek teori mungkin lebih asyik hihihi..

    Reply
  18. naftsa said: Great!🙂

    puisinya emang great!

    Reply
  19. Tapi postingannya juga nggak kalah Great!😀

    Reply
  20. iyaa..disajiinnya jg bagus..tulisannya menyentuh mbak🙂

    Reply
  21. naftsa said: Tapi postingannya juga nggak kalah Great!😀

    alhamdulillah ^^

    Reply
  22. shinyqueen said: iyaa..disajiinnya jg bagus..tulisannya menyentuh mbak🙂

    alhamdulillah.. *semangat menulis

    Reply
  23. terimakasih ilmunya. =)

    Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript

%d bloggers like this: