Menikah: Berjuang Bersama

Beberapa waktu lalu saya mengobrol dengan salah satu teman yang baru resign dari pekerjaannya. Alasan terbesarnya berhenti bekerja adalah keterpisahannya dengan sang istri. Menurut saya keputusannya memang sangat tepat. Bayangkan, teman saya ini bekerja mobile Yogyakarta-Solo-Semarang-Surabaya. Dalam sepekan atau dua pekan, empat tempat itu harus ia sambangi. Tentu sangat sedikit waktu yang dapat ia isi bersama istrinya yang tinggal di Yogyakarta. Belum lagi sang istri adalah pegawai negeri yang sama-sama sering melakukan perjalanan dinas. Ada di mana kebersamaan yang menjadi tujuan utama pernikahan saat itu? Akhirnya ia memuntuskan untuk bekerja di Yogyakarta.

Beberapa pekan setelah ia resign, saya bercakap lagi dengan sahabat saya ini. Dia bercerita bahwa dalam sepekan ia akan melaksanakan turing Bandung-Jakarta. Dalam percakapan itu ia berujar, “Lagi lobi biar nyonya bisa diajak,” ujarnya. Ternyata keterpisahan itu tidak hanya disebabkan oleh pihak suami tapi juga oleh pihak istri. Pun ketika sang suami sudah resign, mereka belum bisa bersama karena sang istri masih terikat dengan rutinitas pekerjaan. Walaupun hasilnya tidak sama persis dengan harapan, mungkin paling tidak kebersamaan itu sudah diupayakan dan intensitas pertemuan bisa lebih banyak ketimbang ketika teman saya masih bekerja di tempat yang lama.

Pada waktu yang tidak lama saya juga bercakap dengan teman lain yang baru menikah dan sedang menjalankan studi magister di Malaysia. “Apa kabarmu dan istri? Sudah kembali ke Malaysia?” tanya saya. “Alhamdulillah baik. Ane sudah di Malaysia, istri sudah kembali ke Indonesia” Ujarnya. “Ho.. jadi istrimu nggak diajak ke sana?” saya bertanya lagi. “InsyaAllah sedang diikhtiarkan,” ujarnya.

Dua kisah ini dialami oleh dua teman saya yang baru menikah dan posisinya sebagai suami. Mereka mengusahakan kebersamaan dengan beberapa cara yang dapat diusahakan.

Kisah yang lain saya dapat dari teman halaqah yang tentu posisi mereka sebagai istri. Teman saya yang satu ini tinggal di Bandung dan suaminya bekerja sebagai pelaut. Selama 6 bulan suaminya melaut, setelah itu mendapat libur 2 bulan. Jadi, dalam 1 tahun mereka memiliki kesempatan bersama selama 4 bulan. Keterpisahan mereka jauh lebih lama ketimbang kebersamaan mereka. Sebagai seorang istri, teman saya bersedia ditinggalkan oleh suaminya yang sedang berikhtiar melaksanakan kewajibannya mencari nafkah untuk keluarga. Berdasarkan dua contoh sebelumnya, saya yakin suami teman saya ini pasti juga sedang mengusahakan pekerjaan lain yang dapat meminimalkan keterpisahan mereka.

***

Menikah itu berjuang bersama bukan hanya hidup bersama. Inilah simpulan sederhana yang saya dapat dari pengalaman tiga teman saya. Diusahakan sekeras apapun, keterpisahan itu pasti tetap ada. Saat benar-benar hidup bersama Senin – Minggu pun, seorang suami pasti berpisah dengan istrinya ketika bekerja. Sang suami pasti bekerja di kantor minimal dari pukul 08.00 s.d. 16.00. Jika pun sang suami adalah pembisnis, tetap saja ia harus melakukan marketing keluar rumah, tidak selamanya ada di rumah dan berkumpul bersama istri dan anak. Saya jadi teringat dengan ayah yang seorang pembisnis. Pusat bisnis ayah saya memang di rumah. Namun, tetap saja ada masanya ayah harus pergi ke luar rumah seharian. Ini menjadi bukti bahwa pada jenis pekerjaan apapun, keterpisahan pasti ada.

Begitupun sang istri, ada masanya ia mengantar anak ke sekolah atau bahkan menunggu anak disekolah. Ada juga masa ketika istri berbelanja sendiri tanpa perlu ditemani sang suami. Belum lagi biasanya lelaki mudah bosan dan enggan menemani istrinya berbelanja. Ini juga dapat kita kategorikan sebagai keterpisahan bukan? Ketika benar-benar bersama pun, suami-istri tentu tidak bisa terus menerus “gelendotan” berdua. Pasti akan muncul keterpisahan di antara mereka.

Kondisi di atas masih berkaitan dengan kehidupan keluarga pada umumnya. Tentu berbeda bagi keluarga-keluarga yang meniatkan pernikahannya sebagai keluarga da’wah. Ada masanya seorang suami harus mengisi halaqah. Ada masanya sang istri harus mengisi jalasah ruhiyah. Belum lagi daurah, mukhayyam, dan acara-acara yang berkaitan dengan kepentingan da’wah lainnya. Tentu amanah-amanah tersebut menuntuk hadirnya keterpisahan bukan? Keridhaan untuk ditinggalkan dan berjuang di ranah masing-masing adalah sesuatu yang harus disiapkan. Kebersamaan tidak lagi menjadi tujuan utama pernikahan. Berjuang bersama menjadi sesuatu yang diprioritaskan.

Di pondok Maqdis, kami dididik oleh Ustadz Saiful Islam dan Ummi Erna. Subhanallah, dalam sepekan ustadz mengisi kajian di beberapa radio, di televisi lokal, dan bahkan menjadi pembimbing umrah yang tentu ikut berangkat umroh. Beberapa waktu ini beliau mengisi daurah Quran di Brunai Darussalam. Tentu Ummi tidak ikut bepergian. Ia menjadi pemimpin rumah tangga di rumah, menggerakkan roda perekonomian rumah tangga. Tagihan listrik, telpon, keperluan dapur semua manajemen keuangannya diatur oleh ummi. Pihal-pihak luar yang akan mengundang ustadz untuk mengisi acara pun menghubungi ummi. Jadwal harian ustadz diatur oleh ummi. Belum lagi dalam sebulan ustadz bisa membimbing umarah dua kali. Ia lebih banyak beraktivitas di Makkah dan Madinah ketimbang di Indonesia. Kondisi ini pun melahirkan keterpisahan bukan?

***

Setiap orang punya kecemasan masing-masing, takterkecuali saya. Harus mengajar 3 tahun di universitas yang ditentukan DIKTI adalah sesuatu yang melahirkan keseraman tersendiri di benak saya. Mana ada suami yang mau ditinggal-tinggal oleh istrinya. Alih-alih bersedia menjadi suami, ikhwan-ikhwan pasti menolak sejak membaca proposal yang berisi pernyataan tentang keterpisahan ini. *ngenes banget bayangannya ahaha! Inilah kekhawatiran saya awalnya. Mana ada suami yang mau mengalah dengan terkesan “menguntit” istrinya. Di mana-mana, istri yang ikut suami bukan suami yang ikut istri. *jedeeeng!

“Tapi kan Allah Swt nyiptain satu orang spesial buat kamu Nda! Dia pasti mau nemenin kamu ke mana ajah.” Eciye ciyeee! Hati kecil saya membagi kegembiraan. Suami saya bukan orang yang menikah untuk kebersamaan. Dia meminang saya untuk sebuah perjuangan. Menikah itu bukan hanya untuk hidup bersama tapi juga berjuang bersama. Biarlah kami terserak di dunia tapi bisa bersama selamanya di surga Aamiin. Husnudzhan itu indah ^^9

*dari sini
** gambar hasil googling😀

Next Post
Leave a comment

24 Comments

  1. baiklaah *ngerjain PR dirisendiri ;d

    Reply
  2. Berjuang bersama dan tinggal bersama tentu indah banget ya^^Tp klo masih harus memperjuangkan kebersamaan ya tidak apa asalnya dua2nya rido dgn komitmen di awalBtw ustadz saiful islam + ummi erna itu lucu, yg satu kalem ke-ustadz2-an yg satu cereweeeeeeeet dan rame bnaget heheee jadi inget jaman kuliah… Temen kosku mutarobbinya ummi erna dijodohin sm binaannya ustadz saiful heheee mirip karakternya kayak ustadz+ummi😀

    Reply
  3. titintitan said: baiklaah *ngerjain PR dirisendiri ;d

    iyaaa! cepet kerjain :p

    Reply
  4. cinderellazty said: Berjuang bersama dan tinggal bersama tentu indah banget ya^^Tp klo masih harus memperjuangkan kebersamaan ya tidak apa asalnya dua2nya rido dgn komitmen di awalBtw ustadz saiful islam + ummi erna itu lucu, yg satu kalem ke-ustadz2-an yg satu cereweeeeeeeet dan rame bnaget heheee jadi inget jaman kuliah… Temen kosku mutarobbinya ummi erna dijodohin sm binaannya ustadz saiful heheee mirip karakternya kayak ustadz+ummi😀

    bangeeeet! Ummi Erna itu Subhanallah.. Beliau itu ngajarin aku bahwa Islam itu ada di rumah, bisa turun ke bumi. Beliau ramaaah banget ke setiap orang..

    Reply
  5. hehesemoga semua indaah…..

    Reply
  6. Nice Mba… ^_^

    Reply
  7. dyasbaik said: hehesemoga semua indaah…..

    Aamiin ^^9

    Reply
  8. firstychrysant said: Nice Mba… ^_^

    husnudzah itu selalu berakhir nice hehe ^^9

    Reply
  9. aku melihat langsung dua keadaan tersebut, yang berjuang bersama dan hidup bersamasemua ada seninya sendiri ^^itu pilihandan setiap pilihan pasti ada konsekuensinyahoho

    Reply
  10. azizrizki said: aku melihat langsung dua keadaan tersebut, yang berjuang bersama dan hidup bersamasemua ada seninya sendiri ^^itu pilihandan setiap pilihan pasti ada konsekuensinyahoho

    takdir orang takselalu harus sama, dan Tuhan menghendaki aku berbeda dari yang biasa. Bersama itu di surga insyaAllah.. ^^9

    Reply
  11. Udah sering bgd denger dan lihat hal ini, maklum anak STAN kerjanya mpe pelosok negeri…

    Reply
  12. mutsaqqif said: Udah sering bgd denger dan lihat hal ini, maklum anak STAN kerjanya mpe pelosok negeri…

    iyah.. biasa ya dik.. *adiiiik :))

    Reply
  13. kalo saya mana tahan hehehe.. harus tinggal serumah pokonya, ga kuat kangeeen…:D

    Reply
  14. ayudiahrespatih said: kalo saya mana tahan hehehe.. harus tinggal serumah pokonya, ga kuat kangeeen…:D

    Allah kan ngasih ujian sesuai kemampuan kita teehh.. ^^

    Reply
  15. iya betul betull..*dulu saya setahun tuh LDR makanya ga mau lagi hihi

    Reply
  16. ayudiahrespatih said: iya betul betull..*dulu saya setahun tuh LDR makanya ga mau lagi hihi

    nanti aku gimana yaaa??? Bismillah aja ^^9

    Reply
  17. iya, berjuang untuk tujuan yang sama…Dari semula 4 orang penghuni kos di tempat an, 2 orang berjauhan dengan istri mereka. Dan agaknya itu menular. Satu orang lagi akan mengambil jalan yang sama..

    Reply
  18. farikhsaba said: Dan agaknya itu menular. Satu orang lagi akan mengambil jalan yang sama..

    seperti penyakit, menular hehe.. ciyeee simbah juga ketularan bentar lagi?*ngumpet😀

    Reply
  19. langitshabrina said: seperti penyakit, menular hehe.. ciyeee simbah juga ketularan bentar lagi?*ngumpet😀

    lah, kan masih ada satu orang yang belum disebut.

    Reply
  20. Simbah: katanya nular, jd keberapapun simbah tetep ketularan dwong :p*mlayu

    Reply
  21. farikhsaba said: iya, berjuang untuk tujuan yang sama…Dari semula 4 orang penghuni kos di tempat an, 2 orang berjauhan dengan istri mereka. Dan agaknya itu menular. Satu orang lagi akan mengambil jalan yang sama..

    sepertinya bener kata unin, bakal nular ke antm ;d

    Reply
  22. amiinn…. *lhoh

    Reply
  23. hayuu atuuh

    Reply
  24. angkasa13 said: hayuu atuuh

    mangga teteh tipayun ^^

    Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript

%d bloggers like this: