Pernah [KarenaPerjalananAdalahTeman #1]

Pernahkah anda berpikir tentang kata [pernah]? Pernah adalah kata keterangan yang menyatakan waktu. Kata pernah berteman dengan kata sudah, telah, sedang, lagi, tengah, akan, belum, masih, baru, pernah dan sempat.  Beberapa waktu lalu kata ini sering hinggap di benak saya. Sukakah Anda dengan kata [pernah]? Terus terang, saya amat tidak suka dengan kata ini. Kepernahan bagi saya mencerminkan sebuah pengalaman yang sangat sebentar. Pernah ke Korea Selatan, pernah menjadi juara kelas, pernah jadi aktivis kampus, pernah bekerja, pernah dicintai, pernah mencintai, pernah bertemu, pernah menikah, dan sebagainya. Kepernahan dapat bermakna negatif atau positif, bergantu dengan kata apa ia disandingkan. Contoh-contoh yang tertera tadi lebih banyak merupakan hal-hal positif. Kepernahan dalam hal positif dapat bermakna negatif atau positif juga.

“Saya pernah berlibur ke Korea Selatan.”

Aiiih, kalimat ini tentu menyenangkan dan membanggakan bukan? Pasti menyenangkan bisa main ke negara yang sudah ditargetkan sejak lama untuk dikunjungi. Kepernahan dalam kalimat ini bermakna positif. Apalagi pada kalimat-kalimat negatif, [pernah] menjadi penanda keselamatan.

“Dia pernah mengalami kanker otak.”

Kepernahan ini tentu menandakan sesuatu yang sudah selesai. Ia sudah selamat dari keganasan penyakin kanker. Terlepas penyakit itu kambuh kembali atau tidak.

Namun, sebetulnya bukan hanya dua contoh di atas yang ingin saya bahas di sini. Ada kata [pernah] yang sangat mengerikan buat saya bila disimpan dalam beberapa kalimat. Ya, kepernahan yang bermakna negatif.

“Perah saling kasih-mengasihi”

Kalimat di atas akan sangat menyedihkan jika dibacakan di akhirat. Dua orang yang saling kasih mengasihi di dunia, menjalani hidup bersama dengan penuh kasih di dunia, tapi ternyata itu hanya sebuah kepernahan di akhirat. Allah Swt berfirman:

“Orang-orang yang akrab (saling kasih-mengasihi) pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa” (QSAz Zuhruf: 67).

Bayangkan, dua orang yang saling mengasihi di dunia, di akhirat kelak akan berbantahan, saling menyalahkan, saling menjatuhkan ke dalam api neraka. Mengerikan bukan? Hubungan yang tidak disukai-Nya hanyalah menyisakan kata [pernah]. Akhirnya hanya pernah saling mengasihi lalu tergelincir dalam permusuhan abadi di akhirat kelak. Ya, hubungan yang tidak disukai-Nya hanya akan menjadi masa lalu dan menjadi kepernahan di masa depan. Bukan saling menjadi alasan sampai ke Surga malah saling menyalahkan dan memasukkan ke neraka. Naudzubillahimindzalik.

Hanya ketakwaan, sungguh hanya ketakwaan yang mengabadikan sebuah hubungan. Tidak boleh ada satupun landasan selain ketakwaan jika ingin tetap bersama sampai ke Surga. Hanya bahu-membahu menjadi yang terbaik di hadapan-Nya yang membuat dua orang saling berkasihan bisa mempertahankan hubungannya sampai ke Surga. Hubungan indah ini hanya dapat terwujud dengan jalan yang disukai-Nya bukan?

Sesungguhnya istri-istri penduduk Surga akan memanggil suami-suami mereka dengan suara yang merdu yang tidak pernah didengarkan oleh seorangpun. Di antara yang didendangkan oleh mereka : “Kami adalah wanita-wanita pilihan yang terbaik. Istri-istri kaum yang termulia. Mereka memandang dengan mata yang menyejukkan.” Dan mereka juga mendendangkan : “Kami adalah wanita-wanita yang kekal, tidak akan mati. Kami adalah wanita-wanita yang aman, tidak akan takut. Kami adalah wanita wanita yang tinggal, tidak akan pergi.” (Shahih Al Jami’ nomor 1557).

Menyejukkan bukan? Betapa bahagia bisa membersamai orang yang mengasihi kita sampai ke surga. Syaratnya hanya satu, mereka harus bahu-membahu membawa satu sama lain ke surga dengan jalan takwa.

Contoh lain adalah kepernahan dalam pertemanan. Sungguh mengerikan bila pertemanan menjadi sebuah kepernahan yang kita alami.

“Pernah menjadi teman”

Jangankan di akhirat, di dunia pun sangat menyedihkan jika kita hanya pernah berteman pada satu waktu lalu saling takmengenal pada masa berikutnya. Huffh.. Pertemanan yang karena Allah memang tidak mudah, karena surga tidak murah bukan?

“Dan tidak ada seorang teman akrabpun yang menanyakan temannya,” (Al Maarij: 10).

Pada hari kiamat setiap orang sibuk dengan dirinya sendiri. Tidak ada seorang teman akrab pun yang menanyakan temannya. Ayat ini selalu membuat saya tercenung setiap murajaah. Berat sekali Gusti.. Memurnikan pertemanan hanya karena Allah Swt itu sangat berat. Maka sejak saat ini selamatkanlah hubungan pertemanan kita agar tidak menjadi sesuatu yang pernah di akhirat kelak.

“Wahai manusia, dengarkan dan fahamilah; ketauhilah bahwa Allah memiliki para hamba yang mereka itu bukan para nabi ataupun syuhada. Para nabi dan syuhada ingin seperti mereka, padahal mereka memiliki kedekatan dan kedudukan di sisi Allah.”

Seseorang Badui berkata, “Wahai Rasulullah tolong sifatkan mereka kepada kami.” Rasulullah lantas tersenyum mendengar ucapan lelaki badui tersebut , dan bersabda, “Mereka adalah orang-orang yang tidak dikenal dan asing, mereka tidak memiliki tali kekerabatan satu sama lain, mereka saling mencintai karena Allah dan menjadi satu barisan. Allah menyediakan mimbar-mimbar dari cahaya, untuk mereka sebagai tempat duduk mereka dan menjadikan wajah dan pakaian mereka bercahaya. Pada hari kiamat manusia diliputi rasa takut namun mereka tidak, mereka adalah wali-wali Allah, mereka tidak merasa takut dan bersedih,” (Riwayat Ahmad, di-shahih-kan Al-Albani dalam Shahihut Targhib 3027).

Semoga setiap hubungan yang saya jalin di dunia tidak berakhir dengan kata pernah di dunia maupun di akhirat. Semoga setiap hubungan berlandaskan kebaikan, berlandaskan cinta kepada Allah Swt, dan dapat dijalin kembali di surga-Nya kelak. Aamiin.

Foto dari sini

Leave a comment

8 Comments

  1. aamiin

    *komensingkattanpatendensingajakberantem

    Reply
  2. matahari_terbit

     /  September 6, 2012

    2 ayat ituuuuuu….
    pas baca tafsirnya mewek ga brenti2,,

    Reply
  3. pernah itu berarti menandakan sudah enggak😀

    Reply
  4. aku pernah satu kosan denganmu, artinya sekarang sudah enggak. tetapi, Insya Allah menjadi tetangga di surga kelak. :-*

    Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript

%d bloggers like this: