Surat Untuk Adik Kecilku

Bergerak jemarinya di atas agenda kecilnya, menggambarkan suasana hati yang sedang tak mampu mengadu pada siapapun yang mengacu pada waktu.

“…waktu itu makhluk yang tak pernah diam
Alam semesta juga tak pernah diam
Angin pun selalu berhembus, tak pernah diam
Masihkah manusia malas-malasan dan tetap diam
Malam dan siang selalu hadir disiplin setiap hari
Tata surya sangat disiplin mengelilingi matahari
Planet buni bergerak disiplin dalam rotasi
Nafas dan denyut jantung berdisiplin sebelum mati….”

Afifah berhenti sejenak dalam sajaknya. Mengingat sosok yang ia kagumi sejak dulu.  Sosok yang memotivasi dan memperkenalkan ia dengan keindahan kalam-Nya. Sosok yang kini hanya menjadi bayang-bayang motivatornya. Di bukanya kertas putih bergaris folio.

“…adikku, pernahkah anda berdialog dengan Allah? Tuhan kita secara langsung tanpa hijab? Tentu tidak ada yang pernah merasakannya dan mustahil kecuali Nabi Musa yang beruntung berbicara dan bisa melihat cahaya-Nya. Benar! Ia hanya diizinkan menatap nur-Nya di Gunung Tursina. Allah menampakkan cahaya-Nya supaya bisa berdialog dengan makhluk-Nya. Siapa yang tidak ingin berdialog dengan Allah, curhat kepada Tuhan yang Maha menciptakan kita. Curhat pada raja diraja alam semesta. Allah Maha Kuasa. Maha Sempurna. Maha Lembut. Maha Bijaksana. Maha yang semaha-mahanya. Kita hamba yang dhoif dan hina lalu ingin curhat kepadaNya. Wah, alangkah mulianya, suatu kehormatan yang tiada terkira.

Adikku, curahan hati adalah pelepas rasa. Pelepas beban dari segala tekanan dan himpitan hidup. Lalu kita lepaskan beban dan rasa itu kepada Allah. Mencurahkan hati itu kepada Alah sepenuh harap, kepatuhan, sampai kehampaan dosa. Tapi bagaiman caranya, kapan waktunya, kondisinya seperti apa, mengapa harus curhat kepada-Nya dan apa hasil curhatnya? Bukankah cahaya-Nya tidak terlihat mata, cahaya-Nya tidak terindera, tidak nampak, terbiaskan oleh ruang dan masa? Yang ada sekarang hanya cahaya –cahaya tua seusia dunia, yang makin meredup. Cahaya matahari pun semakin kehabisan energinya. Cahaya bintang banyak yang hilang. Lalu planet-planet berpamitan. Cahaya cakrawala mulai mengerut. Dan akhirnya menyempit kembali ke titik semula. Alangkah malangnya dunia yang kecil dan sementara. Masihkan mau curhat kepadanya dan memburu bangkainya? Alangkah tertipunya manusia yang rindu pada dunia.

Adikku, mari kita mencari cahaya Allah yang abadi itu. Menerobos celah-celah kegelapan lalu menembus sisa warisan cahaya Allah yang masih tersimpan di bumi ini. Lalu kita bisa menatapnya, merasakannya. Memahami pancarannya. Yang lebih terang dari cahaya siang. Petunjuknya lebih lurus dari mistar. Kasih sayangnya lebih halus dari belaian kain sutera. Ungkapannya berbahasa indah. Puitis. Sentuhan tema bervariasi. Kisahnya sangat rekreatif. Ilmunya mengajak untuk berwisatadan berimajinatif.

Tahukah, apakah cahaya itu wahai saudaraku?

Cahaya itu adalah kalam-Nya, firman-Nya. Dialah yang disebut Allah bernama Al Quran. ‘Bacaan’. Nurnya masih hadir di dunia kini, yang banyak cahaya lampu listrik tapi gelap petunjuknya. Ayo marilah kita berdialog dengannya, kepada yang merindukan menatap wajah Allah sejelas purnama bulan yang bukan hanya cahayanya di surga kelak. Mari kita curahkan segala isi hati kita pada Al Quran. Ungkapkan perasaan terdalam kita kepada Al Quran. Membuka belenggu kecemasan. Gelisah jiwa dengan curhat kepada Al Quran menjadi tenang. Akhirnya bergembira ria. Perjuangan pun terasa.

Tentu harus berkenalan dulu dengannya. Dengan perkenalan yang akrab dan sempurna. Pelajari nama-namanya yang indah. Fadhilah yang besar. Syafaatnya yang tinggi. Kisah-kisah rahasianya yang menguak masa lalu dan menembus masa depan. Bersahabatlah dengannya! Untuk kita kenali karakternya, tabiat kepribadiannya, sifat buruk manusia, perintah dan larangannya. Berteman mesra dengan maknanya. Kita mengenali secara mendalam tentang Al Quran barulah bisa curhat kepadanya secara rutin dan seksama.

Hai! Ternyata Al Quran itu menjawab semua isi curhatmu. Menyimak keluhan dan pengaduanmu. Begitu perhatian. Al Quran terus menatap matamu yang sendu. Semangatmu yang kembali layu. Tenanglah. Terus berharap jangan putus asa. Masalahmu akan direspon dengan lembut dan bijaksana. Adikku…pernahkah merasakan semua itu? Bukan satu kali tapi berkali-kali. Al Quran secara ajaib juga mengenali siapa dirimu, karaktermu, sifat keprobadianmu. Insin bersahabat dengan akrab denganmu.

Curhat kepada Al Quran harus dengan pengulangan yang berkali-kali. Bukan pertemuan biasa di pinggir jalan. Tapi pertemuan khusus di waktu yang rutin. Sudah dibilang curhat kepada Allah salah satunya dengan curhat kepada Al Quran, kalam-Nya, firman-Nya. Berbeda kalau curhat kepada teman, guru, orang tua, ustadz. Mereka kadang tidak merespon karena ada bayaran. Kadang bosan, tidak perhatian. Kadang marah dan salah dalam memberikan solusi permasalahan. Lalu kita pun kecewa untuk mencurahkan hati lagi kepada mereka.

Curhatlah kepada Al Quran. Anda tidak akan kecewa. Al Quran tidak akan bosan mendengar lantunan suaramu. Sampai anda merasa bosan sendiri, atau ketagihan terus menyampaikan lantunan pengaduan berkali-kali. Al Quran tidak akan salah. Tidak akan menyimpan baik dari kira ataupun kanan. Tidak memberimu keputus asaan.

Al Quran selalu mendengar curhatmu itu dengan pendekatanmu. Bersahabat akrab dengan pendekatanmu. Maka dengan modal tilawah, tahfidz muraja’ah , tadabur, amalan dan dakwah, hidupmu insyaallah selalu bersama Al-quran berada dalam naungannya. Tentu tidak sampai disini. Kalau Al Quran sudah hadir di hidupmu, mengalir di jiwamu, memenuhi lisan dan akalmu. Terlukis dalam akhlakmu. Mari kita teruskan perjalanan. Karena jalan masih panjang dan banyak tugas besar.

Curhatku ini adalah proses sepanjang masa!
Karena perjuangannya di jalan yang panjang.
Allahu akbar!!!

Sudut kanan masjid,
Akhir malam, 02.00.

Cerpen dari blog Nabila Jazakillah inspirasinya ^^8

Leave a comment

1 Comment

  1. umarfaisol

     /  September 13, 2012

    Iya kakaaak,,,

    Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript

%d bloggers like this: