Hijab Style: Mitos Baru dalam Berjilbab di Indonesia [part #2]

Mitos Hijab Style

Ada dua hal yang membuat Hijab Style menjadi mitos. Pertama, kemampuannya dituturkan sebagai produk modernisasi gaya berjilbab. Kedua, kemampuannya menjadi pemenuhan hasrat perempuan. Penciptaan hijab style sebagai inovasi dari gaya berjilbab konvensional tentu mengalami seleksi panjang. Ada bagian dari kostum jilbab yang diperlebar, dipersempit, bahkan dihilangkan. Inilah yang disebut komunikasi kebudayaan menurut Kusumohamidjojo.

Komunikasi kebudayaan (yang memiliki makna lebih luas dari sekadar makna umum komunikasi) itu terselenggara melalui kompleks dari berbagai kontak dan dialog yang tidak saja saling menjelaskan atau mencerahkan, tapi bisa juga saling meminggirkan dan bahkan saling mengeliminasi. (Kusumohamidjojo, 2010:195-186).

Hijab Style: Mitos Modernitas

Ada bagian-bagian yang harus dikukuhkan dan diruntuhkan untuk memitoskan sesuatu. Seperti yang diungkapkan Barthes,

“Mitos yang muncul pada satu waktu dapat digeser atau dipatahkan oleh mitos yang lahir selanjutnya. Hal ini terjadi karena mitos berkaitan dengan sejarah manusia,” (2006:153).

Di satu sisi hijab style mengukuhkan diri sebagai mitos modernitas mode dan gaya berjilbab. Dengan hijab style muslimah akan tampil cantik dan trandy. Di sisi lain ia membuat hijab style dipandang sebagai mode berbusana bukan sebagai pakaian yang wajib dikenakan oleh muslimah. Transendensi hijab menghilang. Hijab sebagai penutup aurat yang sudah memiliki aturan baku dipinggirkan, diganti dengan definisi baru yang dimuat dalam citra kecantikan pengguna hijab style.

Hijab Style Sebagai Pemenuhan Hasrat    

Perubahan atau inovasi biasanya terjadi karena ketidakpuasan seseorang atau sekelompok orang terhadap sesuatu. Begitupun yang terjadi dalam kelahiran hijab style. Para pendiri Hijabers Community melakukan penilaian terhadap gaya berjilbab konvensional dan menyimpulkan ada hal-hal yang luput di dalamnya. Dian Pelangi, pendiri Hijabers Community berujar,

“Dengan hijab style, muslimah menutup aurat dan mengombinasikannya dengan perkembangan trand dunia. Lumrah bagi wanita terlihat cantik, dengan niat menginspirasi sesama dan tampil cantik di depan suami dan pasti karena Allah Swt karena Allah Swt juga mencintai keindahan…” (2012: 11).

Dalam fashion, kita menginginkan objek-objek bukan karena ketidakcukupan alamiah, melainkan ketidakcukupan yang kita produksi dan reproduksi sendiri (Amir Piliang, 2011:276).

Ketidakcukupan dalam jilbab konvensional adalah ketiadaan kesan cantik dan trandy. Kesan cantik dan trandy ini adalah hasrat yang dimiliki perempuan. Mode berjilbab konvensional dianggap tidak memunculkan aura kecantikan penggunanya dan tidak sesuai dengan trand mode dunia. Jilbab berkesan kuno, jadul, dan tradisional. Kesan ini membuat orang-orang yang belum berjilbab menjadi enggan berjilbab. Kecantikan dan kesan trandy yang dimunculkan hijab style menarik minat muslimah yang belum berjilbab menjadi berjilbab. Namun, hal ini mengakibatkan masyarakat melihat hijab sebagai mode berpakaian bukan sebagai perintah agama. Penggunaan hijab sebagai ketaatan muslimah menguap.

Kekhasan hijab style tidak lagi dikaitkan dengan perintah berhijab tapi lebih dieratkan  hubungannya dengan tampil cantik dan trandy. Inilah yang menyebabkan fenomena hijab style dikategorikan sebagai mitos dalam kajian budaya. Menurut Barthes,

“Mitos adalah sebuah cara untuk menyampaikan pesan. Mitos tidak ditentukan oleh objek pesan tapi cara mengutarakan pesan itu.” (2006:153).

Sebagai sebuah mitos, hijab style tidak menarik penggunanya untuk pempertimbangkan antara mode yang ia pakai dengan aturan berhijab  yang sudah ditetapkan dalam syariat Islam. Tawaran yang diajukan adalah terlihat cantik dan trandy apabila menggunakannya. Hal ini sesuai dengan hasrat alamiah seorang perempuan.

Hasrat atau disire menurut Amir Piliang adalah mekanisme psikis berupa rangsangan terhadap objek atau pengalaman yang menjanjikan kepuasan yang selalu berupa sesuatu yang lain, (2010: 22).

Dengan menggunakan hijab style muslimah tampil cantik, modern, trandy, dan tidak lagi terlihat kuno, ndeso, pesantrenan, dan tradisional.


(Jilbab Konvensional)

Kelahiran Hijab Syar’i Style

Ruang transendental yang kosong menjadi bagian yang amat disayangkan dari mitos hijab style saat ini. Seperti yang ditawarkan oleh Hijabers Community, ruang ini diisi sedikit demi sedikit dengan kajian keislaman. Seyogyanya kajian keislaman dapat membuat pengguna Hijab Style mampu beringsut dari hasrat terlihat cantik dan trandy menuju esensi hijab. Untuk mengisi kekosongan transendental diperlukan perubahan agar hijab sebagai pakaian tertulis tidak kehilangan esensi dasarnya. Jangan sampai generasi mendatang tidak mengetahui makna hijab sebenarnya karena penggunaan hijab sebagai tanda ketaatan terhadap perintah agama dilesapkan oleh pemahaman hijab sebagai mode berpakaian.

Hijab style syar’i adalah salah satu solusinya. Gerakan yang dilakukan oleh Majalah UMMI untuk melahirkan icon hijab syar’i memberi pencerahan bahwa ada ketaatan di balik keputusan menggunakan hijab style. Selain cantik dan trandy, hijab style yang digunakan harus sesuai dengan aturan baku berhijab. Inilah yang disebut dengan ketaatan. Jilbab yang menutupi punggung, terjulur ke dada, berkain tebal, longgar, dan tidak menyerupai laki-laki menjadi jawaban atas luputnya sisi transendental dalam hijab style.


(Hijab Style Syar’i)

Perubahan yang terjadi pada hijab style syar’i adalah kombinasi dari jilbab konvensional dengan hijab style. Seperti pernyataan Amir Piliang,

Fashion tidak dapat diartikan sebagai kemajuan karena ia bersifat berulang-ulang dan berputar mendaur ulang tanda-tanda dan idiom tanpa ada akhirnya. (2011:276).

Perubahan pasti terjadi karena merupakan keniscayaan dalam kebudayaan. Beramai-ramainya muslimah mengikuti hijab style adalah kebaikan walaupun masih ada kesenjangan antara hijab yang dikenalan dengan aturan hijab sebagai pakaian yang dituliskan. Majalah UMMI menjadi salah satu pihak yang bergerak mengisi kekosongan transendental agar generasi kemudia tidak asing mendengar kata hijab. Semoga setelah hijab style syar’i muncul, hijab tidak hanya berfungsi sebagai penutup tubuh, pelindung dari suhu panas dan dingin, agar tampil cantik dan trandy, tapi juga dilengkap dengan pakaian ketakwaan.

“Dan pakaian takwa itulah yang lebih baik,” (Al A’raf: 26).

DAFTAR PUSTAKA
Amir Piliang, Yasraf. 2011. Dunia Yang Dilipat, Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan. Bandung: Matahari.
Barthes, Roland. 2006. Mitologi. Yogyakarta: Kreasi Wacana.
Barthes, Roland. 2012. Elemen-elemen Semiologi. Yogyakarta: Jalasutra
Damanik, Ali Said. 2003. Fenomena Partai Keadilan: Transformasi 20 Tahun Gerakan Tarbiyah di Indonesia. Jakarta: Penerbit Teraju.
Kusumohamidjodjo, Budiono. 2010. Filsafat Kebudayaan, Proses Realisasi Manusia. Yogyakarta: Jalasutra.
Pelangi, Dian. 2012. Hijab Street Style. Jakarta: PT Gramedia.

 

Writing Competition ini merupakan salah satu rangkaian acara dari Indonesia Muslimah Fest bekerjasama dengan FLP Bandung. Ikuti lomba & Audisi lainnya seperti Lomba Menyanyi, Model Muslimah, Rancang Hijab dengan Hadiah Utama Tour Eropa, Asia dan Umroh juga Hadiah Ratusan Juta lainnya. Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui:
web         : http://www.festivalmuslimah.com
Twitter     : @MuslimahFest
Fb            : http://www.facebook.com/FestivalMuslimah

Contact person : 083821299555 (Silvia) 085659275411 (Greeny)

repost dari sini

Leave a comment

19 Comments

  1. mbak Linda sekali muncul di WP langsung menggebrak dg tulisan kritis yg keren.

    Selain Hijab Street Style, saya juga pernah lihat buku “Hijaber Community” di Gramedia.

    Reply
    • ehehehe… ini ikutan lomba Mas.. Sekaligus jurnal embrio tesis saya.. mohon doa kelancaran..

      buku Hijaber Community di Bandung udah langka.. Alhamdulillah dapat buku Hijab Street Style, lebih memberi banyak referensi ttg follower hijab style..

      Reply
    • Bener pak, tulisannya runut. Jadi enak dibaca dan tidak tampak kesan menggurui

      Reply
  2. linda yg orens yaaaaaaaaaaa

    Reply
  3. aku setuju mitos itu cara menyampaikan pesan kek orang jawa bilang klo magrib anak kecil harus pulang ke rumah biar nggak digondol wewe gombel

    Reply
  4. Awesome🙂
    Dulu saya sempat kepikiran untuk mengkaji hijabers dalam konteksnya dunia yang dilipat dan lain-lain yang sealiran Pak Yasraf. Tapi niat itu pada akhirnya diurungkan dulu.
    Dan sekarang didepan saya sudah ada tulisan yang bagus. Masalah utama dalam dunia-dunia yang dilipat yang saya mengerti adalah kritik melingkar. Keberangkatan dari yang lama menuju yang baru.
    Menurut mba Linda – setau saya, website mba linda yang multiply hhe – yang konvensional itu mirip ga sama kedudukan modernitas yang pada akhirnya muncul sebuah posmostyle, sebagai kejenuhan dari yang konvensional?

    Reply
    • Dalam fashion memang takada yang baru, akhirnya memang melingkar. buktinya jilbab yang digunakan hijabers bentuknya segi empat panjang, mirip selendang nenek kita dulu, hanya bahannya dan cara pakainya saja yang diganti.

      Konvensional- midernitas – posmostyle pasti terjadi dalam berbagai dimensi kebudayaan. Namun, yang kita hadapi saat ini adalah hijab, sesuatu yang ditetapkan oleh agama – yang memiliki kebenaran absolut-

      Walaupun diterima secara umum bahwa sebenarnya tidak ada masyarakat serta kebudayaan yang statis dan apalagi menjadi absolut, tetap saja ada masyarakat dan kebudayaan yang cenderung stagnan dan karena itu menerapkan parameter-parameter yang basolute. Absolutisme nilai bisa terjadi karena dua alasan. Pertama, kepercayaan dan keyakinan yang tidak memberikan jalan kepada argumentasi seperti yang terjadi pada setiap agama yang tidak bisa lain memang mengklaim kebenaran. Kedua, karena pola argumentasi yang memang menolak argumentasi lain seperti yang terjadi pada ideologi. (Kusumohamidjojo, 2010:165)

      Seberapa besar perubahannya, hijab akan kembali pada aslinya karena perintah berhijab dan aturan berhijab datang dari Tuhan yang sifat kebenarannya absolut.

      Oiya.. multiplyku udah dicancle, sekarang aktif di wordpress🙂

      Reply
  5. Yah begitulah mba😀 udah jadi komoditimah suka gitu. hhe
    Yang harus dipertahankan adalah suatu substansi awalnya yang kata mba Linda diatas – yang memiliki kebenaran absolut-😀
    Saya melihatnya walaupun mungkin tidak semua kehilangan substansi awalnya tapi perasaanmah there’s something missing.

    Nice answer mba😀

    Reply
  6. Namun, hal ini mengakibatkan masyarakat melihat hijab sebagai mode berpakaian bukan sebagai perintah agama. Penggunaan hijab sebagai ketaatan muslimah menguap.–>
    Bethuuuulll banget!! Like this! hehe

    Jadi spechless mau ngomong apa. Ya memang butuh proses sih, termasuk hijab style syar’i. Tapi berjilbab itu untuk menutup aurat. Kemudian kalau alasan utama berjilbab (dengan model apa pun termasuk itu) adalah untuk keindahan, kupikir motivasi utama berjilbabnya adalah gaya/fashion, bukan niatan untuk menutp aurat itu sendiri. Wallahu’alam🙂

    -NB : soalnya aku berjilbab juga baru sie😀, masih butuh banyak belajar :D-

    Reply
  7. Mampir blogwalking Mbak Shabrina (saya panggil begitu ya?)
    Tapi dalam nge-gayain jilbab harus hati-hati juga, jangan sampe tabarruj berlebih.
    Tulisan bagus, idenya menarik dan lagi hangat lagi😀

    Reply
  8. baca posting ini dari reblog temen…mampir deh karena penasaran😀. karena hanya mitos, suatu saat akan tergantikan juga ya, dengan style dan penamaan yang mungkin berbeda, dengan mitos yang baru. tapi, saya suka, mitos ini bikin makin banyak saudara2 kita yang menutup aurat😀. semoga ke depannya lebih baik. oya, selamatttt yaaa…tulisannya bener2 menggoda…nomor satu euyyy😉

    Reply
  9. tulisannya bagus, runut
    walaupun saya masih agak kurang sreg dengan istilah Hijab Style Sya’i, tapi saya sendiri gak bisa juga ngebantahnya,, cuman masih agak kurang sreg aja

    Reply
    • hehehe, aku juga kurang sreg dgn jilbab style syar’i, yang di foto masih agak lebay.. hhhm, tp gak bs ngebantah juga krn klo kondangan msh tergoda utk pake pernak pernik..

      Reply
  1. Berikan Solusi, Bukan Memvonis « Fight For Freedom
  2. Menjadi Pemenang | waiting room

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript

%d bloggers like this: