Lebih Dari Separuh Hidupku

Image

Hari ini, 2 November empat belas tahun lalu, pada subuh hari, aku  menginjakkan kaki di Tasikmalaya, setelah melakukan perjalanan dua  hari satu malam di kereta ekonomi Denpasar – Tasikmalaya. Masih  teringat, waktu itu siswa kelas 6 SD dengan celana laging hitam, kaos,  dan jaket pergi bersama sepupunya yang menggunakan kostum serupa.  Ada seorang bibi (tante) kami yang bergelar sarjana menemani. Masih  teringat, ia membangunkan kami untuk makan malam (lebih tepatnya  dini hari). Menu yang kusantap adalah semangkuk nasi goreng.  Belakangan aku baru tahu bahwa nasi goreng di kereta api kelas  ekonomi adalah campuran nasi goreng atau nasi lain yang takhabis  dimakan penumpang. Nasi-nasi itu digabungkan dan jadilah seporsi nasi  goreng. Ah.. setelah berita itupun aku takmenyesal memilih menu itu.

Pindah sekolah dari Denpasar ke Tasikmalaya kuanggap sebagai  pengalaman baru. Karena sekolah yang menjamin keselamatan moral  amat jarang di Denpasar, ayah dan ibu memindahkanku ke Tasikmalaya. Buatku, itu adalah kebahagiaan waktu itu. Aku bisa terbebas dari omelan ibu, tidak ada tugas menjaga warung, dan yang terpenting: tidak ada pelajaran Bahasa Bali. Pikirian-pikiran pragmatis anak kecil bermunculan, membuat perjalanan itu amat membahagiakan pada awalnya. Namun, ternyata saat ibu dan ayah melepasku sore itu, air mata tumpah. Aku menangis sejadi-jadinya. Entah apa yang ibu katakan untuk menenangkanku. Mungkin soal libur lebaran yang sebentar lagi, jadi kami masih bisa bertemu dalam waktu yang tidak lama. Atau keberadaan kakakku di Tasikmalaya. Di sana aku tidak sendirian, ada kakak yang akan membersamai.

Memulai hidup baru di Tasikmalaya ternyata bigdeal. Sejak saat itu aku  harus mengatur uangku sendiri, dari SPP sampai hal remeh-temeh  lainnya. Mencuci, menjemur, dan menyetrika baju harus kulakukan  sendiri. Belum lagi sumber air jernih yang bisa digunakan untuk mencuci baju seragam putih jarahkan lumayan jauh dari rumah. Hufffhhh.. memang perjuangan. Yang lucu adalah kemalasan kami untuk mandi pagi. Cuaca Denpasar dan Tasikmalaya bedanya cukup jauh. Ternyata  Tasikmalaya sangat dingiiiin. Takjarang aku meninggalkan mandi pagi  untuk berangkat sekolah. Mandi pagi mungkin kulakukan dua hari sekali.  Ini lebih baik ketimbang sepupuku yang mandi pagi lima hari sekali  ahahah!

Pindah ke Tasikmalaya adalah bigdeal. Kepergianku waktu itu adalah  gerbang perpisahanku dengan ayah dan ibu. “Jika telah berpisah,  jangan harap bisa hidup bersama lagi.” itulah yang terpikir hingga saat  ini. Sampai saat ini, takpernah aku berkumpul dengan keluarga lebih dari  2 pekan. Kalau bukan ayah dan ibu yang harus lekas pergi mengadu  nasib ke Denpasar, berarti aku yang harus segera pulang karena jatah  libur sekolah sudah berakhir. Entah mengapa, keterpisahan yang sudah  lebih dari setengah usiaku ini membuat aku harus bekerja keras  memosisikan keluarga dalam keseharianku.

Perpisahan SD, SMP, SMA tidak pernah dihadiri orang tua. Menerima rapot sudah cukup. Tidak ada perasaan istimewa dengan rangking 1 di kelas. Itu juga yang akhirnya membuat aku merasa biasa saja ketika mendapat nilai ulangan do, re, mi di SMA. Semuanya biasa saja. Registrasi SMP, SMA, Universitas pun tanpa mereka. Hari-hari berat mengawali lingkungan baru di SD, SMP, SMA, bahkan Universitas disimaknya hanya melalui telpon. Di awal masuk sekolah, di berbagai jenjang biasanya aku sangat tidak nyaman. Akhirnya selalu mengadu ingin pindah. Namun, kejadian itu takpernah terjadi. Aku bisa bertahan sampai akhir. Berkat doa-doa mereka, aku yakin.

Jauh dari orang tua itu membuat kita harus belajar berkeputusan dan bebas memutuskan. Waktu menentukan universitas dan jurusan, aku putuskan sendiri. Ayah ingin aku memasukkan UPI sebagai salah satu pilihan, tapi tidak. Aku tidak pernah mau menjadi guru. Setelah aku mengembalikan formulir baru kutelpon ayah. Ia amat kecewa nampaknya. Tempat tinggal, teman, organisasi, semuanya kuputuskan sendiri. Bahkan tidak jarang ayah menelpon dan aku sedang ada di luar kota. “Kok gak bilang?” ujarnya. Aku bahkan lupa harus meminta izin kepada orang tua. Kepada mereka, aku hanya meminta persetujuan. Entah bagus atau sebaliknya, mereka tidak pernah melarang sedikitpun. Setiap langkah yang kuambil selalu didukung. Efek baiknya, semua kebaikan yang kujalani berujung kesuksesan. Efek buruknya, takpernah ada diskusi di antara kami. Yang mereka katakan hanya, “Iya, mamah sama bapak mendo’akan semoga mendapat ketetapan terbaik.” Efek buruk lainnya adalah ketakmampuanku menceritakan berita buruk kepada mereka. Malu sekaligus sedih rasanya membuat mereka kecewa. Apalagi kekecewaan yang berdasarkan putusanku sendiri.

Saat memutuskan untuk ikut ekskul pramuka waktu SMA, saat memutuskan untuk menunda skripsi karena menyelesaikan buku, atau saat memilih bekerja daripada melanjutkan akta 4 (jalan untuk menjadi guru), waktu memutuskan berhenti bekerja dan memilih studi pascasarjana, semuanya hanya kukonfirmasi melalui telpon, dengan sedikit percakapan, lalu mereka mengiyakan. Dengan sikap yang “kurang ajar” itu, mereka takpernah berhenti mendukung. Waktu memilih akta 4, aku sudah membayar biaya masuk yang lumayan besar. Aku tinggalkan begitu saja karena mendapat panggilan kerja. Waktu memutuskan mengambil beasiswa S2 dan harus menyediakan dana talangan sebelum beasiswa cair, mereka mengusahakan dengan cepat. Padahal biaya kuliah bukan jumlah yang kecil. Mereka benar-benar menitipkanku kepada Allah Swt, makanya taksedikitpun kekhawatiran atasku. Mereka adalah lumbung doa, dan setiap keridhoan merekan selalu berbuah kesuksesan.

“Dan Rabbmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kukabulkan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyom-bongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina,” (Ghafir: 60).

Setelah keterpisahan ini, takpernah ada sesi curhat, karena curhat sepanjang apapun tetap harus aku yang mengambil putusan. Bahkan ketika aku bercerita soal bigdeal terdekat dalam hidup, yaitu pernikahan, mereka hanya mendengarkan apa yang keluar dari mulutku. Segala keinginan dan harapan mereka kulum rapat di benak. Aku genap tahu mereka punya harapan, punya kecemasan atas usiaku yang semakin ranum. Namun, mereka takpernah bisa membaca sosok seperti apa yang aku butuhkan. Mereka pun terlihat takpunya seseorang yang bisa diajukan untuk putrinya yang keras kepala ini. Apalagi setelah kuputuskan tinggal di pondok tahfidz. Lagi-lagi mereka hanya berucap, “Semoga mendapat yang terbaik bagi Allah Swt.”

Akhirnya menjadi orang yang paling dekat dengan Allah Swt adalah keharusan. Karena mereka hanya memberi satu pilihan: yang terbaik dari Allah Swt. Memantaskan diri menjadi orang yang mampu membaca taufik-Nya perlu perjuangan. Hanya orang yang hakul yakin dengan Kemahabaikan Allah Swt yang bisa menyadari bahwa setiap keputusan-Nya adalah kebaikan.

“Ketika orang-orang yang bertakwa ditanya, ‘Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?’ Mereka menjawab, ‘Kebaikan.’ Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapatkan yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat itu lebih baik, dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa.”(QS An-Nahl: 30).

Maka untuk bigdeal yang terakhir ini, ujiannya panjang karena hubungan yang harus dijalinpun amat panjang (dunia-akhirat). Nikmatnya tidak akan terasa sebelum perjuangan atau mujahadahnya pun terasa. Karena keyakinan yang kuat selalu beriringan dengan kesempurnaan ikhtiar.

“Apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Alloh”. (Ali Imran: 159).

*100% curhat ahaha!
foto dari sini  dan karya siriusbintang

Leave a comment

26 Comments

  1. lindaaa
    aku baru tau kalo dr SD udh jauh dr ortu
    kereeeeen

    Reply
  2. sama saya juga jauh dari ortu…

    *sejauh5meter :d

    Reply
  3. kerasa hidup sekosan bareng anakanak tasik. mandinya berapa hari sekaliii? ;d

    Reply
  4. Eh, kirain…

    Reply
  5. suci55

     /  November 7, 2012

    Karena keyakinan yang kuat selalu beriringan dengan kesempurnaan
    ikhtiar….

    Bener banget. Smoga sukses y eee… Linda ato Iin ato Sabrina 🙂

    Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript

%d bloggers like this: