#1 PENYELINAP [akuan]

: Embun

Apa kabar? Terima kasih telah bersedia menyimak ceritaku. Semoga embun matamu takmenetes setelah ini. Karena ia berharga. Hari-hari tanpamu menjadi biasa-biasa saja. Hmm.. Sejak kapan aku  mengganggap hari menjadi spesial? Kau pun tahu bahwa hariku selalu begini-begini saja. Mungkin karena rutinitasku takberubah, atau karena aku telah menggantungkan perubahan kepada orang lain. Jikapun  berubah, perubahannya hanya bagai siput yang beringsut dari inchi ke inchi. Ah.. kembali pada ketiadaanmu. Semua biasa-biasa saja, hanya mungkin takada yang menguntitku dengan pertanyaan soal menulis, soal masa depanku, soal penyelinap itu, dan soal kucing-kucing bersama majikannya.

Yang agak menggangguku justru tentang orang baru yang datang ke tempatku. Dia amat lembut dan berperawakan persis denganmu. Kadang aku berpikir, “Kau takakan benar-benar pergi dari tempat ini sebelum Tuhan mendatangkan orang yang mirip denganmu.” Ah.. akhirnya ia pun datang. Dan yang mencengangkan, dia penyuka warna hijau. Ia bagaikan dirimu waktu belum tercemari oleh warna biru. Ia benar-benar polos, cerdas, dan baik hati. Ah.. kadang aku pikir, ada sebagian dirimu yang ia ambil. Atau kau harus segera berbenah, berkemas, agar takterjebak dalam labirin gelap bersama kucing-kucing dan majikannya itu. Soal penghuni baru itu, kucukupkan sekian. Aku justru rindu mendengar ceritamu di sana. Bagaimana kisah indah tempatmu diobati kini? Kisah kucing-kucing dan majikannya dapatkah aku mendengar ceritanya lagi? Atau soal embun di negeri sakura, sudahkah ia kembali? Semoga kau dapat menceritakannya kepadaku.

***

Nampaknya kau sedang tertarik dengan cerita penyelinap itu, bukan? Beberapa hari lalu ia mengagetkanku. Senja itu, awalnya kami hanya berbincang tentang pernikahan seseorang dan persiapannya. Hmm.. orang yang kami bicarakan telah menyiapkan pernikahannya sejah 120 hari akad nikah. Dengan tiba-tiba ia bertanya soal pernikahannya.

penyelinap     : Kalau aku akan menikah bulan depan, bagaimana menurutmu?

Membaca pesan itu rasanya tombol “ON” roller coaster hidupku kembali ditekan, nampaknya ia akan kembali lupa kapan harus menghentikannya.

langita              : siapa perempuan beruntung itu? ini sebuah peningkatan!

penyelinap    : belum tahu😀

Mendapat jawaban itu penilaianku kembali ke titik nol.

langita            :  kau akan menyiapkan pernikahan dalam hitungan 30 hari?

penyelinap    : pekan lalu, ada yang hanya 4 hari

langita             : menikah bukan sedang mengajak orang lain untuk nonton bioskop, Tuan!

penyelinap    : tak ada yang takmungkin bagi Tuhan

Embun, Kau mengerti apa yang dikatakan lelaki itu? Samar bukan? Tapi menurutku, itu adalah pernyataannya yang ini amat melegakan. Dunia sudah takmemberatkannya soal takdir. Ia sudah sedikit mengerti bahwa pernihakan adalah sesuatu yang amat ruhaniyah. Ini tentang bagaimanan takdir-Nya -yang serupa kematian- dirayakan. Ini tentang membaca dengan pembacaan yang paling cermat apa yang telah dituliskan Tuhan di langit. Ini tentang pembacaan iman.

Aaah.. Roller coaster itu berpacu lagi, bahkan kecepatannya diduakalikan. Selepas perbincangan itu tiba waktuku pulang dari kantor. Di perjalanan senyum di wajahku takhenti tersungging. Sukma dan logikaku berdialog sahut menyahut.

“Bagaimana kalau aku harus menikah bulan depan? Rambutku belum memanjang dengan sempurna. Berat badanku belum stabil. Krim pemutin ini belum genap sebulan aku gunakan!”

“Bukankah pernikahan takhanya bicara soal fisik semata? Kau sudah belajar banyak setahun ini. Kepergiannya waktu itu sudah membawamu pada berbagai persiapan bukan?”

Aku bahkan takgenap mengerti perkataan mana yang diajukan sukma, mana yang disampaikan logika. Yang paling pasti, percakapan tadi menggerakkanku untuk memutar MP3 handphoneku dengan senandung ini,

“ku berdoa untuk dia yang kurindukan
Jangan pernah lupakan aku jangan tinggalkan diri
Jangan pernah lupakan aku jangan pergi dari aku”

Seperti yang kau tahu, aku takpernah membiarkan keraguan merajaiku dalam waktu lama. Aku butuh tahu perempuan itu. Menurutmu aku tanyakan langsung, atau aku tunggu dia menanyaiku? Apakah seorang perempuan bertanya langsung tentang keberadaanya dalam skenario seorang lelaki adalah sebuah dosa?

Sukma dan logikaku kembali berdebat,

“Padahal pertanyaan itu sudah bertahun lalu dijawabnya. Padahal berkali-kali ia memintamu untuk menawarkan hati ini.”

“Tapi mengapa ada bahagia ketika mendapat pertanyaan bagaimana darinya?”

“Padahal boleh jadi, itu adalah paling standar dari seorang lelaki pengecut.”

“Tapi mengapa dia bercerita soal pernihakan jika bukan bermasud menikahiku?” Ah.. logika memang selalu mengakali kemungkinan dari setiap ketidakmungkinan.

“Lelaki labil selalu bisa menembakkan pelurunya ke segala arah. Sudah berapa lama ia kenghubungimu? Takterpikirkah dia sedang bercerita tentang dirinya sendiri dan orang lain? Dia hanya sedang bermain-main denganmu!”

Selepas angkot yang kutumpangi berhenti,  kutemukan satu simpulan: aku harus bertanya langsung padanya!

Bersambung..

*sengaja dibuat lebih realis biar mudah dimengerti😉

gambar jepretan siriusbintang

Previous Post
Next Post
Leave a comment

17 Comments

  1. nah ini makin seru

    *nungguin lanjutannyaaa

    Reply
  2. ini mau sampe berapa episod nda?
    dibikin yg panjang ya
    konfliknya yg berliku
    hihi

    Reply
  3. Kayaknya aku jadi pengikut setia blog ini nih plus dapet guru. kebetulan lagi pengen belajar nulis cerpen.

    Reply
  4. Uhm, jadi teringat percakapan ditelpon waktu itu😀

    Reply
  1. #2 Kucing Dan Majikannya « langitshabrina

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript

%d bloggers like this: