#2 Kucing Dan Majikannya

cerita ini sambungan dari #1 Penyelinap

: Embun

Adalah setetes manis yang menyentuh hidup hambarku ketika menyimah berita kehidupanmu sekarang. Percayalah, sakitmu takhanya sembuh dengan setumpuk obat-obat itu. Jauh di lubuk sana, ada qolbu yang harus dipapah perlahan menuju kesehatan.

Embun, kau tahu, aku suka berbicara, memberi keterangan, mengabadikan detik demi detik pelajaran yang Allah titipkan dalam setiap cambukan atau belaian hidupku. Tapi jujur saja kukatakan, ini bagaikan menggarami luka dalam yang menganga. Harus kutahan perihnya tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Ingin rasanya berhenti bercerita, tapi ada sebaris manusia yang perlu belajar salah-salah kita, agar mereka tidak jatuh pada lubang yang sama.

***

Mendengar kedekatanmu dengan kitab suci kita, aku iri sekali wahai Embun. Di sini aku masih lemah, tergopoh mengeja dentang denting irama hidupku. Senin kembali ke Senin aku bahkan kadang sibuk mencari faidah yang dapat kuberikan untuk orang lain. Aaah.. mencari diriku sendiri saja aku masih sangat kesulitan. Apalagi harus menyematkan faidah untuk orang lain. Rasanya masih beribu mil jaraknya dari aku yang ada kini. Huffh..

Aku iri padamu, soal mata yang masih bisa terjaga pukul 2 dini hari. Aku iri padamu soal tinta yang masih bisa tergores di siang hari. Ingin! Aku ingin betul dapat menguatkan diri ini untuk terjaga sampai selarut itu. Tapi aku amat rindu kesegaranku pada dini hari. Aku belum mampu berdiri bertemu Dia disepertiga malam bila tak mulai memejamkan mata pukul 10. Terlambat sedikit saja, aku bisa kehilangan makna tahajjudku. Rakaatnya bisa sangat singkat hanya untuk mengejar selimut dan menghilangkan kantukku. Aaah.. aku takmau itu! Sejatinya tahajjud adalah pertemuan paling nyaman untuk menumpahkan kemasygulan hidup kita yang sangat rapat tersimpan bukan?! Aku akan kehilangan munajjatku bila taktidur tepat waktu.

Embun..

Aku bukan kau yang dapat dengan ringan bercerita kepada siapapun tentang kucing-kucing dan majikannya itu. Aku bukan kau yang yang dengan ringan mengenalkannya kepada setiap dinding kamar di tempat kita dulu. Mendengar ceritamu, aku agak khawatir. Kisahmu yang satu ini jadi sebercak noda dari perjalanan panjangmu menuju-Nya. Mungkin karena kita pernah mengalami hal yang sama, lalu kau dapat ringan-ringan saja bercerita tentang dia.

Embun, apa yang kau alami itu hanya kepernahan buatku. Saat ini kau masih sedang asyik masyuk menikmati kebahagiaan semu dari seorang lelaki maya, majikan kucing-kucing itu. Sungguh, setiap episode yang kau alami sudah pernah kurasakan. Manis, asam, lalu pahit. Dia sudah terlalu lama mengganjali perjalananmu menuju-Nya. Ia sudah terlalu lama menjadi persimpangan setiap jalan lurus yang sudah dengan susah payah kau kuarkan. Berhenti! Berhenti! Berhenti merasa bahagia dengan keberadaannya. Itu hanya bagai gincu yang kau lihat di bibir merah pelacur hina. Demi Allah, Berhentilah!

Mulanya kau hanya berkirim pesan singkat dengannya. Sederet peraturan ketat kau buat untuk menjaraki interaksi. Lalu siapa? Tahukah kau siapa yang paling bahagia dalam kebahagiaan semumu itu? Dia musuh kita, setan yang selalu membisikkan kepalsuan berkedok bahagia. Dia membisikimu untuk melanggar satu-persatu peraturan ketat itu. Kadang aku berpikir soal pertarungan antara setan dan diri kita. Adakah ia berjuang keras untuk menyesatkan kita? Atau hanya kita yang takmampu bertahan menjaga keimanan yang terus menerus melemah tak tahu arah.

Seperti kecepatan detakannya, secepat itulah hati kita dapat berubah. Perjuangannya menuju kekukuhan membaja memang perlu kesungguhan. Apalagi bila ujiannya adalah kebahagiaan. Detaknya akan semakin memburu, kecepatan perubahannya akan semakin melaju. Jika kau takpandai menelisik satu-persatu usaha setan dalam menggodamu, bersiaplah menangis di ujung kisahmu. Putuskan untuk berhenti! Jangan campurkan kelemahan logikamu dengan Kemahaberkehendakan Allah! Semua kebetulan-kebetulan itu hanya ujian. Pernahkah ia menjanjikanmu sebuah kepastian? Atau hanya setitik iktikad baik untuk berjanji setia di hadapan-Nya?  Sungguh kau hanya sedang tertipu dengan kekosongan tempat yang kau jejali orang itu.

Embun.. kita berbeda. Kau dan aku sudah genap tahu itu. Lalu mengapa kita harus mencari-cari orang untuk membagi perbedaan ini? Berhentilah membagi penat atau bahagiamu kepada orang itu. Berhentilah menganggap deretan kata yang kau lihat di layar kecil handphonemu sebagai pernyataan dari mahluk bernyawa. Sungguh, realitasnya dia hanya manusia maya. Kau hanya mencintai sederet kata menggugah dari kode angka. Kau hanya mencintai kelegaan dari sebuah akun percakapan dengan sebuah nama samaran.

Embun.. sampai kapanpun kau takakan menemukan kekurangan lelaki itu. Karena kaulah ketaksempurnaan itu. Kau dan dia amat berbeda. Oleh karenanya, logikamu berkata, ia sempurna dan kau taksempurna tanpanya. Ia sempurna dan kau takperlu menyempurnakan kekuranganmu karena cukup ada dia. Tanya pada nuranimu! Ketaksempurnaan itu bisa kau isi sendiri tanpa bantuan orang lain. Ada Allah Yang Maha Sempurna dengan mudah dapat menutupi kekuranganmu.

Ingatlah saat Allah dengan mudah membuatmu hafal ayat-ayat-Nya. Kemampuan itu bukan milikmu! Itu adalah karunia dari-Nya. Lalu mengapa kau memisahkan ketaatan sebagai sebuah taman dan pertemuanmu dengan lelaki itu sebagai padang ilalang lainnya. Kau seolah dapat dengan bebas berlari ke sana-kemari tanpa berpikir bahwa takada patahan dalam hidup ini. Allah melihatnya sempurna. Jangan sampai satu kebaikan kau hapus dengan puluhan keburukan yang menjelma kebahagiaan. Jangan permainkan Allah!

Allah adalah Allah! Ia bukan berhala yang kau persembahi ketaatan yang dengan kebaikannya dapat membuatnya menakdirkan serentetan kebaikan, menggerakan hati lelaki itu menujumu. Lalu siapa Tuhanmu yang sebenarnya? Allah yang sama denganku? Atau tuhan yang kau simpan dalam telpon genggam? Allah bukan mesin kebaikan yang bisa kau minta setiap saat. Dia bukan perantara antara kau dengannya. Dia adalah Pusat.

Embun… aku sayang padamu. Jangan terlalu lama berbahagia dalam kesemuan itu. Kita genap tahu bahwa kita berbeda dengan yang lain. Yang bisa mengisi kekosongan ruang itu hanya Allah. Ia tempat kita berkisah, berkeluh kesah. Ia yang menggenggam hidup kita. Seluruh isi hati ada dalam pengetahuan-Nya. Bahkan Allah-lah yang menciptakan isi hati kita. Mulanya akan sangat sulit memang, mendesak orang yang kita sekap dalam hati untuk keluar dengan cepat. Sakitnya takubah meregang nyawa. Rasanya ingin teriak sekencang-kencangnya. tinggalkan dia secepatnya. Sebelum kau tersungkur dalam penyesalan pada kerak dosa yang kau perbuat di masa lalu. Yang kau sesali nanti bukan indahnya masa lalu yang mulai beringsut pergi, bukan ketiadaanya di masa depanmu, tapi dosa yang kau lalui dengan bahagia.

Namun, Dialah Allah Yang Maha Menyembuhkan. Saat sadar bahwa setiap yang bernyawa ada dalam genggaman-Nya, saat insyaf bahwa setiap isi hati yang takterkata sudah ada dalam rencana-Nya, maka tak sulit bagi-Nya untuk menenangkan hati kita. Saat tangisan tentang kenangan akan pecah, ada enggan yang datang dengan sendirinya. Bukankan kenangan adalah bagian yang paling jauh dari diri kita? Bukankah Allah selalu menutup mata pada masa lalu kelam kita? Dia-lah yang selalu mengingatkan kita pada perbaikan hari ini dan masa depan. Berlarilah kepada-Nya dengan sebenar-benarnya pelarian. Melepaskan genggaman tangan lelaki itu memang sangat sulit. Namun, jangan biarkan kau harus berjuang keras untuk menggenggam tangan Allah sehingga perjuanganmu akan terasa amat sakit. []

Bersambung……

Previous Post
Next Post
Leave a comment

7 Comments

  1. weiiss…udah kedua ajah; bnyk monolog ya nin?

    Reply
  2. wah ini karangan prosa sik apik bin panjang

    Reply
  3. Yang kau sesali nanti bukan indahnya masa lalu yang mulai beringsut pergi, bukan ketiadaanya di masa depanmu, tapi dosa yang kau lalui dengan bahagia.

    jlebbbbbbb

    ktiganya makin seru
    lanjuuuut

    Reply
  1. #3 PENYELINAP « langitshabrina

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript

%d bloggers like this: