#3 PENYELINAP

Kisah ini lanjutan dari #2 Kucing Dan Majikannya

: Langit Senja
Sore itu aku memberanikan diri bertanya kepadanya soal kalimat suram yang ia sampaikan padaku tempo hari. Tentu aku takmendatanginya karena jarak kami amat jauh. Aku hanya bertanya padanya melalui sebuah surat elektronik berisi seikat alasan keberanianku menanyakan keberadaanku dalam kisah hidupnya. Aku mengiriminya sebuah alasan panjang tentang kebahagiaan atas kisah panjang perjalananku bertemu dengan-Nya.

Penyelinap    : Seperti biasa, kau selalu hebat

Langita             : Kau juga hebat. lalu masihkah aku memiliki kemungkinan itu?

Penyelinap    : Kemungkinan itu hanya milik Allah Ta. Namun, kali ini aku takbisa melanjutkan kisah itu. Hanya itu.

Langita     : Okey! Paling tidak, aku sudah memberanikan diri untuk bertanya.

Penyelinap    : Kau harus mencoba mencari lelaki yang lebih baik dariku.

Langita        : Hanya Allah yang bisa menyamakan persepsi antara pesan panjang  yang  kukirim dengan isi hatimu.

Setelah percakapan itu, aku berani mengatakan, perempuan itu mungkin bukan aku. Waktu bicara soal pernikahan, ia sedang berbasa-basi, melemparkan pertanyaan kosong tentang kegamangannya atas masa depan. Jawabannya membuatku sadar. Serupa tangan yang menampar pipiku saat taksadar tertidur di perjalanan. Kalimatnya mengingatkanku tentang kesiaan yang kupupuk berlipat-lipat waktu.

Pada waktu yang telah lama berlalu, aku sepertimu, berbahagia dalam kegelisahan. Dulu ia sempat pergi dariku, mengasingkanku dari hidupnya. Namun, perlahan ia timbul tenggelam dalam hari-hariku. Prilakunya itu membuatku kembali berpikir, “Ia sedang berjuang membenahi hidupnya, maka akupun harus ikut berjuang, bertahan dalam sebuah keyakinan akan kembalinya.” Berkemasnya kami waktu itu kupikir akan berakhir pada sebuah pertemuan di ujunga jalan. Bahkan aku sudah mengantongi sebuah pernyataan yang kusimpan rapi bila suatu hari nanti ia benar-benar kembali. “Jangan pernah pergi lagi!” Hmm.. Pernyataan itu benar-benar tersimpan rapi bahkan terkunci dalam palung hatiku. Ia terpencil kini. Ia terkucil oleh realitas yang mendesaknya pergi jauh.

Embun.. dia bukan lelaki yang singgah dan hanya berani ada didepan pintu. Dia bukan hanya lelaki yang takberani mengetuk apalagi masuk, seperti yang kau katakan. Dia adalah manusia ruang tunggu. Dulu.. dulu sekali, sejak pertama kami mengenalnya, aku pernah berkata padanya, “Jika kau lelah menunggu, sesekali bergeraklah ke luar, bukalah pintu, dan carilah takdirmu. Bolehjadi ia ada di depan pintu sedang menunggumu.” Ia pemalu. Ia amat pemalu. Lalu akulah perempuan penyelisihnya yang ia permalukan di muka bumi ini.

Aku seperti tertidur di musim dingin dan terbangun di musim panas. Keyakinanku seperti pakaian lengkap musim dingin yang seketika harus kutanggalkan di musim panas. Pernyataannya seperti petir yang menyambarku saat bermain-main di rintik hujan, di sisi taman. Dalam kondisi ini, apa dayaku selain benar-benar membenahi hati, berpikir kembali soal kecenderungan hati yang tidak dapat dicampuri kecuali oleh Pemilik langit dan bumi. Ia tersembunyi amat lubuk, jauh di dalam sana. Tidak dapat ditaksir dari raut muka. Ia digenggam erat oleh Pemilik semesta. Ia takterjangkau olehku yang renta.

Kini tugasku mengobati hati yang tertikam berkali-kali. “Jangan panik!” itu saja yang kuwanti-wanti pada diri ini. Hadapi apapun dengan biasa-biasa saja. Apapun, jika Ia tidak menghendaki, tidak akan terjadi. []

Bersambung…..

Leave a comment

10 Comments

  1. nice nice … he he he …

    Reply
  2. Bagus banget penyusunan kata2nya😀

    Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript

%d bloggers like this: