Tentang Sepotong Rindu

edited

: Embun

Adakah yang salah dengan sepotong rindu? Ia dapat berupa harapan yang besar terhadap sesuatu, atau keinginan kuat untuk bertemu. Rindu kepada Tuhan, rindu pada kemerdekaan, rindu orang tua, atau rindu pada kekasih. Buatku, takada yang salah pada setiap potongan rindu. Ia anugerah penanda bahwa hati kita masih ada. Sekelam apapun rindu yang kau rasa, jangan sampai ia meredupkan cahaya Tuhan di hatimu. Itu pesanku.

Kau sedang rindu bukan? Jujur saja kepadaku. Tapi entah untuk siapa kau rela menyimpan rindu itu, bersakit menahan diri di hulu ingin tanpa tahu kapan akan sampai ke hilirnya. Aku agak yakin, rindu itu bukan untukku. Coba kau dalami lagi rasanya, pasti takada aku di sana. Atau mungkin, aku adalah obat kerinduanmu kepadanya. Sabdaku seperti percikan air pelebur gumpalan rindu yang hampir mengerak di dinding hatimu. Oh Embun.. adakah rindu yang kau rasakan itu semacam rindu terlaran seperti yang biasa didendangkan manusia?

Seorang penyair bijak dalam buku putihnya pernah berkata, seperti halnya langit dan bumi, siang dan malam,  jauh dan dekat, menunggu dan ditunggu, di dunia ini semuanya berpasangan. Termasuk engkau yang sedang merindu. Jika ada orang yang merindu pasti ada yang dirindukan. Namun, tahukah kau? Katanya, yang menunggu tidak harus bertemu dengan yang ditunggu. Seperti halnya langit tidak harus bertemu dengan bumi. Jika mereka bertemu, berarti mereka bukan lagi pasangan. Maka, perindu tidak selamanya harus bertemu dengan yang dirindukan. Tidak ada lagi rindu jika perindu bertemu dengan yang dirindukan. Maka biarlah ia bergeming. Semoga yang dirindukan turut sadar bahwa dirinya sedang dirindukan.

Yang terpenting adalah kepada siapa rindu itu kau titipkan wahai Puan. Kepada dinding-dinding ratapan yang bisu dari kebenaran? Kepada deretan huruf bernomor kode yang kosong dari kerelaan? Atau kepada harapan-harapan yang naik ke langit menuju Si Empunya semesta? Kita makhluk lemah yang takpunya daya untuk menentukan apa-apa. Bahkan rindu yang membatu badar itu pun tanpa sadar sedikit demi sedikit menyesaki hatimu. Kita lemah takdaya apa-apa.

Meranalah kau jika pikirmu bersiasat mencari cara melepas kekang rindu dengan belati dosa. Padahal rindu itu milik-Nya. Dirimu milik-Nya. Si empunya rindu pun milik-Nya. Kendalikan hatimu, kuasai kekang rindumu agar ia takjadi rindu dendam. Tenangkanlah.. tenangkanlah.. tenangkanlah hatimu. Jangan sampai ia menjadi jelmaan ketakrelaanmu pada bentangan jarak dan waktu. Padahal milik-Nya pulalah jarak dan waktu yang membentang itu.

Embun.. sebagian manusia mungkin memencilkan rindumu di lorong gelap kelalaian. Mereka mengantagoniskannya sebagai penanda ketaktaatan. Buktikanlah! Buktikan bahwa rindumu menjadi energi untuk merangkak naik menuju kesadaran akan ketakbedayaan atas bentangan jarak dan waktu milik-Nya. Perlihatkanlah! Pacu tali kekang rindumu menuju Ia, Si Empunya semesta. Setiap pahit adalah biang bahagia yang dapat menyamuderah dan mempercepat perahu rindumu sampai kepada-Nya. Apapun kehendak-Nya selalu baik jika bermuara kepada-Nya. Cukup yakinlah, rindu adalah do’a yang dirapal sepanjang hujan yang berjanjikan pengabulan. Maka mintalah sebaik-baiknya kebaikan menurut-Nya. Lepaskan dirimu dari do’amu! Biarkan Ia berbuat sesuka-Nya. Rindumu akan bertemu jalan-Nya. Berprasangka baiklah bahwa pemiliknya adalah si empunya yang engkau sangka. Jikapun bukan ia, mintalah agar perahu rindumu takkaram sebelum bertemu dengan si empunya yang sebenarnya. []

Foto jepretan teh Nina

Previous Post
Leave a comment

19 Comments

  1. Suka tulisan ini😀 Really!
    Jadi ingat sama beberapa pengalaman merindu….

    Reply
  2. ahhh….kamuuu, aku jadi makin rindu ama ia …😀

    Reply
  3. Ditempatmu selalu ramai🙂

    Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript

%d bloggers like this: