Bahagia Walaupun Ditakdirkan Berbeda

Al Quran edited

Bergabung di Pesantren Tinggi Quran Maqdis merupakan hal baru buat saya. Takpernah terbayangkan sebelumnya bisa berkumpul bersama orang-orang yang tinggi semangatnya dalam bersahabat dengan Al Quran. Setelah setahun lebih tinggal di pondok dengan tangan kosong (baca: nggak punya hafalan dan tajwid yang acak-acakan) Alhamdulillah saya mulai punya hafalan Al Quran, walaupun mungkin jumlahnya jauh lebih sedikit dari orang-orang yang menghafal pribadi di rumah.

Mengalahkan Diri Sendiri

Dengan jumlah hafalan yang amat sangat minim ini, saya tidak pernah mengecilkan diri atau ciut, walaupun ada teman yang berkata ketika saya menghafal juz 29, “Si Fulan udah hafal juz 29 dalam 1 bulan. Padahal dia kerja dari pagi sampai sore.” It’s not my bussines kata saya dalam hati. Yang menjadi urusan saya adalah kondisi diri dan hafalan saya sendiri, bukan kondisi orang lain. Memotivasi? Ya, boleh saya, walaupun saya paling tidak mempan dimotivasi dengan cara dibandingkan dengan orang lain. Well soal hafalan Al Quran, itu sifatnya amat pribadi buat saya.

Menghafal Al Quran itu mengalahkan diri sendiri bukan mengalahkan orang lain dalam hal jumlah hafalan. Menghafal Al Quran itu berjuang mengalahkan nafsu diri agar tidak bermaksiyat kepada Allah Swt. Al Quran itu kalamullah, ia bukan bacaan sembarangan. Ada ikatan dan kriteria ruhiyah untuk bisa mendekatinya. Al Quran tidak bisa dibohongi. Orang yang lalai sudah pasti tertolak oleh Al Quran. Jangankan untuk menghafalnya, menyentuhnya pun pasti enggan. Kondisi-kondisi buruk ini mungkin dialami oleh siapapun termasuk saya yang berada di pondok tahfidz. Saya mungkin lebih mudah mengembalikan semangat karena dikelilingi oleh penghafal Al Quran. Ahh.. Allah Maha Tahu kondisi saya, Ia sampai mendamparkan saya di tempat ini agar bisa beringsut naik menuju derajat sebagai keluarga-Nya.

Menghafal Sesuai Kemampuan

Di pondok ini, setiap santri harus menyetorkan hafalan 1 halaman. Rasanya dapat dihitung jari kemampuan saya menyetorkan hafalan sebanyak itu. Saya baru bisa menyetorkan hafalan 1/2 halaman perhari, itupun dengan terbata dan pasti ada koreksi. Kadang ada huruf yang tertukar, harokah yang salah, atau maad yang belum dibaca panjang. Walhasil, esoknya saya harus mengulang hafalan hari ini plus menambah 1/2 halaman. Begitu seterusnya. Di akhir surat, saya menyetorkan seluruh hafalan, lengkap 1 surat. Rasanya amazing ketika mampu menyetorkan hafalan surat 3 halaman secara lengkap. Mengapa? Karena saya tergopoh sebelumnya. Perjuangan sederhana mengumpulkan ayat demi ayat yang membuat hati ini bahagia menyetorkan hafalan. Photo-0036

Beberapa hari lalu saya merajuk kepada ustadzah, “kenapa saya ini, kok diulang terus. Ada aja yang kelewat.” Ustadzah hanya berkomentar, “Justru bagus, semakin banyak pengulangan, bacaanmu akan semakin halus.” Tidak jarang ustadzah menandai lubang-lubang kecil yang menjadi tempat saya keliru membaca. “Jangan sampai berkali-kali diulang hanya karena terperosok di lubang yang sama!” ujarnya. Saya terkadang iri melihat teman yang setiap hari menyetorkan 1 halaman hanya bermodal menghafal sejak sebelum subuh. Di luar itu, dia bebas beraktivitas. Itu adalah kebaikan besar dari Allah memang. Namun, rekan saya ini juga mengakui, semakin cepat hafal semakin cepat juga lupa.

Keistimewaan Al Quran itu terbukti dengan lahirnya ratusan buku motivasi untuk menjadi pecinta Al Quran. Membacanya saya perlu dihadirkan buku motivasi. Pernahkan Anda menemukan buku motivasi untuk menjadi sahabat Injil atau sahabat Weda, Tripitaka? Nampaknya tidak ada. Pantaslah jika menghafal Al Quran perlu kemauan keras. Inti dari menghafal Al Quran adalah pengulangan terus-menerus.

“Kebahagiaan menjadi penghafal Al Quran adalah interaksi yang intens dengan kalamullah, interaksi yang intens dengan Allah.”

kalimat inilah yang selalu saya pegang ketika malas atau kecewa karena terlalu sering mengulang setoran hafalan. Mana mungkin bisa hafal jika membacapun tidak. Mana mungkin bisa membaca jika memantaskan diri untuk bisa membaca Al Quran pun tidak.

Rapikan Urusanmu!

Kata ustadzah, “Kalau urusan pribadi belum rapi, pasti hafalan pun tak akan rapi.”

Jleb banget mendengar pernyataan ini. Kalau baju dilemari belum rapi, cucian masih menumpuk, kamar masih berantakaan, amanah remeh-temeh belum bisa terselesaikan, lihatlah hafalan Al Quranmu, pasti acak-acakan juga. Apalagi kalau hati masih remuk-redam, acak-acakan karena perasaan yang tidak hak ada di dalamnya, jangan berharap Al Quran mau mendekat. Semuanya sebanding, karena yang sedang dihafalkan adalah perkataan Allah, Pencipta kita. Maka semua urusan harus rapi terselesaikan demi Al Quran.

Orang yang bisa setor hafalan tiap pagi, pasti orang-orang yang rapi dalam mengatur jadwal kegiatannya tiap hari. Soal ini, aku menyaksikan sendiri ada seorang teman yang setiap jam punya jadwal yang akurat. Setiap hari hafalannya bertambah.

Alakullihal..

Wahai diri, saya tidak pernah kecewa pada kemampuanmu yang baru bisa mengumpulkan hafalan dalam jumlah yang sedikit. Tetaplah bersemangat mengalahkan dirimu sediri. Hayo beringsut, rapikan satu demi satu urusanmu! Pasti hafalanmu bertambah! Yakinlah! Pokoknya never ending memorizing Al Quran! Semoga tidak diwafatkan sebelum hafal 30 juz. Aamiin.

foto dari sini

Previous Post
Next Post
Leave a comment

25 Comments

  1. ceritanya, sedang menenangkan diri hehe…

    Reply
  2. Kalau baju dilemari belum rapi, cucian masih menumpuk, kamar masih berantakaan, amanah remeh-temeh belum bisa terselesaikan, lihatlah hafalan Al Quranmu, pasti acak-acakan juga

    Jleb banget T,T

    Reply
  3. Di Jakarta, model pesantren kayak gini ada gak teh?

    Reply
  4. Duhh iri deh ama kamu…. Mau lahhh ….

    Reply
  5. ustadzah-nya baik yaa. saya udah setahunan ini ikut kelas menghafal juga. tapi setornya 2 kali seminggu, itupun kadang cuma bisa hafal 1/2 halaman tiap kali pertemuan. tapi alhamdulillah sampai hari ini masih semangat menjalaninya🙂

    Reply
  6. saya senang dengan pemilihan kata-kata mbak, ringan tapi bermutu. saya sebenarnya lama sudah tidak menulis tapi sejak saya baca blog ini keinginan untuk menulis muncul lagi. salam kenal dari saya. btw istri saya hafidzoh doakan saya juga menyusul.”Semoga tidak diwafatkan sebelum hafal 30 juz.” Aamiin

    Reply
    • alhamdulillah.. semoga manfaat..

      Howaaah, subhanallah,,, beruntung sekali punya istri hfidzhah.. aamiin.. waiyyaya.. semoga tidak diwafatkan sebelum hafal 30 juz..

      Reply
  7. tulisan yg membuat terhenyak, sudah lebih setahun menghapal namun masih berkutat di juz 30 mungkin memang banyak urusan yg belum rapi *jleb. Alhamdulillah di ingatkan dengan membaca tulisan ini.Terima kasih yaa #tetep semangat!

    Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript

%d bloggers like this: