Berdo’a Seperti Rasulullah Saw

doa_yang_menyenangkan_allah

Kita tentu sering mendengar ada dua hal yang menjadi syarat diterimanya amal, diniatkan ikhlas karena Allah Swt, dan sesuai dengan sunnah Rasulullah Saw. Sebagaimana amalan lain, Rasulullah Saw pun memberikan contoh kepada kita bagaimana agar do’a yang kita panjatkan lekas dikabulkan oleh Allah Swt.

Pertama, Mulailah do’a dengan dzikir, memuji Allah Swt, dan Shalawat. Seperti ketika kita meminta sesuatu kepada ayah, ibu, atau siapapun, tentu hal pertama yang kita lakukan adalah menyapanya. Demikian pula yang kita lakukan kepada Allah Swt ketika menginginkan sesuatu dari-Nya. Mulailah do’a dengan mengulang-ulang asmaul husna, mengucap hamdalah, dan bershalawat. Lebih utama lagi apabila kita memulai do’a dengan membaca Al Quran terlebih dahulu. Membaca Al Quran adalah dzikir yang paling utama sebelum membaca do’a. Tentang tiga hal ini Rasulullah Saw bersabda,

Jika salah seorang di antaramu berdo’a, hendaklah dimulai dengan membesarkan Tuhannya Yang Maha Agung dan Mahamulia serta menyanjung-Nya, lalu mengucapkan shalawat atas Nabi SAW, serta setelah itu barulah ia berdoa meminta apa yang diinginkannya,” (HR. Abu Daud dan Nasai).

Memuji Allah Swt dapat kita lakukan dengan tahadus binni’mah atau mensyukuri dan menyebutkan segala karunia yang Allah Swt berikan kepada kita di hadapan-Nya. Saat berdo’a meminta kelapangan harta, kenanglah kasih sayang Allah Swt ketika kita masih bayi dan dalam keadaan lemah takberdaya. Allah Swt menghadirkan ibu dan ayah sebagai jalan rezeki kita.

Keduaperbanyak istighfar. Mengawali do’a dengan istighfar. Salah satu hal yang dapat menahan terkabulnya do’a adalah dosa-dosa kita. Nabi Adam As mengajari kita tentang bertaubat ini.

“keduanya berkata: “Ya Tuhan Kami, Kami telah Menganiaya diri Kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni Kami dan memberi rahmat kepada Kami, niscaya pastilah Kami Termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al A’raf[7]:23).

Ketiga, lakukan dengan rendah diri kepada Allah Swt dan khusyuk. Dialah Allah Swt yang menggenggam kehidupan kita. Dalam lauhl mahfudz-Nya segala hal tentang kita telah dituliskan. Sudah sepantasnya kita rendah diri dan khusyuk saat meminta sesuatu kepada-Nya. Tentang kerendahdirian dan kekhusyukan ini mari kita belajar dari Nabi Zakariya As,

dan (ingatlah kisah) Zakariya, tatkala ia menyeru Tuhannya: “Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah waris yang paling Baik. Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada kami. (QS. Al Anbiyya[21]:89-90).

Dalam do’a tersebut Nabi Zakariya As meminta keturunan yang akan mewarisinya. Walaupun ia memiliki istri yang mandul, Nabi Zakariya As tetap khusyuk berdo’a. Akhirnya Allah Swt mengaruniakan kepadanya seorang anak bernama Yahya yang kemudian menjadi nabi yang melanjutkan risalahnya.

Keempat, menghadap kiblat ketika berdo’a. Rasulullah Saw mencontohkan kita untuk menghadap kiblat ketika berdo’a baik saat berdo’a di dalam maupun di luar masjid. Ini memperlihatkan keutamaan berdo’a menghadap kiblat.

Dari Jabir ra, “Rasulullah Saw ketika berada di padang Arafah, beliau menghadap kiblat, dan beliau terus berdo’a sampai matahari terbenam” (HR. Muslim).

Kelima, melembutkan suara saat berdo’a. Apabila kita meminta sesuatu kepada atasan atau orang yang kita hormati, pasti kita akan melakukannya dengan lembut. Begitupun saat kita berdo’a kepada Allah Swt. Tidak ada satupun keperluan kita yang luput dari kekuasaan Allah Swt. Hanya kepada-Nya segala urusan kita bergantung. Kepada manusia saja kita bisa bersikap lembut saat meminta. Kepada Allah Swt tentu harus lebih baik lagi. Dalam Al Quran disebutkan,

“(yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhan kamu kepada hamba-Nya, Zakaria, Yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut,”(QS. Maryam[19]2-3).

Keenam, mengulang-ulang do’a. Mengulang-ulang do’a adalah salah satu pertanda bahwa kita semangat membaca do’a tersebut. Ini juga adalah pertanda bahwa kita tidak mudah putus asa atas rahmat Allah Swt.

Ibn Mas’ud bahwa Rasulullah Saw mengulang do’anya tiga kali setiap berdo’a “Dan apabila beliau meminta kepada Allah, beliau mengulangi tiga kali,” (HR. Muslim).

Ketujuh, yakin bahwa do’a akan terkabul. Keyakinan akan dikabulkannya do’a adalah modal utama saat seorang hamba berdo’a. Keyakinan tentang terkabulnya do’a benar-benar perbuatan hati. Akal biasanya menjadi pihak yang berusaha mendatangkan keraguan.

Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah Saw bersabda: “Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin bahwa do’a kalian akan dikabulkan. Ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan do’a dari hati yang lalai.” (HR. Ahmad).

Keraguan biasanya datang dari pikiran pesimis yang muncul setelah melihat pengaruh dari luar diri kita. Misalnya ketika kita berdo’a untuk lulus tes bekerja di sebuah pekerjaan. Banyaknya saingan biasanya membuat kita kecil hati dan takut tidak lulus. Kemampuan-kemampuan saingan kita biasanya didramatisasi otak dan membuat kita khawatir gagal. Biasanya kondisi hati yang lalai dari bergantung kepada Allah Swt yang akan mengalami hal ini.

Saat hati tidak lalai, kepercayaan dan keyakinan atas pertolongan Allah Swt pasti selalu terjaga. Tidak akan ada keraguan sedikitpun tentang Kemahaberkehendakan-Nya. Ia Yang Maha Mengabulkan do’a orang-orang yang yakin kepada-Nya. Keyakinan ini tidak boleh meleset sedikitpun. Sedikit saja kecemasan tidak terkabulnya do’a datang pada hati kita, maka keyakinan kita telah ternodai. Dengan demikian, yakin saya bahwa Allah Swt pasti mengabulkan do’a kita selama kita sudah berikhtiar maksimal.

Kedelapan, tidak terburu-buru menginginkan pengabulan. Kebiasaan terburu-buru ketika menginginkan pengabulan do’a biasanya berasal dari syahwat kita tentang sesuatu. Yang harus dihindari adalah keinginan kita untuk segera dikabulkan do’a hingga akhirnya kita justru mendikte Allah Swt tentang keinginan kita. Perasaan terburu-buru ini tentu berbeda dengan keyakinan bahwa do’a akan dikabulkan. Orang yang yakin tetap berserah kepada-Nya sedangkan orang yang terburu-buru cenderung memunculkan ambisi akan do’anya. Hati-hati dengan perasaan terburu-buru ini, karena  Rasulullah Saw bersabda dalam haditsnya:

Dari Abu Hurairah Ra, “Do’a para hamba akan dikabulkan, selama tidak berdo’a tentang dosa atau memutus silaturrahim, dan selama dia tidak terburu-buru. Para sahabat bertanya: Ya Rasulullah, apa yang dimaksud terburu-buru dalam berdo’a? Rasulullah Saw bersabda: “Orang yang berdo’a ini berkata, Saya telah berdo’a, Saya telah berdo’a, dan belum pernah dikabulkan. Akhirnya dia putus asa dan meninggalkan do’a” (HR. Muslim dan Abu Daud).

*Dikutip dari buku Berdo’alah Niscaya Kukabulkan karya K.H. Abdullah Gymnasiar

Leave a comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript

%d bloggers like this: