Like Cinderella Story

Kejadian ini hampir setiap sepekan sekali aku alami, atau boleh jadi setiap hari jika  pada waktu itu aku pergi keluar asrama dan pulang larut malam. Sebelumnya maaf pemirsa, jika ceritaku taksesuai dengan ekspektasimu soal Cinderella Story.

Setiap Senin, atau hari lain yang menggantikan Senin (jika aku takbisa datang ke kantor Senin), aku berangkat ke kantor sejak pukul 5.30 Wib. Kantorku di Daarut Tauhiid, dan asramaku di Riung Bandung. Jika macet, perlu waktu 2 jam perjalanan untuk sampai ke kantor. Karena macet adalah rutinitas, maka setiap hari aku menghabiskan waktu 2 jam, atau 1,5 jam untuk berangkat atau pulang kantor.

Bekerja di Daarut Tauhiid memang menyenangkan, makanya takpernah terpikirkan nasibku yang bagai Cinderella. Bila sore tiba, aku biasa pulang pukul 17.30 wib. Itu tandanya aku akan sampai di Riung Bandung minimal pukul 19.00 wib atau 19.30 wib. Yang selalu aku lupa, batas maksimal angkot melintas ke pintu gerbang daerah Riung Bandung adalah pukul 19.30 wib. Lebih dari itu, kita harus naik ojek dan membayar ongkos Rp. 5000,- atau Rp 6000,-

Hari itu aku sampai di jalan Soekarno-Hatta (Jalan 4 jalur yang rawan macet ) pukul 19.15 wib. Aku berpikir, “mungkin gak ya angkot ini bisa sampai ke Riung Bandung dan melintasi pangkalan ojek dalam waktu 15 menit? Aaah.. sudahlah, setiap keputusan Allah pasti baik, biar Dia yang tetapkan.” Akhirnya kuputuskan untuk taksekali-kali lagi membuka hanphone dan melihat jam.

Mobil melaju kencang. Sampai di depan jalan menuju Al Ghifari (bersebrangan dengan pintu gerbang Riung Bandung) ada angkot Cadas-Cibiru yang ngetem. Angkot kami membunyikan “klak sound” berkali-kali. Akhirnya seorang penumpang yang duduk di depan berkata, “Ayo maju aja, sebentar lagi pukul 19.30 wib.” Huffh, memang setiap orang yang ada di angkot itu ketar-ketir, berharap angkot melewati pangkalan ojek sebelum pukul 19.30 wib.

Supir angkot menuruti pekataan ibu-ibu tersebut. Ia langsung berbelok dan menerjang kemacetan. Etapiiii, baru beringsut 5 meter, seorang lelaki yang tentu tidak tinggal di Riung Bandung berkata, “kiri” tanda dia meminta supir menghentikan angkot. Hatiku berkata, “kenapa gak dari tadi turunnya! wong jaraknya gak terlalu jauh.” Akhirnya angkot berhenti, dan penumpang yang turun itu mengeluarkan uang yang harus diberi kembalian. Makan waktu lagi!

Setelah lelaki itu turun, supir menancap gas. “klak sound”nya dibunyikan terus-menerus agar jalan terbuka lebar. Akhirnya kami mulai memasuki pintu gerbang Riung Bandung pukul 19.31 wib. Aku sadar, jamku tidak sedikitpun ditambahkan menitnya. Berarti waktu pada jam handphoneku memang sudah sangat tepat. Kami melintasi pangkalan ojeg dengan selamat. Tiba-tiba setelah itu seorang lelaki kembali berkata “kiri” dan kembali memberikan uang yang harus diberi kembalian. Mungking sang supir menghitung dan memberikan kembalian butuh waktu 2 menit. Setelah itu angkot kami mulai melaju. Tiba-tiba terdengar teriakan “waktu habiiis! waktu habiiss!” Hal yang takkami sadari, di gerbang Riung Bandung terdapat 2 pangkalan ojek.

Akhirnya aku dan penumpang lain terpaksa turun.  Hatiku berkata, “Ya, aku turun, tapi aku nggak akan naik ojek. Daripada bayar ojek Rp 6000,- mending jalan kami, beli makanan atau minuman ringan seharga Rp 6000,- Sampai di asrama bisa dimakan.” Akhirnya aku meninggalkan angkot yang berhenti tepat di depan pangkalan ojek. Malam itu langit cerah, takada hujan, aku bisa berjalan kaki. Tiba di sebuah perempatan, aku membeli minuman ringan sebagai hadiah untuk diri sendiri karena telah berjalan kali. Jalan kali malam hari sendirian memang takterlalu menyenangkan, tapi dari gerbang ke asrama takterlalu menguras energi jika dijalani sambil memikirkan jurnal ini *ahahah!

Setiba di asrama, teman sekamarku berkata, “teteh jalan kaki lagi?” “Ya, ini beli minuman buat hadiahnya.” “Teh itu lebih sayang perut daripada kaki.” Aku cuma tersenyum, sambil berpikir, “Aku percaya kakiku kuat berjalan jauh, walaupun selalu menggunakan wedges 5cm. Menggunakan wedges sebagai sendal sehari-hari adalah putusanku, dan risikonya pasti harus aku terima, dan aku kuat.” Aku takpernah melepas sandal wedgesku, apalagi kehilangannya sebelah. Wedgesku masih untuk sampai saat ini.

It’s my daily time. Kalau pulang kemaleman, rasanya pukul 19.30 wib menjadi waktu yang menyeramkan. Pulang lebih awal memang solusi paling tepat, tapi kalau udah ada di Daarut Tauhiid, nggak pernah terpikir batas waktu yang membuatku harus naik ojek. Mungkin aku bahagia bekerja di sana.[]

*100% Curhat :D

Leave a comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript

%d bloggers like this: