DOA : PENGGENAP USAHA DAN UPAYA

Setiap orang pasti pernah berdoa selama hidupnya. Memohon segala sesuatunya kepada sang Khalik. Aku pun begitu. Kurasa, sahabat yang sedang membaca cerita ini, juga demikian.

Usaha keras yang tidak digenapi doa pada Yang Kuasa, pasti tidak akan menghasilkan apapun. Disisi lain kita dituntut untuk bersabar dalam menanti pengabulan doa. Tetap bertawakal, namun juga berusaha dan berupaya untuk mencapainya. Selanjutnya, terserah Allah. Segenap kemampuan telah kita kerahkan, tinggal garis nasib menentukan. Ada kalanya kita langsung berhasil mendapatkanya dalam sekali usaha, namun terkadang kita harus tegar menanti jawaban sang doa. Ya, aku pernah mengalaminya, sahabat.

 

Rela membanting tulang, bahkan hingga remuk. Tapi, tetap aku belum berhasil meraih impianku. Menjadi Si Nomor Satu. Ya, tidak peduli seberapa keras aku berusaha mengeluarkan semua kemampuan terbaikku untuk menjadi Si Nomor Satu, aku selalu gagal. Tiga tahun. Itu adalah waktu yang kulalui dan kunikmati bersama kegagalanku menjadi Si Nomor Satu. Akulah Sang Runner-up Girl. Hari- hari memang kulalui bersama rasa sakit, namun tidak dengan keputus-asaan.

 

Dimata luka , doa adalah kabut tipis yang menyelimutinya,

menenangkan dan juga menyamarkan…

 

Aku percaya, akan datang hari dimana aku akan melihat senyum bangga Bunda padaku. Aku selalu percaya, hari itu akan tiba. Maka aku selalu berusaha memberikan yang terbaik. Pada tahun terakhir yang kujalani di SMP, aku berjuang sekuat tenaga. Ikhtiar kulakukan dengan sepenuh-penuh kesabaran. Berangkat pukul 6 pagi dan baru beranjak pulang pukul 6 sore. 12 jam dihabiskan untuk sekolah, les dan bimbingan belajar. Banyak sekali rintangan dan godaan menyertai langkah kaki. Membolos, kabur les tambahan bahkan rasa lelah dan penat yang menghantui pikiran. Istighfar, hanya itu yang kulakukan setiap ada niat buruk terlintas di kepala. Demi menjadi sang nomor satu, batinku memberi semangat.

Aku sering didera kelelahan yang luar biasa. Pernah suatu hari, aku benar-benar terkapar tak berdaya selepas shalat maghrib. Namun, aku mencoba untuk tidak menyerah dan manja pada keadaan. Niat yang ikhlas pun dijabah oleh-Nya. Keesokkan harinya aku langsung pulih dan tetap berangkat sekolah seperti biasa.

Seringkali kepalaku terasa sakit bagai ditekan beban berat. Ya, mengolah ratusan soal dalam sehari demi persiapan Ujian Nasional bukan perkara mudah. Butuh konsentrasi, niat dan kemauan. Jadilah aku berjuang menahan segenap sakit, penat dan lelah luar biasa. Man shabara zhafira. Siapa bersabar maka ia akan beruntung. Karuniakan aku samudra kesabaran Ya Allah. Tekadku bulat. Aku harus menjadi Si nomor satu, bukan lagi sang Runner-up Girl. Hari berganti bulan, detik-detik “ujian di atas ujian” semakin dekat. Aku semakin mencurahkan segala perhatianku untuk fokus belajar. Rasanya sungguh berat, melepaskan hari-hari bebas, bersantai dan bermain. Tapi sekali lagi, ini adalah jembatan menuju pulau mimpi yang susah payah kubangun jalannya sedikit demi sedikit selama 3 tahun.

Singkat cerita, minggu ujian pun tiba. Bismillah, aku melaluinya dengan semangat dan mencoba mengerahkan sisa-sisa puing ingatan selama aku belajar di SMP. Ya Allah, tolonglah aku. Ya Allah, berkahi ilmuku. Berulang-ulang aku mengulangi mantra “Man Jadda Wajada” –siapa bersungguh-sungguh, ia akan berhasil, dalam hati.

2 Juni 2012, Pengumuman kelulusan.

Gelombang siswa memadati lapangan sekolah bak ribuan semut yang saling berbaris. Suara-suara dengungan bak lebah hutan mulai bersahutan berdesas-desus gelisah menanti pengumuman penentuan. Aku mengeratkan kepalan tanganku yang semakin terasa dingin. Ya Allah, apapun hasilnya, aku siap menerimanya. Aku sudah berikhtiar dan berdoa sebanyak yang kumampu. Keputusannya terserah pada-Mu saja Tuhanku. Aku yakin kau lebih tahu yang terbaik untukku.

 

Pengumuman kelulusan. Juni 2010

“Peringkat pertama ujian tahun ini adalah. . . “

Aku maju selangkah kedepan. Membayangkan dan meresapi.. Nama itu, aku. 2 tahun lagi.

“Peringkat ketiga Ujian tahun 2012 adalah… Rina!”

Rina, temanku yang sedari tadi berdiri disampingku, tersenyum, menepuk pundakku dan beranjak menuju podium. Aku semakin menundukkan kepala. Bagaimana nasibku? Jantung mulai berdentam-dentam dengan tempo kian cepat, peluh mulai membasahi pelipisku yang gugup. Peringkat kedua, Niko, kawan baikku juga. Aku sudah nyaris putus harapan. Kemungkinan hanya 10% untuk aku meraih peringkat pertama. 3 tahun aku berusaha dan hanya bisa berakhir ada posisi Runner-up. Aku menunduk dalam diam dan perlahan menyeret kakiku meninggalkan lapangan. “Mau kemana?” Dani, sahabatku menahan langkah kakiku. Lalu aku batal pergi dan mendengarkan sisa pengumuman dengan penyesalan memenuhi relung hati. Bagaimana bisa aku seyakin itu kemarin? Sejauh mana usahaku? Apa yang harus aku lakukan bila semuanya hancur, tidak ada dalam 10 besar bahkan tidak lulus?

“Peringkat pertama tahun ini adalah pemilik nomor ujian 09-090-007-2!!!” seru Pak Sikumbang. Aku diam saja. Menghela nafas berat sambil menatap hampa paving blok yang menjadi alas lapangan. Sedetik kemudian Dani menepuk pundakku, “Hei! Maju kedepan! Itu ‘kan nomor bangku mu!” “Hah? Benar?” aku terlongo tak percaya dengan wajah bodoh yang bingung. Aku lupa nomor ujianku! Tetapi aku segera tersadar dan percaya setelah Pak Sikumbang menyebutkan pemilik nomor itu.. “Elsa Virna Renata!!! Selamat, siswa terbaik tahun ini! Peringkat pertama se-Kota!”

Perlahan wajah bingungku dihapuskan senyum yang merekah lebar di bibirku. Akulah si nomor satu! Lenyap sudah kutukan Runner-up Girl. Terimakasih Ya Allah. Sungguh Engkau yang berkuasa atas isi langit dan bumi.

 

Ya, Tuhan selalu punya rencana.

Apa sebab doa tak lekas terkabul? Karena, telah banyak hal yang TIDAK KAU MINTA, namun telah diberikan Tuhan.

 

Tuhan mencintai orang yang berjuang dan berusaha meraih sesuatu. Tinggal digenapkan dengan doa mengharap ridho-Nya. Maka Kun fayakun. Jadilah semua yang dikehendaki. Man yazra’ yahsud. Siapa menanam ia menuai.

Tertebuslah perjuanganku berlelah-lelah selama 10 bulan, dibayar dengan jabat erat tangan Kepala Sekolah dan seluruh Guru. Dan aku berhasil, mendapatkan senyum Bunda!

 

Oh, Bunda. Hanya untuk melihat senyum banggamu aku rela menukarkan segala isi dunia. Hanya dengan satu senyumanmu, aku mampu menggenggam dunia di tanganku. Akhirul kata, ALHAMDULLILAH.

 

Penulis:

Nama : Elsa Virna Renata
Twitter : @rnvr

blog: http://renataddicted.blogspot.com

Katanya Elsa mau kenang-kenangan Karakter BaKu by AaGym :)

Previous Post
Next Post
Leave a comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript

%d bloggers like this: