Menjadi Pemenang

with izzatu jannah

Foto bareng Mbak Izzatu Jannah [juri utama]

Februari udah kelewat jauh, tapi aku ingin sedikit bercerita soal pengalamanku jadi pemenang lomba menulis di Indonesian Muslimah Fest. Kemenangan ini adalah kado pertama yang Allah berikan di tahun 2013 buatku.

Sebetulnya aku bukan termasuk orang yang suka ikutan lomba. Kalaupun ikut lomba, aku selalu memperhatikan dulu hadiah yang mungkin aku dapet. Ramadhan 2011 aku pernah ikut lomba cerita berantai di multiply, hadiahnya HP canggih *lupa mereknya* Waktu itu aku serius ikutan, sampe masuk 10 besar. Di final aku kalah, dan kayaknya cuma karena kalah cepat dibanding finalis lain. Lomba terahir yang aku ikuti adalah lomba menulis tentang xenophobia 2012 yang diadain sama mbak Lessy. Ngenes banget juga gak menang. *Secara Pak Iwan dilawan hehehe..

Akhir Oktober 2012 kalo gak salah lomba menulis essay dan cerpen di Indonesian Muslimah Fest digelar. Aku jelas tahu kalau aku nggak bisa banget bikin cerpen (apalagi novel). Aku putusin ikut yang essay aja. Sebuah essay 6 halaman bisa ditukar dengan sebuah netbook, lumayan bukan?! *matre banget siy gw! Sebelum memutuskan menulis, aku cek dulu ke panitia. Kriteria tulisan terbaik kayak gimana. Kalau kemenangan dinilai dari jumlah like dan komen di FB atau blog, aku nyerah. Soalnya, aku paling nggak bisa ngobrol di jurnal atau di status jejaring sosial manapun. *unin pemalas*

Hmm.. nampaknya lomba essay ini melengkapi jodohku dengan hijab style. Awal tahun 2012 kakak kelas menyarankan fashion muslimah sebagai topik tesisku. Aku nggak mau dan keukeuh mempertahankan topik “politik orde baru” dalam puisi Taufiq Ismail sebagai calon tesisku.  Namun, ternyata waktu dapet mata kuliah Seminar Topik, embrio tesisku dibombardir sama dosen. Aku diminta loncat dari puisi ke fashion. Agak jungkir balik juga siy mikirnya, tapi karena kritik terhadap fashion muslimah dan hijab style ada maslahatnya buat dunia muslimah, aku putuskan untuk mencoba.

Sebelum lomba essay ini digelar, aku sudah mulai mengakrabi buku teori dan gambar-gambar yang berkaitan dengan hijab style. Sebetulnya, awalnya aku termasuk orang yang hitam-putih menilai hijabers. Tapi sebagai mahasiswa kajian budaya, aku nggak boleh komen sembarangan *apalagi di depan dosen* karena hijab style adalah fenomena kebudayaan dalam fashion muslimah. Yowis, akhirnya aku menulis menggunakan beberapa buku kajian budaya.

Kalau dibaca dari sisi kajian budaya, essayku sesungguhnya masih sangat mentah. Setiap paragraf bagaikan peluru yang ditembakkan ke segala arah. Kalau di tesis, essayku ini baru latar belakang penelitian. Aku pengen ngejelasin panjang lebar, tapi panitia membatasiku dengan 6 halaman A4 maksimal. Ya sudah, akhirnya aku optimalkan jatah menulisku, aku persingkat, dan aku hilangkan bagian-bagian yang memungkinkan pembaca berpikir secara bercabang.

Kalau dilihat, komentar-komentar teman sejurusan soal jurnalku, mereka mengkritik habis. Bahkan ada yang ngaku nggak ngerti sama sekali ide tulisanku. Baca saja komentar-komentar di sini, pasti taksemua mengatakan bagus. Yang aku suka dari komentar mereka adalah budaya diskusi. Ada ide yang mereka lontarkan, tidak hanya pujian atau cacian, tapi juga bahan baru yang membuat aku bisa mengembangkan essay ini jadi tesis.

H-1 pengumuman, aku dapet sms dari panitia bahwa aku jadi salah satu pemenang. Kebetulan aku dateng ke Muslimah Fest buat ngeliput. Girang banget rasanya bisa menang. Akhirnya request do’a ke temen-temen mulai dikencengin *halah. Pesennya emang pengen jadi juara 1. Jadi, essayku menang berkat do’a temen-temen juga.

Waktu dikomentari oleh Mbak Izzatu Jannah, beliau berkata “Dari seluruh essay yang masuk, nggak ada yang idenya baru. Semua idenya lama. Hanya tentang hijab style dan aturan berjilbab yang dibenturkan. Itukan idenya sudah sangat lama dan standar,” Berita baik beliau soal essay saya ada pada kalimat, “Juara 1 lomba essay boleh lah dikategorikan sebagai jurnal ilmiah.” Waktu denger kalimat itu, yakinlah diri ini bahwa aku pemenangnya. *PD tingkat Dewa*

Lomba-Nulis-600x350

pembagian hadiah. kata MC siy yang ngirim naskah sampe 200 orang

Waktu diumumin, Alhamdulillah akhirnya essayku jadi juara pertama. Yang di luar dugaan, ternyata juara 1 lomba cerpen pun adalah adik kelasku dari Sastra Inggris. FIB Unpad TeOPe BeGeTe daah.. Waktu foto-foto sama Mbak Izzatu Jannah, beliau sempat berbisik, “Linda, tulisannya bagus.” Hmm.. baiklah berarti tulisanku nggak jelek-jelek amat. Setelah foto-foto, aku pulang karena hari itu adalah jadwal piket masak.

Setelah dapet netbooknya, hikmah yang aku dapat siy: mengikuti lomba menulis sama dengan mengalahkan diri sendiri. hadiah berupa benda bukan tujuan utama. Yang terpenting adalah produktivitas kita menulis dan menyampaikan gagasan baru. GAGASAN BARU! *Lirik tulisan yang kebanyakan curhatan* =))

Ini dia hadiahnya [ yang udah sold out] hehehe….

tampak-depan

tampak-belakang

PS: Ini dia essayku part 1 dan part 2 | Dibahas sama Mas Iwan bikin follower bertambah hehe..

Previous Post
Leave a comment

12 Comments

  1. selamat!!🙂

    Reply
  2. Selamat ya mba🙂

    Reply
  3. Selamat ya Rin :0

    Reply
  4. kereeeeennnnnn,😀

    Reply
  5. Wow…
    Mahasiswa berprestasi ternyata….
    Jangan sebut lagi kata ‘beruntung’ :s

    Dah jd Seleb dong???😀

    Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript

%d bloggers like this: