What Should You Do On Waiting!

waiting

By Tere Liye

Ini selalu saja menjadi pertanyaan banyak orang. Bagaimana sebaiknya menunggu sesuatu? Bagaimana berharap sesuatu? Apa yang harus dilakukan saat menunggu? Apa yang harus dikerjakan saat berharap? Bagaimana kalau ternyata hasilnya sia-sia, mengecewakan?

Saya tidak punya jawaban pastinya; tulisan ini hanya menawarkan beberapa konsep atau pemikiran yang mungkin bisa digunakan sebagai penjelasan, lantas membentuk pemahaman baik. Saya selalu menyukai pendekatan ini, temukan beberapa pemikirannya, jadikan dia kaki-kaki pondasi, lantas baru bangun pemahaman yang kokoh.

Setidaknya ada tiga poin pemikiran dalam mengelola proses menunggu dan berharap. Here we go:

1. Kita tidak pernah tahu mana yang baik, mana yang buruk.

Ini pondasi paling mendasar. Ditegaskan berkali-kali dalam banyak rujukan. Tapi Bang Tere, saya ingin sekolah di situ, ingin kuliah di sana, saya ingin dia jadi jodoh saya, ingin pekerjaan itu, ingin hasil tersebut. Well, itu manusiawi, namanya juga keinginan. Namun sungguh, kita tidak pernah tahu mana yang baik, mana yang buruk. Bahkan dalam kasus ekstrem, kita harus berangkat naik pesawat, menjenguk Ibu di kampung halaman, sudah menunggu lama, pesawatnya delay, sudah ditunggu lebih lama lagi, pesawatnya malah cancel. Secara kasat mata, berangkat naik pesawat, menjenguk Ibu, itu baik buat kita. Tapi apakah demikian? Belum tentu. Boleh jadi delay-cancel tersebut menyelamatkan nyawa kita, karena di perjalanan ternyata terjadi bencana.

Nah, apalagi dalam urusan menunggu jodoh misalnya, berharap pada seseorang. Mau dia tampan pol macam anggota boyband, baik hati maksimal seperti Poh si kungfu panda, kaya, dsbgnya, dstnya, kita tidak pernah tahu mana yang baik, mana yang buruk. Boleh jadi pernikahan tersebut malah berantakan, kacau balau.

Pun sebaliknya, untuk hal-hal buruk yang tidak kita harapkan. Kita sudah berharap habis2an lulus kuliah di sebuah kampus; sudah menunggu pengumuman, ternyata tidak diterima. Sedih? Marah? Ayolah, siapa yang bilang tidak diterimanya kita tersebut berarti kabar buruk? Kita saja yang mendefinisikannya demikian. Apalagi saat ujian PNS, teman2 di terima, kita tidak, siapa bilang itu kabar buruk? Kita tidak pernah tahu mana yang baik, mana yang buruk. Pondasi ini harus dalam sekali, tidak bisa digoyah-goyah oleh urusan kecil.

2. Bukan hasilnya, tapi prosesnya.

Nah, pondasi pemikiran kedua adalah: selalu pentingkan prosesnya. Bukan hasilnya. Bicara tentang proses, maka jelas dia melingkupi dari awal hingga akhir. Ujung ke ujung. Ketika orang hanya fokus ke hasil akhir, mudah sekali dia akan kecewa. Menyalahkan orang lain. Tapi saat dia fokus ke prosesnya, kalaupun kecewa, ya tidak terlalu amat.

Kita sudah belajar mati2an untuk lulus SNMPTN, gagal. Nah, lihat prosesnya. Kita sudah belajar; boleh jadi ilmu tersebut berguna untuk tes di kampus lain yang ternyata lebih baik. Kita sudah menunggu bertahun2 seseorang, lihat prosesnya, apa yang kita lakukan saat menunggu? Tidak akan kecewa kalau kita menggunakan seluruh waktu tersebut untuk terus memperbaiki diri. Toh hasil tersebut juga kita tidak tahu baik atau buruk; tapi dengan proses yang dijalani dengan baik hingga ke ujung, kita masih punya sesuatu.

3. Berharaplah kepada yang maha tempat semua pengharapan bermuara.

Pondasi pemikiran ketiga yang melengkapi kaki-kaki konsep ini adalah kepada siapa kita berharap? Kepada siapa kita menambatkan proses menunggu tersebut? Saya tidak akan panjang lebar membahasnya, silahkan direnungkan dengan panjang lebar saja. Baca berulang2 kalimat ini, sambil memejamkan mata: Berharaplah kepada yang maha tempat semua pengharapan bermuara.

Dengan ketiga pondasi ini, maka pertanyaannya sekarang adalah apakah kita perlu jawaban bagaimana menunggu dan berharap yang baik? Saya rasa tidak. Kuasai tiga pondasinya, maka dengan sendirinya akan tumbuh pemahaman baik yang kokoh.

*Sebagai pemilik waiting room, tulisan ini harus aku camkan🙂

Previous Post
Leave a comment

20 Comments

  1. *Mampir ke “Waiting Room” dan rehat sejenak di sini*
    Lho katanya “waiting room” ini sudah berakhir di tahun 2012, dan selanjutnya menulis di “doalangit”

    Reply
  2. Betul, nikmatilah proses menunggu dengan membangun pertumbuhan dalam diri (character building).

    Reply
  3. Tere Liye selalu menyentuh dalam kesederhanaan ya

    Reply
  4. tere liye, tulisannya galau2 mencerahkan…

    Reply
  5. ini tulisan Tere liye dibuku mana jeng. Aku ngefans banget je sama dia

    Reply
  6. What or Who ?🙂

    Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript

%d bloggers like this: