Ya, Aku sedang memenuhi panggilan-Nya untuk berjilbab

wartawan perempuan
Tahun 1999, waktu itu orang-orang berkata bahwa kiamat akan terjadi pada hari ke 9, bulan ke 9 tahun itu. Pada tahun itulah aku mulai mengenakan jilbab. Pada satu tahun sebelum perayaan milenium kedua itu, aku mulai masuk SMP. Di rumah kami ada 2 orang yang mulai melangkah ke sekolah menengah, aku dan sepupu perempuanku. Waktu itu, ibuku yang tinggal di Denpasar bertanya lewat surat, “Perlu kain berapa meter buat seragam sekolah?” Aku membalas surat itu dengan rincian kain yang diperlukan untuk membuat seragam sekolah rok pendek dan baju pendek.

Berbeda denganku, sepupuku justru memilih untuk membuat seragam SMP versi lengan panjang dan rok panjang. Waktu itu aku agak heran. Bagiku yang dibesarkan di Denpasar -minoritas Islam- seragam siswa SMP adalah baju pendek dan rok pendek. Seragam lengan panjang dan rok panjang hanya dipakai oleh siswa yang sekolah di MTs saja. Namun, keherananku itu aku simpan saja. Takpenting juga aku sampaikan kepada orang lain.

Singkat cerita, aku mulai menjalani sekolah di kelas 1 SMP. Waktu itu aku duduk di kelas 1-1, sekelas dengan sepupuku. Seperti biasa, siswa SMP pasti punya temen satu gank kan. Nah, waktu itu aku 1 gank ber 4.  Dua di antara kami menggunakan seragam panjang. Entah ada angin apa, mungkin itulah yang dinamakan kehalusan Allah membisikkan hidayah, aku ingin mencoba seragam model panjang. Senin sampai Kamis aku memakai seragam pendek. Jumat dan Sabtu aku memakai baju seragam pramuka panjang milik temanku. Untuk mencicipi jilbab pertama kali waktu itu, aku harus bertukar baju dengan temanku. Belum lagi badanku yang lebih kecil dari teman-teman yang lain. Rok milik temanku itu aku lipat berkali-kali agar cukup di badan. Subhanallah, inilah yang disebut sebuah kebiasaan yang takbiasa.

Berpinjam baju seragam aku lakukan beberapa pekan. Belum lagi baju olah raga yang semuanya hanya ada versi pendek. Aku menggunakan baju lengan pendek -tanpa memakai manset- dan menggunakan celana tiga perempat. Untuk menutupi aurat, kaos kaki aku naikkan sampai ke atas. Betapa lucunya kostumku waktu itu bukan? Jujur, waktu itu aku belum paham bahwa berjilbab itu adalah kewajiban -walaupun saat itu aku sudah baligh- Aku belum paham bahwa berjilbab itu harus menutupi seluruh tangan dan kaki. Makanya, aku cuek bebek menggunakan baju lengan pendek ketiga berolah raga.

Setelah nyaman dengan seragam panjang, karena takmungkin meminjam seragam orang lain yang kedodoran, akhirnya aku meminta seragam baru kepada ibu. Akhirnya dalam beberapa bulan setelah meminjam seragam teman lain, aku bisa menggunakan seragam panjang milikku sendiri.

Tantangan takberhenti di sana. Bagian lain yang masih aku ingat adalah pengalamanku mengikuti ekskul basket. Memakai jilbab saat pelajaran olah raga saja sudah merupakan sebuah ketakbiasaan, apalagi ketika mengikuti ekskul dan itu adalah bakset, makin takbiasa. Masih teringat waktu aku menelpon mama -waktu itu masih di wartel- Aku sampai harus bernegosiasi untuk membeli kerudung langsungan/ kerudung bergo untuk tetap berjilbab ketika basket. “Iya, beli aja kerudung langsungan, nanti mama kirim uangnya,” ujar mama dari Denpasar sana. Sebetulnya tujuanku menelpon bukan hanya ingin meminta jilbab baru, tapi ingin meminta kekuatan keyakinan tambahan dari mama. Waktu itu mama belum berjilbab, tapi tetap menyemangatiku untuk konsisten berjilbab ketika mengikuti ekskul bakset. Masih teringat panggilan teman-teman lelaki ketika kami berlatih “Labaik! Labaik!” Nama itulah yang mereka berikan kepadaku. Labaik artinya aku memenuhi panggilan-Mu. Kalau aku bisa kembali ke masa itu, aku akan berkata “Ya, aku  sedang memenuhi panggilan-Nya untuk berjilbab.”

sampai di puncak
Sekarang, takada masalah dengan jilbab. Jadi wartawan perempuan, atau mendaki sampai puncak gunung Burangrang dengan kostum lengkap (jilbab dan rok) juga AKU BISA ^^9.

*mau ikutan lomba, tapi telat. akhirnya posting di sini. tetep intinya narsis foto*

Leave a comment

7 Comments

  1. semangat🙂

    Reply
  2. Aku br tw jilbab itu wajib bahkan baru pas awal S1..😦

    Reply
  3. aku gak akan pernah pake jilbab!
    #sikap

    Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript

%d bloggers like this: