Cerita tentang Yang Pendek #SGA

OLEH SENO GUMIRA AJIDARMA

• Judul Buku: Terima Kasih, Anakku

• Penulis: Rayni N Massardi

• Penerbit: Padasan, Ciputat

• Cetakan: 2012

• Tebal: xvi + 172 halaman

• ISBN: 978-602-19280-5-9

Seno Gumira Ajidarma

Bukunya kecil, isinya pendek-pendek. Namun, panjang atau pendek tentu bukan ukuran mutu. Jadi apa ukurannya? Inilah masalahnya. Setiap kepala yang membaca dan menilai punya ukurannya masing-masing sehingga hasil penilaian bisa saling bertentangan.

Nah, apakah mengukur dan menilai itu memang begitu perlu? Kalau tidak perlu mengukur dan menilai, tetapi membacanya saja bagaimana? Betapapun, rupa-rupanya, mengukur dan menilai tak terhindarkan, ketika ukuran dan nilai memang telanjur ada.

Coba kita periksa buku Rayni N Massardi ini. Dari judulnya, Terima Kasih Anakku: Kumpulan Cerita, terjelaskan bahwa isinya tentu sejumlah cerita. Sampai di sini saja sudah dapat dipertanyakan, cerita dalam pengertian apa? Cerita dalam pengertian gagasan atau cerita dalam pengertian alur? Kodok mati adalah cerita, kodok mati karena terlindas stoom adalah alur. Namun kalau yang dimaksud dengan cerita adalah gagasan saja, apakah perlu dibukukan lantas dijual? Kalau filsafat, memang tentang gagasan, tapi tak disebut cerita tentunya; kalau cerita, tentu tak mengandalkan gagasannya, karena ada pendapat, “Tak penting temanya besar atau kecil, yang penting cara berceritanya.” Cara? Mungkinkah maksudnya seni bercerita? Kita tengok saja.

Gembira!

Rasa senang sekali, selalu saya hindari. Karena selalu ada sesuatu di balik kegembiraan. Ada sebuah misteri yang setiap saat bisa terkuak.

Dan kalau itu terbongkar, akan mental-lah kita ke sana-ke mari bak lontaran bongkah es! Ih, dingin! Makanya waktu sudah tampak gelagat akan senang, saya selalu siap ancang-ancang untuk lari kencang!

Mengingat keterbatasan ruang, saya kutip yang cukup pendek, meski ada yang lebih pendek. Di manakah, atau adakah, “seninya”? Tentu ada perbandingan: “kisah-kisah telapak tangan Kawabata”, puisi prosa Solzhenitsyn, dan tentu saja “cerita” Sapardi Djoko Damono, seperti terdapat dalam Pengarang Telah Mati. Untuk diketahui, Sapardi adalah penerjemah Kawabata dan Solzhenitsyn dari bahasa Inggris, padahal masing-masingnya menulis dalam bahasa Jepang dan Rusia. Artinya, gejala penulisan cerita-sependek-mungkin ini sudah membentuk tradisinya sendiri. Namun jika dalam hal Kawabata merupakan “konversi” haiku, dan dalam hal Solzhenitsyn lahir dari keterpenjaraannya di gulag pengasingan Siberia, yang sebagai produk susastra lantas mendorong penulisan Sapardi, apakah ujung-ujungnya mendorong pula penulisan Rayni?

Lebih baik dibandingkan saja, misalnya “Bis Jemputan Sekolah” karya Sapardi. Cerita dan bahasa seolah tidak istimewa. Namun menjadi lebih dari biasa ketika naratornya ternyata bus sekolah itu. Nah, ada “seninya”! Bukan dalam bahasa, melainkan sudut pandang. Mundur ke belakang, Kawabata dan Solzhenitsyn memperlihatkan ketenangan luar biasa, ibarat permukaan danau yang dapat digunakan untuk berkaca. Dengan kata lain, format yang pendek terbentuk bukan karena menghemat atau kehabisan tinta, melainkan konstruksi faktor determinan. Tidak terkecuali cerita-cerita Rayni dalam buku ini. Menjadi menarik tentunya: faktor determinan macam apa?

Tentu mesti disisir penanda-penandanya, yang tentu bukan haiku bukan pula kesempitan ruang waktu dalam penjara. Namun karena tak mungkin menyisir serinci mungkin, barangkali bisa dipertimbangkan saja cerita “Gembira!” tadi. Jika Kawabata, Solzhenitsyn, dan Sapardi dapat dianggap menuliskan usaha pencapaian kebahagiaan, dalam cerita ini naratornya secara eksplisit justru takut dengan kebahagiaan itu. Apakah ketakutan ini semacam angst-nya Heidegger? Argumennya sendiri minimalis, dan ketika misteri terkuak, yang ada bongkah es. Entah bongkah es konkret atau simbolik, ada pengingkaran terhadap kefanaan hidup bahwa kebahagiaan tak mungkin abadi. Namun alih-alih menerima kebahagiaan seadanya, lebih baik tidak pernah bahagia saja, daripada kehidupan—bukan kematian—merenggutnya.

Tergantung kepada pembaca

Dalam dunia yang tua, adakah cara baru menyikapi hidup? Mungkin saja. Generasi media sosial adalah generasi yang merasa sahih urusan dengkulnya sendiri diketahui orang banyak. Ketika kesadaran ruang privat makin tinggi, media sosial bagaikan kompensasi lebay atas pembatasan diri di ruang publik yang konkret. Jadinya media sosial bukan untuk kepentingan sosial, melainkan kepentingan personal. Hehe. “The personal is political”.

Banyak buku terbit sebagai kepanjangan tangan media sosial yang maya. Jika tidak, mentalitas media sosial pun, yakni curhat secepatnya tanpa saksama, lebih dari cukup untuk menyahihkan keberadaan dirinya di media cetak. Namun, betapapun, seperti judul buku Sapardi, yang teracu ke Roland Barthes, pengarang sudah mati bukan? Tergantung kepada pembaca sendiri untuk memberi makna bacaannya, akan berguna bagi dirinya atau tidak. Dalam hal saya, izinkanlah untuk memberi makna dengan cara mengutip cerita lain di dalam buku ini:

Tolong!

Teriakan tolong di mana-mana.

Rintihan kesakitan!

Amukan kemarahan sangat!

So what!

Sirine menguing-nguing!

Selalu sebuah tanda.

Sumber : Kompas edisi Minggu 10 Maret 2013
SENO GUMIRA AJIDARMA Wartawan

PS: Orang yang bisa membaca dengan teliti tulisan ini pasti bisa membaca kualitas buku yang diresensi.

Leave a comment

6 Comments

  1. Jleb..ada pesan di akhir tulisan..*balik lagi baca dari awal satu-satu

    Reply
  2. Kalau aku udah ngeliat judulnya ada Seno, seno gitu pasti dibacanya sangat, sangat teliti😀

    Reply
    • jadi simpulannya apa?

      Reply
    • Dalam sekejap lupa, baca lagi😀

      Reply
    • Aku belum baca bukunya, tapi kualitas bukunya kalau dilihat dari pemaparannya Seno disini sepertinya bisa dibilang penulis buku “Terimakasih Anakku” ini mungkin bisa membuat cerita dengan alur yang mempunyai seni cerita yang benar , mungkin…:D

      *Takut salah O_O

      Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript

%d bloggers like this: