Perempuan Dalam Singgah Karya Jia Effendie Dkk. [Bagian 1]

singgah
Singgah adalah sebuah kumpulan cerpen karya Jia Effendie dkk yang berisi cerita-cerita dalam setting tempat persinggahan. Stasiun kereta api, dermaga, terminal, bandara adalah tempat-tempat yang menjadi sember energi kisah-kisah dalam kumpulan cerpen ini. Bagi sebagian orang yang menyukai tempat-tempat tersebut (salah satunya adalah aku), takperlu membaca detail review kisah di sampul belakang, melihat gambar tempat yang disukai saja sudah membuat memilih untuk memiliki buku ini.

Hal yang menyihir dari buku ini adalah terapi hati (membaca abjeksi) untuk memahami luka, cinta, rindu, dan sepi dalam kisah yang amat dekat dengan kehidupan kita. Mungkin kita pernah dengan penuh harap dan cemas menunggu seseorang di stasiun kereta api. Namun, pada waktu yang berbeda kita harus menatap kosong kebingaran stasiun karena harus melepas kepergian seseorang. Maka kisah dalam kumpulan cerpen ini seperti gempuran keras pada hati kita. Ia seolah berujar “It’s Happened!” Kita dihadapkan pada kenyataan-kenyataan yang terjadi dalam kehidupan dan diminta untuk menerimanya sebagai sesuatu yang wajar-wajar saja. Ya, pertemuan selalu melahirkan perpisahan. Persinggahan selalu menagih perhentian dan keberangkatan. Maka, hati yang dapat mengambil pelajaran dari kisah-kisah dalam kumpulan cerpen ini tak akan ciut. Ia akan semakin kuat menghadapi perjalanan hidup.

Enam dari sebelas penulis kumpulan cerpen ini adalah perempuan. Bagian ini amat menarik untuk ditelusuri. Bagaimana perempuan menggambarkan perpisahan? Bagaimana perempuan menggambarkan ketakterjangkauan dalam sebuah cerita. Mari kita bedah beberapa cerita dalam kumpulan cerpen ini.

Bertolah dari Julia Kristeva

Berdasarkan pemikiran Kristeva, secara psikologis, bagi anak perempuan, tubuh ibu adalah kesenangan primer yang pertama kali mereka miliki. Anak perempuan masih merasa bahwa ibu adalah bagian dari dirinya. Untuk membangun identitas subjek pada dirinya, seorang anak perempuan harus melepaskan diri dari ibunya. Pelepasan diri ini dilakukan melalui penolakan yang diistilahkan oleh Kristeva sebagai abjection (penolakan terhadap tubuh ibu).

“Masa ini menurut Lacanian dan Freudian merupakan masa penyapihan dan pemisahan yang biasanya menimbulkan frustasi dan ketakutan akan kastrasi. Bagi Kristeva masa ini adalah masa antara chora dan tahap cermin yang merupakan tahap pra-linguistik penting pada usia 4-8 bulan” (Christina, 2010:9).

Pada masa ini anak perempuan harus melakukan abjection pada ibunya untuk mengidentifikasi me dan not me.  Kristeva juga berpendapat bahwa  masa ini tidak selalu diwarnai dengan ketakutan, penolakan maupun pemisahan pun bisa menyenangkan. Dalam tahap penyapihan ini terjadi krisis narsistik ketika bayi menjadi antara subjek dan objek, self dan other, hidup dan mati. Masa pemisahan ini oleh Kristeva diasosiasikan dengan abjeksi (Christina, 2010:9).

Hubungan pemikiran Kristeva dengan perempuan dan makna perpisahan?

Disapih dari ibu merupakan keterpisahan pertama yang dialami perempuan dalam hidupnya. Mau tidak mau, suka tidak suka, anak perempuan harus melepaskan diri dari ibunya karena dirinya sendiri secara psikologis harus menemukan subjek dalam diri. Anak perempuan harus menemukan makna “inilah aku” yang otonom dalam dirinya. Secara psikologis, abjeksi (penolakan terhadap tubuh ibu) adalah cara yang paling tepat untuk menemukan eksistensi diri sendiri. Salah satu konsekuensi logis dari abjeksi ini adalah rasa frustasi dan ketakutan. Walaupun menurut Kristeva bisa penyapihan juga bisa menyenangkan.

Mekanisme abjeksi ini terus menerus dilakukan perempuan secara tidak sadar dalam menghadapi perpisahan demi perpisahan. Perpisahan ini dapat diartikan dalam konteks apa saja. Bukan hanya perpisahan fisik tapi juga psikologis. Bahkan ketidaksinkronan antara kenyataan dengan apa yang diinginkan pun dapat disebut keterpisahana (keterpisahan antara kemauan dan kenyataan). Oleh sebab itu, hal-hal yang tidak diinginkan dapat dihadapi oleh perempuan dengan abjeksi. Ketakterjangkauan juga dihadapi perempuan dengan abjeksi.

Fantasi Sebagai Abjeksi dalam Cerpen Jantung

Salah satu cara perempuan melakukan abjeksi adalah dengan menulis. Karya fiksi dapat menjadi media abjeksi (dalam konteks ini: penolakan terhadap perpisahan atau kejadian yang tidak disukai) dengan menghadirkan fantasi-fantasi di dalamnya. Fantasi ini bisa berupa imajinasi, mimpi, dongeng, khayalan, dsb.

Dalam cerpen Jantung karya Jia Effendi, kita akan mendapatkan cerita tentang seorang perempuan yang berpisah dengan kekasihnya, padahal dirinya sedang hamil. Kekasihnya tidak mau menikahnya karena lelaki itu merasa bayi yang dikandung bukan anaknya. Ada dua abjeksi dalam cerita ini. Pertama, penolakan perempuan terhadap kehilangan laki-laki yang ia harap-harapkan menjadi suaminya. Kedua, penolakan terhadap perbedaan antara angan-angan kebersamaan dengan perpisahan. Singkatnya, abjeksi pertama dilakukan terhadap tokoh antagonis yaitu lelaki yang menjadi kekasihnya. Abjeksi kedua dilakukan terhadap situasi antagonis, yaitu keterpisahan. Sebagai seorang perempuan yang selalu menjadi second person dalam dunia gender, abjeksi ini diperlihatkan oleh Jia Effendi dengan dramatis.

“Kita berpisah baik-baik. Tapi kamu masih membawa drama ke sini. Aku masih memelukmu! Masih menghargaimu! Tapi kau malah berteriak-teriak mempermalukanku. Aku masih mau memelukmu, membiarkanmu masuk ke rumah ini! Kamu sampah! Aku masih memungutmu!” (Jantung: 16).

Inilah situasi antagonis yang diabjeksi oleh perempuan. “Kamu sampah! Aku memungutmu!” kalimat pedas ini menjadi satu mekanisme yang digunakan perempuan untuk melakukan penolakan terhadap situasi antagonis dan menyadarkan keberadaan dirinya. Saat itu perempuan dalam kisah ini harus berpisah dengan kekasihnya. Ia harus sadar sesadar-sadarnya menerima keadaan ini. Dalam situasi antagonis ini, perempuan dalam cerpen melakukan hal yang dalam kenyataan tak mungkin dilakukan,

“Seperti mendapat kekuatan dari yang tak kasat mata, aku mendorongnya. Dia terpental jauh menabrak dinding. Kepalanya terantuk. Dengan sisa kekuatanku, aku menyeretnya ke dapur, menyapu apapun yang ada di meja makan ke lantai, susah payah mengangkat tubuhnya, menguliti pakaiannya… Dengan selembar rumput tajam, aku menorehkan dari dada ke perutnya. Segumpal jantung yang masih berdenyut kucuri dari dadanya. Kumasukkan ke dalam kotak es. Rintihku berkali-kali bergumam aku mencintaimu.” (Jantung: 17).

Prilaku ini tidak mungkin dilakukan oleh perempuan dalam dunia nyata. Kalaupun ada, tentu hanya segelintir orang yang melakukannya. Abjeksi ini semacam ekspresi kemarahan yang dilakukan untuk benar-benar memperlihatkan bahwa “inilah aku” kata perempuan sebagai tokoh utama. Pencurian jantung yang dilakukan oleh tokoh utama ini sebenarnya hanya ingin menjelaskan sebuah kalimat jujur dari lubuk hatinya,

“Tak ada yang namanya perpisahan baik-baik! Kalau kita baik-baik saja, kau masih bersamaku!”

Perempuan tokoh utama ini lalu menyimpan jantung itu di dalam icebox. Ia membawanya ke sebuah tempat dan melakukan hal irasional.

“Ruang bercat putih itu berukuran 3×3 meter. Tak ada apapun di dalamnya kecuali seorang lelaki telanjang dada yang memunggungiku. Tubuhnya memancarkan sinar seperti bola lampu.

“permisi” Dia tidak bereaksi.

“Sebutkan keinginanmu!”…
“Aku ingin jantung kekasihku bersatu bersama jantungku,” aku berkata mantap.

Jika kalian sudah menyimak sedari tadi, tentu mengerti mengapa aku mengambil jantung kekasihku setelah membelah dadanya. Jantung hatinya, agar dia mencintaiku selamanya. Agar aku tidak pernah terpisah darinya.”

Inilah puncak abjeksi (penolakan terhadap kenyataan) yang dilakukan oleh tokoh perempuan terhadap tokoh antagonis dan situasi antagonis. Pada tokoh antagonis, ia melakukan pencurian jantung dan meminta penyatuan jantung. Penyatuan jantung sebagai tanda bahwa pemilik jantung itu tidak akan berhenti mencintainya. Padahal situasinya justru berkebalikan, lelaki itu sudah tidak mencintainya. Pencurian jantung jadi semacam sebuah penolakan, pemberontakan, kemaranah akibat frustasi dan ketakutan (seperti yang dikatakan Lacanian dan Freudian) menghadapi perpisahan.

Abjeksi terhadap situasi antagonis tergambar dari alur cerita secara utuh. Ini bisa dirasakan oleh tokoh perempuan dalam cerpen, penulis -sebagai perempuan- dan pembaca perempuan. Cerpen Jantung karya Jia Effendie ini semacam abjeksi yang menyadarkan perempuan untuk menemukan dirinya sebagai subjek ketika mengalami perpisahan. Tokoh perempuan dalam cerpen ini mewakili kemarahan dan hasrat perempuan ketika menghadapi perpisahan, ketika disebut sampah, ketika kelimpungan saat hamil dan dibuang begitu saja oleh orang yang dicintai. Ketaksampaian melakukan kekerasan (semacam pembedahan, pembunuhan, mutilasi, bahkan cangkok jantung) sudah diwakili oleh tokoh perempuan dalam cerpen.  Otomatis, pada sebagian perempuan, cerpen ini amat melegakan. Kemarahan dan hasrat yang tertahan di dunia nyata, bisa “terlampiaskan” di dunia fiksi. Perempuan yang mengalami pengalaman yang sama dengan tokoh perempuan dalam cerpen ini akan menemukan me dan melepaskan ketergantungannya terhadap the others melalui efek abjeksi cerpen ini. Efek abjeksi cerpen ini dapat menyadarkan perempuan bahwa selama ini ia telah menjadikan orang lain sebagai kesenangan primer yang mengeliminasi me (baca: dirinya sendiri). Ia telah bergantung pada the others dan telah menjadikan diri sebagai objek. Melalui abjeksi, ia akan kembali menemukan me dan menjadi subjek bagi diri dan kehidupannya.

Bersambung…

foto dari sini

Leave a comment

2 Comments

  1. kayaknya aku mau beli kumcer ini

    Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript

%d bloggers like this: