Malaikat Kecil

fahirah

Dua malaikat kecilku, Naylah dan Hanifah

“Aku Ultah”

katanya lewat sms yang aku terima tadi pagi.

Niat sekali ia mengirimiku sms, padahal itu baru pukul 5.55 Wib dan aku pun jelas-jelas masih ingat 10 Juni adalah tanggal kelahirannya. Namun, aku tentu tidak akan mengucapkan selamat ulang tahun pada anak kelas 3 SD pada waktu sepagi itu.  Itu terlalu berlebiham menurutku. Aku coba menghubungi handphonenya, ternyata paggilan terputus. Beberapa kali dicoba tetap takberhasil. Akhirnya kuurungkan menelpon pagi tadi. Aku bersiap untuk berangkat ke kantor.

Di angkot ternyata datang sms dari ibunya, “Hari ini Hanifah ulang tahun. Lupa ya?” Aku yang mulai takmementingkan hari ulang tahun jadi berpikir, “Sepenting itukah hari ini buat malaikat kecil itu?” Akhirnya aku jawab sms ibunya, “Inget kok, tapi ngucapinnya nanti siang aja.” Kebisingan pagi hari ini menyadarkanku pada sebulan lalu, hari ulang tahunku. Malaikat kecil itu menghadiahiku sepucuk surat, secarik gambar, segenggam kertas yang berisi cerita pendek karya pertamanya, dan kenang-kenangan berupa mainan. Aku yakin mainan itu adalah hasil selesi dari setumpuk mainan yang sudah takdicintainya lagi. Tetapi biarlah, sesederhana apapun hadiah itu, dia tetap berusaha mengingat dan menghadiahiku sesuatu. Bahkan pada saat menitipkan benda-benda itu, ia sampai memohon-mohon kepada kakeknya untuk membawanya. Pada secarik kertas ia berujar, ” Bi Maaf ya aku cuma bisa ngasih ini. Mungkin bisa jadi kenang-kenangan.”

5

Kado Ulang Tahun GeJe dari Malaikat Kecil

Siang hari handphoneku berbunyi lagi. Sebuah sms masuk, “Hanifah sudah pulang.” Baru mau kupijit tombol telpon, ternyata handphoneku sudah lebih dulu berbunyi. Benar saja, malaikat kecilku yang menelpon. “Assalamualaikum Bi,” ujarnya. “Waalaikumussalam. Selamat ulang tahun ya!” kataku takbanyak basa-basi. Aku pikir, itulah kalimat yang paling ia tunggu-tunggu hari ini. Setelah kalimatku selesai, dia berterima kasih dan bercerita soal kejadian yang dialaminya hari ini.

Tentang Fabian, anak laki-laki seangkatan yang taksekelas dengannya, dia bercerita. Menurutnya, anak lelaki itu pintar, shalih, dan ganteng. Nampaknya dia sedang meniti arti kekaguman di usia 9 tahun. “Tadi aku ketemu Fabian, terus aku tanya ke dia, ‘tau gak hari ini tanggal berapa?’ ‘Tanggal 10,’ kata Fabian. ‘Bulan apa?’ tanyaku. ‘Bulan Juni,’ kata Fabian. Terus aku tanya lagi, ‘Tahu gak hari ini hari apa?’ Fabian langsung ngejawab, ‘Hari ini hari ulang tahunmu ya?!’ Bi.. Fabian inget hari ulang tahunku lho!” Di dalam hati aku berujar “Eaaaa, capedeh! Pastilah inget, wong didesek pakek pertanyaan-pertanyaan itu!” Tapi tentu kalimat itu takkulontarkan.

Dia bercerita tentang adiknya, Nayla. “Tadi waktu berangkat sekolah, aku nyuruh Nayla ngucapin selamat ulang tahun. ‘Kalo kamu nggak ngucapin, nanti ada monster loh!’ aku takut-takutin aja. Akhirnya si Nayla ngucapin, ‘Selamat ulang tahun!’ Aku bilang lagi, ‘Kamu ngucapin cuma gara-gara takut ya!’ kataku gitu.” Huffh! Lagi-lagi dia mendesak orang lain untuk mengucapkan selamat. Kali ini adiknya, Nayla yang usianya baru 4 tahun.

Selain Nayla, dia juga mendapat ucapan selamat dari sahabatnya. Kali ini benar, sahabatnya takperlu didesak untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Namun, hari ini ia takdapat hadiah dari sahabatnya itu. “Katanya kadonya menyusul besok.” ujarnya. Ngomong-ngomong soal kado, akhirnya tibalah pada poin penting yang ia tuju: hadiah ulang tahun. “Bi, aku mau hadiah ulang tahun,” katanya. “Kamu mau hadiah apa?” jawabku. “Hmm.. aku mau… mau.. mau jam tangan. Beliin yang warna biru ya! Kalau nggak warna biru, warna ungu. Kalau bisa siy, gabungan antara biru dan ungu,” ujarnya. “Baiklah, nanti aku cariin jam tangan warna biru ya!” jawabku.

Permintaan jam tangan ini menghisapku pada belasan tahun lalu, waktu aku gamebling meminta hadiah jam tangan jika masuk rangking 4 besar di kelas 4 SD. Buat anak yang takpernah memikirkan belajar, ulangan harian, bahkan ulangan umum, berpikir akan meraih rangking 4 itu adalah sebuah kegilaan. Whatever, waktu itu aku mengadu keberuntungan. Dari rangking yang selalu pada angka 7 atau 8, akhirnya aku merasakan dapat rangking 4 dalam atmosfer persaingan sebagai siswa minoritas di Denpasar.

Masih teringat, aku membeli jam tangan Q&Q ba’da isya’, bulan Ramadhan, ketika mudik ke Tasikmalaya. Waktu itu toko-toko banyak yang tutup. Hari ini akupun yakin waktu itu aku berbelanja jam tidak sebagai orang kaya. Bahkan lebih tepat sebagai anak kelas menengah-bawah yang mencicipi dinginnya malam Kota Tasikmalaya karena keberuntungan meraih rangking 4 di sekolah.

Saat itu aku takhabis pikir juga mengapa harus meminta jam tangan. Sampai saat ini pun aku takpernah habis menemukan kapan pertama kali aku dapat membaca waktu di jam dinding dan jam tangan. Mungkin, sejak saat itulah momen aku mulai percaya diri membaca jam tangan. Walaupun aku yakin, saat itu aku belum genap tahu bagaimana memaknai waktu. Apa artinya terlambat, apa artinya datang tepat waktu, atau datang lebih dulu.

Pernahkah terpikir bahwa apa yang berputar di tanganmu menjadi penanda makhluk yang takpernah bisa dihentikan? Putarannya yang terasa amat lambat itu ternyata amat kencang bagi orang-orang yang takmengerti artinya bersegera. Gerakannya yang takbisa dipercepat ternyata bisa mengendapkan orang yang berdiam diri di masa lalu. Detik demi detiknya jadi amat ringkas bagi orang yang dikejar kepadatan aktivitas. Dia seperti tinta yang mencatat otomatis sejarah hidup kita dulu, kini, dan nanti. Ia juga dapat dijadikan alat untuk menguji kekuatan sesuatu. Emas, kertai, air raksa, api, manusia, bahkan kekuatan cinta dapat diuji dengan waktu.

Lalu aku, jika aku menjadi malaikat kecilku dalam keadaan mengerti tentang hakikat waktu, maka sungguh tidak akan sedikitpun aku bagi kekagumanku pada seorang lelakipun selain suamiku. Jika sejak kecil aku mengerti tentang makna gerakan jarum jam menuju angka demi angka itu, aku takakan melelakan diri mengingat-ingat seorang Fabian yang bahkan mungkin takmemikirkan diriku sedikitpun. Aku akan fokus pada perbaikan diriku sendiri. Aku hanya ingin menjadi kebanggaan ayah dan ibu dengan rajin shalat, mengaji, dan sekolah. Aku akan sangat sibuk dengan prestasi-prestasi dalam bidang apapun yang aku sukai. Aku tidak akan menghitung kesuksesan orang lain. Aku tidak akan menjadikan kesuksesan orang lain sebagai standar karena kesuksesankulah yang menjadi standar nilai tertinggi bagi orang lain.

Namun, waktu itu sudah berlalu bukan? Aku ada di sini sekarang. Aku berada di antaran kemarin dan esok. Maka kemarin amat jauh bagiku, taksedikitpun aku sesali dan kuputuskan takkan kuseret ia ke masa depan. Aku hanya akan menjadikannya pelajaran karena aku tidak sedang hidup di masa itu. Bagian-bagian apapun yang takmenyenangkan dengan amat terpaksa harus kumintai maaf karena aku akan benar-benar menyingkirkan dan melupakannya. Bagian yang menyenangkan akan kujadikan semangat untuk meraih prestasi yang lebih baik lagi di masa depan.

Maka kuputuskan, ketika menyerahkan jam tangan itu nanti, dengan terpaksa aku harus berdiskusi dengan malaikatku soal waktu dan kesia-siaan yang harus alfa darinya. Mungkin itu akan kuceritakan dengan amat ringan dan sedikit demi sedikit dulu.

Leave a comment

6 Comments

  1. Klo aja waktu kecil aku minta hadiah dengan syarat rangking, tiap tahun dapet 3 hadiah keknya..*nyesel :))

    Reply
  2. izin share mbak

    Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript

%d bloggers like this: