Everyone Think So

image

Ini cerita singkat tentang percakapanku dengan my beloved soulmate yang udah rada jauh karena kesibukan kerja, yaitu Renol a.k.a destanzas. Beberapa hari lalu tiba-tiba dia ngechat via YM dan ngebahas kepergianku ke Kendari.

R: Nda kapan kamu berangkat ke Kendari?
L: InsyaAllah Februari tahun depan.
R:😦
L: Kenapa emotnya gitu?
R: Sediih, kan kita gak bisa ketemu lama
L: Biasanya juga gak ketemu tiap hari. Ini juga komunikasi via chat. Nanti kan tetep bica chat juga.

R: Kalo ngajar kayak gitu nggak boleh nikah ya?
L: Boleh. Banyak kok yang udah nikah dapet beasiswa kayak aku.
R: Berarti kamu harus nikah dulu sebelum ke sana
L: Kenapa? Kamu aja yang gak pergi ke mana-mana belum nikah. Kenapa aku harus nikah?
R: Berapa lama kamu ngajar di sana?
L: Tiga tahun
R: Lama banget
L: Nggak lama kalo dibandingin sama lama usiaku. Nggak lama kalo dibandingin sama masa depanku yang masih panjang.

Sebagai perempuan, usia dan kesendirian selalu jadi alasan keharusan aku menikah sebelum berangkat ke tempat yang banyak orang menganggapnya jauh. Padahal buat orang Kendari gak jauh kan ya. *Ya eyalaah :)) Sebagai orang yang nggak bisa ngebaca masa depan, aku hanya menghargai hidup dan target-target hidupku (walaupun masih banyak yg belum tercapai). Aku nggak mau menganggap next 3 beauty crazy waiting years itu sebagai akhir dari kehidupan. Jangan sampai hidupku mentok di tiga tahun itu. Apalagi takdir penting yang namanya pernikahan. Aku nggak mau semacam tikus yang masuk perangkap, memasrahkan hidup pada perangkap itu. Bahkan tikus pun berusaha keluar dari perangkap walaupun sudah tak ada harapan.

——

Aku juga sempet chat sama salah satu temen yang juga dapet beasiswa semacam aku. Bedanya, dia dapet kontrak kerja dari rektor kampusnya dan mengajar di kampung halaman. Dia juga sempat ngebahas soal jodoh. Dia bilang, mungkin saja jodohku memang ada di sana. Aku menjawan dengan jawaban standar yang sudah jadi prinsipku. Dia cuma bilang “Sekarang aja kamu bisa nolak, mengelak. Nanti kalau sudah ada orangnya dam Allah tetapkan, bisa aja bilang “iya” tanpa penolakan.” Kira-kira begitu katanya, karena aku juga gak ingat persis apa yang dia ucapkan.

I just knew my self, i dont know what will happen. Aku juga nggak mengingkari kalau bisa jadi, jodohku ada di sana. Kalau Allah sudah tetapkan, nggak ada satupun yang bisa mengelak. Yang aku tekankan bukan pada takdirnya, tapi pada cara memandang takdir atau memandang dan menjalani konsekuensi dari putusan hidup yang sudah diambil. Aku nggak mau memasrahkan satu takdir ke takdir yang lain, atau justrum menyalahkan satu takdir karena takdir yang lain. Selama masih bisa diusahakan sesuai dengan keinginan, selama keinginan itu dijalani dengan cara yang diridhoi Allah, so what? Nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini! Jodoh nggak ketuker, dan pasti bertemu pada waktu yang tepat.

Kebetulan, aku adalah orang yang suka berkeputusan tanpa sebelumnya menimbang konsekuensi. Tetapi, setelah berkeputusan, aku juga tahu bahwa apapun ada konsekuensinya. Ya, aku memang manusia pengambil risiko. Kalo nggak berani ngambil konsekuensi ( parah-parahnya risiko) apalah artinya hidup?

*aku bahas beginian bukan karena galau jodoh tapi karena banyak pertanyaan dan pernyataan dari teman sekitar soal perkara ini dan keberangkatanku ke Kendari. Ini mungkin bisa jadi semacam gambaran jawaban. Kalo ada yang nanya lagi, aku kasih link ini aja ahaha.. pemalaaaaassss….

**tesis aja belum kelar, udah ditanya tentang kejadian 3 tahum kedepan. Pusing lah aku.

*** curhat total

Leave a comment

22 Comments

  1. kendari itu sudah ada listrik ya? daerah mana sih? *males gugel*

    Reply
  2. totally like this.
    cadaaas ^^

    ;d

    Reply
  3. Baguslah kamu di Kendari, jadi klo aku kesana ada tempat buat numpang mandi, tidur, dan makan *gratis =))

    Reply
  4. fotonya keren, itu di ambil langsung ya?

    Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript

%d bloggers like this: