Mengasing

image

Dear Sukab,

Ini hari keduabelas dan aku baru beberapa kali menyuratimu. Maaf atas keterputusan ini. Ah, bukankah jeda merupakan hal biasa buat kita?! Seperti berada dalam masa ambang, atau berada di tengah-tengah pelayaran yang sudah amat lama. Kita takpernah lagi terlalu berharap untuk cepat sampai. Kita takpernah sedikitpun ingin berlari memutar haluan. Inilah masanya perjalanan terasa tawar. Saat ini detak jantung taklagi genit dengan perubahan. Ia sudah menemukan ritmenya. Ada dan tiada aku, kau sudah genap tahu. Yang penting cuma satu, kita harus tetap tahu waktu.

Sukab, boleh aku bertanya sesuatu? Semoga takterlalu sulit kau menjawabnya. Bagaimana hubunganmu dengan Ia yang menulis namaku pada takdirmu? Apakah kau bersikap baik pada-Nya, yang menggenggam waktu dan tempat pertemuan kita? Sudah berapa lama kau menagihnya? Sudah berapa kali kau menanyakanku kepada-Nya? Adakah kau memikirkan orang lain? Ah, untuk yang ini aku mati kutu. Akan sangat sulit memang, meminta pertemuan pasti dengan seseorang yang takpasti. Seperti menghendaki keramaian dalam ruang kosong. Kebingaran justru kita ciptakan di benak sendiri.

Aku takmengenalmu Sukab. Aku takmengenalmu, demi Tuhan! Aku hanya menimbultenggelamkan bayangan berbagai jenis manusia yang kukenal. Lalu kau menghilang pada sebuah latar yang menghitam, gelap, dan menyedihkan. Kembali kukatakan, “tidak tahu” itu amat menyakitkan. Maafkan jika aku lancang memasang bayangan. Tetapi, selain itu, aku bisa apa?

Sukab yang periang, doaku tentangmu mengasing entah ke mana. Kucari dia ke sudut dunia. Namun, aku masih belum menemukannya. Mungkin ia sedang beristirahat. Nampaknya ia lelah. Siapa yang takmarah dirapal ribuan kali dengan penuh kecurigaan?! Siapa yang takkesal ditagihkan berjuta kali tanpa keyakinan?! Tapi, aku masih bahagia. Keasingannya membuatku menemukan diriku.

Entah kapan doa-doaku kembali. Aku masih malu untuk menemuinya. “Hey, kau melihat doa-doa berkeliaran sekitar sini? Kalau melihat, itu adalah doaku. Tolong pastikan dia baik-baik saja dan dalam keadaan selamat sampai ke langit. Aku titip,” ujarku pada setiap orang yang kutemui di jalanan. Egois memang, tapi bagaimana lagi? Dia ingin pergi sendiri. Ah, mungkin ia tahu si empunya terlalu pecundang untuk mengawalnya ke langit.

Dalam keadaan begini, harapanku tinggal satu, hubunganmu dengan Tuhan lebih baik daripada hubunganku dengan-Nya. Mintalah doamu menunggu doaku di pintu langit. Jika tidak, jemput saja, bagaimana? Ah, keberadaannya saja aku tidak tahu, apalagi kau Sukab. Dalam perjalanan seberliku apapun, semoga ia tepat waktu. Maaf jika harus semakin sabar menunggu. Aku percaya kau mampu.[]

yang selalu rindu,

Maneka

Previous Post
Next Post
Leave a comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript

%d bloggers like this: