Antagonis

image

Dear Sukab,

Manusia bijak, apa kabar? Masih rindukah kau padaku. Semoga pertanyaan itu takmembombardirmu. Semoga ia takmembuatmu kelu. Pernahkah terpikir tentanga alasan inti mengapa kau masih belum menemukanku? Mungkinkah ini berkaitan dengan peranku?!

Sukab yang malang, ketika kau menonton film, sinetron, atau pementasan drama, siapa yang kau citrakan sebagai aku? Apakah Bawang Putih, perempuan baik yang selalu dijahati oleh Bawang Merah? Ataukah Cinderella yang beruntung karena kehilangan sebelah sepatunya? Jika begitu, mungkin agak lama kau akan menemukan aku.

Dalam panggung kehidupanku yang sempit ini, aku adalah manusia antagonis. Jika kau mencariku dari satu sisi, sampai kapanpun kita tak akan pernah bertemu. Akulah yang selalu pulang larut malam hanya untuk menghindari tugas memimpin doa. Setiap mendapat giliran memimpin doa di akhir malam, kadang terpikir “Bagaimana rasanya dipimpin berdoa oleh manusia menyebalkan? Adakah yang waswas tentang keselamatan doanya di perjalanan? Adakah yang berpikir, jika aku yang memimpin, doa mereka takkan sampai pada Tuhan?”

Jika taksuka pada seseorang, aku dapat membisu, mengunci mulutku sehari, seminggu, sebulan, setahun, sepuluh tahun. Ahahaha! Ini hebat atau gila?! Ataaauu, ini kegilaan yang hebat?! Aku hanya ingin diam, itu saja. Aku hanya tahu seberapa tajam bilah lidahku. Aku hanya tahu seberapa mematikan racun hatiku. Dengan diam, tak ada yang terluka, tak ada yang terracuni. Hahaha! Sudah siapkah kau bertemu dengan manusia berperangai buruk ini?!

Aku adalah pembunuh berdarah dingin yang tak pernah menggunakan samurai, senapan, atau racun untuk membunuh. Jika hatiku sudah membenci, maka aku akan menghunjamkan belati berkali-kali. Sakitnya terasa lebih lama. Jika bisa, aku selalu ingin membunuhnya berkali-kali. Hidup-mati-hidup-mati-hidup-mati, begitu seterusnya. Mengerikan bukan?!

Jadi, kau ingin bertemu aku sekarang atau nanti?! Nanti saja lah ya? Bila taksiap, tunggu saja sampak sutradara memberiku peran protagonis yang kau gadang-gadang itu. Mungkin juga sampai kau diberi peran pahlawan atau ahli jiwa yang dapat membantu menyembuhkan manusia sinting macam aku. Aku tak akan berlagak jadi anugerah jika sebenarnya diri ini musibah.

Biasa sajalah menghadapi drama-drama itu. Mungkin dengan begitu, aku akan terbantu untuk berubah menjadi figuran yang berlalu lalang di sekitarmu. Ah, jika kau adalah manusia protagonis yang amat baik itu, maafkan aku.[]

yang masih rindu,

Maneka

gambar dari sini

Previous Post
Next Post
Leave a comment

1 Comment

  1. JIka tidak suka pada seseorng, lebih baik diam ya…

    Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s