Terpencil

image

Untuk para Orangtua,

Sebenarnya aku hanya ingin menyurati satu orang yang bernama Sukab bulan ini. Aku berencana untuk membuat janji dengannya. Tetapi  demi menceritakan kepenatanku tentang masalah yang dihadapi oleh anak kelas 4 SD, aku menulis ini untuk kalian, sekelompok orang yang menyandang gelar “orang tua”.

Tempo hari aku dapat telpon dari seorang ibu yang merah muka karena kelakuan anaknya di facebook. kelakuan anaknya itu disampaikan saat suaminya menghadiri rapat komite sekolah. Di sela rapat salah seorang guru berujar secara personal, “Putri Bapak bertengkar dengan temannya di facebook. Bahasanya seperti orang dewasa. Dia biasa main facebook pakek HP siapa?” Bisa jadi, saat itu karena jengah, sebongkah bahkan segunung kemarahan terbangun di  kepada sang bapak. Dari sekolah, sudah disiapkan sepasang kalimat pertanyaan dan pernyataan yang sudah saling menjawab. Intinya hanya kemarahan yang akan berbuah hukuman. Ditambah dengan ketidakpernahan orang tua ini menggunakan facebook membuat dirinya merasa takpunya andil dalam kesalahan sang anak. “itu salahmu, bukan salahku!”

Sampai di rumah sang anak benar diadili oleh ibu dan ayah -orang tuanya-. Pertengkaran dan posting yang memuat tuduhan pacar-pacaran gaya anak SD menjadi alat bukti. Sang anak mengelak, dia beralasan bahwa facebooknya dibajak oleh temannya saat membuka facebook menggunakan tab-ku. Ya, aku salah satu orang yang terlibat dalam masalah ini. Itulah mengapa orang tua anak itu menelponku, memintaku menonaktifkan facebook anaknya. Selain karena aku yang membuatnya, hanya aku yang dapat membantunya menggunakan facebook. Dalam sela permintaan sang ibu melalui telpon, aku mendengar samar cekcok antara ia, anaknya, dan suaminya. Mereka sebagai orang tua menyalahlan sang anak karena membuat malu di hadapan komite guru dan orang tua, membuat aib di hadapan teman sekomunitas, semua merembet ke mana-mana.

Para orang tua, sederhana sajalah.. jangan terlalu ambil pusing dengan rasa malu yang ditimbulkan akun facebook anak kalian. Apalagi membuat anakmu terpencil di kursi terdakwa sendirian. Jika tuduhan itu menimpa kalian, pasti kalian sibuk mencari dukungan untuk membuat pembelaan. Paling tidak, mencari orang yang mau mendengarkan kejadian sebenarnya.

Seorang psikolog berkata, setiap anak pasti ingin tampil baik di hadapan orang tua mereka. Pada perjalanannya, penampilan baik itu bisa dibangun dengan berbagi cara. Ada yang membangunnya bersama orang tua. Ada yang membagunnya sendirian. Orang tua hanya sebagai komentator bila sang anak membuat kesalahan. Celakanya, tidak sedikit orang tua yang berkomentar menyalahkan. Akhirnya sang anak kehilangan harga diri dan terpencil di hadapan orang tua yang seharusnya menjadi pembelanya.

Anak yang dididik dengan menyalahkan hanya akan tumbuh dengan penghinaan dan kebohongan. Ia akan memproteksi diri dengan menciptakan kebohongan. Ia juga akan terbiasa menghina orang lain karena terbiasa mendapat penghinaan dari orang tuanya. Ini menyedihkan, menurutku.

Anak kecil itu tak tahu apa-apa kecuali yang mereka dapat dari orang tua. Aku menyebut orang tua ya, bukan orang dewasa, karena tua tidak menjamin kedewasaan seseorang. Saat anak kecil berbuat sesuatu yang menurut orang tua salah, berarti orang tua juga ikut salah. “Anak salah, berarti ada yang keliru dalam pendidikan orang tua.” Sederhananya demikian. Janganlah angkat tangan, apalagi cuci tangan jika anak Anda bersalah. Kasihan dia. Orang tua seharusnya jadi pembela pertama jika anak sedang disalahkan oleh orang lain. Tetapi, ini ada syaratnya. Orang tua dan anak harus terbuka. Salah satu langkah awalnya adalah dengan apresasi dalam setiap perkembangan anak. Keterbukaan penting, kebohongan harus dihindari. Orang tua bisa berkata, “Jika kamu jujur kepadaku, suatu saat bila kamu melakukan kesalahan aku bisa tahu dengan cara apa aku memproteksimu.”

Di pengadilan Tindak Pidana Korupsi saja seorang terdakwa punya hak jawab. Lantas mengapa di rumah, anak yang dituduh bertengkar seperti orang dewasa harus berlelah berbohong, bahkan menyalahkan orang lain demi melepaskan diri dari kesalahan karena tidak diberi hak jawab dan hak praduga takbersalah. Kasihan ia. Jangan sampai, pernyataan guru yang mempermalukan lantas membuat kita langsung menyalahkan anak kita sendiri. Apalagi hanya karena dunia facebook yang sudah amat sampah. Jangankan anak SD kelas 4, coba lihat akun seorang magister (nunjuk muka sendiri) masih saja banyak kalimat sampah di dalamnya. Boleh jadi, akun para guru itu lebih sampah dari akun anak kalian.

Anak kalian adalah hasil didikan kalian. Jika mereka disalahkan, yang mereka butuhkan pelukan. Bukan hanya pelukan secara fisik, melainkan dalam kalimat dan sikap. Tidak ada orang paling dekat yang mereka butuhkan kecuali orang tua. Bukan maksudku meminta orang tua untuk menutupi kesalahan anak atau membelanya. Hanya tolong, mereka jangan diasingkan, apalagi dipencilkan sendirian.[]

yang sok tahu,

langitshabrina

Previous Post
Leave a comment

4 Comments

  1. setuju banget saya mbak.. sering liat anak2 dimarahi, sampe saya bilang ke bapak saya, “ibu2 sekarang nglahirinnya mudah sih, jadi gak sayang sama anak.” hoho..😀
    saya keinget apa yang pernah saya baca, children are not to be blame. kalo anak salah, ada dua alasan : 1. dia tidak tahu itu salah. 2. dia tahu itu salah, tapi itu dilakukan oleh orang2 disekitarnya. nah disitulah peran orang tua.😀
    *padahal menikah saja belum, udah sok-sok an.

    Reply
  2. Penggemar SGA ya?

    Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript

%d bloggers like this: