Penghuni Kursi Bisu

image

Dear Perempuan,

Kepada kamu yang waktu itu (entah kapan tepatnya) aku rindu. Aku mengenalmu sudah dalam keterpenjaraan ini, dalam keengganan yang entah kapan berakhirnya, dalam keyakinan yang degupnya sudah mulai melemah, dalam langkah yang tertahan entah karena apa. Aku bertemu denganmu bersama lupa yang(nampaknya) disengaja. Naganaganya kau cukup dengan kehangatan laki-laki itu, walau menjajikan pelukanpun ia takpernah. Kelihatannya kau merasa genap dengan keberadaanya, walaupun kau tahu sewaktu-waktu ia bisa saja pergi meninggalkanmu tanpa arti.

Kepada kamu yang dulu.. duluuu sekali, aku rindu. Aku ingin bertemu kamu yang taktercekat saat ditanya soal kemungkinan-kemungkinan selain laki-laki itu. Aku ingin melihatmu beranjak dari kursi manis rasa tawar itu. Kamu terlalu sibuk menekan pertanyaanmu, memasang puluhan, ratusan, bahkan ribuan kunci pada lisanmu untuk bertanya tentang waktu. Kediamanmu melelahkan bukan? Berapa banyak muasal yang kamu buat untuk tetap betah dalam kursi bisu itu? Kepada siapa lagi kamu akan meminta jawaban bahwa dirimu baik-baik saja dalam ruang tunggu bedebah itu? Padahal tak sedikitpun dia menjanjikan sesuatu padamu, paling tidak tahun lalu, tahun lalunya lagi, tahun lalu lalunya lagi. Yakinkah kamu, saat ini ia akan berubah? Ataukah kamu sudah mempersiapkan diri untuk menerima ia berlalu?

Pada beberapa waktu lalu aku mendengar sesuatu. Tentang ia yang takpernah mengaitkan masa depannya padamu. Tentang ia yang sudah terlepas sejak dulu. Tentang ia yang takmemilih kamu. Ia manusia penagih kebersamaan yang sebenarnya sudah sangat cukup dengan bersendirian. Ia manusia bermata obsesi yang takpernah menjadikan kamu sebagai bagian dari kelengkapan. Ia sibuk dengan amat bayak capaian. Dunia memeluknya hangat dalam dinginnya kebisuanmu.

Dia egois. Itu yang aku tahu.

Dari aku,

Maneka

foto dari sini

Previous Post
Leave a comment

1 Comment

  1. Penghuni Kursi Bisu 2 | waiting room

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript

%d bloggers like this: