Sebenarnya Kamu

image

Dear Sukab,

Sukab, apa kabar senja? Masihkah ia menawarkan keindahan yang pasti berakhir? Masihkan ia mencampurkan keremangan dengan rasa getir yang sukar dijelaskan? Sudah lama aku tidak dapat menikmatinya. Terlalu banyak bangunan yang menghalangiku untuk menengadahkan kepala. Atau aku memang sedang takmengizinkan diriku mengamatinya untuk waktu yang agak lama. Rasionalitas hidup memaksaku untuk menghindari perasaan sentimentil saat menatap senja. Ia terasa biasa saja kini. Hanya gurat jingga penanda malam akan segera tiba.

Sukab, pada pertemuan kita nanti, bolehkah aku bertanya tentang luka? tentang siapa yang paling menorehkan luka terdalam di hatimu dan bagaimana kau menyembuhkannya. Aku hanya tidak ingin menjadi orang itu. Aku hanyai ingin menghindari apa yang ia lakukan terhadapmu.

Bermain di dunia luar membuat aku bertemu banyak jenis manusia, merasakan bagaimana menghadapi mereka. Kepelikanku hanya satu, memperlakukan mereka dari sudut pandang mereka, bukan hanya dari sudut pandangku sendiri. Yang berat adalah menyadari demikianlah mereka hidup, menjalaninya sebagai rutinitas, dan menerimaku sebagai satu bagian dari rutinitas hidup mereka. Menangkap kecemasan mereka sekuat tenaga dengan cara paling benar ternyata rumit juga. Apalagi ketika kadang kala kecemasan itu takberarti sedikitpun buatku. Membaca kekecewaan mereka terhadap sesuatu ternyata tidak mudah, karena setiap orang memiliki sumber kekecewaan masing-masing.

Aku kadang berpikir, dengan kehadiran yang singkat, dapatkan aku menjadi bagian yang menyisakan kenang paling lama dalam ingatan mereka? Aku amat sangat sadar, bahkan dalam dunia yang sementara ini, aku masih ditakdirkan untuk menjadi yang sementara. Itulah pekerjaan rumahku kemudian. Bagaimana membuat satu demi satu bagian dalam hidupku memasukanku dalam kenangan dan ingatan mereka. Bukankah manusia hidup dalam kenangan dan ingatan?

Bagaimana cara menatap orang lain bukan dari perspektifku? Bagaimana cara membaca aku dari perspektif mereka? Bagi sebagian orang mungkin sangat mudah dan mengalir begitu saja, tapi bagiku itu perlu dipelajari. Belum lagi kebiasaanku yang payah dalam basa-basi. Lebih baik diam daripada salah bicara. Soal ini semua, semoga aku bisa belajar darimu Sukab.

Beberapa waktu lalu aku bertemu dengan sosok serupa kamu. Mengagumkan memang, terlihat tulus dan berusaha sebaik mungkin menjadi dirimu. Tapi rutinitas mengembalikannya pada dirinya yang asli. Ah, bicara apa aku ini? Benar kata seorang teman, kamu bukan sosok mengagumkan, tapi menenangkan. Pantaslah waktu aku melihat manusia seolah-olah kamu itu, ada kecemasan aneh dalam benakku. Ada semacam ketakrelaan. Pada pertemuan pertama kita nanti, aku mohon jadilah sebenar-benarnya kamu agar aku takterlalu sulit menemukanmu.

Yang selalu rindu,

Maneka

*gambar dari sini

Leave a comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript

%d bloggers like this: