Perempuan Pada Dasarnya

perempuan 2

Dear Sukab,

Sudah beberapa hari aku gelisah tentang apa-apa yang berkaitan dengan diriku yang terlahir perempuan. Berkali-kali aku membolak-balik pikiran untuk menulis surat ini buatmu. Sebenarnya ingin kulepaskan saja surat ini sebagai cerita biasa. Tetapi sunggu aku lebih ingin bercengkerama denganmu soal ini. Riwayat ini mungkin bisa kamu saksikan dari siapapun yang ada di penjuru dunia. Namun, aku benar-benar ingin menyampaikannya kepadamu.

Yang selalu dianggap lemah fisik adalah perempuan. Entah organ tubuh bagian mana yang membuat dunia memandangnya demikian. Mendaki gunung, menyelami laut padahal perempuan bisa. Namun, entah mengapa kecemasan laki-laki akan keselamatan mereka selalu dua kali lipat. Bisa jadi, kecelakaan yang menimpa perempuan pada hal-hal yang dianggap berbahaya terjadi bukan karena fisik mereka, melainkan ketidakpercayaan laki-laki pada kekuatan perempuan. Biasa sajalah menyikapi perempuan. Membawa kandungan selama sembilan bulan pun mereka bisa. Ini sebuah beban yang takbisa direhat sedetikpun. Pada masa itu mereka makan untuk dua badan. Pada waktu itu ada dua detak jantung dalam satu tubuh. Ini takakan terjadi pada laki-laki. Maka jangan terlalu melemahkan mereka dengan kecemasanmu wahai laki-laki. Biasa sajalah!

Pada sekali waktu, perempuan ketakutan melihat binatang-binatang melata atau serangga. Aku sempat kaget dengan ekspresi temanku saat melihat segerombolan semut hitam di balik tirai penutup becak. Mungkin geli, jijik, atau takut dengan gigitannya. Ini bagian yang akupun sukar menjelaskannya. Seperti kebencianku pada kecoa. Jijik, inilah alasan yang dapat kulontarkan soal kecoa. Aku bisa dengan segera mengambil sandal dan menginjaknya dalam hitungan detik bila ia muncul di hadapanku. Takadil memang. Hanya karena jijik, satu nyawa kecoa melayang. Padahal satu nyawa kecoa serupa dengan satu nyawa manusia pada dasarnya. Pada perkara ini, yang aku pesankan hanya satu, jangan berlelucon menakut-nakuti perempuan dengan serangga dan binatang melata. Tertawamu pada ketakutan perempuan justru memperlihatkan seberapa lemah kau sebagai laki-laki.

Hal lain yang mengelilingi perempuan adalah perhiasan. Semua perempuan menyukainya. Yang membedakan adalah sebanyak apa dan bagaimana mereka menyukainnya. Anting, kalung, gelang, cincin, baju, sepatu, tas, dan perhiasan mahal lainnya acap kali membuat perempuan merasa berharga. Mungkin, perempuan adalah perhiasan. Oleh sebab itu, ia suka menampakkan perhiasannya. Alfa aku soal bagaimana rasanya memiliki barang-barang mewah itu. Tas bermerek terkenal dengan harga jutaan rupiah, bagaimana rasanya menggunakannya? Aku takgenap tahu soal ini. Apakah benda-benda itu membebaskan perempuan dari rendah diri? Perempuan adalah konsumen dan marketer paling hebat memang. Sebab itu, pemodal dan pengiklan menjadikan mereka sebagai sasaran empuk. Aku kadang bertanya pada diriku sendiri, “perasaan macam apa yang akan menghinggapimu jika kau ditakdirkan untuk selalu menggunakan barang-barang mewah?” Soal ini, aku hanya ingin kamu takterlalu menjadikan penampilan sebagai pusat segala sesuaitu. Ini tidak hanya membebani perempuan tapi juga membebanimu sebagai laki-laki.

Ayah Pidi berkata bahwa perempuan jatuh cinta berdasarkan apa yang ia dengar dan laki-laki berdasarkan apa yang ia lihat. Ini menjadi muasal perempuan berlomba-lomba untuk mengindahkan penampilannya. Lalu cantik hanya berakhir pada dimensi fisik. Aku tahu, cantik itu relatif, tapi industri membuat satu prototipe kecantikan yang kalian amini. Lantas perempuan berbondong-bondong mencari krim paling ampuh untuk memutihkan wajah dan kulitnya, mencari minuman paling efektif untuk melangsingkan perut, dan meninggikan postur tubuh. Belum lagi perawatan rambut yang membuat sebagian perempuan enggan berhijab.

Akibatnya mantra “cantik itu putih, langsing, tinggi,” yang diciptakan oleh industri kecantikan menyihir perempuan dan membuat kalimat “kamu harus cantik,” tertanam di benak mereka. Demikianlah perempuan melakukannya demi perhatian kalian. Aku mungkin kurcaci jelek atau bebek buruk rupa jika harus mengikuti semua kriteria cantik versi industri. Bahkan aku sempat berpikir, “Kamu takmudah percaya pada manusia, lantas mengapa dengan mudah kamu memercayakan kulit wajahmu pada sebuah produk pembersih wajah yang bahan-bahannya tidak kamu ketahui dengan pasti komposisinya?” Padahal krim pembersih muka itu adalah satu-satunya kosmetik yang aku gunakan. Maka putar otakmu sedikit agar benar-benar terlihat bahwa dirimu berlogika. Fisik adalah bagian paling fana dari diri manusia. Carilah dimensi lain yang lebih nyata tentang kecantikan perempuan.

Satu hal lagi yang masih aku pertanyakan soal perempuan adalah keselamatan. Yang paling cemas pada keselamatan perempuan saat pulang malam adalah kalian. Lalu mengapa penjahat-penjahat yang merampok, mencopet, memerkosa lalu membunuhnya adalah manusia pada jenis kalian, laki-laki. Mengapa sebagian dari kalian berpikiran untuk menjahati perempuan? Tidak ingatkah mereka pada ibu, adik, istri, dan anak-anak yang juga perempuan? Berhentilah menjadikan diri sebagai pusat, karena perempuan juga punya ruang di dunia ini yang mewajibkan keamanan dan kenyamanan bagi diri mereka. Udara yang sama, sinar matahari, dinginnya malam, derasnya hujan, dan sejuknya pagi juga menjadi hak perempuan. Berhentilah menjadi ancaman bagi manusia lain.

Ini sebagian yang dapat aku catat tentang perempuan. Dunia membisikinya dengan hal-hal tersebut, tapi mereka juga manusia yang memiliki kemampuan dan hak untuk balik berteriak “Ya, itu saya!” atau “Tidak, itu bukan saya!”[]

Perempuanmu,

Maneka

*foto bidikan @siriusbintang

Previous Post
Next Post
Leave a comment

2 Comments

  1. perempuan pada dasarnya ingin dimengerti #eaaa

    Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript

%d bloggers like this: