Perihal Boikot Produk Prozionis

boycott-bullets.560x388

Berita tentang bagaimana zionis menjajah Palestina telah sampai padaku sejak SMA. Seperti sebuah mimpi buruk atau bahkan film perang sadis, kejadian yang dialami warga Palestina takpernah terbayangkan akan terjadi di Indonesia. Seruan untuk memboikot produk-produk prozionis baru aku ketahui sejak kuliah. Setelah dilihat daftar produknya, waw! Barang-barang yang aku gunakan bukan hanya ada tapi banyak! Ada kecamuk di benak ketika memutuskan untuk mengganti barang-barang yang biasa digunakan. Sampai hari ini aku bisa katakan bahwa memboikot produk prozionis adalah sebuah perjalanan gaya hidup. Ini amat personal dan idelogis. Ini tentang kemana uangmu kamu belanjakan.

Produk-produk perusahaan prozionis ini banyak macamnya, ada yang takterhindarkan dan ada yang bisa disubstitusi dengan produk lain. Berdasarkan pengalamanku, yang takterhindarkan adalah intel yang ada di komputer atau laptop. Dalam keadaan takdapat menggunakan produk lain, pada bagian ini aku mengaku, aku punya satu intel dan sedang aku gunakan untuk menyerukan bahwa produk ini menjadi bagian dari produsen peluru pembunuh saudaraku di Palestina. Semoga tulisan ini bisa menggerakkan anak bangsa untuk membuat produk dalam negeri serupa intel bahkan lebih canggih dari itu.

Yang berkali-kali ditanyakan oleh rekan seperguruan soal boikot ini adalah Facebook dan jejaring sosial yang pemiliknya berdarah Yahudi. Aku hanya bisa bilang, media sosial ini aku gunakan untuk membagi gambar-gambar kedzaliman yang dilakukan oleh bangsa si empunya Facebook. Prinsipku mengacu pada Al quran, “Mereka punya makar, Allah punya makar. Allah sebaik-baik pembuat makar.” Aku dengan jelas dapat membayangkat keresahan zionis yang bekerja di Facebook ketika server mereka pada beberapa hari ini penuh dengan foto-foto kejahatan bangsanya. Mungkin boleh jadi mereka tertawa menang. Tetapi hati nurani siapa yang takakan gelisah membaca kutukan atas kejahatan mereka yang diunggah oleh ribuan bahkan jutaan orang dan lembaga di berbagai negara. Selain itu, masih banyak pula orang baik dan lembaga yang menggunakan Facebook untuk menyeru pada kebaikan. Menurutku, ini adalah bagian dari makar Allah SWT. Allah SWT memberi fasilitas menggunakan tangan musuh-Nya. Yang salah, adalah yang tidak menggunakannya untuk kebaikan.

boycott-card.jan2012.front.640

Perusahaan yang menyokong zionis rata-rata adalah perusahaan multinasional. Strategi marketinyapun tentu takmain-main. Yang ditawarkan bukan lagi produk tapi gaya hidup. Keyakinan palsu ditanamkan kepada konsumen yang kemudian mengubah gaya hidup. Contohnya, sampo Clear sebagai mitos sampo antiketombe di Indonesia. Ketika membaca produk sampo antiketombe yang diluncurkan oleh perusahaan dalam negeri, mungkin kita akan sok pintar mencari tahu bahan-bahan yang terkandung di dalamnya. Bagaimana produk ini bisa menghilangkan ketombe? Apakah benar rempah-rempah ini dapat membersihkan kulit kepala? Lalu dengan bodoh kita menyandingkan bahan-bahan yang tertulis dalam kemasan Clear dengan bahan-bahan yang terdapat pada produk sampo lokal. Demikianlah kepercayaan palsu itu dibuat oleh produsen Clear. Dengan tangan terbuka kita menerima penghinaan “Orang Indonesia cuma punya ketombe!”

Kepercayaan palsu ini membuat setiap orang ragu mencoba produk lain. Padahal Clear nggak bikin kepala bersih dari ketombe. Bahkan ketombe itu tetap ada dan bertahan karena kalau ketombe hilang, orang akan berhenti menggunakan Clear. Personalitas memboikot produk tersebut ada pada bagian ini. Relakah kita –yang seolah-olah sudah mempercayakan rambut kepada Clear- mencoba dan mengganti sampo dengan produk lain? Belum lagi dari sisi harga yang lebih murah, atau potongan harga yang lebih tinggi. Ah, cuma kasih sayang kepada sesama muslim yang bisa membuat kita (terutama perempuan) bergerak. Karena perihal kepercayaan terhadap sebuah produk konsumer di zaman ini berkaitan dengan hasrat. Hasrat ini bersifat bawah sadar, dan pengendalian hasrat hanya bisa dilakukan dengan rasionalitas ideologi yang mengakar dalam diri.

boycott-card.jan2012.back.640
Produk-produk yang masuk list boikot itu kualitasnya selalu lebih baik dari produk substitusinya. Ya! Benar sekali. Pemutih wajah, pelembut pakaian, kopi instan, minuman ringan, makanan siap saji, coklat, kosmetik, dan berbagai produk yang sudah seperti jaring laba-laba yang membelenggu kita itu dari sisi branding memang selalu terlihat paling baik. Namun, lagi-lagi aku katakan, itu hanya citra-citra yang dibuat agar kita sebagai konsumen terus menerus mereproduksi kebutuhan terhadap produk-produk tersebut. Saat meminum kopi di Starbucks pada dasarnya pahit yang kamu rasakan sama dengan pahit kopi tubruk di angkringan. Bedanya hanya satu, ketika kamu minum kopi Starbucks saat itu pula kamu sedang menyeruput darah rakyat Palestina.

Mereka yang suka berapologi acap berargumen padaku, “Orang Palestina juga minum Pepsi.” Atau, “Berdasarkan riset ekonomi, angka konsumsi negara-negara muslim terhadap produk prozionis ini tidak signifikan. Kita lihat lah, mayoritas muslim itu berada di negara miskin dan negara berkembang. Mana mungkin angka konsumsinya bisa berpengaruh terhadap pendanaan senjata untuk menyerang Palestina!” Lagi-lagi aku katakan, pemboikotan produk prozionis ini sesuatu yang ideologis. Ini bukan lagi tentang kepedulian kepada warga Palestina berdasarkan hitung-hitungan matematika. Bahkan rasa kemanusiaanpun takcukup. Ini sudah berkaitan dengan rasa cinta kepada saudara seaqidah. Ini tentang bagaimana Islam sebagai ideologi diintegrasikan dalam gaya hidup. Lebay? Bodo amat!

Bagaimana dengan orang-orang yang berteriak boikot tapi pada kenyataannya tetap menggunakan produk prozionis itu? Inilah yang membuatku setelah bertahun-tahun baru berani menulis hari ini. Aku amat takut menjadi bagian dari orang-orang yang menjilat ludah sendiri. Kembali aku katakan, memboikot produk prozionis merukapan perjalanan panjang tentang mengendalikan gaya hidup. Tidak semua orang bisa melakukannya dengan sempurna. Aku cuma bisa menyampaikan kalimat ustadzah Yoyoh Yusroh, “Bersikap ketatlah terhadap diri sendiri, dan berusaha longgar terhadap orang lain.” Ketika kamu yang membaca tulisan ini takpernah teriak-terika boikot tapi berkeinginan untuk memboikot, lakukanlah. Jangan biarkan mereka yang takkonsisten membuatmu terpengaruh. Jangan biarkan mereka yang goyah membuatmu memuntahkan pertanyaan nyinyir. Kita yang nggak ngaku aktivis dakwah tapi boikot produk prozionis dalam diam menurutku berkali-kali lebih keren ketimbang orang-orang yang ngaku da’i, antizionis, tapi di kamar mandinya masih ada produk prozionis.

Perjalanan gaya hidup ini seperti gelombang, ada pasang surutnya. Di depan kulkas eskrim kadang pikiran mulai mengungkapkan permakluman untuk sekali saja merasakan Magnum. Atau rasa penasaran dengan wangi parfum Kelvin Clain membuat kita balik kanan dari kios parfum isi ulang. Tapi itulah perjalanan. Kalau sudah mengalami sengitnya perjalanan ini, saudara-saudaramu di Palestina seolah menyapamu ketika memilih produk di swalayan. Mereka akan kamu ingat ketika mengambil satu demi satu bumbu yang ada di dapur. Mereka akan ada pada pilihan air mineral yang kamu minum ketika kehausan. Bahkan, mereka bisa tiba-tiba kamu ingat ketika memasuki kamar mandi teman, guru ngaji, atau orang yang baru saja kamu kenal. Produk-produk itu tanpa sadar bertebaran di sekeliling kita. Menghindarinya perlu perjuangan.

10384734_10202181152351272_8505087147279214557_n
Kalau sudah terbiasa, kamu akan merasa biasa-biasa saja berbelok dari Dunkin Donuts ke kios Donat Madu. Kamu akan merasa acuh menggunakan krim pemutih Wardah ketika yang lain memakai Ponds atau Maybelline. Kamu akan tenang-tenang saya makan di warteg ketika yang lain makan siang di KFC atau McD. Kamu akan biasa-biasa saya menyeruput kopi tubruk di angkringan ketika yang lain meminum Starbucks Coffee. Kamu akan biasa saja takpernah seumur hidup merasakan eskrim Magnum demi cintamu kepada sesama muslim di Palestina. Semua produk itu jadi indah karena citra yang ditampilkan dalam iklan. Padahal aslinya biasa-biasa saja. Biasa-biasa sajalah, karena hidup hanya tentang perjalanan yang berakhir dengan kematian. Yang menggiurkan di dunia hanya sementara. Keabadian itu cuma ada di akhirat. Di sana kita tidak akan ditanya tentang bagaimana manisnya eskrim Magnum, nyamannya ngopi di Starbucks Coffee, atau segarnya minum Coca cola. Tetapi, di sana kita pasti ditanya kemana uang kita dibelanjakan. []

*gambar dari sini

Previous Post
Next Post
Leave a comment

3 Comments

  1. klo produk makanan sama kecantikan kayaknya gamapang ngehindarinnya. Teknologi kayaknya yang susah, secara gw komen di post ini pake laptop yang Intel inside

    Reply
  2. untuk urusan teknologi sebenarnya kita juga bisa memulai untuk beralih seperti halnya produk lain….

    Kita bisa pindah dari Intel ke AMD, bahkan kini banyak laptop yang dibekali prosessor Qualcomm atau Mediatek

    Kita juga bisa pindah dari Facebook ke situs jejaring sosial asli Indonesia yang sudah beredar, Mindtalk dan Paseban misalnya….

    Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript

%d bloggers like this: