Batas Waktu

danbo

Hai Sukab, pengerat senjaku, apa kabar? Aku mau cerita sesuatu nih…

Udah berbulan-bulan ya aku nggak cerita-cerita ke kamu. Ini kata-kata udah jlimet apa gimana gitu. Mau nyerita apa, aku juga bingung. Ngabisin waktu di kosan, di kamar, di masjid tanpa berhubungan sama orang lain, aku mau nyeritain apa coba? After all, akhirnya ada juga sesuatu yang mungkin jadi simpulan atau hmm jadi sesuatu yang bisa menjangkiti pikiran kita sebagai sebuah keresahan… mungkin ya..

Sukab, sang penggembiran, aku mulai memutuskan kediaman ini sejak Februari tahun ini. Terdiam emang kebiasaan aku siy, cerewet juga lebih sering. Tetapi kali ini jedanya cukup lama menurutku. Setelah selesai kuliah S2, ternyata Tuhan ngasih aku kuliah tambahan dalam perjalanan sunyi ini. Dramatis banget kesannya hahaha! Setelah lebih dari setengah usiaku meninggalkan rumah, merantau jauh untuk menuntut ilmu akhirnya aku dikasih izin nemenin keluarga agak lama. Kadang sebagai melankolis yang kebanyakan mikir aku sempet kepikiran, “Ada apa ini? Kok lama banget dapet kesempatan nemenin keluarga? Apa aku bakal dapet kerja di tempat yang jauh ya? Atau bentar lagi aku bakal ketemu kamu Sukab? Atau umur aku udah bentar lagi?” Bukan maksud minta kematian (kayak cowok di facebook) yang konyol itu sih. Diakui atau enggak, kematian kan satu-satunya takdir menakutkan yang paling pasti kita hadapi.

Setelah libur lebaran, semua orang pergi dari rumah nenek. Lama di Bandung, beberapa keluarga ngiranya aku libur panjang di Tasik. Aku sebut aja begitu, walaupun sebenernya lagi ngegarap kerjaan freelance yang gak ada liburnya. Selama pengalamanku berkutat dengan tulisan, sampai titik ini aku baru bisa bersyukur ada kata waktu di dunia ini. Buat siapapun yang sedang tenggelam dalam dunia berdeadline, kadang waktu jadi momok bahkan musuh mungkin. Aku maklum, aku juga baru kali ini menemukan kebahagiaan dalam batas waktu.

Pada kesibukanku mencari homebase mengajar selama beberapa bulan ini, mungkin sudah 11 kampus yang aku kirimi surat lamaran. Semuanya tanpa keyakinan dan kepercayaan diri. Benarlah, hanya dua kampus yang memberikan sinyal positif, dan itu belum aku tindak lanjut karena takada deadline. Pokoknya ikhtiar dan jangan diam. Seperti beban yang dicangkokkan ke otak, kewajiban mengabdi tiga tahun itu terus-terusan menuntut. Akhirnya kuciptakan batas waktu, “suatu saat Dikti pasti menerbitkan SK homebase tanpa kamu mencari sendiri kok. Suatu hari waktu pencarian homebase  itu akan berakhir. Suatu hari kamu akan sibuk ngajar dan menyelesaikan tugas pengabdian sesuai dengan waktu yang disyaratkan Dikti.”

Dalam hirup-pikuk mengedit buku, awalnya aku takterlalu memikirkan batas waktu yang diajukan pemilik naskah. Aku pikir, semua ada di tanganku. Aku dengan bebas dapat menentukan kapan naskah ini selesai kukerjakan. Tetapi ternyata hari ini batas waktu itu sedang aku gunakan untuk menetapkan kapan aku harus beranjak dari sini dan kembali pada kehidupan lain. Batas waktu yang awalnya menyeramkan itu, aku gunakan untuk mempercepat penyelesaian pekerjaanku. Batas waktu itu juga yang aku jadikan patokan untuk menjawab teman-teman yng bertanya “kapan ke Bandung lagi?”

Ternyata, pada satu kejadian, batas waktu dapat menjadi harapan. Walaupun kita sedikitpun nggak tahu, kebahagiaan apa yang akan didapat setelah batas waktu itu terlampaui. Bahkan kita pun takpernah dapat memastikan apakah masa-masa setelah batas waktu itu terlampaui, kita akan merasakan jalan cerita yang lebih bermakna dari pengalaman hiruk-pikuk ketika mengejar batas waktu. Kita juga takpernah tahu, apakah setelah batas waktu itu terlangkahi, kita bisa benar-benar menemukan diri kita sendiri seperti ketika dalam keripuhan menyelesaikan semuanya sebelum batas waktu. Beruntungnya Tuhan memberi semangat, keresahan, dan usaha untuk menyelesaikannya di batas waktu.

Di sini aku hidup berdua dengan seorang nenek yang sudah ditinggalkan suaminya hampir tujuh tahun lalu. Dengan 12 putra-putri ia menjalani hidup dan melayani suaminya. Waktu aku masih duduk di bangku SMP, dia amat kuat dan tegar. Penggarapan sawah milik keluarga diatur olehnya dari awal sampai akhir. Tidak ada hari tanpa pergi ke sawah. Lepas SMA dan kuliah aku baru sadar ia sudah menua. Bahkan hari ini, dia takpernah benar memanggil namaku. Rupanya dia sudah mulai pikun. Senin, Selasa, Rabu, dll sudah mulai membingungkan untuknya. Hari-hari ini tugasku adalah memasak dan mengingatkannya untuk makan pagi, siang, dan malam dengan teratur.

Selain makan, shalat, dan berjalan-jalan di sekitar rumah, tak ada lagi yang  ia lakukan. Sesekali anak-anaknya dari perantauan menelponnya. Anak-anak yang setahun sekali datang itu memberinya harapan dengan kiriman uang sebulan sekali. Ya, mungkin inilah batas waktu yang terus-menerus menjadi sepercik energi untuknya. Setiap tanggal 1 akan ada anaknya yang mengirimkan uang. Harapan pada kehadiran tanggal 1 itu selalu ada, walaupun  ia takpernah membeli sesuatu yang istimewa setelahnya. Dengan penyakit hipertensi, makan daging ayam atau sapi tentu tak boleh. Cukup dengan menu-menu yang takbisa disebut istimewa.

Pada masanya, kematian akan jadi batas waktu yang takterhindarkan. Mengamati apa yang dialami nenekku ini, aku tersadar, setiap orang sedang ada dalam kesibukannya. Di satu sudut dunia ada yang sibuk bergulat dengan usia dan berlelah menunggu kematian. Di sisi lain ada yang sengit bertarung memperebutkan keuntungan dari kekuasaan. Di titik lain ada yang asik masyuk mengingat satu demi satu kalamullah mengejar janji mahkota untuk orangtua. Pada akhirnya kematian adalah batas waktu yang paling pasti sudah menunggu setiap orang. Beruntunglah Tuhan telah menjanjikan sesuatu setelah batas waktu itu. Beruntunglah Ia telah menjanjikan bahwa setelah batas waktu, tak akan ada lagi batas waktu. Beruntunglah, Ia telah memberikan acuan tentang bagaimana menempuh surga dan menghindari neraka.

Pertanyaaannya, apakah kita bisa dengan rendah diri menerima apa-apa yang harus dikerjakan untuk meraih surga? Pertanyaanya apakah kita dapat menguatkan hati untuk menghindari neraka?[]

takdir kita selalu datang di saat yang tepat dan selalu tepat pula dengan kondisi keimanan kita saat itu. Semoga kematian kita, saat itulah puncak keimanan kita.-Tya

 

 

Yang selalu rindu,

Maneka

 

*gambar dari sini

** baca sambil dengerin ini:

Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript

%d bloggers like this: