Menguliti Cover Buku “Cinta Itu…” Karya @ManJaddaWaJadaa

cinta iitttu

Akhir-akhir ini dunia penerbitan memang sedang gandrung dengan akun-akun komunitas yang mulia mengabadikan tweet mereka dalam bentuk buku. Dari sisi komoditas, salahsatu penggiatnya adalah akun-akun islami dengan mayoritas follower remaja yang belajar Islam. Di lini massa, keshalihan bukan lagi barang langka. Ia jadi trend remaja muslim di era media sosial ini. Dengan misi melunturkan pacaran yang telah menjadi budaya alamiah di seluruh dunia, akun-akun islami ini lantas membawa ide jomblo mulia, menerjemahkan cinta sesuai dengan ajaran Islam. Seperti kita tahu, di masa ini cinta bagai kacang goreng yang dijual murah di pasar malam. Lagu-lagu, film, drama, buku-buku tumpah ruah menawarkan definisinya tentang cinta. Sebagai seseorang yang sudah tua Bangka (sok gitu guwe), aku mau cerita tentang satu sampul buku menarik yang berani-beraninya ngajarin soal cinta.

Jurnalku kali ini menyelisihi idiom orang Inggris “don’t judge a book by its cover,” yang disebut-sebut di buku George Eliot. Ide-ide singkat tentang cover buku “Cinta Itu..” sudah dibahas dalam ceracauku yang bertagar #keposemiotik beberapa waktu lalu. Menurut Barthes, cover buku merupakan mitos yang berisi ideologi di dalamnya. Melalui cover buku, seorang illustrator dan penulis sedang melesapkan, membungkus, dan mengekalkan ideologi yang ada dalam buku tersebut. Mitos baru dibangun untuk meruntuhkan mitos yang telah lama eksis di masyarakat. Ideologi dalam mitos adalah kepercayaan baru (kadang palsu) yang dibangun dengan motif tertentu. [ceritanya ini kajian teori #halah!].

Dalam cover buku “Cinta itu..” sebenarnya ada dua frasa tambahan, yaitu “memantaskan diri, dan memantapkan hati.” Dua frasa ini tentu dipilih untuk membangun ide besar yang terdapat dalam buku. Untuk sebuah judul buku, menggunakan tiga frasa memang terlalu panjang. Maka, dua frasa terakhir ditulis sebagai subjudul cover yang secara tidak langsung menjawab titik-titik kosong setelah frasa pertama. Secara verbal cover ini memberi jawaban atas pertanyaan, “Apasih cinta itu?” dengan jawaban “Cinta itu memantaskan diri dan memantapkan hati.” Lalu bagaimana citra visual menguatkan pesan ini?

Sebagai bacaan kalangan remaja, buku ini memang sengaja dibuat menggunakan ilustrasi kartun, bukan foto yang nyata. Secara sederhana cinta itu digambarkan dengan dua pasang kaki bersepatu perempuan dan laki-laki. Pesan pertama yang dapat ditangkap: ini tentang cinta antara adam dan hawa, bukan cinta dalam keluarga atau persahabatan. Ini tentang cinta kacangan yang benihnya sudah tersebar luas di seluruh dunia. Karena sudah kacangan, dari kulitnya kita dapat melihat kebaikan kualitas, kebersihan, dan nutrisi yang ada di dalamnya. Walaupun kacangan, jika ia berkualitas baik, bersih, dan bernutrisi, mungkin hati akan tergerak untuk memilih definisi cinta yang ditawarkan dalam buku ini. Dari sisi mitologi Barthes, cinta yang sudah kacangan di dunia ini merupakan mitos yang sudah eksis lama dalam kebudayaan manusia. Cinta membara, bergairah, buta, mempesona, bahkan berakhir kematian seperti dalam cerita Romeo-Juliet, Rama-Shinta, atau Kayis-Layla merupakan mitos cinta yang eksis di dunia. Sesengit itukah cinta?

Memang mitos ini terlalu berat nampaknya buat remaja-remaja yang notabene #Galauers #Alayers itu. Belum lagi kisan LDR yang menguras hati haahahaha! Berat banget nampaknya cinta buat anak zaman sekarang. Jadi gue harus mati minum racun dulu untuk tahu apa artinya cinta? Masa gue harus mati buat tahu apa artinya cinta? Dengan gambar kartun, buku ini semacam banyolan yang bilang “gaaaak usaaaaaaah!” Frasa “memantaskan diri” dan “memantapkan hati” juga jadi jawaban sederhana dari pertanyaan besar yang muncul akibat mitos-mitos cinta yang eksis sebelumnya.

Dua pasang kaki yang berhadapan jadi penanda bahwa saat memantaskan diri dan memantapkan hati harus ada jarak antara laki-laki dan perempuan. Bahkan cinta adalah jarak antara mereka. Walaupun dilihat dari gambar, kepantasan dan kemantapan adalah garis finish pertemuan antara laki-laki dan perempuan yang sedang berhadapan ini. Kaki menjadi penanda sosok karena dengan kaki manusia bisa move on atau move off. *kayak bener aja ni istilah qiqiqiqi. Bergerak selalu diawali dengan langkah kaki. Sejauh apapun sebuah perjalanan, ia diawali oleh gerakan kaki untuk langkah pertama.

Mengapa kedua kaki itu menggunakan sepatu? Ini adalah tanda kesiapan. Kesiapan seorang muslim itu digambarkan dengan formalitas sepatu. Ketika menghadiri wawancara kerja, kita pasti memilih menggunakan sepatu daripada sanda. Saat UAS atau UTS di sekolah atau di kampus mana berani kita menggunakan sandal (kecuali di Sastra Indonesia Unpad angkatan 2005 #abaikan) dan pasti bersepatu. Sepatu sebagai bagian dari fashion adalah cara seseorang menampakkan dirinya ke hadapan dunia.

Perempuan dalam sampul ini digambarkan dengan sepatu feminin bukan cepatu cats atau sandal gunung. Ilustrasi ini berpesan bahwa kepantasan seorang perempuan dalam cinta adalah ketia ia telah menemukan femininitas dalam dirinya. Pantaskan dirimu dengan mempersiapkan diri menjadi perempuan sesungguhnya. Dua kaki perempuan itu merapa lurus menandakan bahwa memantaskan diri itu duduk manis menunggu, bukan agresif (*teriak pakek toa masjid). Untuk seorang perempuan, mencintai lelaki berarti sibuk memantaskan diri untuk menjadi perempuan terbaik baginya. Tidak memalukan bukan, memaknai cinta sebagai kesibukan memantaskan diri. Ini juga gambaran mencintai diri sendiri sebelum mencintai orang lain. Ini juga pesan bahwa sebaik-baiknya menuntuk yang terbaik dari orang lain adalah dengan menyiapkan yang terbaik pada diri sendiri.

Femininitas dalam sampul ini bukan berarti fisik atau penampilan semata ya. Kasihan buat cewek or akhwat casual yang punya azzam untuk memantaskan diri. Kesempurnaan perempuan memang tergambar dari femininitas, ini sudah menjadi sesuatu yang membatu dalam Islam dan kebudayaan Indonesia. Sepatu feminin ini memang gambaran paling lugas untuk memeras makna femininitas secara batiniah, iner beauty kata orang Barat. Takperlu berbaju selalu pink untuk menceritakan bahwa kamu sudah bisa masak, pandai merajut, atau merawat bayi. Takperlu berjubah hitam untuk mengesankan bahwa hafalan Al Quranmu sudah hampir selesai. Sepatu feminin ini adalah gambaran iner beauty yang dimilik perempuan sebagai tanda kesiapan.

Laki-laki digambarkan dengan sepatu casual merah bertali putih. Hmm.. Banyak gak sih laki-laki yang pakek sepatu merah macem begini? Kayaknya sih mayoritas lelaki atau cowok alay yang berani pakek sepatu sengejreng ini. Kamu, iya kamuuu! Hahahah! Ngaku deh, di rak sepatu kamu ada kan sepatu merah macam begini?! Wkwkwk! Yah, yang namanya ilustrasi nggak akan jauh dari tanda-tanda. Walaupun maksa, mari kita artika warna merah atau mirip-mirip merah itu sebagai keberanian. Keberanian itu ada dua dalam cinta kata Ali Bin Abi Thalib: mengambil kesempatan atau mempersilakan. Nah! Soal ini, pesan antiPHP besar banget buat cowok. Kalau kamu cowok sejati, kamu berani maju dan berani mundur juga. Jangan ngasih harapan palsu ke cewek. Kalau sudah ngambil langkah, jangan pernah menyesal! Itulah yang dimaksud memantapkan hati.

Tali putih di sepatu cowok itu ada maknanya gak sih? Ya sudah, kita maknai saja sebagai liku-liku tantangan yang dihadapi cowok dalam memantaskan diri. Keberlikuan itu warnanya tetap putih. Seperti yang disebutkan sebelumnya, cinta yang sudah kacangan ini, carilah yang paling bersih. Putih ini jadi penanda kesucian proses memantaskan diri dan memantapkan hati dalam rangka mewujudkan cinta. Sebagai sebuah perjalanan, sewajarnya sih sepatu ini belepotan kotoran ya. Tetapi, nampaknya pesan kesucian sedang ditanamkan di dalamnya (illustrator: gue gak kepikiran itu sama sekali | aku: bodo amat!). Lalu mengapa sepatu casual yang menggambarkan lelaki dalam sampul ini? Cinta itu hak setiap orang, termasuk remaja. Memantaskan diri dan memantapkan hati adalah hak setiap orang juga. Walaupun masih abangan, selengean, belum mapan, gue juga berhak dong mencintai. *kata cowok alay. Kemantapan hati tidak selalu berbanding lurus dengan kemapanan finansial (yang biasanya digambarkan dengan sepatu pantofel).

Yang agak janggal dalam bangunan makna sampul buku ini adalah langkah kaki laki-laki yang terlihat tidak lurus. Pertanyaan yang akan muncul, “itu kaki mundur karena mau maju sebagai ancang-ancang atau mundur karena ragu-ragu?” Dari sisi semiotik, gambar ini membawa pesan keraguan. Sebagai masyarakat yang lekat dengan aktivitas tubuh bagian kanan, melangkah maju diawali dengan kaki kanan. Gambar ini menyiratkan kemunduran karena kaki kiri lebih maju daripada kaki kanan. Dalam memantapkan hati keraguan adalah tantangan paling biasa, asal jangan kelamaan.

Singkatnya, cinta (antara laki-laki dan perempuan) itu memantaskan diri dan memantapkan hati untuk menikah. Beruntungnya cinta diartikan sebagai proses, maka jodoh akan datang setelah dua proses ini. Boleh jadi jodoh datang saat memantaskan diri walaupun nyatanya belum pantas. Bisa jadi, jodoh datang saat memantapkan hati padahal hati belum benar-benar mantap. Untunglah Allah Swt menilai cinta dari proses bukan hasilnya. Jadi, cinta itu memantaskan diri dan memantapkan hati. Yang menentukan sudah pantas atau sudah mantap biar Allah Swt saja.[]

*gambar dari sini

Previous Post
Leave a comment

6 Comments

  1. Detail banget ulasan dengan teropong semiotika-nya. Kereen.

    Saya juga penasaran soal kaki kanan yang mundur🙂

    Reply
    • Entahlah, sang ilustrator nyadar atau enggak dengan kemungkinan hasil analisisi ini.. Bapak juga berpikir soal kemungkinan keraguan kan? *nyari temen.
      Satu lagi belum dimasukun: buku ini menguatkan budaya patriarki krn sudut pandang pembaca di cover terwakili oleh gambar kaki laki-laki. *tapi aku gak baca ini pakek teori gender siy, jadi gak dibahas😀

      Reply
  2. kykny itu kaki mundur biar gambar lovenya ga banyak yg ketutup deh nin hahaha….

    Reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Wanderer Soliloquy

This blog is an embryo of what may be a soliloquy, a nonfiction, or something in between. With a bowl of my private insights on spirituality, a pinch of science, a jar of environmental issues, some literature spices, and sacks of simple events from my daily life, this is a naked kitchen where everyone is invited to watch how I juggle with all of the ingredients. When it’s done, you’re welcome to have a free taste of whatever it is on the serving table. Perhaps, together, we can give it a name.

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia

From This Moment

\"Das Gestern ist nur die Erinnerung des Heute und das Morgen ist dessen Traum\"

ILMIBSI

Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Budaya dan Sastra se-Indonesia

(Masih) Manusia Itu Unik, Saya Salah Satunya

pemikirulung yang pesen lapak di wordpress

what has happened?

premature ventricular contractions

Luckty Si Pustakawin

We live the life of an unfinished novel, still waiting to be written. –Absolute Stephanie-

windamaki's blog

Was gibts Neues?

Oracle, Web, Script, SQLserver, Tips & Trick

oracle, programming, kulik, sqlserver, web, javascript

%d bloggers like this: